“Aneka jabatan organisasi keagamaan dikangkangi. Tampak religius. Kelihatan luar biasa. Sungguh, kelak di waktu berikut, terungku kemelekatan menghadang dan sindrom hilang kuasa menanti. Pucuknya, hanya mempersulit diri jadi manusia biasa.” (Tajali Daeng Litere, 27 Oktober 2026)
Ada tong orang, mula-mula memasuki organisasi keagamaan dengan niat mengabdi. Ia ingin mengambil bagian dalam kerja-kerja kebajikan, menyumbangkan pikiran, dan merawat kehidupan bersama.
Seiring waktu, kepercayaan datang, jabatan bertambah, namanya kian dikenal. Ia duduk di satu kepengurusan, kemudian masuk ke kepengurusan lain. Amanah demi amanah ia sulap, seolah dipercayakan kepadanya.
Namun, tanpa disadari, sesuatu perlahan bergeser. Pengabdian yang semula menjadi tujuan, mulai bercampur dengan keinginan mempertahankan kedudukan. Ia tidak lagi sekadar menjalankan jabatan, tetapi mulai merasa perlu terus memilikinya.
Jabatan memang mempunyai daya pikat tersendiri. Ia menyediakan ruang untuk berbuat, sekaligus membuka peluang memperoleh pengakuan. Ada sapaan yang berubah, penghormatan yang meningkat, dan pintu-pintu pergaulan yang sebelumnya tertutup menjadi terbuka.
Seseorang bisa merasa dirinya semakin berarti, karena semakin banyak orang menyebut nama dan kedudukannya. Di sinilah jebakan itu bermula: ketika amanah yang semestinya memperbesar tanggung jawab, justru memperbesar perasaan tentang diri sendiri.
Senandika Daeng Litere menyentil keadaan tersebut melalui ungkapan “aneka jabatan organisasi keagamaan dikangkangi.” Kata dikangkangi menghadirkan gambaran tentang sesuatu yang bukan lagi sekadar diduduki, melainkan dikuasai dengan sikap seolah-olah menjadi milik pribadi.
Jabatan tidak diperlakukan sebagai titipan yang memiliki batas waktu, tetapi seperti hak istimewa yang harus dipertahankan. Orang lain boleh berkhidmat, asalkan tidak mengambil tempatnya. Regenerasi boleh dibicarakan, tetapi jangan sampai benar-benar menggeser dirinya dari kursi yang telanjur nyaman.
Padahal, organisasi keagamaan dibangun buat menghidupkan nilai-nilai luhur, bukan untuk menyediakan panggung keagungan bagi orang-orang tertentu. Jabatan di dalamnya semestinya menjadi jalan pelayanan, bukan tangga untuk menaikkan martabat pribadi.
Ketika seseorang menghimpun banyak kedudukan sekaligus, pertanyaan yang patut diajukan bukan sekadar berapa banyak amanah yang sanggup ia pikul, melainkan apakah seluruh amanah itu benar-benar dijalankan dengan baik.
Sebab, menghimpun jabatan tidak selalu berarti memperluas pengabdian. Adakalanya, seseorang hanya sedang memperluas wilayah pengaruhnya.
Tampilan religius pun tidak selalu menjamin kelapangan batin. Seseorang dapat fasih berbicara tentang keikhlasan, mengutip ajaran mengenai kerendahan hati, dan hadir dalam berbagai kegiatan keagamaan, tetapi masih sukar melepaskan kedudukan.
Ia tampak dekat dengan nilai-nilai agama, tetapi belum tentu memberi kesempatan kepada nilai-nilai itu untuk menyigi dirinya sendiri. Agama menjadi sesuatu yang ditampilkan kepada khalayak, sementara ego tetap bersembunyi di balik pakaian kesalehan.
Tentu, kita tidak sedang mengatakan, setiap orang yang memegang banyak jabatan keagamaan, pasti terperangkap dalam kemelekatan. Ada orang-orang yang sungguh-sungguh bekerja, menanggung beban organisasi, dan bersedia mengorbankan waktu tanpa banyak bicara.
Persoalannya, terletak pada sikap batin terhadap jabatan itu. Apakah seseorang memegangnya dengan kesadaran akan tanggung jawab, atau justru menggenggamnya karena takut kehilangan pengakuan?
Perbedaan keduanya mungkin tidak segera terlihat, ketika seseorang masih berada di puncak kedudukan. Namun, waktu biasanya menyediakan cara untuk mengujinya.
Kelak, cepat atau lambat, salah satu ujian itu datang, manakala masa jabatan berakhir. Kursi yang dahulu ditempati mulai diduduki orang lain. Telepon tidak lagi sesering dahulu berdering. Undangan mungkin berkurang, pendapat tidak selalu diminta, dan keputusan dapat diambil tanpa menunggu persetujuannya.
Perubahan yang sesungguhnya wajar itu, tiba-tiba terasa seperti kehilangan sesuatu yang sangat besar. Ia merasa dilupakan, disisihkan, bahkan tidak dihargai. Padahal, yang berakhir mungkin hanya jabatannya, bukan harga dirinya sebagai manusia.
Di lapik inilah terungku kemelekatan mulai memperlihatkan jerujinya. Orang yang terlalu lama menyamakan dirinya dengan jabatan, akan kesulitan membedakan siapa dirinya dan apa kedudukannya.
Selama menjabat, ia merasa menjadi seseorang. Ketika jabatan lepas, ia seolah kehilangan sebagian besar dirinya. Ia terus membandingkan keadaan sekarang dengan masa ketika namanya diperhitungkan.
Kenangan tentang penghormatan terdahulu menjadi ukuran untuk menilai kehidupan hari ini. Alih-alih menikmati kebebasan dari tanggung jawab organisasi, ia justru terpenjara oleh bayang-bayang kedudukan yang telah berlalu.
Sindrom kehilangan kuasa itu, tidak selalu muncul sebagai kemarahan terbuka. Kadang-kadang ia menjelma kebiasaan mengungkit jasa, keinginan untuk tetap mengendalikan keputusan, atau kegemaran mengingatkan orang lain tentang kedudukan yang pernah disandang.
Ada pula yang tetap berada di sekitar lingkaran kekuasaan, bukan untuk membantu penerusnya, melainkan agar pengaruhnya tidak benar-benar hilang. Ia telah meninggalkan kursi, tetapi belum sanggup melepaskan diri dari singgasana di dalam pikirannya.
Sungguh, betapa melelahkan keadaan semacam itu. Manusia yang seharusnya memperoleh kelapangan, setelah menunaikan amanah, justru mempersulit dirinya sendiri. Ia sukar menikmati percakapan tanpa gelar, pergaulan tanpa protokol, dan kebersamaan tanpa perlakuan istimewa.
Walhal, menjadi manusia biasa bukanlah suatu kemunduran. Percakapan tak selamanya mesti berpusat pada dirinya, sebagaimana keputusan tidak selalu menuntut pendapatnya. Kadangkala, sebuah ruang justru terasa lapang, ketika ia bersedia memberi tempat kepada orang lain. Di situlah ketenteraman bersemi: saat seseorang tiada lagi terikat pada hasrat untuk senantiasa menjadi pusat perhatian.
Barangkali, salah satu tanda kematangan dalam berorganisasi ialah kesanggupan mengakhiri masa jabatan, tanpa kehilangan keluhuran sikap. Seseorang dapat menyerahkan tanggung jawab kepada penerusnya dengan lapang dada, memberikan dukungan tanpa mendikte, serta tetap berbuat baik, waima namanya tidak lagi berada di bagian depan.
Ia memahami, pengabdian tidak mempunyai batas waktu yang sama dengan jabatan. Saat kedudukan selesai, kesempatan untuk berbuat baik tetap terbuka, bahkan mungkin menjadi lebih luas, karena dirinya tidak lagi terikat oleh tuntutan sebuah posisi.
Sesarinya, jabatan hanyalah persinggahan, bukan tempat untuk menetap selamanya. Organisasi akan terus bergerak, kepengurusan akan berganti, dan orang-orang akan datang silih berganti. Tidak seorang pun dapat menggenggam satu kedudukan buat selamanya. Yang dapat dibawa melampaui pergantian itu ialah mutu laku, ketulusan pengabdian, dan jejak kebaikan yang pernah ditinggalkan.
Walhasil, jangan sampai kesibukan mengurus organisasi keagamaan membuat lupa mengurus diri sendiri. Jangan sampai keinginan tampak religius, menenggelamkan pekerjaan sunyi, guna membenahi batin. Jangan pula jabatan yang semestinya menjadi jalan pengabdian, berubah menjadi jeruji yang menghalangi, buat menikmati kesederhanaan hidup.
Sebab, kesudahannya, kemuliaan tidak terletak pada berapa banyak jabatan yang berhasil dikangkangi, melainkan pada kesanggupan melepaskannya tanpa kehilangan kehormatan.
Manusia yang benar-benar merdeka, bukanlah orang yang selalu berhasil mempertahankan kedudukannya. Ia adalah orang yang tetap utuh, ketika kedudukan itu tak lagi menjadi miliknya. Ia dapat hadir tanpa gelar, bekerja tanpa sorotan, dan berbuat baik tanpa menunggu penghormatan.
Teranglah sudah, seseorang tidak lagi diperbudak oleh keinginannya untuk tampak luar biasa. Ia kembali menemukan kelapangan menjadi manusia biasa. Ada tong orang begitu.

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply