Dia bukan situs, apalagi sebuah ritus. Bagai sirkus dan bersiklus.
Katanya berasal dari bahasa Latin yang berarti kondisi, keadaan, atau penampilan, yang merupakan bentuk turunan dari kata kerja habere (memiliki atau berada dalam kondisi tertentu).
Menunjukkan suatu watak, keadaan tubuh, atau perilaku yang tetap dan mendarah daging, bukan sesuatu yang bersifat sementara.
Pierre Bourdieu menancapkan sesuatu pada pola dan istilah ini sebagai sistem disposisi mental dan fisik (cara berpikir, bersikap, dan bertindak) yang terinternalisasi dari lingkungan sosial, sejarah, serta budaya seseorang, sehingga tindakan tersebut tampak alami tanpa harus dipikirkan secara sadar.
Ditambahkan lagi bahwa: Sistem disposisi mental dan fisik yang terinternalisasi, sehingga tindakan tampak alami tanpa harus di pikirkan.
Berusaha menelaah. Di mana di sana adalah penjara tanpa tembok.
Tidak ada jeruji. Tidak ada kunci.
Hanya ada “sudah lazim” dan “dari dulu begitu”. Begitulah kira-kira menurutnya.
Fenomena tersebut masuk di antara dinamika sosial, budaya. Sederhananya sebagai ilustrasi pada percakapan dua pasangan atau manusia misalnya.
Saling berebut naskah kebenaran dan kehidupan yang dipaksa layak menjadi prahara dan petaka. Telah diaturnya hukum dominasi bahwa laki-laki harus kuasa dan perempuan harus menanggung salah.
”Laki-laki berhak marah. Perempuan harus sabar.”
Yang kaya punya modal berkuasa, yang strata bawah, miskin menjadi pekerja, budak dan harus patuh, tunduk secara teratur.
Padahal itu jebakan, untuk sebuah hukum sosial telah meringsut menjadi panduan yang harus kita ikuti.
Yang bikin kita susah keluar bukan karena dikunci. Tapi karena kita kira itu rumah.
Aku mulai merasa tidak aman. Ketika nilai habitus telah membuatku terperangkap, secara sadar aku seharusnya kembali ke rumah sesungguhnya.
Tidak pakai topeng atau membaca peta yang kemarin kopi tumpah menjadi jejak sehari, karena masih marah. Masih terjebak, masih merasa paling pemenang apalagi paling benar.
Saat ajaran mitos dan tahyul itu mengubah caraku membaca naskah kehidupan. Sementara aku tidak punya habitus yang lengkap. Mengangguk, tunduk. Harus mengalah.
Di sini juga telah lazim. Ketika kepandaian, kebaikan itu hadir, hanya karena bukan pemilik modal, pangkat, golongan akademisi yang masih suka kisi-kisi. Harus mengalah, tersudut di tepi kepentingan kalangan habitus yang juga mereka tidak sadari.
Mengalah, pasrah sebab ini sudah dinamika sosial. Ternyata aku masuk tercebur di dalamnya juga bersama mereka. Sama-sama masih suka membajak. Mengajak masuk ke liang yang sama sebagai korban sosial.
Biar cukup mengubah paradigma, atau bersekongkollah dengan defenisi, tidak juga mengubahku untuk menjadi kebenaran, kemuliaan, derajat, sementara saat kopi tumpah di lambung, aku masih menyeduhkan kebohongan di antara kejujuran dan situasi yang palsu.
Kiatnya tidak terselubung. Dia nyata, kita sadar masuk radar.
Rindangnya pohon, tapi tak berbuah. Daun lebar mengutip habitus menjadi ranting dan pucuk menjadi daun serta bunga. Dia menjadi kodrati atau dipaksa di tebas diantara ranting. Untuk menumbuhkan pucuk yang lebih kelak mekar.
Tidak pernah kita tanya, ini buahnya untuk apa? Tumbuh alami, atau dipaksa untuk biar rapi? Di sanalah sistem Habitus menerobos dalam ranah pendidikan, ceramah, tuntunan sosial. Biar pucuk baru mekar, tapi sakit begitu menyayat lebih dahulu.
Itu cara menebus menerapkan habitus. Artinya katanya kebebasan bukan hukuman. Itu pemangkasan biar buahnya mekar. Dia menjadi kesenjangan kemudian mengubah menjadi kesadaran baru.
Kita sibuk hanya menyiram, memupuk, memotong, memangkas, tetapi tidak pernah kembali bertanya ini pohon untuk bernaung, atau hanya pamer bahwa dia rindang!?
Habitus begitu halus, masuk ke setiap celah. Masuk lewat pendidikan mengatur jangan banyak tanya. Nurut saja. Masuk di antara ceramah bahwa yang membedakan ketaatan itu mereka sesat tanpa berusaha tahu dan memahami cara kerja spiritualis. Bukan merilis diri untuk lebih dikenal Tuhan. hemm.
Sedangkan masuk di celah tatanan sosial: Malu kalau tidak sama dan kayak tetangga. Padahal setiap individu manusia beda dalam menafkahi dan bertarung hidup.
Yang berbahaya, habitus tidak berteriak. Ia berbisik pelan. Sejak itu masih diayunan.
”Anak baik itu diam, perempuan baik itu mengalah”. Yang kaya itu lebih berhak, dan miskin itu tetap mengalah. Pasrah.
Yang tampak alim, adalah ternilai saleh dan baik, yang tidak kelihatan di pengajian, terlihat kumal dan tidak baik.
Lamat-lamat bisikan itu jadi suara kita sendiri. Kita kira itu hati nurani, padahal itu benar dari balik tembok dan kanal karakter yang tak pernah kita lihat.
Dan kita hidup di dalamnya. Sambil menyebutnya “memang sudah demikian begitu adanya”.
Hadir sebagai kerangka penafsiran untuk memahami dan menilai realitas dan penghasil praktik-praktik kehidupan yang sesuai dengan struktur-struktur objektif. Habitus menjadi dasar kepribadian individu (Haryatmoko, 2016: 41).
Dengan demikian habitus adalah pandangan hidup, nilai-nilai, gaya, dan sebagainya.
Lalu bertranformasi seiring Habitus itu sudah menjadi pintu awal sejak kebiasaan dan karakter itu bersinggungan pada keluarga, lingkungan masyarakat.
Apakah ini kebiasaan, atau keterpaksaan yang menyesuaikan budaya sekitar?
Aku tidak tahu! Yang kutahu, setiap buku yang kubaca dulu, menjadi kapak kecil di kepala. Mengajarkan cara menebang pikiran, dan membelah argumen.
Aku menyadari diantara dua persepsi, hasil interaksi yang kubangun sendiri bahwa dia bukan penjara. Dia rumah dan aku memilih tinggal di ruangan mana.
Sepakat dengan argumen ini: Proses sosialisasi nilai-nilai yang berlangsung lama sehingga mengendap menjadi cara berpikir dan pola perilaku yang menetap di dalam diri manusia.
Ini karakter, pribadi yang dominasi. Tergantung bagaimana menghadapi, menjalani secara individu manusia untuk memanfaatkan faktor dominasi hang telah menjadi habitusnya sendiri.
Bukan takdir yang memaksa, dia seperti furnitur dalam rumah. Ada meja yang selalu kita pakai menulis. Ada kursi bisa kita banting saat marah mendominasi.
Ada pintunya tetap bisa kita buka, jendelanya masih bisa kita dorong. Masalah ha bukan pada dominasinya, masalahnya ketika kita lupa, bahwa kita juga yang meletakkan furnitur itu dulu. Dan kita yang berhak memindahkannya.
Rupa-rupanya kita tidak pernah memilih. Hanya mewarisi cara berjalan, cara bicara, cara marah dan berdoa.
Lalu kumerasa itu adalah “aku”.
Padahal itu adalah baju turun-temurun di balik temaran padahal, kesadaranku ini hanya remang-remang.
Tetiba kembali mengibuliku, lalu kusiapkan di atas meja kayu sebuah catatan sekadar pengingat saat aku mulai mengigau:
”Kita ini bukan sedang hidup, hanya sedang mengulang”. Lalu kunamai sampul besar itu adalah “karakter”.
Dia masuk ke relung dan paling-palung kebiasaan. Ada menetap tinggal di dapur, cara ibu menakar garam tanpa sendok, cara Tata” (ayah) memperlakukan kebiasaan terhadapku. Dan saat membetulkan sarungnya. Bahkan cara kami tertawa kalau ada yang gagal, lalu bilang “ini sudah nasib”.
Habitat itu menjadi kembali mengusung Habitus. Semua tahu harus diam, juga kapan harus berpura-pura kuat, kapan harus bilang berucap “Alhamdulillah”. Padahal di dalam jiwa, hati pikiran mau pecah dan hendak memuncah.
Kukira selama ini itu iman. Ternyata itu latihan. Agar setidaknya mencoba kembali merangsang “kesadaran” itu sendiri.
Meski tidak harus merasa paling jujur serta sok tafakur. Ternyata jahatnya si Habitus itu bukan di baju ( subjektif ). Tapi di kepala. Dia memutuskan siapa pantas didengar, disayang. Hem.
Tanpa debat, tanpa voting. Bekerja diam-diam merebahkanku sampai menawariku mimpi beribu jejak yang telah terbangun sejak masa kanakku. Menjadikan satpam di gerbang pikiranku.
Aku terjebak untuk tidak berbeda. Sebab berbeda itu katanya bahaya, dan yang sama itu selamat. Pening di kepalaku makin kumat.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply