Nisan Sepuluh Tahun

Nisan sepuluh tahun itu. Aku diseret di antara seabrek “baca-baca”. Kemudian merebahkanku dalam seribu wangi bunga. Tetapi mereka keliru. Semua sepertinya hanya terpaksa.

Ada nama dan setangkai terbuang, dilupakan. Semenjak kemanusiaan telah dibajak. Ada menghitung, mengeja, dan menjamah sesama manusia, hanya karena saling merasa.

Pustaka kubawa ke mana saja sebagai pusaka. Memahat dan menjadikanku dalam kesadaran tanpa memaksaku beradab. Atau hanya untuk berpura-pura. Berharap suaka, tetapi didapati hanya petaka.

Di atas nisan itu tidak ada sumpah, yang ada hanya serapah ternyata.

Kutulis nama, dengan tangan gemetar yang dulu pernah menunggu kabar. Sekarang satu toreh itu mulai kuanggap receh. Dari sekian orang-orang suka reseh.

Seketika baca-baca tumpah, tetiba menjadi sampah yang harus kupunguti setiap perhelai.

Sepuluh tahun, nyaris lupa pulang. Saat di luar sana mercusuar dan pesta petasan memberinya harapan. Saat kencan di antara kelopak mawar, yang sebasah bekas pertama kali dia mengucap dan mengecup.

Ternyata dia terseret kembali fatamorgana.
Kau terlalu mengekspos dan berselebrasi, saat sensasi itu hadir, seakan mendekapmu. Vi kembali menyembuhkan duka Danu.

Sepertinya begitulah adanya: Bapas Danu menderu:

Ternyata sepuluh tahun itu, bukan waktu hilang. Dia hanya dititipkan. Di antara meja, puisi, kelakuan, dan pengakuan. Tidak harus dihafal dan dirafalkan.

Cukup memahami. Ternyata kebiasaanku menunggangi kata, lupa bahwa kata juga bisa menunggangiku kembali pulang.

Danu. Retas, ada seutas tali menjadi pegangan. Jelang saat peziarah kembali pergi.

Dia adalah runut dan karma. Kau tahu itu? Danu seakan berkontemplasi. Mengarahkan doanya untuk tidak lagi berlebihan meminta.

Aku melupakan, melintas untuk lebih jauh, sementara belum tuntas. Aku kira bisa mengendalikan.

Padahal yang selama ini merusuk, merasuk, dan membujuk hingga merasakan ke puncak yang sesungguhnya terjal dan terbuang.

Kau harus meriset diri kembali. Vi nyeletuk. Karena dulu kau terlalu berisik. Dan serapah itu bukan dari orang lain.

Bahkan sampahnya kau sendiri yang menyebar. Dan dulu sepertinya kau merasa kencang paling benar. Padahal itu hanya “pembenaran”.

Jejak, setangkai laku, setanggung hari ini telah engkau tuai. Meski kebanyakan orang kabur.

Nisan itu. Sepuluh tahun itu. Sehelai bunga menjadi penuntun. Tanpa mantra sakti, diselipkan kepentingan. Jauh pada sebuah hal luhur. Menjadi lazim tanpa modal. Secara materialis.

Tidak akan merilis, nisan itu tetap terjegal di antara kepingan sepuluh tahun itu. Percakapan Vi dan Danu, bagai rindu bertalu, meski harus berjarak pada syarat dan isyarat.

Di antara syarat dan isyarat itu, belajar tidak lagi menagih kehadiran. Ada bunga meski sehelai tetapi luhur. Dan menjadi penjaga makam.

Ada datang hanya untuk menaruh. Dan menagih malah. Lalu pergi. Dan itu sama dia pergi mengenali takdir itu sendiri.

Sepuluh tahun, bukan hitungan, bukan hidangan. Bukan pula pameran. Di sana tempat kau menanam, menyulam ulang namamu, tanpa harus berisik dan menagih. Bahwa kau perang di antara sepuluh tahun itu.

Kau ternyata memang tersesat sepuluh tahun itu, Danu.

Di sanalah laboratoriummu yang tidak umum. Tetapi kau pecahkan teka-teki, dan membelahnya dengan harapan dapat pengakuan dan penghormatan.

Danu. “Kau telah terjebak, dengan melawan dari musuh-musuh mereka dan termasuk dirimu sesungguhnya.” Vi menatap Danu, yang mulai terlihat ambigu, dengan gaya centilnya.

Beberapa baca-baca mengacung ke langit. Tetiba terik mendustai musim. Hujan pengakuan, hajat penebus untuk jalan mulus. Pada titik tertentu kita mulai ragu.

Suara Danu pelan, menaruh secangkir kopinya bekas pagi tadi.

Kau dengar lesung menjadi tarian eksotik? Yang dulunya diziarahi dengan suka cita? Kali ini sama nisanmu sepuluh tahun. Semua menjadi amarah, protes, dan merasa paling ibadat, padahal banyak sekat yang dibuat untuk saling sikat sesama.
Cekatan Danu pura istigfar. Menebus kopi paginya, di tengah lesung kehidupan bertalu saling beradu dan sikut-sikutan.

Aku pada akhirnya mungkin memilih tetap menjadi nisan, melupakan sepuluh tahun. Tanpa pusara biar kau tidak merasa terpaksa kasihan, iba, dan sedih. Vi menyeka air matanya, tanpa Danu tahu.



Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *