ASSC: Melompat Setelah Terluka

Air kolam renang tidak pernah bohong. Ia menerima setiap tetes keringat, merekam setiap kepakan tangan, dan menjadi saksi bisu atas perjuangan seorang atlet. Namun, air yang jujur itu sempat terasa sangat keruh bagi para atlet Ayra’s Swimming Club (ASSC).

Beberapa tahun terakhir, kami tidak hanya bertarung melawan waktu dan jarak di lintasan, melainkan harus bertahan menghadapi empasan badai yang tak kasatmata. Mental bertanding anak-anak kami sengaja diacak-acak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Bagi seorang atlet, ketika keyakinan dirinya dihancurkan, dunia seolah runtuh. Mereka yang biasa melompat ke air dengan dada busung mendadak ragu, cemas, dan kehilangan pijakan. Sebagai pendiri sekaligus pelatih ASSC, melihat mata atlet-atlet saya yang biasa memancarkan api semangat berubah menjadi tatapan redup penuh trauma adalah pukulan terberat. Pemulihan mental atlet bukanlah proses semalam. Ia membutuhkan pelukan, bisikan ketenangan, serta keyakinan yang dibangun kembali seperti bata demi bata.

Namun, ASSC bukanlah tempat bagi jiwa-jiwa yang mudah menyerah. Kami memilih untuk bangkit. Cukuplah atlet-atlet kami yang kemarin hancur, masa depannya berantakan.

Fajar baru itu menyingsing ketika kami bersiap melangkah ke ajang Aquatik National Swimming dengan atlet-atlet yang baru kami bina.

Pagi itu, di halaman Kantor Bupati Bantaeng, suasana haru dan bangga menyatu secara utuh. Sebanyak 48 atlet ASSC dari jenjang PAUD yang mungil hingga anak-anak SMA yang beranjak dewasa, dilepas secara resmi langsung oleh Wakil Bupati Bantaeng. Momen pelepasan ini menjadi sebuah pengakuan berharga bahwa anak-anak ini bukanlah sekadar pemimpi biasa, melainkan duta olahraga yang membawa harapan daerah di pundak kecil mereka.

Di balik seragam ASSC dengan desain Burgundy yang rapi dan senyum bangga saat dilepas oleh pejabat daerah, ada cerita perjuangan yang sangat menyentuh di belakang layar. Perjalanan menuju event ini bukanlah jalan tol yang mulus tanpa hambatan. Biaya pendaftaran nomor lomba yang menembus angka kurang lebih 9 juta rupiah, belum termasuk biaya akomodasi dan transportasi, menjadi ujian nyata.

Beruntung, beberapa sekolah tempat para atlet mengenyam pendidikan memiliki kepedulian yang tinggi dengan membiayai utuh keberangkatan siswa mereka. Namun, bagi sekolah yang belum atau tidak dapat membiayai, pahlawan sebenarnya muncul dari dalam rumah “para orang tua atlet”.

Dengan segala kebesaran hati dan keikhlasan yang luar biasa, para orang tua melangkah maju. Mereka merogoh kocek pribadi, membiayai anak-anak mereka secara mandiri. Bagi mereka, angka sembilan juta rupiah atau pengorbanan finansial lainnya bukanlah penghalang. Di mata para orang tua ini, tidak ada nominal uang yang terlalu besar jika dibandingkan dengan kesempatan anak-anak mereka untuk tumbuh, berprestasi, dan mengepakkan sayap sesuai dengan potensi terbaik yang dimilikinya. Keikhlasan orang tua inilah yang menjadi bahan bakar utama bagi ASSC untuk bangun kembali dari masa-masa kelamnya.

Namun, sebagai pelatih dan pengayom mereka sehari-hari, ada ganjalan mendalam yang terus mengusik benak saya. Perjuangan anak-anak ini di luar kolam sering kali jauh lebih melelahkan daripada porsi latihan fisik yang saya berikan.

Sering kali, seusai latihan berat, orang tua bahkan anak-anak itu sendiri duduk di tepi kolam dan mengeluh dengan mata berkaca-kaca. Mereka bercerita betapa sulitnya mendapatkan sedikit saja keringanan atau pemahaman dari pihak sekolah. Mereka tetap dibebani target pencapaian akademik yang seragam dan kaku, tanpa memperhitungkan bahwa di luar kelas, mereka sedang berdarah-darah membela nama baik sekolah dan daerah.

Sungguh sebuah ironi yang menyayat hati. Ketika seorang anak menunjukkan bakat luar biasa di bidang nonakademik, memiliki kedisiplinan tinggi, ketahanan mental, dan bakat olahraga alami. Sistem di sekitarnya kerap memaksa mereka untuk menjadi rata-rata di bidang akademik. Potensi hebat mereka di kolam renang seolah dipinggirkan hanya karena nilai di kertas ujian tidak mencapai standar kaku yang ditetapkan.

Saya ingin menegaskan bahwa pengembangan prestasi anak, baik secara akademik maupun nonakademik, membutuhkan dukungan penuh dan sinergi yang utuh dari institusi sekolah. Kami sangat memahami bahwa tidak semua sekolah memiliki anggaran atau kemampuan finansial untuk membiayai siswanya bertanding. Kami tidak pernah menuntut hal yang melampaui batas kemampuan sekolah.

Namun, jika sekolah tidak mampu mendukung secara biaya, setidaknya dukunglah potensi, bakat, dan minat mereka dengan cara yang paling sederhana namun bermakna, tidak mempersulit mereka di bidang akademik.

Memberikan ruang bernapas, memberikan toleransi waktu tugas, atau sekadar memberikan apresiasi moral ketika mereka bertanding adalah bentuk dukungan yang tidak bernilai rupiah, namun berdampak sangat besar bagi jiwa seorang anak.

Pemerintah hari ini menggaungkan jargon Pendekatan Pembelajaran Mendalam dan masih menggunakan Kurikulum Merdeka sebagai kerangka utamanya ke seluruh penjuru negeri. Namun, apakah Merdeka Belajar atau Pembelajaran Mendalam itu hanya sebatas tumpukan dokumen kurikulum dan istilah keren di atas kertas?

Bukankah Pembelajaran Mendalam/Merdeka Belajar yang sesungguhnya adalah pembelajaran yang berpihak pada murid? Pembelajaran yang dirancang sesuai dengan kebutuhan murid, bertumbuh dari potensi unik murid, dan diperuntukkan demi masa depan murid itu sendiri?

Setiap anak terlahir sebagai karya seni unik yang tidak bisa diseragamkan. Seorang atlet renang yang mampu menembus rekor nasional memiliki kecerdasan kinestetik dan ketahanan mental yang luar biasa—sebuah pencapaian yang sama mulianya dengan seorang siswa yang menjuarai olimpiade matematika. Mengukur ikan dari kemampuannya memanjat pohon adalah bentuk ketidakadilan terbesar dalam pendidikan.

Anak-anak ASSC adalah bukti nyata bahwa bakat nonakademik mampu membentuk karakter manusia yang tangguh, disiplin, berintegritas, dan pantang menyerah. Kualitas diri yang belum tentu bisa didapatkan hanya dari duduk diam mendengarkan ceramah di dalam kelas.

Kini, 48 atlet ASSC dari jenjang PAUD hingga SMA dengan gagah berani melompat ke lintasan Aquatik National Swimming. Mereka melompat bukan lagi dengan sisa-sisa ketakutan dari masa lalu, melainkan dengan jiwa yang telah pulih, dibalut doa orang tua, dan dikuatkan oleh tekad membara.

Mereka membawa pesan bahwa mental yang sempat diacak-acak oleh oknum tidak akan pernah bisa memadamkan api cita-cita. Setiap kecipak air yang mereka hasilkan adalah jawaban tegas atas keraguan, hambatan, dan ketidakadilan yang pernah mereka torehkan.

Kepada seluruh pemangku kepentingan pendidikan, mari kita buka mata dan hati kita. Dampingilah anak-anak ini. Jika kita tidak bisa menjadi jembatan finansial bagi mimpi-mimpi mereka, janganlah kita menjadi tembok tebal yang menghalangi langkah mereka. Biarkan anak-anak kita merdeka dalam belajar, merdeka dalam berprestasi, dan merdeka menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *