24 jam hanya istilah, untuk menjebakku pada menit dan detik. Sebelum lampu-lampu rumah dinyalakan. Ketika surau mengajak, memanggil-manggil, dan anak-anak lelah bermain.
Aku mengulik Konflik.
Seharian itu hanya sebentar saja terasa. Namun cukup melekat di antara ingatan dari sekian detik sekelumit peristiwa.
Ada yang memaksa untuk melupakan masa lalu. Ada dendam. Ada memamerkan arloji mahal, gelar, strata, pangkat, jabatan, kecerdasan, sampai dari perbuatan baik hingga sedekahnya diumumkan.
Seperti realitas yang ada, hempasannya menukik ke permukaan yang orang-orang selain malas membaca, dan amat susah memaknai.
Pagi pukul 09.00 secangkir kopi tumpah karena marah. Tumpahannya membentuk peta. Jalan buntu. Jalan pulang yang belum ketemu.
Tadinya saat jam tujuh pagi, menguatkan kembali. Bilang ke cermin: “hari ini berapa banyak luka aku lakukan”, berapa banyak dusta kusiarkan?
Setengah hari. Di sekitar penuh bising, ricuh, pengap. Masih persoalan sepele. Sebagian orang masih menanti identitas, mencari figuran. Ada gengsi, ada yang sensi. Ada yang pergi meninggalkan rumah karena utang.
Siang menegaskan sisi lain. Isinya tawar-menawar: “mending menyerah atau lanjut?” Aku balik ke rumah.
Meja kayu jadi saksi. Di sana ada marah, cinta. Ada catatan peristiwa di dinding waktu, menulis surat lamaran kerja, membaca buku, dan di meja itu pada jam tertentu aku melukis perempuan tanpa sehelai benang.
Wajahnya sendu, rambutnya tergerai hendak menutupi buah ranumnya. Jemari sampai pukul dini hari tiada lepas mengarsir, menghapus dan mengarsir lagi setiap lekukan di tubuhnya.
Sepekan awan. Di musim panen yang hampir gagal. Langit nanggung. Hujan nanggung. Harapan juga nanggung. Ritual minta hujan dengan berjamaah. Justru yang ada semakin gerah.
Sejam, dua jam dan tidak pada detik. Tanak nasi sebiji ibu mulai terasa merambati perasa lapar dan dahaga itu. Ibu nyaris menyeka air matanya yang jatuh sebutir. Ditahan. Tersenyum, merangkaikan doa, walau tidak memaksakan jawaban. Karena ibu tahu, jawaban itu kerja Tuhan. Tugasnya tetap menyalakan kompor.
Menurut Bourdieu, seorang sosiolog Prancis yang hobinya membongkar topeng orang (1930–meninggal 2002). Sosoknya dengan pembawaan jutek, pintar dan tidak suka basa-basi. Memberi ilustrasi waktu adalah perang buat menunjukkan derajat sosial.
Kelas atas punya waktu luang, bisa menunggu, bisa santai. Kelas bawah, dipaksa kejar waktu dan kerja, kalau tidak dia dipecat. Kelas atas meeting jam tiga bisa ditunda dan diundur. Kelas bawah gaji harian telat masuk lima menit saja ganjarannya potong gaji.
Beberapa teori mengibuliku lagi “waktu adalah uang”. Katanya begitu. Manfaatkan agar tidak menebasmu. Kuterabas saja, sebab sesungguhnya waktu adalah benih. Berusaha membuat alibi bahwa semua hanya teori untuk menentukan langkah yang kita pilih. Akhir-akhir ini hampir setiap saat orang-orang mulai mengatur orang lain.
Bourdieu kembali bilang; “yang berkuasa adalah yang punya hak membuat waktu”. Dan kutepis meneruskan kalimat itu. “Aku buang waktuku buat menelisik, tidak harus merenungkan, tetap menikmatinya, mengaturnya. Tidak harus memaksaku untuk bertarung pada waktu.
Tanpa harus belajar manajemen waktu, semua bisa teretas, tidak harus sesungut memaksakan terjerat di simpang waktu. Dan kita gagal. Katanya. Tidak. Sesungguhnya bagiku waktu tidak harus mengekangku. Hanya soal waktu, kita dianggap melangkahi attitude. Hem. Terlalu dini pemungkaran hanya persoalan waktu.
Orang-orang menyembah waktu sepertinya. Kesalahan detik dianggap fatal. Kubiarkan sering telat. Tolak ukur orang tepat waktu dijadikan sebagai disiplin. Tetapi itu kebohongan yang diselipkan menutupi hal sesungguhnya.
Manusia diukur pakai stopwatch. Dipaksanya disamakan dengan orang lain!
Waktu telah membusung hendak dikata. Kita semua pernah dan terperangkap di dalamnya.
Hari ini sekelumit peristiwa. Sampai ke tumit kita di tepi jurang. Karena terlalu polos. Bahwa memang berhala itu bukan hanya sesembahan secara fisik. Waktu juga kadang mengiring ke tepi berhala itu sendiri.
Seharian hanya keluh. Seakan sudah pupus untuk hari esok. Seharian kita lupa bahwa kita telah dipermainkan waktu. Mengejar ini dan itu. Melampaui batas kemampuan kita.
Aku pernah kalah oleh waktu. Saat manusia sekitar mengepungku untuk bangkit mengejar. Padahal mereka sendiri masih jalan di jarum dan jam yang sama.
Pukul 07.00 mereka beranjak menemui tuan. Memakai seragam, dan atribut berjubel.
Ada wajah kosong bekas kantuknya tertambat dini hari. Ada dengan parfum mahal bergegas menembus pagi untuk menebus waktu.
Padahal hanya untuk berdiri diabsen dan berbaris. Angin pagi masih menyapa. Setiap saat apel berkumpul di lapang. Tetapi semua masih berjalan di jam seremoni saja.
Jam berdenyut kembali, masuk dini hari. Masih di meja kayu, bekas tumpahan kopi dan marah, bercak waktu membekas saat sebuah derma di ujung waktu terlupakan.
Aku telah melakukan berhala lagi. Karena di tepi pagi kusaksikan mata kebohongan itu satu per satu hadir. Cara menebusnya kita sama-sama berpura senyum, padahal ada dendam seharian yang belum tunai manusia tumpahkan.
Terlalu banyak waktu berhala untuk sekadar berpura-pura baik, penuh sahaja, empati, akan tetapi memburu validasi. Tiba-tiba seorang menghunus pedang tatapannya mencercah. Aku telat pagi ini menyembah. Bersedekah dan berbagai alasan untuk setiap waktu kita paling suci.
Subuh menjadi rusuh. Antara kantuk dan masih asyik bertamasya di dalam diri.
Melewati segumpal percakapan dengan diri sendiri. “Aku takut membasuh” karena terpaksa.
Menuju pagi masih membuka halaman diri. Pada bekas catatan kecil: dari peta, lukisan, da. Sebutir kebaikan yang masih sepi pengakuan.
Tiba-tiba sebuah habitus hendak menguasai, aku asah dan merencong pensil perenungan. Agar bisa melukis jawaban yang hendak menguasai setiap saat di antara penjaranya tanpa dia kunci, membiarkanku terbawa masuk ke perangkapnya.
Jam di dinding mendenting seakan ikut menuding. Katanya ini penting dan genting! Karena setiap waktu, bahkan hari ini terlalu menunda dan tidak tepat waktu. Aku telah dalam kerugian katanya!
Aku tarik selimut, melupakan kembali beberapa peristiwa. Takut membuatku menjadi penyembah berhala waktu.
Bourdieu tersenyum ketika melihatku memilih tarik selimut melanjutkan mimpi, dan melihat fenomena manusia demi finansial, kekuasaan, politik, sosial budaya. Mulai menjadi tujuan hidup.
Aku kira dulu patuh dan taat pada waktu adalah keberhasilan paling tertinggi sebagai manusia atas nama etika. Kemudian kutemukan hari-hari begitu-begitu saja.
Seolah kita dikendalikan oleh orang lain. Padahal kita masuk pada habitusnya. Aku bukan menampik teori itu. Siapalah saya yang jauh dari angkatan secara akademis. Ditambah gelar itu terkapar seketika.
Waktu bagai pacuan, perburuan untuk hidup lebih seribu tahun. Menjadi penjara, berhala sampai sangkakala ditiup. Sebagai kepercayaan penutup berhentinya kehidupan dan manusia di dunia!?

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply