Religius dan Tendensius

Tumpahan manusia setiap lima menit menuju sesembahan. Menumpuk amaliah dan pahala katanya, berbaris menunggu contekan Tuhan.

Data sensus penghuni religi begitu tinggi mendominasi, dengan gigih sampai suatu waktu menghitung sekian persen penghuni yang masuk kategori. Membuatku agak sedikit risih. Tuhan bukan hitung-hitungan.

Kadang tidak sesuai realita. Sampai para pencari pahala kelimpungan menunggu jatah dari langit.
Ada banyak penanda, ciri, karakter, di antaranya: Pemanfaatan agama untuk politik: Menggunakan ayat-ayat suci, simbol, atau doktrin agama demi meraih kekuasaan atau menjatuhkan lawan politik (politisasi agama).

Ada juga kadang membuat lara di jiwa, hanya bisa membatin ketika klaim kebenaran mutlak (seolah suci): Merasa kelompok atau pemahamannya sendiri yang paling benar, sementara kelompok lain dianggap sesat atau salah tanpa ruang dialog yang sehat.

Sementara di sisi lain tentang sudut pandang berat sebelah: Menilai suatu peristiwa sosial atau hukum hanya berdasarkan keuntungan bagi kelompok agamanya, komunitas, perkumpulannya sendiri, bukan berdasarkan keadilan yang universal.

Bagiku ini yang sangat riskan dan amat tendensius, yaitu provokatif: Sering kali menggunakan bahasa yang emosional untuk memicu sentimen antarumat, paham, kemerasaan religiusitas yang minim kualitas beragama atau intern umat beragama demi agenda tertentu.

Percakapanku berlanjut, sambil menyusuri dan memberi afirmasi. Tibalah saya di suatu laman, sepertinya mengonfirmasi apa yang terjadi pertengkaranku terhadap pemikiran ini sendiri. Sebuah suguhan ilustrasi membuatku terdiam sekian puluh menit:
Ini yang dia sebut fenomena tameng religius. Agama dijadikan pelindung dari kenyataan pahit bahwa sistem ekonomi kita memang bermasalah. Daripada menganalisis kenapa kemiskinan struktural masih mengakar, lebih mudah bilang “ini ujian dari Tuhan.”

Masyarakat kita terbiasa lari ke zona nyaman spiritual ketika dunia nyata terlalu berat dihadapi. Pengangguran tinggi? Berdoa lebih khusyuk. Korupsi merajalela? Perbanyak dakwah. Seolah semua masalah duniawi bisa diselesaikan dengan ritual keagamaan.

Obsesi ini juga dipelihara oleh sistem pendidikan kita yang sejak dini mengajarkan kepatuhan buta. Anak-anak diajarkan untuk tidak mempertanyakan, hanya menerima. Pola pikir kritis dianggap berbahaya karena bisa “merusak keimanan.”

Padahal agama sejatinya mendorong manusia untuk berpikir. Al-Qur’an sendiri berulang kali menyebut kata “akal” dan “pikir.” Tapi entah kenapa, di Indonesia, berpikir kritis malah dianggap ancaman bagi keberagamaan. Wow. Ini juga menohok menurutku.

Agama di KTP, tendensi di kepala. Pahala online, akhlak offline. Ini juga sering kujadikan tameng. Meluap, sampai merayap merasa paling religius.

Vi meredakan ledakan Danu dengan menyeduhkan kopi kali ini. Yang kemarin tumpah, dia menyaksikan amarah, cinta, kecewa lalu membuatnya hari ini untuk nimbrung kembali.
Danu. Capaian manusia bukan secara religius, tetapi bagaimana dia menebus dirinya sendiri tanpa harus main debus secara akrobatik memamerkan ketaatannya. Danu sumringah.

Aku pernah teriak paling kencang tentang religius. Padahal di kamarku masih kosong. Aku pernah hafal dalil, tapi lupa menafkahi jiwa, batin, cara pandang dan pastinya lupa dalam “kesadaran” hanya memburu ketakwaan. Danu cuma diam. Saat Vi mencoba mengimbangi dirinya yang juga pernah menjadi pelaku religius yang tendensius.

Tercekat seketika, melewati narasi-narasi yang cukup sensitif, subjektif dan sangat relatif untuk menempa kognitif.

Beragam reaksi, secara radikal. Bahkan tuduhan liberal atau sesat di antara ilalang peradaban, yang sekarang mulai tampak saling menghujam sesama penganut satu sama lain. Hingga menentukan keharuman surga serta bau neraka.

Danu meletakkan cangkirnya pelan. “Itulah kenapa kita kadang hanya merasa lupa kendali diri untuk lebih religi.”

Karena kita sibuk jadi hakim. Lupa jadi manusia. Vi membantu dengan menuang kopi kembali: “Surga dan neraka bukan urusan kita.” Urusan kita cuma: “Hari ini!” Sembari menatap ke gelas kopi. Jangan sampai tumpah lagi.

Danu menatap diam. Begitulah adanya. Karena setiap kali buka mulut, yang keluar bukan doa. Tapi vonis. Mereka berdua saling menatap. Bagai kerinduan terpendam sekian pucuk asmara yang selalu membara.

Keram kaki pemburu religius, karam di antara tendensius. Seakan membius, hilang dari jangkauan kesadaran.

Kau ingat kalimat seorang Muhammad Iqbal? Dalam syairnya:
“Kala sembahyang air matanya jatuh seperti hujan.”

“Seperti jiwa manusia aku tak terikat
Pada lambang-lambang bilangan
Aku tak terikat pada masa dan keluasan.”

Danu diam lima detik. Menghela napas. Lalu melanjutkan unsur makna dan tafsir dari kalimat di atas bahwasanya:
Ini bukan soal menangis secara terpaksa karena mengingat dosa. Ini soal melebur. Kita tidak punya kendali.

Air mata seperti hujan adalah cara meluluhlantahkan ego dan kemerasaan dirinya. Bukan merasa paling khusyuk. Tapi menuntun untuk tidak paling merasa taat.

Jiwa manusia fitranya bebas. Bebas dari kotak-kotak pemahaman yang semakin ambigu pula menerapkan hukum-hukum sosial, agama, dan kemanusiaan.

Jiwa tidak harus dikurung dalam satu padang pemahaman yang begitu kuat sebagai dogma. Baru kita tuduh yang lain itu keliru, sesat dan sangat melenceng.

Agama bukan semata. Religi semata, tidak membuatmu menghakimi, menghitung-hitung amaliah dan membuat kandang sendiri.

Sejatinya religius itu tidak jadi tontonan dan kesimpulan. Tetapi menjadikanmu penuh dalam “kesadaran”. Bukan pamer ketaatan.

Tumpah. Vi tercekat pula. Sembari memahat kembali pemahaman dalam peran-peran kehambaan yang keliru selama ini. Betapa rakus dan kadang kita binal untuk sebuah proses menuju-Nya.

Benar. Ambiguitas secara religius yang begitu minim untuk kita lebih jauh penuh kedalaman batin, bertaut jiwa untuk tidak menjadi sekadar jadi tontonan.

Yah. Danu menyambut penuh kemesraan. Masalahnya kita kadang alergi pada sebuah ranah abu-abu. Maunya hitam putih, iman, sesat atau hidayah.

Padahal kedalaman batin kadang ada di antara ruang ambigu itu. Biar kita nambah imun untuk proses mencari siapa kita sesungguhnya. Di ruang itu kadang kita keliru dan penuh adegan dengan debus dan akrobatik pesujud! Tetapi di setiap ruang waktu, menyadari diri sesungguhnya sebagai apa manusia dikatakan hamba?

Selanjutnya, “Mau dikatakan religius, tapi tendensius, atau pada kesadaran yang mengembalikan hakikat kehambaan itu sendiri”?

Atau tidak harus terburu-buru mencap, dan menebar sesajian untuk menampik beberapa ilustrasi tentang bagaimana religi (agama) kesempurnaan yang jauh kadang melenceng, kemudian membuat jiwa, hati mungkin sedikit pekat.

Mari kita sama-sama seruput kopinya dulu, biar hangatnya sampai ke dada. Sebelum kita putuskan kehambaan kita antara tontonan saja, atau mengemudikan kendali diri dari segala ritual kehidupan dan kehambaan.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *