Karma dan Kurma

Kita pikir kita memilih, padahal kita menuruti skenario. Ditulis diam-diam oleh tangan yang tak kelihatan.

Karma datang bukan karena salah. Kurma disajikan seolah rukun kelima yang sarat dilema. Serta dihidangkan bukan pula karena lapar.

Keduanya datang bersamaan, satu buat hukuman, satunya mengenyangkan.

Dua hal bertarung, di antara dosa terpaksa, atau dosa yang tertinggal jauh. Sambil menunggangi manusia seribu ketakutan.

Tabur tuai, bukan dosa. Karma bertarung di sana. Jawaban langit tidak harus tengadah mendongak. Tetapi kadang kita congkak dan bagai kambing congek.

Katanya karma konsep yang berasal dari filosofi Timur, terutama Hindu dan Buddha, yang berarti “tindakan” atau “perbuatan”. Tapi ini bukan soal terkait agama. Ini sebagai pengingat saja.

Dalam pengertian sederhana, karma adalah hukum sebab-akibat. Artinya, setiap tindakan memiliki konsekuensi.

Jika kamu melakukan hal baik, maka efeknya pun baik, begitu pula sebaliknya. Dalam konteks modern, karma juga bisa dipahami sebagai prinsip tanggung jawab pribadi dan kesadaran atas tindakan kita, termasuk dalam konteks secara mental.

Uraian di atas mencoba mengikatku. Tentunya menurutku bukan berkutat definisi saja. Tapi ini berusaha kukumur yang tersadur untuk bisa didaur, tanpa harus merasa jauh lebih tahu bagaimana pengertian karma. Atau bagaimana kurma menjadi makanan agamais!?

Hendak menuju negeri padang pasir, melintasi benua, yang katanya perjalanan spiritualis, dan ternyata itu hanya tradisi ritual ibadat. Sembari mencicipi kurma dipetik dari pohonnya.

Kuurungkan saja, tidak harus mengikuti selera pusaran manusia yang hanya untuk ritual ibadat tahunan. Atau mencicil dengan harga tiket murah sebagai perjalanan rekreasi saja. Sementara kebutuhan untuk sehari masih kusimpan biar besok tanak nasi itu tidak berbuah menjadi karma demi kurma.

Kalut. Kadang tersulut. Karena karma menempel ketat. Sementara gugusan pohon-pohon kurma membujukku ikut merasakannya, sebagai makanan para nabi.

Karma hendak telanjang. Aku tutup sehelai benang saja. Biar ketakutan konsekuensi bisa terlihat secara saksama. Tanpa kurma dan kopi Arab yang kerap menepis imanku juga.

Kalau karma pokok peristiwa awal manusia dihadirkan, menjalani, menerima dan segera tahu diri. Kurma pada satu wilayah gurun yang tandus, dijuluki sebagai pohon kehidupan, karena buahnya yang tahan lama, mudah dibawa, serta kaya energi bagi para musafir dan pedagang jalur kafilah.

Sembunyi dan lari ke mana, semua telah memenuhi ketentuan-Nya. Kecuali petak umpet dengan-Nya tentang kemuliaan, kesucian dan rahasia kebaikan yang kita kemudian lupa, bahkan kita abaikan.

Garis lurus! Sementara ada kelokan memperelok perjalanan sebuah karma. Seribu tahun kemudian kau lahir kembali dalam bentuk yang pernah menghayal memetik kurma dengan terbang menempuh jarak perjalanan berjam-jam, kali ini kita menanam, memetik, mengolah dan mengunyahnya sendiri.

Kembali pada konsekuensi. Pulang ke rumah, mandi dari bekas sabun mandi dua biji yang ditumpuk berlapis. Tapi sabun bukan bertumpuk dalam karmanya. Dia diciptakan oleh kondisi saja.

Sore datang bersama senja lagi. Menunggu para penyintas pagi yang bertaruh peluh. Membawa berkah katanya. Hidupnya disandarkan pada lengannya yang mulai letih.
“Itu bukan takdir. Manusia memilih karmanya sendiri.”

Pulang ke rumah cara memeluk karma dengan ikhlas. Tanpa harus nongkrong ikutan di sudut kafe yang suka mengaku penikmat senja.

Menapak ke bumi kenyataan. Melingkari karmamu memberi tunas-tunas tumbuh pada karma selanjutnya detik ini. Tanpa kesadaran pula akan selalu menjadi tabiat seratus dari sekian ritus kehidupan karma yang dulu telah kita lintasi.

Mengira karma itu hukuman. Padahal cermin. Kita lempar ke orang, balik lagi ke muka kita.
Dia bukan kutukan, dia adalah tagihan. Setiap malam semesta kirim lewat mimpi. Kitalah pelaku sesungguhnya.

Karma jangan biarkan jadi monster. Kendalikan kesadaran. Bukan bualan takwa saja selalu didendangkan. Tetapi menemukan kesadaran adalah cara kita berdamai dengan karma itu sendiri. Banyak keliru. Menganggap karma itu dari keturunan, dan dari orang lain.

Kelak seribu tahun kemudian. Kita masih akan menuai apa yang kita tanam hari ini.

Sembari mencicipi kurma yang katanya karomah. Dan cara masuk surga. Sementara telaga di jelaga kita lupakan untuk kita rawat. Bayangan surga yang hanya terdengar seribu iming, kita tidak berusaha healing kesadaran.

Surga itu bukan hadiah. Surga juga akibat. Dari telaga kita rawat hari ini.

Mengunyah kurma, jangan sampai merasakan haus, sementara masih bertaruh karma dari sekian kepercayaan. Karena lupa ada telaga tetapi kita biarkan jadi jelaga.

Aku kembali soal karma dan kurma saja. Karena terlalu jauh menuju yang sekadar terpaksa saja merasa paling tahu surga.

Lupa bahwa cermin itu juga karma. Bukan sekadar menawarkanku tiga biji Sunnah kurma, lalu membaca mantra-mantra. Simsalabim! Tetiba terdiam tiga detik. Aku teringat kun fayakun-Nya. Mengubah menjadi ilustrasi dan memantik imajinasiku kembali.

Akhirnya kurma sisa sebiji. Alur karma mulai terasa. Menyanggah dan menimpahku kembali.
“Orang-orang, berburu kurma. Lupa ada karma di rumah.”

Rupanya surga tidak memilih etalase karma dan doa. Kurma hanya ritual bukan pintu menuju surga. Sementara cermin sudah bicara pada karma yang lagi mengutip dan mengetuk-ngetuk.

Atau memilih menanam kurma di belakang rumah dekat telaga, ditemani karma yang terkadang kita lupa menjadi teman abadi manusia.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *