Ulasan yang Bukan Resensi Buku: Gemuruh Literasi

Saya pribadi masih percaya kekuatan sosial dapat tercipta dari sebuah buku, terutama jika kekuatannya dapat memengaruhi kesadaran banyak orang. Sudah demikian sifat sebuah buku. Bukan saja ia menjadi alat rekam sebuah ide, renungan, atau peristiwa, melainkan juga menjadi satu bagian penting dalam memformulasi kesadaran, nilai, dan sampai menentukan struktur kehidupan masyarakat. Dari sisi ini, buku ketika dimanfaatkan dengan baik melalui kerja transformatif akan menelurkan suatu kondisi masyarakat baru. Melalui kerangka inilah, saya melihat posisi penting Gemuruh Literasi, terutama bagi masyarakat Bantaeng, karangan Sulhan Yusuf.

Gemuruh Literasi merupakan buku esai, yang tidak dicetuskan untuk menjadi sebuah buku. Setidaknya demikian pengakuan empunya, saat kami berbincang melalui sebuah forum gagasan Toko Buku Dialektika Café beberapa tempo lalu. Catatan saya ada tiga saat itu melihat lebih akademis bagaimana buku ini ditempatkan ke dalam bagian kerja pemberdayaan dilakukan Sulhan Yusuf selama satu dekade di Bantaeng, kota kelahirannya.

Pertama melalui kerangka gerakan sosial. Sudah menjadi kebiasaan Sulhan Yusuf setidaknya sejak ia awalnya bertungkus lumus dengan dinamika perubahan yang ia jalani selama di Bantaeng. Mulai dari mendirikan toko buku sampai menginisiasi perubahan bagi anak-anak muda melalui kerja aktivisme. Saya duga, toko bukunya saat itu merupakan satu-satunya di Bantaeng, dan juga satu-satunya yang kemudian “angkat kaki” dari Bantaeng akibat menjadi satu-satunya pihak yang meresahkan masyarakat lebih dekat dari sebuah buku. Tapi, infrastrukturnya boleh gulung tikar, yang tidak menjadi keniscayaan bahwa kerja-kerja pemberdayaan ikut berhenti karena itu. Dari titik ini, tidak selamanya perubahan itu ditentukan melalui keberadaan institusi, melainkan nilai-nilai perubahan yang hidup di sekitar agen-agen perubahannya.

Kedua, perlu kita membayangkan bahwa perubahan membutuhkan keberadaan aktor perubahan. Dari perspektif ini, dimensi ketokohan menjadi faktor penting. Saya masih bertanya-tanya, siapa figur penting orang-orang seperti Sulhan Yusuf, yang tidak berpikir dua kali untuk keluar masuk desa-desa dalam rangka meliterasikan orang-orang yang dikenalnya. Bantaeng bukan kabupaten dengan luas raksasa sehingga tidak sulit bagi Sulhan Yusuf bak seorang kurir lalu lalang melintasi perbatasan kecamatan.  Ada istilah “kurir langit” yang memadukan kecenderungan mobilitas masyarakat modern dengan kerja-kerja berorientasi langit. Meski bukan seorang kurir, kerja-kerja berdimensi literasi Sulhan Yusuf, dkk., juga mengadopsi pendekatan semacam itu terutama dalam menghidupkan Bank Buku Boetta Ilmoe, yang awalnya bergerak sebagai toko buku.

Awalnya saya menyimpan penasaran bagaimana rupa hambatan di lapangan saat perpustakaan-perpustakaan berbasis rumah, masjid, kantor desa, atau pos ronda, tiba-tiba berubah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa. Ini yang paling mencolok menunjukkan hasil dari upaya pemberdayaan kelompok perubahan dipantik Sulhan Yusuf. Dari sudut pandang urbanisasi, perubahan masyarakat desa senantiasa diandaikan melalui perubahan di sektor agraria. Tentang bagaimana kerja solidaritas digantikan mesin-mesin pengelola tanah berupa traktor atau semacamnya. Mengenai bagaimana lahan perkebunan atau bidang-bidang persawahan beralihfungsi menjadi kawasan industri dan perumahan. Ini ancaman bagi lingkungan yang perlu juga direfleksikan ke dalam gerakan literasi Bantaeng selama ini.

Merupakan kerja berat mengubah pola kehidupan masyarakat agraris menjadi kebiasaan yang kerap dilakukan masyarakat urban: membeli koran, mengoleksi buku, berinternet, lalu berdiskusi mengenai daerahnya tidak dari tradisi agraris, melainkan kesadaran lain yang cenderung ditemukan di masyarakat perkotaan. Pandangan ini bukan berarti mengecimus masyarakat yang hidup di luar kawasan perkotaan sebagai pihak terbelakang, melainkan berusaha mengantisipasi faktor-faktor yang perlu menjadi perhatian. Bukan tanpa masalah mengubah kebiasaan masyarakat pedesaan sebagai petani, pekebun, atau nelayan menjadi warga yang akrab dengan buku, laptop, dan publikasi karya.

Dengan kata lain, literasi berbasis tulisan akan menjadi saingan yang menggangu kebiasaan lisan masyarakat desa, yang lebih dekat dengan tradisi, cerita rakyat, atau adat istiadat, yang sudah meresap lebih jauh  menjadi kepercayaan sebelum tulisan itu datang.

Semua di atas dapat disimak lebih dekat dari ulasan-ulasan melalui buku Gemuruh Literasi. Dari sisi ini Sulhan Yusuf memadukan kerja-kerja intelektual dengan gerakan pemberdayaan yang menjadi bagian di dalamnya. Dapat diartikan makna gemuruh di dalam judulnya sebenarnya sedang menjelaskan keadaan kekinian Kabupaten Bantaeng, yakni kemunculan pendekatan pemberdayaan melalui literasi. Sampai-sampai tidak mudah melalui upaya bersama Bantaeng telah melahirkan Perda Literasi, dan masih jarang menemukan seorang kepala pemerintahan daerah menjadikan buku sebagai cendera mata pertemuan. Salut.

Ini gejala perubahan mutakhir yang berdimensi budaya dibandingkan pendekatan transformatif dari kacamata ekonomi dan politik.

Ketiga, dan terakhir, kemunculan buku ini melibatkan kerja sama keluarga. Dari penulis, editor, layouter, hingga desain sampulnya. Hampir semuanya perempuan–BTW selamat hari Perempuan Sedunia, 8 Maret 2024. Ini contoh baik untuk mengatasnamakan keunggulan keluarga dibandingkan individualitas pribadi yang menjadi semangat kemodernan saat ini. Kita perlu menyadari konsep keluarga saat ini mengalami pergeseran semantik akibat perubahan formasi kebutuhan dan peran gender. Bahkan, beberapa bangsa akan kehilangan kesinambungan akibat ditolaknya konsep keluarga. Buku ini setidak-tidaknya menjadi semacam tanda untuk menggawangi perubahan perlu dimulai dari unit terkecil masyarakat.

Sumber gambar: nabilazzahra.medium.com


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *