Author: Usman Djabbar
-

Kembali dari Meja Jabatan, Menuju Bangku Murid
Teman-teman guru Bantaeng yang tak pernah surut belajar. Izinkan saya berkabar. Saling berkabar, bagi saya, seperti menyalakan lampu kecil di beranda: cahayanya sederhana, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa kita masih ingin terhubung, masih ingin menjaga persaudaraan. Kadang, jalan terpendek menuju diri sendiri adalah jalan memutar yang membawa kita kembali ke ruang yang pernah kita tinggalkan.…
-

Ketika Sekolah Lupa Mengajar Kehidupan
Kawan-kawan, izinkan saya membuka tulisan ini dengan sebuah pengakuan yang tidak pernah saya bayangkan akan saya ucapkan setelah dua belas tahun menjadi guru: saya masih saja merasa sebagai greenhorn dalam urusan membuat pembelajaran menjadi bermakna. Kadang saya merasa seperti seseorang yang sudah lama hidup di kampung sendiri, tetapi baru sadar bahwa saya belum benar-benar memahami jalan-jalan kecil…
-

Rapat Besar dan Dapur Kecil: Saat Murid Mengajari Kita Arti Sekolah
Teori pendidikan terlalu sering hidup di kertas, tapi mati di kelas. Jumat kemarin saya melihat sendiri bagaimana murid-murid kecil menghidupkannya kembali. Sesekali kita memang harus menanggalkan kacamata teori dan menengok langsung bagaimana ia bekerja di lapangan. Buku dan modul kadang terlalu rapi, terlalu steril. Tetapi hidup murid, hidup sekolah, tak pernah sesederhana itu. Fakta harus…
-

Ketika Sekolah Menanam, Murid Bertumbuh
Sudah terlalu lama sekolah dijebak dalam perangkap angka. Seakan-akan segala sesuatu yang bernama pendidikan hanya berujung pada rapor. Anak-anak digiring ke ruang ujian, lalu dikurung dalam selembar kertas yang diperlakukan bak kitab suci. Kehidupan seorang murid disederhanakan menjadi deretan angka, dipuja atau dicemooh sesuai tingginya skor. Padahal, tidak ada angka setinggi apa pun yang bisa…
-

Pemimpin adalah Api yang Ditinggalkan, Bukan Nama yang Dipuja
Ada saat dalam hidup ketika kita tiba-tiba berhenti di ambang pintu, menoleh ke belakang dengan dada penuh napas panjang, lalu menyadari: mungkin inilah akhir dari satu babak, dan awal dari babak yang lain. Di titik itu, rasa lega bercampur gentar, syukur bertubrukan dengan keraguan. Saya menuliskan ini dengan kesadaran semacam itu. Tulisan ini mungkin menjadi…
-

Indra: Nama yang Kini Menjadi Doa
Indra, Bu Indrawati, atau kak Indo. Begitu kami biasa memanggilnya. Bukan sekadar seorang guru. Ia lebih seperti denyut kecil yang memberi irama pada setiap pertemuan, sesuatu yang tidak selalu kentara tetapi terasa bila tak ada. Saya masih ingat dengan jelas sore 10 Agustus tahun lalu, di lapangan Seruni. Senja turun perlahan, cahaya jingga menyapu halaman,…
-

One Piece, Murid Kita, dan Lautan Pembelajaran Bermakna
Kawan-kawan, belajar apa saja hari ini? Saya sih, belajar dari Jolly Roger. Bendera hitam dengan tengkorak tersenyum yang kita tahulah nasibnya: viral, terbelah, disayangi dan juga dikutuk. Namun, bagi saya, bendera bajak laut ini, yang kontroversial di sebagian kelompok, justru menjadi pintu masuk paling menarik untuk memahami ulang peran kita sebagai pendidik. Karena One Piece, diskusi tentang…
-

Langkah Kecil Nana, Pelajaran Besar untuk Ayahnya
Di hari pertama sekolah kemarin, saya cuma dapat kiriman foto. Wajah Nana tersenyum malu-malu, diapit ibunya. Ransel baru menggantung di punggungnya seperti sayap kecil yang siap mengepak. Kakaknya yang sulung menjemput di siang hari, dengan bangga dan sedikit gaya. Saya? Absen. Bukan karena tak peduli, bukan pula sibuk luar biasa. Hanya saja, kadang peran ayah…
-

Hari Pertama Sekolah: Di Balik Tas Baru, Ada Anak yang Ingin Dipahami
Bagi saya, hari pertama sekolah bukan sekadar rutinitas tahunan. Bukan cuma perkara presensi, perkenalan wali kelas, atau pembagian jadwal pelajaran. Lebih dari itu. Hari pertama sekolah adalah peristiwa kecil yang menyimpan gema besar. Di hari itu, sesuatu yang belum terlihat mulai tumbuh: keberanian, rasa ingin tahu, harapan yang pelan-pelan mekar seperti bunga liar di musim…
-

Sepedaku, Petani, dan Hujan yang Tak Pernah Lama
Hal-hal baik mesti dirawat. Ia bukan hanya tentang tanaman yang disiram, buku yang diberi sampul, atau rumah yang dibersihkan saban akhir pekan. Ia juga soal tubuh—yang jika tak diajak bicara, bisa diam-diam patah, diam-diam protes. Maka setiap pagi, lutut saya yang sudah lama tak muda, kerap berbicara lirih saat saya memaksanya mengayuh pedal. Seolah ia…
