Secarik torehan perjalanan Rombongan Anak Muda NU Bantaeng Menuju Muktamar NU ke-35.
Perjalanan itu bermula dari Bantaeng. Lima belas orang berangkat menuju Pelabuhan Makassar. Di antara rombongan, ada empat orang laki-laki yang ikut menjadi bagian dari perjalanan panjang ini. Kami membawa tas, bekal, lelah, tawa, cerita, dan tentu saja doa.
Bukan sekadar perjalanan menuju sebuah tempat, tetapi perjalanan menuju jejak sejarah, menuju akar perjuangan, dan menuju rumah besar yang telah melahirkan begitu banyak cerita tentang Nahdlatul Ulama.
Dari Bantaeng menuju Makassar, jalan panjang menjadi awal sebuah cerita. Ada candaan di tengah perjalanan, rasa lelah yang diselingi cerita, singgah yang menjadi kenangan, dan kebersamaan yang membuat jarak terasa lebih pendek.
Sebab, perjalanan bersama bukan hanya tentang bagaimana kita sampai di tujuan, tetapi bagaimana kita saling menjaga sepanjang jalan.
Setibanya di Pelabuhan Makassar, perjalanan berganti wajah. Laut menjadi jalan berikutnya. Kapal Pelni menjadi rumah sementara. Lima belas orang dalam satu rombongan, dengan segala cerita dan kesederhanaannya, kini berlayar menuju Surabaya.
Di atas kapal, kami belajar kembali tentang arti kebersamaan. Ada tidur yang tak senyaman rumah, ruang yang terbatas, antrean, riuh penumpang, tubuh yang mulai lelah, bahkan gelombang laut yang sesekali menguji ketahanan.
Namun, semua menjadi ringan ketika dijalani bersama. Berbagi makanan, saling menjaga barang, saling mengingatkan, saling menunggu, hingga pertanyaan sederhana, “Sudah makan?”, menjadi bentuk kecil dari ukhuwah yang terasa begitu besar.
Gelombang boleh naik turun, tetapi semangat jangan ikut karam. Sebab, tujuan kami bukan sekadar Surabaya. Ada Jombang yang menunggu. Ada Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras yang menjadi tempat Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35.
Sebuah tempat yang bukan hanya menjadi lokasi perhelatan organisasi, tetapi juga tanah yang menyimpan jejak panjang perjuangan para Muassis NU.
Di sinilah perjalanan ini menemukan maknanya. Kami datang untuk kembali ke akar. Sebagai kader Ansor dari Bantaeng, Sulawesi Selatan, perjalanan jauh menyeberangi laut ini rasanya belum sah kalau belum ziarah. Jombang ini kota suci buat warga NU. Jadi, sebelum ikut meramaikan Muktamar ke-35, saya harus tahu tata krama.
Pilihan pertama saya ialah sowan ke makam Mbah Wahab Chasbullah di Tambakberas, baru setelah itu ke makam Mbah Hasyim Asy’ari di Tebuireng.
Bagi saya yang masih belajar di Ansor, urutan ziarah ini punya arti sendiri.
Pertama, saya ke Tambakberas karena Mbah Wahab adalah pendiri Ansor. Ibaratnya, beliau ini bapak kandung organisasi saya. Sebagai anak, tentu saya harus melapor dan menyapa bapak saya dulu sebelum urusan yang lain.
Di depan makam Mbah Wahab, rasa lelah perjalanan dari Sulawesi langsung hilang. Saya berdoa dan membayangkan semangat anak-anak muda zaman Mbah Wahab yang begitu berani dan kompak.
Di tanah ini, saya seperti sedang mendekati sebuah sumber mata air sejarah. Saya mengenang KH Abdul Wahab Chasbullah, Mbah Wahab, ulama besar, salah satu pendiri NU, dan sosok yang memiliki tempat penting dalam sejarah Gerakan Pemuda Ansor.
Setelah dari Tambakberas, barulah saya melanjutkan perjalanan ke Tebuireng untuk sowan ke Rais Akbar, Mbah Hasyim Asy’ari.
Kalau di Tambakberas saya belajar soal semangat bergerak, di Tebuireng saya belajar soal ketenangan batin dan kepatuhan.
Di depan makam Mbah Hasyim, saya diingatkan lagi kenapa saya bangga memakai seragam Ansor: yaitu untuk menjaga para kiai dan menjaga negara kita.
Dua tempat ziarah ini membuat perjalanan jauh saya dari Bantaeng menjadi sangat berkesan. Saya datang bukan cuma untuk melihat keramaian Muktamar, tetapi untuk mencari berkah dari para pendiri NU.
Dari sana saya semakin memahami, perjalanan ini bukan semata perjalanan menuju sebuah forum organisasi. Kami datang membawa nama Bantaeng, doa para orang tua, pesan para guru, nasihat para kiai, semangat kaderisasi, dan kecintaan kepada NU.
Lima belas orang mungkin bukan jumlah yang besar. Tetapi kami percaya, sejarah besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan ketulusan.
Kami menempuh jalan darat, menyeberangi laut, melewati lelah, kantuk, keterbatasan, dan berbagai tantangan perjalanan.
Namun, semua itu terasa ringan karena ada satu keyakinan: kami sedang berjalan menuju tanah yang pernah menjadi saksi perjuangan para ulama dalam membangun NU.
Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat
Tema Muktamar, “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa”, terasa begitu dekat dengan perjalanan kami.
Menjaga marwah berarti menjaga kehormatan NU sebagai jam’iyah yang lahir dari rahim para ulama. Menjaga adab, tradisi, integritas, persatuan, dan kepercayaan umat.
Sementara memperkaya khidmat berarti tidak cukup hanya mewarisi nama besar NU, tetapi menghadirkan manfaat nyata sesuai kebutuhan zaman.
NU tidak boleh hanya dikenang karena kebesarannya di masa lalu. NU harus terus hadir menjawab persoalan hari ini dan menyiapkan masa depan.
Khidmat harus semakin luas: pendidikan yang berkualitas, kesehatan, pemberdayaan ekonomi umat, penguatan perempuan dan pemuda, kepedulian sosial, lingkungan, teknologi, hingga penguatan demokrasi dan kebangsaan.
Sebab, pada akhirnya, ukuran kebesaran NU bukan hanya seberapa besar organisasinya, tetapi seberapa besar manfaatnya dirasakan umat dan bangsa.
NU yang Berakar, tetapi Tidak Takut Melangkah
Dari Tambak Beras, kami ingin belajar bahwa organisasi sebesar NU tidak boleh hanya sibuk merawat kebesaran masa lalu, tetapi harus mampu menyiapkan masa depan.
Para Muassis telah meletakkan fondasi dengan ilmu, keikhlasan, keberanian, dan pengorbanan. Tugas generasi hari ini ialah menjaga fondasi itu tetap kokoh, sekaligus membangun ruang baru agar nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Hari ini, anak-anak muda NU tumbuh di dunia yang berbeda. Mereka hidup di ruang digital, berhadapan dengan arus informasi yang begitu cepat, kecerdasan buatan, perubahan ekonomi, krisis lingkungan, serta berbagai tantangan sosial yang terus berkembang.
Karena itu, NU ke depan membutuhkan kader yang tidak hanya pandai berbicara tentang masa lalu, tetapi mampu membaca masa depan.
Kader yang berilmu sekaligus beradab. Kader yang melek teknologi tetapi tidak kehilangan tradisi. Kader yang kritis tetapi tetap santun. Kader yang memiliki gagasan besar tetapi tetap rendah hati dalam berkhidmat.
Di sinilah peran Ansor dan Fatayat menjadi sangat penting. Generasi muda NU bukan sekadar penerus struktur organisasi, tetapi penerus nilai, semangat, dan cita-cita para Muassis.
Kami ingin NU hadir bukan hanya ketika umat membutuhkan jawaban keagamaan, tetapi juga ketika masyarakat membutuhkan pendidikan, lapangan kerja, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, perlindungan lingkungan, penguatan demokrasi, serta ruang bagi anak-anak muda untuk tumbuh dan berkarya.
Sebab, kemaslahatan bangsa tidak lahir dari slogan, tetapi dari kerja nyata yang dilakukan dengan ikhlas dan terus-menerus.
Siapa Pun Nahkodanya, Kami Tetap Satu Bahtera
Muktamar juga mengajarkan kepada kami tentang kedewasaan dalam berorganisasi. Pilihan boleh berbeda. Pandangan boleh beragam. Dukungan terhadap calon nahkoda PBNU boleh tidak sama.
Tetapi ketika Muktamar telah menetapkan siapa yang dipercaya memimpin, persaudaraan harus kembali menjadi yang utama.
Siapa pun yang kelak terpilih menjadi nahkoda PBNU, bagi kami kader muda NU, kepemimpinan boleh berganti, tetapi takzim dan khidmat tidak boleh berhenti.
Kami akan tetap menghormati, menjaga persaudaraan, dan mengambil bagian dalam perjuangan NU.
Sebab, khidmat kami bukan semata kepada sosok yang sedang memegang kemudi. Khidmat kami ialah kepada NU, kepada ulama, kepada amanah para Muassis, dan kepada cita-cita besar menghadirkan kemaslahatan bagi umat dan bangsa.
Kepemimpinan boleh berganti. Generasi boleh berganti. Zaman boleh berubah. Tetapi khidmat tidak boleh berhenti.
Kami akan terus belajar, terus mengabdi, terus menjaga adab dan takzim kepada ulama, serta terus mengambil bagian dalam perjalanan panjang Nahdlatul Ulama.
Semoga para Muassis NU menyaksikan langkah kecil kami. Semoga Mbah Wahab dan para ulama pendahulu meridai perjalanan ini.
Semoga setiap lelah menjadi ibadah, setiap tawa menjadi kenangan, setiap perjumpaan menjadi persaudaraan, dan setiap langkah menuju Tambak Beras menjadi musabab datangnya keberkahan bagi kami dan seluruh kader NU.
Ketika kelak kami kembali ke Bantaeng, semoga yang kami bawa bukan sekadar cerita tentang kapal, perjalanan, Muktamar, dan Tambak Beras. Semoga ada sesuatu yang lebih penting: semangat baru untuk pulang dan bekerja. Sebab, pulang dari Muktamar bukan berarti perjalanan selesai. Justru dari sanalah khidmat yang sesungguhnya dimulai.
Kami berangkat dari Bantaeng dengan membawa nama kampung halaman. Kami menyeberangi laut dengan segala keterbatasan. Kami tiba di Jombang, menemui jejak para ulama, berziarah, mengikuti Muktamar, lalu belajar kembali tentang arti sebuah perjuangan.
Pada akhirnya, perjalanan ini membawa kami pada kesadaran sederhana: akar bukan tempat untuk berhenti. Akar ialah tempat mengambil kekuatan agar pohon berani tumbuh lebih tinggi.
Maka, kami akan pulang. Kembali ke Bantaeng dengan kaki yang mungkin masih lelah, tetapi dengan hati yang semoga lebih teguh.
Apa yang kami temui di Tambak Beras tidak boleh tinggal sebagai kenangan. Ia harus menjadi laku.
Apa yang kami dengar dari para kiai tidak cukup disimpan sebagai nasihat. Ia harus menjadi kerja. Dan apa yang kami rasakan selama perjalanan tidak boleh berhenti sebagai cerita. Ia harus menjadi khidmat.
Bantaeng telah mengajarkan kami tentang tanah kelahiran. Tambak Beras mengingatkan kami tentang akar perjuangan.
Kini giliran kami menentukan bagaimana warisan itu diteruskan. Siapa pun nahkodanya, bahtera ini tetap harus berlayar.
Dan kami, anak-anak muda NU dari Bantaeng, ingin tetap berada di dalamnya—belajar, bekerja, menjaga adab, dan berkhidmat.

Lahir di Bantaeng, 27 Juni 1983. Beralamat di Tanetea, Desa Nipa-Nipa Kec. Pa’jukukang Bantaeng. Saat ini, selaku Komisioner KPU Bantaeng (Divisi Sosialisasi Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan Sumber Daya Manusia. Mantan Ketua GP Ansor Bantaeng 2019-2024.


Leave a Reply