Pesta sudah usai. Mari kita kembali ke habitat, sembari berbaring menghitung satu persatu berapa banyak luka sosial telah kita tabur.
Seputih harapan, sepulih ingatan. Masih sulih dan kita sama-sama merasakan risih. Itu pertanda kita mulai merasakan titik jenuh dari suara, tentang dialektika kosong yang hanya tebak-tebakan.
Pagi itu Petong terbangun oleh suara kotek-kotek nan nyinyir. Sepasang merpati terbang hinggap di atasnya. Kerikil jalan depan rumah ringkih berserakan. Denu menuntaskan dirinya terbawa ke mana angin mengembus, sampai di atas kasur kapuk dari benang jahitan tangan manusia dulu tanpa mesin pengubah waktu, ingin cepat tetapi minim kualitas.
Musim mulai merajuk, sepertinya tak hendak rujuk kepada manusia yang mulai sedikit bajingan menantang dan menenteng mencemari bumi diciptakan untuk bersemi, menikmatinya, tetapi semua mengubah, saat tangan jahil manusia mengebor, membabat, menjadi petaka setiap saat.
Petong merasa pagi ini semakin anomali. Tetiba dingin, angin dan mendapat kabar manusia saling menuding. Pagi yang konyol. Petong menggerutu.
Ternyata kita lupa, luka sosial yang kita tabur semalam, pagi ini sudah dipanen jadi poteng. Sedianya memandu selera, tetapi menjadi penyakit di lambung, sampai ke ubun-ubun.
Petong resah, lalu pasrah, sebab dia sampai dari yang berisik, seperti paginya ditandai kotek, dia juga ikut mengunyah.
Malam selanjutnya di antara pesta hadir seperti biasa, bawa topeng.
Dia baik-baik saja, dan saya sudah mulai berdamai setiap ranah dan suasana. Saya juga masih punya iman, dan mencintai bumi. Katanya.
Di atas panggung orang pidato tentang sampah. Di bawah panggung bungkus plastik dilempar ke got. Depan kamera orang peluk-pelukan, di balik layar jari-jari mengetik cekatan menyusuri media sosial.
Tawa pecah, tepuk tangan. Semua topeng menempel tak dikenali. Mulus tak ada yang retak, tiada yang lepas.
Pesta selesai, lampu seketika redup menuju padam, topeng dilepas satu persatu. Petong pulang menaruhnya di atas meja kayu buah warisan ayahnya.
Petong merintis waktu 24 jam. Di sana wajah aslinya ada capek, ada lumpur, luka dan malu yang tolol jika dia umbar.
Malam itu Petong pulang jalan kaki, melewati jalan penuh lubang, serta kerikil nakal, tajam mengintimidasi kakinya. Melewati sepasang merpati yang masih nyinyir, melewati musim yang masih merajuk.
Mulai menanak ingatan, serta memaafkan dirinya sendiri. Hanya dia, sunyi dan hisabnya sendiri.
Termenung seribu tanya; hari ini, berapa banyak topeng dia pakai, berapa poteng yang membuat perutnya merasakan sakit luar biasa, dan berapa kotek yang berebutan sebiji jagung?
Percakapan terhadap dirinya berlanjut di meja kayu itu. Dia mulai terbiasa dengan kepanikan. Merawatnya sebagai perisai dan pustakanya.
Petong menengok ke dinding. Ada sketsa kosong yang pernah dia lukis.
Dia sadar. Tampak tumbuh bulu kumisnya yang tipis setipis harapannya yang selalu dia tepis.
Di meja kayu itu dia buka buku. Bukan buku baru, buku yang halamannya sudah kusut, karena sering dibuka pas tengah malam dan di tengah pesta.
Tangannya gemetar. Bukan karena takut. Tapi karena sudah lama tidak menyentuh beberapa buku dan belajar menulis kembali dengan jujur. Tetiba dia coret, dia hapus. Coret lagi.
Kepanikan masih duduk di seberang, jadi teman, saksi. Menatap kosong kembali ke dinding. Lalu dia mengambil pensil, mulai mengisi haris pertama: “jelek”, kedua rasa gemetar, kemudian ketiga dia kaget: mulai mirip dirinya.
Di luar suara kotek masih nyinyir, karena mereka malas berpikir. Di dalam Petong masih mengunyah sunyi. Di meja kayu, tinta mulai menetes. Meretas yang sebagian dia saksikan belum tuntas. Masih mengejar entitas dan identitas.
Poteng tersisa sebiji tergeletak sepi ditemani asbak dan ampas bekas sepuntung kemarin. Kopi mulai merambat dan memeluk mesra sang lambung. Perut Petong kena sasaran sang poteng. Dua, tiga kali keluar masuk WC. Pertanda poteng bereaksi di saat lambung dihujam, dihajar.
Manusia mulai semakin samar, menumpuk saling menguatkan, tetapi seketika semudah punah begitu saja, karena peran topeng semakin menyelinap, sambil menyuguhkan poteng yang membuyarkan konsentrasi karena persoalan lambung dan perut.
Kocak juga, sambil meneropong masa lalunya. Dia begitu culung, penuh palung luka, dia bawa setiap saat pulang ke rumah. Dan memecahkannya di atas meja kayu tua itu.
Celoteh Topeng mulai terpercaya, gimiknya begitu kuat meyakinkan. Petong lupa hari ini dia kecolongan dari keculungannya. Melawan arus tidak mungkin, membuatnya bebas bertamasya kebohongan juga tidak boleh dibiarkan. Petong kalut, cari cara. Hanya Poteng pagi itu dia temukan.
Hari ini tanpa gimik? Cukup kau telanjangi diri sendiri. Karena arena dan peradaban sekarang agaknya perlu belajar akting lagi. Biar tidak kejebak pada peran kita yang dulu, dan sekarang. Agar bisa menjadi orang lain dalam karakter setiap pemeran sesuai perintah naskah dan skenario.
Petong sepertinya mulai terbawa pengaruh Poteng sebiji, karena mulai bereaksi dengan kehilangan rasio, dia cari peran sederhana. Dia kembali ke meja dan meraba laci tua yang baunya debu masa lalu. Meraih Topeng lalu dia kenakan, cerminnya dia pecahkan, sketsa dan jam di dinding dia taruh, kemudian masukkan ke laci kedua meja kayu tua itu, bahkan gambar dirinya sendiri.
Topeng kaget, merasa heran, seribu tanya. Kenapa mesti aku dilibatkan lagi? Aku mulai belajar dalam kesadaran.
Bahkan keimanannya dia pernah pertontonkan, lalu dia balik karena dia hanya tahu menuju titik sadar itu sendiri.
Tetapi apa boleh buat karena ulah si Poteng dan yang lainnya, aku harus kecebur lagi demi seorang Petong yang minta tolong.
“Mari kita sama-sama saling menodong dalam berbohong”.
Suara kotek menjadi merdu, Topeng berlagak kembali, poteng menjajakan setiap pagi Petong merias pelan halaman rumah, dari debu, kerikil dan beberapa ranting dia biarkan sebagai saksi dan bukti. Bahwa setiap hari perlunya “berpura-pura”. Untuk lebih meringankan beban, tidak menjadi menggumpal di benak.
24 jam Petong menyusuri laman-laman tentang waktu, pada teori penghargaan sesembahan kepada waktu! yang juga konyol jika hanya tergelincir di pepatah yang tidak relevan dengan sekarang.
Justeru kata Petong; kitalah yang menerabasnya, tidak harus sok teoritis untuk memenuhi standar akademisi atau apalah namanya tentang manajemen waktu.
Karena Petong adalah waktu, dengan beriringan bersama Topeng, ditambah sekali Poteng mengusik penyakit lambungnya mulai kambuh. Baginya Poteng sering membuatnya ngiler lupa diri, bahwa usia lambung seiring wasiat kelahirannya.
Petong cukup sadar dan Tanak. Bahwa ini hanya Topeng sembari menikmati Poteng kebetulan ngiler dan melintas di pagi paling sakral, untuk tersenyum pada setiap Topeng yang kita lupa taruh sejenak saja.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply