Ada pertemuan yang sejak awal tidak pernah direncanakan untuk menjadi sebuah kisah cinta. Ia hadir begitu saja, tumbuh di antara kesibukan, canda, kebersamaan, dan hari-hari sederhana yang kelak justru menjadi kenangan paling sulit dilupakan.
Begitulah kisah seorang gadis yang datang ke sebuah desa untuk menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Baginya, desa itu hanyalah tempat pengabdian. Tempat untuk belajar bersama masyarakat, mengenal kehidupan baru, menyelesaikan program kerja, dan pulang membawa pengalaman. Ia tidak pernah menyangka bahwa di antara rumah-rumah warga, jalan desa, kegiatan masyarakat, dan malam-malam panjang bersama teman-teman KKN, akan ada seseorang yang perlahan mengusik hatinya.
Laki-laki itu adalah salah satu teman satu kelompok KKN. Pada awalnya, tidak ada yang istimewa. Mereka hanyalah dua orang yang kebetulan berada dalam satu lingkungan, menjalani aktivitas yang sama, menghadapi lelah yang sama, dan sesekali berbagi cerita. Namun, waktu memang memiliki cara sendiri untuk mendekatkan dua manusia.
Hari demi hari berlalu. Perhatian kecil mulai terasa berbeda. Percakapan yang awalnya biasa berubah menjadi sesuatu yang ditunggu. Pesan-pesan sederhana mulai memiliki arti. Candaan menjadi alasan untuk tersenyum. Kebersamaan yang semula hanya bagian dari kegiatan KKN perlahan berubah menjadi ruang tempat perasaan tumbuh.
Laki-laki itu berusaha mendapatkan hati sang gadis. Ia hadir ketika gadis itu membutuhkan teman bicara. Ia mencoba menjadi seseorang yang bisa dipercaya. Ia menunjukkan perhatian, memberikan waktu, dan perlahan meyakinkan bahwa perasaannya bukan sekadar permainan.
Sang gadis yang semula menjaga jarak akhirnya mulai luluh. Mungkin bukan karena kata-kata indah. Bukan pula karena janji-janji besar. Tetapi karena ia melihat sebuah ketulusan dari seseorang yang terus berusaha mendekatinya.
Hati yang sebelumnya tertutup perlahan membuka pintunya. Dan ketika hati seorang perempuan mulai percaya, sebenarnya ia sedang menyerahkan sesuatu yang sangat berharga: kepercayaan.
Ia mulai percaya bahwa perhatian itu nyata.
Ia mulai percaya bahwa perjuangan laki-laki itu memiliki tujuan yang baik.
Ia mulai percaya bahwa mungkin, di antara banyak orang yang datang dan pergi dalam hidupnya, laki-laki itu adalah seseorang yang layak diberi kesempatan.
Namun, cinta tidak selalu berjalan searah dengan harapan.
Ada satu hal yang sering kali tidak disadari manusia: kebohongan mungkin bisa disembunyikan untuk sementara waktu, tetapi kebenaran selalu memiliki jalan untuk menemukan dirinya sendiri. Beberapa hari terakhir, laki-laki itu begitu gigih memperjuangkan hatinya. Tetapi di balik semua perhatian dan perjuangan tersebut, ternyata ada sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan.
Sebuah kebohongan. Awalnya mungkin ia menganggap kebohongan itu kecil. Mungkin ia berpikir tidak perlu menceritakannya. Mungkin ia takut kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hati sang gadis. Atau mungkin ia merasa kebohongan tersebut dapat disimpan rapat-rapat tanpa pernah terbongkar.
Tetapi sebuah kebohongan, sekecil apa pun, memiliki harga. Dan harga dari kebohongan itu adalah kepercayaan.
Ketika sang gadis akhirnya mengetahui kebenarannya, dunia kecil yang baru saja ia bangun bersama laki-laki itu seakan runtuh dalam sekejap, bukan karena ia tidak bisa menerima kenyataan, melainkan karena ia merasa dikhianati oleh seseorang yang baru saja ia percaya.
Betapa ironisnya. Saat hati perempuan itu akhirnya terbuka, justru pada saat yang sama kebohongan laki-laki itu terbuka pula. Seolah-olah waktu sedang memperlihatkan sebuah pelajaran: bahwa ketulusan tidak akan pernah bisa berjalan bersama kebohongan.
Perempuan itu mungkin menangis. Mungkin ia bertanya dalam hati, mengapa seseorang yang begitu bersungguh-sungguh mendapatkan hatinya justru menyimpan sesuatu yang dapat menghancurkan kepercayaan itu sendiri.
Mungkin yang paling menyakitkan bukanlah kebohongannya, tetapi kenyataan bahwa ia sudah mulai percaya. Sebab ketika seseorang belum kita percaya, kebohongannya mungkin tidak terlalu berarti. Namun ketika seseorang sudah kita tempatkan di tempat yang istimewa dalam hati, satu kebohongan saja mampu mengubah seluruh pandangan tentang dirinya.
Kisah itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar cinta lokasi anak KKN. Ia menjadi kisah tentang kepercayaan, tentang bagaimana sebuah perasaan dapat tumbuh dari kebersamaan yang sederhana. Tentang bagaimana seseorang dapat memperjuangkan hati orang lain dengan penuh kesungguhan. Dan tentang bagaimana semua perjuangan itu dapat kehilangan maknanya hanya karena satu kebohongan yang dibuat sendiri.
Barangkali laki-laki itu memang memiliki perasaan yang tulus, barangkali perjuangannya selama beberapa hari memang benar-benar datang dari hati, tetapi ketulusan yang dibangun di atas kebohongan tetap akan meninggalkan luka.
Sebab cinta bukan hanya tentang seberapa keras seseorang memperjuangkan hati orang lain. Cinta juga tentang seberapa berani seseorang berkata jujur ketika kebenaran itu mungkin membuat dirinya kehilangan. Sang gadis pun akhirnya belajar bahwa membuka hati bukan berarti harus kehilangan harga diri.
Ada kalanya kita harus mundur bukan karena sudah tidak memiliki rasa, tetapi karena kita mulai memahami bahwa seseorang yang benar-benar mencintai kita seharusnya tidak membuat kita mempertanyakan nilai diri sendiri.
Dan mungkin, inilah bagian paling pahit dari sebuah pertemuan: dua manusia datang sebagai orang asing. Menjadi teman, menjadi dekat, saling memberikan perhatian.
Salah satunya mulai berharap. Kemudian ketika hati mulai membuka diri, sebuah kebohongan datang dan menghancurkan semuanya.
KKN yang awalnya hanya tentang pengabdian kepada masyarakat akhirnya meninggalkan cerita yang jauh lebih dalam bagi keduanya. Sebuah cerita yang mungkin tidak akan tertulis dalam laporan KKN, tidak tercantum dalam program kerja, dan tidak pernah dibahas dalam rapat kelompok.
Namun, cerita itu akan tinggal di dalam ingatan. Desa itu mungkin kelak hanya menjadi sebuah titik dalam perjalanan hidup mereka. Rumah warga, jalan desa, tempat berkumpul, malam-malam penuh cerita, dan segala aktivitas KKN mungkin suatu hari hanya menjadi kenangan.
Tetapi ada satu hal yang mungkin sulit dilupakan oleh sang gadis. Ia pernah membuka hatinya kepada seseorang yang memperjuangkannya dengan begitu keras, tetapi pada akhirnya harus menelan pahit karena orang yang sama pula yang menghancurkan kepercayaan itu dengan kebohongannya sendiri.
Mungkin memang benar, tidak semua orang yang datang untuk memperjuangkan kita ditakdirkan untuk tinggal. Ada yang datang untuk memberikan kebahagiaan, ada yang datang untuk memberikan pelajaran dan ada pula yang datang dengan membawa keduanya sekaligus.
Kisah mereka mungkin tidak berakhir dengan kata “bersama”, namun, bukan berarti kisah itu tidak memiliki arti. Sebab terkadang, seseorang yang membuat kita patah hati justru mengajarkan bahwa kejujuran jauh lebih mahal daripada kata-kata cinta. Bahwa perhatian tanpa kejujuran tidak akan pernah cukup. Dan bahwa hati yang tulus tidak seharusnya dibayar dengan kebohongan.
Pada akhirnya, sang gadis mungkin akan memilih pergi bukan karena perasaannya tiba-tiba hilang, tetapi karena ia sadar bahwa cinta tanpa kepercayaan hanya akan menjadi luka yang terus berulang. Sementara laki-laki itu mungkin akan menyadari satu hal yang terlambat: mendapatkan hati seseorang bukanlah kemenangan.
Yang lebih sulit adalah mempertahankan kepercayaan setelah hati itu berhasil didapatkan. Dan ketika kepercayaan telah hancur, seribu kata maaf pun belum tentu mampu mengembalikannya seperti semula.
Karena itu, jika suatu hari seseorang memberikan ketulusannya kepadamu, jagalah. Jika seseorang memberimu kepercayaan, jangan sia-siakan, sebab hati manusia bukan tempat untuk menguji seberapa jauh kebohongan dapat disembunyikan.
Hati adalah tempat di mana kejujuran seharusnya tinggal dan kisah dua anak KKN itu akhirnya meninggalkan sebuah kalimat sederhana, tetapi mungkin akan terus dikenang.
Ketulusan yang dibayar dengan kebohongan mungkin tidak selalu berakhir dengan kebencian, tetapi hampir selalu meninggalkan luka yang membutuhkan waktu panjang untuk disembuhkan.

Akrab disapa Bung Leo, lahir di Bantaeng 16 April 1983. Aktivitas sekarang sebagai pengelola perpustakaan dan relawan literasi Desa Bonto Jai.


Leave a Reply