Salat dan Zakat Jalan Keberuntungan

Secara manusiawi dan naluriah, siapa pun dia pasti akan senantiasa mencari jalan keberuntungan, meskipun dalam defenisi dan makna yang sangat sederhana. Sejak era prasejarah, manusia memiliki kebiasaan yang disebut nomaden, hidup berpindah-pindah, sesungguhnya itu bagian dari pencarian jalan keberuntungan. Perspektif neurosains pun, ketika manusia pada salah satu bagian otaknya ada yang disebut otak reptil dan memiliki—salah satunya— fungsi reflektif untuk bertahan atau berlari, sebenarnya ini adalah fungsi psikologis agar tetap dalam posisi atau keadaan berada di jalan keberuntungan.

Thomas Hobbes yang telah merumuskan dan menemukan tentang sesuatu yang paling purba, paling fundamental, paling naluriah, dan paling manusiawi yang ditumpukan pada dua hal, yaitu hasrat dan kuasa—kemudian berikutnya ditegaskan tentang pentingnya hukum—pada makna terdalam, itu pun sebenarnya upaya agar tetap berada di jalan keberuntungan. Rasulullah Muhammad Saw pun di penghujung akhir hidupnya menegaskan dua hal yang ditinggalkan untuk umatnya dan ketika umatnya berpegang teguh terhadap keduanya mereka tidak akan tersesat, sesungguhnya ini menegaskan bahwa jalan keberuntungan tersebut, senantiasa menjadi perhatian besar oleh siapa pun yang berwujud manusia.

Allah melalui ayat-ayat qauliyah dan kauniyah-nya pun telah menunjukkan tuntunan, pedoman, standar operasional prosedur—bahkan manusia pun telah dibekali minimal dua hardware (baca: otak dan jantung/hati) dan software (baca: pikiran/akal dan kalbu/perasaan)—itu semua menjadi modal dahsyat agar berada di atas jalan keberuntungan. Apalagi agama memang dipahami memiliki memiliki mekanisme institusional, yang bukan sekadar untuk kesalehan personal melalui ibadah ritual-vertikal, tetapi juga menjadi mekanisme sosial untuk melakukan perubahan positif-konstruktif dalam realitas kehidupan yang dijalani sehari-hari. Komaruddin Hidayat pun menegaskan “Agama untuk Peradaban” yang mengharapkan agar kita membumikan etos agama dalam kehidupan.

Sering kali jalan keberuntungan yang dicapai itu bersifat subjektif dan duniawi, sehingga jalan keberuntungan yang personal tersebut tidak sedikit justru bagi lain menjadi sumber petaka. Kita ingin jalan keberuntungan yang dijalani atau pun dicapai adalah jalan keberuntungan yang bersifat universal, manfaatnya tidak hanya terbatas pada pribadi tertentu, tetapi memberikan banyak manfaat ke orang lain. Dan bukan hanya itu, kita pun ingin jalan keberuntungan tersebut tetap dalam bingkai rida Allah, agar jalan keberuntungan yang dirasakan bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.

Islam sebagai agama, itu menyajikan banyak tuntunan yang ketika kita melaksanakan, menunaikan, menegakkannya, nilai-nilai ajarannya akan menjadi jalan keberuntungan. Yang paling umum saja diketahui umat Islam—rukun Islam—jika dipahami dengan baik dan disadari secara mendalam, itu bisa menjadi tuntunan di mana-mana nilai-nilai yang terkandung di dalamnya akan membawa diri, siapa pun, yang mengamalkannya untuk sampai pada jalan keberuntungan.

Rukun Islam yang terdiri dari lima rukun, jika kita petakan menjadi dua bagian utama, itu memang bisa menjadi jalan keberuntungan, bukan hanya untuk di akhirat, tetapi juga untuk kehidupan duniawi. Syahadat, salat, dan puasa, nilai-nilainya bermuara pada pembangunan ketangguhan pribadi (personal strength), sedangkan zakat dan haji untuk ketangguhan sosial (social strength). Bukankah kita semua telah memahami bahwa dalam kehidupan ini sangat dibutuhkan personal strength dan social strength.

Di dalam agama Islam, khususnya melalui rukun Islam, ada hal yang sangat dahsyat dan Allah pun menegaskan beberapa kali dalam Al-Qur’an. Ini memang merupakan ayat qauliyah tetapi jika nilainya dikontekstualisasikan dalam kehidupan sosial, bahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara akan mampu membawa kehidupan manusia di jalan yang dimaknai sebagai jalan keberuntungan. Hal yang dimaksud adalah salat dan zakat.

Dalam perspektif kontemporer secara fungsionalitas dan psikologis, salat dipahami mampu membangun karakter personal untuk mewujudkan ketangguhan personal (personal strength). Zakat membangun karakter untuk mewujudkan ketangguhan sosial (social strength) karena secara psikologis mampu mendorong lahirnya empati, welas asih, spirit memberi/tangan di atas. Bahkan zakat bisa melahirkan horman kebahagiaan yang sangat bermanfaat bagi setiap orang, terutama aspek kesehatan, sehingga kelak secara sosial memberikan efek positif dalam kehidupan.

Kedahsyatan salat dan zakat pun, itu bukan hanya berdasarkan hasil pemikiran manusia semata, secara teologis, kita bisa menemukan maknya. Di dalam Al-Qur’an, sebanyak 28 kali salat dan zakat disebutkan secara bersamaan—sebagai satu paket ibadah utama. Abdul Wahid Al-Faizin melalui bukunya Pengantar Lengkap Zakat Kontemporer: Fikih Empat Madzhab, Pengelolaan, dan Kajian Sosial Ekonomi, menegaskan bahwa 27 kali salat dan zakat disebutkan secara bersamaan dalam ayat yang sama dan satu kali berada dalam ayat yang berbeda, tetapi masih menjadi rangkaian yang menegaskan pentingnya salat dan zakat, yaitu dalam QS. al-Mu’minun ayat 1-4.

Yang lebih menarik lagi, pandangan al-Sa’di yang dikutip oleh Abdul Wahid ke dalam bukunya tersebut di atas, menegaskan kenapa salat dan zakat disebut bersamaan. Menurut al-Sa’di, salat itu mengandung unsur al-ikhlas (keikhlasan) kepada Allah sebagai zat yang disembah, sedangkan zakat mengandung unsur al-ihsan (perbuatan terbaik) kepada sesama manusia. Al-Sa’di pun melanjutkan dan menegaskan kembali bahwa al-ikhlas dan al-ihsan inilah yang menjadi indikator utama keberuntungan dan kecelakaan bagi seseorang.

Dari al-Sa’di di atas, pasti kita bisa memahami bahwa jika salat dan zakat ditegakkan dan ditunaikan maka mendatangkan keberuntungan dalam makna ideal. Sebaliknya, jika tidak ditegakkan dan ditunaikan, maka cepat atau lambat mendatangkan kecelakaan atau keburukan bagi seseorang.

Saya pribadi mampu merasakan bahwa salat dan zakat, bukan cuma dimaknai sebagai relasi vertikal kepada Allah dan relasi horizontal kepada sesama manusia. Kedahsyatan salat dan zakat, saya bisa argumentasikan secara rasional dan ilmiah, minimal sebagaimana terungkap pada bagian di atas di mana salat bermuara pada personal strength dan zakat pada social strength.

Al-ikhlas atau keikhasan yang terkandung dalam salat sebagai salah satu unsurnya, itu bisa dipandang sebagai makna turunan dari misi mulia manusia yang pertama, beribadah. Allah menegaskan manusia diciptakan bukan hanya untuk beribadah (menyembah) kepada-Nya. Beribadah, tentu saja bukan khusus dalam makna relasi vertikal semata, tetapi relasi horizontal atau relasi sosial yang dibingkai rida Allah harus pun melekat dan menjadi nyata dalam kehidupan.

Al-ikhlas sebagai salah satu unsur dari salat, itu bisa menjadi pengendali segala sikap dan tindakan agar tetapi dalam rel yang benar, baik, dan indah yang muaranya adalah keberuntungan. Sama halnya, ketika segala sikap dan tindakan diarahkan dan/atau dibingkai dengan rida Allah dipastikan tidak aka nada manusia ang melakukan perbuatan yang merusak, seperti korupsi dan berbagai penyalahgunaan wewenang.

Ikhlas dalam perspektif level bekerja, dikenal ada kerja ikhlas yang manfaat, kedahsyatan, dan efeknya secara ilmiah telah dibuktikan jauh lebih dahsyat ketimbang kerja keras dan kerja cerdas. Kerja ikhlas yang di dalamnya mengandung keikhlasan secara psikologis beroperasi dalam ruang tanpa batas dan digerakkan oleh energi tanpa batas.

Al-ikhlas pun memang relevan dan idealnya terpadu dengan al-ihsan sebagai unsur dari zakat. Al-ihsan bukan hanya mengedepankan spirit atau energi untuk senantiasa melakukan hal terbaik dan mempersembahkan karya/kinerja terbaik. Al-ihsan pun membangun kesadaran bahwa apapun yang dikerjakan itu senantiasa berada dalam pengawasan Allah, sehingga dipastikan tidak ingin melakukan hal yang melanggar dan merusak.

Al-ikhlas maupun al-ihsan dalam konteks duniawi senantiasa mempersembahkan yang terbaik bukan pertimbangan “karena”, tetapi “meskipun”. Muara dari ihsan adalah ikhlas dan sebaliknya keihlasan mendorong seseorang untuk berbuat atau beramal sampai pada level spritualitas tertinggi, yaitu ihsan.

Salat dan zakat yang oleh Allah menyebutnya sebanyak 28 kali secara bersamaan memang sangat dahsyat, bukan sekadar dalam pemahaman dan kesadaran bahwa keduanya memang merupakan sama-sama sebagai ibadah utama. Salah secara psikologis itu mampu mewujudkan character building sedangkat zakat secara psikologis dan sosial mampu menciptakan strategic collaboration.

Salat secara fungsional mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar, sehingga bisa menjadi jalan keberuntungan bukan hanya bagi yang menegakkan salat, termasuk orang lain akan mendapatkan keberuntungan minimal dirinya terbebas dari perbuatan tercela, merusak, atau buruk dari orang yang menegakkan salat. Kemudian diperkuat oleh zakat baik dalam makna sebagai sesuatu yang mengandung al-ihsan maupun dalam makna membangun kohesivitas sosial sebagai turunan dari makna strategic collaboration, maka setelah menjauh perbuatan keji, dirinya justru berupaya sekuat tenaga mempersembahkan yang terbaik dengan spirit tangan di atas, memberi, empati, dan welas asih. 






Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *