Balas Jasa, Untung Rugi

Sadar atau tak disadari, rutinitas kita masih bertaut pola balas jasa dan untung rugi. Di era serba cepat dan kompetitif ini, setiap orang dituntut memenuhi capaian kalkulatif, padahal, fitrah manusia jauh melampaui batas-batas material.

Kadang kita abai, sekadar melihat sisi paling dalam wujud kita sendiri. Wujud kita yang melekat pada material, pada akhirnya, kita ikut terpenjara olehnya. Pernahkah sejenak kita melihat sisi lain dari wujud kita?

Tak disangkal, kemelekatan manusia hanya berkutat pada aspek fisik dan psikologis. Pernahkah kita sejenak beranjak dari aspek kedua itu? Manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya, memiliki lapisan-lapisan persepsi. Persepsi indrawi, psikologis, dan batin. Jika dipandang dari segi penciptaan, manusia tersusun dari alam material, nafsani, dan ruh.

Setiap lapisan penciptaan memiliki persepsinya masing-masing. Indera manusia melihat bentuk dan warna, psikologis lebih pada mentalitas dan perilaku, sedangkan persepsi batin lebih subtil lagi, kita akan diajak menyalami lautan spiritualitas tak terbatas. Jalaluddin Rumi mengandaikan, ketika seseorang belum keluar dari persepsi indrawi, ia akan terasing dari gambaran alam gaib.

Persoalan manusia modern kini, hanya bergulat untung rugi dan balas jasa. Artinya, kita masih terjebak pada bentuk dan kepemilikan. Pada titik ini, kita sering mengalami keterasingan. Dalam Kitab Matsnawi, Rumi menabalkan “Semakin ahli dunia, meski terlihat maju, secara makna semakin terbelakang”.

Ihwal untung rugi dan balas jasa hanya terjadi di alam dunia materi dan nafsani. Kemelaratan manusia ketika sengaja menjatuhkan dirinya ke tempat yang rendah, padahal ia datang dari tempat yang mulia. Dalam diri insan, terdapat keagungan. Bukankah, di dalam diri berlapis-lapis alam semesta menyata, lautan yang tak bertepi, dan ada seratus kamu tenggelam di dalam dirimu.

Mungkin, selama ini kita mengira, manusia sebatas raga dan psikis, lebih dalam lagi, Tuhan menganugerahkan cahaya ruh, tempat asali manusia. Keberanian melangkah lebih jauh lagi, merupakan kesadaran hakiki eksistensi manusia.

Seluruh luka dan derita hanya berporos di dimensi materi dan psikis, jika sedikit saja kita mau beranjak dari dua alam itu, maka, luka dan derita adalah penawar derita itu sendiri. Sebagaimana kata Rumi, “Obat derita ada di dalam derita. Jika engkau tidak punya goresan luka, lalu bagaimana cahaya dapat masuk ke dalam tubuhmu? Jangan khawatir terhadap adanya luka, sebab luka adalah celah, yang melaluinya cahaya dapat masuk.”

Ketertawanan manusia pada alam materi dan psikis, lantaran ketidakhadiran terhadap diri sendiri. Padahal, kesempurnaan manusia melebihi makhluk Tuhan lainnya. Kesempurnaan manusia bisa dilihat dari anatomi penciptaannya. Berawal dari saripati mineral, kemudian menjadi tumbuhan, dari tumbuhan mati, lalu menjadi hewan, dari hewan mati lagi, lalu menjadi manusia.

Selain tubuh jasmani, manusia memiliki lapisan nafsani, ruh, dan asma ruhani. Setiap lapisan memiliki dimensi alamnya sendiri-sendiri, sekaligus ego masing-masing. Puncaknya, manusia fana bersama zat Ilahi. Maka, dengan melampaui alam jasmani dan nafsani, kita sedang dalam pelukan Ilahi. Artinya, berkat kehendak-Nya, nama-nama Tuhan bekerja untuk kita.

Melampaui alam materi dan bentuk nafsani, manusia akan merasakan ketakjuban, seolah melihat dirinya dengan cermin Ilahi. Inilah karunia Ilahi yang didapatkan dari amal perbuatan kita sendiri. Bukankah di dunia fana ini, tak ada satu pun kita miliki, kecuali, satu-satunya amal perbuatan manusia.



Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *