Menyemai Ekosistem Literasi di Kampus Ungu

Kemarau dan kelangkaan BBM menghidu Bantaeng. Kondisi itu tak menyurutkan hasrat saya memacu motor butut ke pelosok. Persisnya ke Pondok Pesantren Al-Furqan, Ereng-Ereng, Bantaeng. Pesantren ini lebih intim mendaku diri sebagai “Kampus Ungu”.

Apa gerangan hajatannya?

Menunaikan undangan dari salah seorang pembina, sekaligus owner produsen Kopi Turaya, Mutahhir Nuh, untuk memantik satu hajatan literasi. Bertajuk “Pelatihan Literasi Cerdaskan Generasi”. Selama tiga hari, Jumat–Ahad, 11–13 September 2026, seusai Asar hingga Magrib.

Rencana awal, cuma sehari. Namun, karena permintaan para santri—berjumlah ratusan selaku penghadir—saya tak kuasa menolak tatkala mereka meminta hingga ke pucuk pekan. Setelah bernegosiasi dengan pembina, maka kun-lah: helatan literasi selama tiga hari.

Hari pertama dan kedua, saya masih seorang diri menyajikan materi. Hari ketiga, pasutri Ikbal Haming dan Nurul Aqilah Muslihah dari Balla Literasi Indonesia ikut menyata, menyukseskan pelatihan.

Saya membawa beberapa pokok bahasan: membaca dan menulis, free writing, serta esai. Adapun resensi buku diampu Ikbal Haming. Nurul Aqilah mengenalkan visi Balla Literasi Indonesia, yang dapat menjadi mitra dalam merawat tradisi literasi di pesantren.

Materinya mungkin sederhana. Namun, literasi memang tidak selalu bermula dari perkara besar. Sebuah kebiasaan kecil kadang lebih menentukan daripada sebuah seremoni besar.

Saya justru membayangkan sesuatu yang melampaui ruang pelatihan. Apa yang terjadi setelah pelatih pulang? Apa yang tersisa setelah kursi dirapikan, foto kegiatan dibagikan, sertifikat diterima, lalu hari kembali berjalan seperti biasa?

Pertanyaan itu penting. Sebab literasi mudah sekali terjebak menjadi acara.

Sederet acara: pelatihan,  seminar,  lomba, pojok baca, perpustakaan. Semua tampak bergerak. Namun, belum tentu literasi benar-benar hidup.
Literasi baru hidup, ketika membaca dan menulis menjelma kebiasaan.

Karena itu, saya memulai dari hubungan membaca dengan menulis. Saya ingin peserta melihat keduanya sebagai satu tarikan napas. Membaca menyediakan bahan bagi pikiran. Menulis mengolah bahan itu menjadi gagasan.

Makin kuat tradisi membaca, makin besar peluang seseorang menjadi penulis. Sebaliknya, penulis yang baik hampir selalu seorang pembaca yang tekun.

Seorang penulis tidak lahir dari ruang kosong. Ia membawa bekal bacaan, pengalaman, pengamatan, percakapan, kegelisahan, bahkan kesunyian. Semua berkelindan di dalam kepala sebelum menjelma tulisan.

Membaca membuat kita memiliki sesuatu untuk dikatakan. Menulis memaksa kita bertanggung jawab atas apa yang kita katakan. Namun, di antara membaca dan menulis terdapat satu jurang: kebiasaan.

Banyak orang membaca, tetapi belum tentu menulis. Banyak pula orang ingin menulis, tetapi terlalu lama menunggu gagasan sempurna. Inspirasi ditunggu seperti tamu agung. Ketika ia tak kunjung datang, halaman tetap kosong.

Saya mengajak peserta melewati jurang itu melalui free writing. Yah, menulis bebas. Tulis saja.

Tidak perlu menunggu kalimat pertama yang sempurna. Tidak perlu menunggu gagasan besar. Tuliskan apa yang dilihat, dirasakan, dipikirkan, dialami. Tuliskan kegelisahan yang belum selesai. Tuliskan pertanyaan yang belum menemukan jawaban.

Menulis perlu latihan. Saya menyebutnya latihan menggerakkan otot-otot kepenulisan. Otot yang jarang digunakan akan kaku. Begitu pula pikiran dan tangan.

Free writing membuat seseorang terbiasa menulis tanpa terlalu cepat menghakimi tulisannya sendiri.

Dari kebiasaan semacam itu, sesuatu yang menarik mulai mungkin terjadi. Catatan kecil yang semula dianggap remeh dapat menjadi benih tulisan. Sepotong pengalaman dapat berkembang menjadi refleksi. Satu pengamatan dapat membuka pintu menuju gagasan. Di sinilah free writing menjadi lapik bagi esai.

Esai tidak selalu turun dari langit sebagai gagasan utuh. Ia dapat tumbuh dari serpihan. Penulis hanya perlu sabar memungut serpihan itu, memilihnya, mengolahnya, lalu memberinya bentuk.

Maka, menulis esai bukan semata-mata persoalan merangkai kalimat. Ia merupakan proses menemukan makna dari apa yang kita lihat dan alami.

Lalu, Ikbal Haming memukau para santri dengan teknik meresensi buku. Materi ini membawa proses literasi ke arah lain.

Membaca buku jangan berhenti pada halaman terakhir. Setelah buku selesai dibaca, pembaca perlu bertanya: Apa gagasan pentingnya? Apa yang menarik? Apa yang mengganggu pikiran saya? Apa yang dapat saya setujui? Apa yang perlu saya sanggah?

Resensi mengubah pembaca pasif menjadi pembaca kritis.

Lebih jauh lagi, resensi menciptakan sirkulasi. Seseorang membaca buku, kemudian menulis resensi. Resensi dibaca orang lain. Orang lain tertarik pada buku tersebut. Ia membaca. Lalu menulis tanggapan. Begitu seterusnya.

Buku melahirkan tulisan. Tulisan mengundang pembacaan baru. Di situlah ekosistem literasi mulai terbentuk.

Ekosistem tidak cukup hanya dengan buku. Buku perlu menemukan pembacanya. Pembaca memerlukan ruang untuk berjumpa, lalu perjumpaan melahirkan percakapan. Percakapan mengendap menjadi tulisan. Tulisan kembali mengantar pembaca kepada bacaan berikutnya. Dari siklus semacam itu, pengetahuan beredar, gagasan berbiak, dan tradisi literasi perlahan berakar.

Karena itu, sekolah—atau pesantren—yang hendak membangun ekosistem literasi tidak cukup bertanya, “Berapa banyak buku yang kita punya?”

Pertanyaan yang lebih penting: “Berapa banyak buku yang benar-benar dibaca?”

Kalakian, “Berapa banyak bacaan yang melahirkan tulisan?”

Kemudian, “Berapa banyak tulisan yang dibaca kembali oleh orang lain?”

Rantai semacam itu jauh lebih penting daripada sekadar menghitung kegiatan.

Pelatihan yang kami jalani di Kampus Ungu, dengan demikian, saya anggap sebagai sebuah penyemaian. Saya tidak sedang membayangkan semua peserta pulang sebagai penulis. Jauh lebih penting, bila mereka pulang sebagai pembaca, lebih tekun dan penulis yang lebih berani.

Dari sana kebiasaan dapat tumbuh. Kebiasaan melahirkan karya. Berlapikkan karya, mewujud percakapan. Beralaskan percakapan, tumbuh komunitas. Lewat komunitas, perlahan terbentuk kebudayaan.

Maka ukuran keberhasilan sebuah pelatihan literasi, sesungguhnya bukan ketika pelatihan selesai. Justru setelah pelatihan selesai, ukurannya mulai bekerja.

Apakah masih ada santri yang membuka buku, kala tidak ditugaskan?

Apakah masih ada tangan yang menulis, saat tidak diminta?

Apakah masih ada pembina, mengajak santri membicarakan buku?

Apakah masih ada tulisan, lahir dari kegelisahan sehari-hari?

Apakah perpustakaan berubah menjadi ruang perjumpaan, bukan sekadar ruang penyimpanan?

Manakalah semua itu mulai bergerak, benih telah menemukan tanahnya. Pelatihan hanyalah pemantik. Ekosistem membutuhkan perawatan.

Sebab literasi bukan peristiwa sehari. Ia laku yang berulang: membaca, menulis, membaca lagi, menulis lagi. Sedikit demi sedikit. Hari demi hari.

Barangkali, dari pengulangan sederhana itulah, sebuah pesantren menemukan denyut intelektualnya.

Ketika membaca berakar selakon kebiasaan, menulis tumbuh selaku kelaziman, buku hadir selaik teman, dan gagasan mengalir dari satu kepala ke kepala lain, literasi tak lagi sekadar program. Ia hidup serupa kebudayaan.

Magrib di hari Ahad mengharu ungu sewarna Kampus Ungu. Senja seakan menyisakan satu pertanyaan sekaligus harapan: apakah benih yang kami semai akan tumbuh?

Nurul Aqilah menggenapkan perjumpaan dengan simpai janji: akan datang kembali bersama pegiat Balla Literasi Indonesia, guna merawat dan mengawetkan ekosistem literasi di Kampus Ungu.

Barangkali, benih itu mulai berakar. Bukan lewat gemuruh seremoni, melainkan ketika beberapa santri, kembali membuka buku, selepas kami pulang. Apatah lagi, kami diberi oleh-oleh khas Ereng-Ereng: kopi. Yah, Kopi Turaya.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *