Dalam sebuah perjalanan, saya dapati seorang ibu bersama anak kecil, berjalan menyusuri lorong, di kompleks perumahan Kota Makassar. Ibu tersebut tengah memunguti botol-botol plastik dan juga barang-barang lain, yang biasa didaur ulang.
Ibu dan anak tampak semangat menjalani hidupnya. Terlihat tidak ada beban dalam melaksanakan kewajibannya, berusaha melakukan apa yang bisa ia lakukan untuk menyambung hidupnya.
Dia tahu betul, hidup tak cukup hanya duduk santai, menikmati secangkir kopi dan bermalas-malasan. Meskipun, sesekali memang perlu beristirahat dalam setiap etape dan episodenya.
Di lain tempat, seorang bapak yang memiliki badan hanya separuh, alias tak punya kaki yang dapat menopangnya untuk berjalan, tapi dia pun tetap melakukan tugasnya, bekerja di atas bumi ini dengan penuh rasa syukur.
Tetap menjalani pekerjaan dan mencari nafkah, bisa diartikan sebagai wujud syukur. Sebaliknya, orang yang tak mau melakukan usaha dan bekerja, dikategorikan sebagai seorang pemalas.
Apapun itu yang dinilai adalah usaha seseorang, bukan capaian hasil yang diperoleh.
Kewajiban manusia hanyalah berusaha dan tetap bekerja. Bahkan, Imam Ali, seorang manusia mulia sekalipun, tetap ke ladang bekerja, untuk memenuhi kewajibannya mencari nafkah buat keluarga.
Di situlah letak kemuliaan seseorang, ketika dia mau berusaha dan rajin. Kemuliaan seseorang dan izzah-nya tampak, ketika orang tersebut mau bekerja.
Bagiamana dengan orang yang hanya sibuk berzikir dan berdoa, sehingga dia nyaris tak punya waktu dalam bekerja?
Apakah itu sebuah kemuliaan, ataukah ada yang tidak seimbang dan kurang mulia, ketika dia lebih mementingkan zikirnya saja?
Ada sebuah kalimat bijak yang pernah saya baca, kewajiban yang paling utama bagi seorang miskin adalah mencari nafkah bagi keluarganya.
Jadi, mana yang lebih mulia, seorang ahli zikir ataukah seorang yang rajin bekerja?
Kalimat di atas juga dipertegas dengan kalimat, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat buat orang lain.
Ketika seorang isteri kebingungan dalam mendapatkan bahan makanan, yang bisa diolah untuk dimasak, apakah sang suami dibenarkan jika hanya menyibukkan diri dalam beribadah? Di mana kenikmatannya dalam beribadah hanya dia seorang diri yang merasakannya? Bijakkah sikap demikian?
Menyeimbangkan antara keduanya, merupakan jalan yang paling tepat, agar hidup bisa semakin bermanfaat dan berbuah keberkahan.
Apa pun usaha bisa kita lakukan, jika seseorang memang memiliki tekad. Bahkan, berbagai kreativitas dapat tiba-tiba muncul di tengah keterbatasan yang mengelilingi kita. Yakinlah, Tuhan pasti akan membantu orang-orang yang mau berusaha memperbaiki kehidupannya.
Usaha, usaha, dan usaha, lalu berdoa dan berserah diri memohon kepada Tuhan Yang Maha Mengatur rezeki kita.
Senantiasa sabar, tegar, dan pantang menyerah, sepahit apa pun kegagalan yang pernah dirasakan. Tak perlu kita terpuruk jatuh dan putus asa. Karena, di setiap langkah dan gerak kita, Tuhan akan melihatnya sebagai ibadah yang mulia.
Sebagaimana yang biasa didengungkan para motivator, kegagalan hanyalah kesuksesan yang tertunda.
Selain bekerja giat, berniat, dan bercita-cita, niat juga benar-benar penting untuk kita luruskan, untuk apa kita melakukannya, buat siapa, dan dalam rangka apa?
Jika tujuan dan capai-capaian sudah kita raih, sertakan niat untuk bisa berbagi bahagia dengan orang lain. Dengan begitu bisa dijamin akan lebih membantu kita meraih keberhasilan.
Walaupun, keberhasilan itu tidak mesti dalam ukuran jumlah yang besar.
Manakala kita mampu menyadari, bahwa setiap kemudahan dari langkah yang kita tempuh adalah suatu nikmat, maka akan menjadikan kita lebih mudah untuk bersyukur pada-Nya. Dan, tanpa kita sadari rasa syukur itu, akan makin menambah potensi keberhasilan lain, susul-menyusul muncul di hadapan kita.
Magnet rezeki mungkin bisa diartikan seperti itu. Magnet itu akan menarik sendiri, sehingga kita tak perlu repot mencari rezeki kesana kemari. Karena hakikatnya rezeki akan datang sendiri.
Kredit gambar: NU online

Seorang ibu rumah tangga. Lahir di Pacitan 22 Oktober 1973.Senang menggeluti dunia usaha. Menyukai juga kegiatan sosial. Merasa lega ketika bisa menumpahkan pikiran dan perasaan dalam sebuah tulisan.
Menulis untuk lebih bisa menghargai diri, bahagia dan meninggalkan sesuatu, yang bisa dijadikan pelajaran buat anak anak keluarga.


Leave a Reply