“Tak elok merendahkan musuh sedalam tanah. Sebab, bila musuh berkoalisi dengan tanah, maka akan lahir gerakan bawah tanah.” (Tajali Daeng Litere, 26122024)
Senandika Daeng Litere itu terdengar ringan, bahkan menyelipkan jenaka pada permainan bunyi antara tanah dan bawah tanah. Namun, sebagaimana lazimnya aforisme, kelugasannya menyimpan simpai makna lebih jauh. Ia tiada sedang berbicara tentang strategi politik ataupun gerakan rahasia semata. Pendakuan tersebut mengajak manusia menyigi tabiat kekuasaan, martabat, serta cara permusuhan bertumbuh dalam kehidupan.
Musuh hampir selalu dipahami sebagai pihak yang mesti dikalahkan. Perseteruan pun acap melahirkan keinginan bukan sekadar mengungguli lawan, melainkan merendahkannya. Kemenangan terasa belum utuh selama pihak lain masih memiliki kehormatan. Dari lapik semacam itu, penghinaan perlahan memperoleh tempat. Musuh tidak lagi dipandang sebagai manusia dengan kepentingan berbeda, tetapi sebagai sesuatu yang layak dihapus martabatnya.
Sejarah kehidupan justru memperlihatkan kenyataan berlainan. Kekalahan acap dapat diterima. Penghinaan jauh lebih sukar dilupakan. Luka akibat kalah mungkin sembuh oleh waktu, sedangkan luka pada harga diri kerap bertahan jauh lebih lama. Ia merayang dalam ingatan, berpindah dari satu generasi kepada generasi berikutnya, lalu menjelma bara yang diam-diam menunggu udara.
Barangkali sebab itulah Daeng Litere memilih tanah sebagai metafora. Tanah tidak sekadar melambangkan kerendahan. Ia merupakan ruang menyimpan benih, menyuburkan akar, dan memelihara kehidupan dalam kesunyian. Apa pun yang jatuh ke tanah tidak selalu lenyap. Banyak justru menemukan kesempatan untuk bertunas.
Sesarinya, musuh yang didorong sedalam tanah belum tentu berakhir. Boleh jadi, ia sedang memasuki ruang tempat daya tahannya bertumbuh. Penghinaan yang dimaksudkan buat mematahkan semangat, kadang justru melahirkan tekad baru. Penyingkiran yang disangka mengakhiri persoalan, sesekali berubah menjadi awal perlawanan lebih panjang.
Sejarah manusia berulang kali memperlihatkan gejala demikian. Banyak gerakan besar lahir, bukan dari mereka yang hidup dalam kelimpahan, melainkan dari kelompok yang lama dipinggirkan. Mereka tidak selalu memiliki kuasa. Namun, mereka memiliki pengalaman bersama tentang luka dan martabat yang dirampas. Dari sanalah solidaritas bertunas. Sesuatu yang semula dianggap kecil, perlahan memperoleh akar yang sukar dicabut.
Sementelah itu, senandika Daeng Litere tidak berhenti pada pembacaan sosial. Ia bergerak menuju bentang batin manusia. Gerakan bawah tanah tidak hanya lahir dalam masyarakat. Ia dapat pula tumbuh dalam diri setiap orang.
Menguar amarah yang tidak pernah memperoleh ruang untuk diucapkan. Mengada kecewa yang dipendam bertahun-tahun. Menyata penghinaan yang ditelan demi menjaga ketenangan. Dari luar, seseorang tampak baik-baik saja. Walakin, jauh di dasar dirinya, berlangsung pergulatan tidak terlihat. Batin menyimpan jejak tapak, tidak pernah benar-benar hilang.
Segala sesuatu yang terus ditekan tanpa dipahami, lambat laun akan mencari jalannya sendiri. Air yang dibendung terlalu lama, akan menemukan celah. Akar yang terhalang batu, pasti berbelok mencari ruang. Demikian pula luka batin. Ia mungkin tidak lagi berbicara melalui kata-kata, tetapi dapat menjelma sikap, keputusan, bahkan permusuhan yang tak lagi mudah dikenali asal-usulnya.
Di sinilah penghormatan memperoleh makna lebih luas. Menghormati musuh bukan berarti menyetujui tindakannya. Ia juga bukan tanda kelemahan. Penghormatan merupakan ikhtiar menjaga, agar perseteruan tidak berubah menjadi penghinaan. Sebab, ketika martabat orang lain dirampas, sesungguhnya martabat diri sendiri ikut dipertaruhkan.
Kehayatan kiwari acap mempertontonkan kecenderungan sebaliknya. Perbedaan pandangan mudah bergeser menjadi serangan terhadap pribadi. Orang tidak lagi membantah gagasan, melainkan berusaha menjatuhkan kehormatan lawannya. Percakapan kehilangan kejernihan. Dialog berubah menjadi arena saling mempermalukan. Pada suasana demikian, kemenangan mungkin diraih di permukaan, tetapi benih-benih permusuhan diam-diam ditanam di bawahnya.
Keinsafan akan batas diri, sepertinya perlu kembali disemai. Tidak setiap kemenangan layak dirayakan, bila dicapai dengan menghilangkan martabat sesama. Manusia dapat menguasai keadaan, tanpa benar-benar memenangkan hati. Kekuasaan mampu membungkam suara, tetapi tidak selalu mampu menumbuhkan penerimaan. Apa yang dipaksa diam, sering hanya berpindah ke ruang lebih sunyi.
Barangkali itulah makna terdalam koalisi dengan tanah. Tanah tidak pernah gaduh. Ia bekerja dalam diam. Benih bertunas tanpa tepuk tangan. Akar menjalar tiada meminta perhatian. Demikian pula luka yang dipelihara terlalu lama. Ia tidak selalu meledak seketika, tetapi perlahan mengubah arah kehidupan.
Pendakuan Daeng Litere juga mengingatkan, kebijaksanaan tidak diuji ketika berhadapan dengan kawan, melainkan kala bersua lawan. Menghormati orang yang sepaham bukan perkara sukar. Yang menuntut keluasan jiwa, ialah tetap menjaga adab, kepada mereka yang berbeda. Pada lapik inilah, keluhuran laku memperoleh ukurannya.
Senandika tersebut, kiranya tiada hendak mengajarkan manusia menghindari perseteruan. Perbedaan kepentingan akan selalu hadir sepanjang sejarah. Namun, permusuhan tidak harus kehilangan kemanusiaan. Persaingan tidak perlu menjelma penghinaan. Sebab, setiap kali martabat dikubur sedalam tanah, kemungkinan lahirnya bara baru ikut ditanam bersama.
Musuh yang dihormati mungkin tetap menjadi lawan. Akan tetapi, musuh yang dihina kerap berubah menjadi luka panjang. Dari luka semacam itulah, gerakan-gerakan tak terlihat memperoleh tenaganya. Ia tumbuh perlahan, merayang dalam ingatan, lalu menemukan waktunya untuk muncul ke permukaan.
Kesudahannya, kemenangan paling arif, bukanlah keberhasilan mengubur musuh sedalam tanah. Kemenangan sejati terletak pada kemampuan menjaga martabat, bahkan di tengah perseteruan. Sebab, tanah semestinya menjadi tempat menumbuhkan kehidupan, bukan ladang tempat permusuhan diwariskan.

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply