Sebelum Suara Barzanji Senyap di Bissampole

Ada tradisi yang tidak gaduh ketika perlahan menghilang. Ia tidak runtuh seperti bangunan tua. Ia hanya makin jarang dilakukan, amat sedikit pewarisnya, lalu suatu waktu orang-orang hanya mengenangnya sebagai kebiasaan masa lalu. Maulid Nabi Muhammad saw. di Bissampole agaknya sedang berhadapan dengan keadaan semacam itu.

Sebagai orang tempatan Bissampole, saya menyaksikan pergeseran tradisi. Dahulu, hingga dekade 1980-an, maulid masih kerap berlangsung di rumah-rumah keluarga tertentu. Rumah menjadi ruang ibadah sekaligus arena perjumpaan. Orang datang, duduk bersama, mendengar pembacaan kitab Al-Barzanji, bersalawat, lalu menikmati hidangan. Ritus itu tumbuh dari keluarga, berpindah dari satu rumah ke rumah lain, dan diwariskan melalui kebiasaan.

Kitab Al-Barzanji yang masyhur itu dikarang oleh Syekh Ja’far bin Hasan al-Barzanji (1690–1766 M), seorang ulama dan qadi dari Madinah yang berasal dari keluarga Barzanji.

Judul lengkapnya sering disebut ‘Iqd al-Jawāhir fī Mawlid al-Nabī al-Azhar (عقد الجواهر في مولد النبي الأزهر), yang berarti kira-kira “Kalung Permata tentang Maulid Nabi yang Bercahaya.”

Al-Barzanji sendiri bukan sekadar kitab untuk dibaca. Ia merupakan karya pujian dan pengisahan tentang Nabi Muhammad, berisi nasab, kelahiran, sifat, keutamaan, perjalanan kenabian, hingga wafat beliau.

Uniknya di Kampung Bissampole, teks itu memperoleh kehidupan lain: ia menjadi suara. Dibaca bergiliran, dimulai oleh seseorang yang dipandang alim dalam penghayatan agama, lalu diteruskan pembaca berikutnya. Pada bagian tertentu, jamaah berdiri dan salawat dilantunkan dengan irama khusus.

Cengkok Al-Barzanji pun berbeda dari langgam mendaras Al-Qur’an. Karena itu, lancar membaca Al-Qur’an tidak serta-merta membuat seseorang percaya diri membaca Al-Barzanji. Ada irama, tarikan suara, dan kebiasaan tertentu yang mesti dipelajari melalui pendengaran. Kemampuan ini bukan semata perkara huruf dan harakat, tetapi perkara rasa. Orang belajar dengan menyimak orang tua, mengulang, lalu memberanikan diri mengambil giliran.

Di sinilah letak kerentanan sebuah tradisi lisan. Ia tidak cukup disimpan dalam kitab. Kitab dapat bertahan puluhan bahkan ratusan tahun, tetapi cara membunyikannya bisa lenyap lebih cepat. Jika semakin sedikit rumah mengadakan maulid, semakin sedikit pula ruang bagi generasi baru, untuk mendengar dan mempelajari cengkoknya.

Namun, Bissampole masih memiliki satu ruang penting. Di sebuah masjid tua, Masjid Ruhul Amin, pembacaan Al-Barzanji tetap dilaksanakan setiap malam Jumat, kecuali selama bulan Ramadan. Barangkali tampak sederhana: beberapa orang membaca kitab, jamaah menyimak, lalu doa penutup dipanjatkan oleh orang yang dipercaya memiliki kedalaman pengetahuan agama. Tetapi di balik kesederhanaan itu tersimpan kerja kebudayaan: sebuah tradisi sedang dirawat.

Masjid itu menjadi semacam rumah ingatan. Apa yang dahulu banyak berlangsung di rumah-rumah keluarga, kini masih menemukan tempat di dalamnya. Pembacaan malam Jumat menjadi ruang belajar sekaligus perkaderan. Mereka yang telah mahir memberi teladan; mereka yang belum mahir memperoleh kesempatan mendengar. Dari sana, suara berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Maulid di Bissampole pun tidak hanya hidup melalui suara. Ia mempunyai rupa dan rasa. Ada songkolo maudu’, terbuat dari beras ketan dengan taburan rempah di permukaannya. Di dalam sajian itu terdapat ayam kampung goreng. Makin besar hajatan, lazimnya makin besar pula sajian; bahkan seekor ayam dapat menjadi isinya. Dahulu songkolo maudu’ ditempatkan dalam baku karaeng, wadah dari daun lontar. Kini wadah itu kerap digantikan ember. Di atas songkolo ditancapkan male, menyerupai telur masak, dihias kertas warna-warni.

Pernak-pernik itu mungkin tampak sederhana bagi mata luar. Namun bagi sebuah komunitas, benda-benda tersebut menyimpan ingatan. Baku karaeng mengingatkan keterampilan mengolah lontar. Male memberi rupa khas pada sajian. Songkolo maudu’ mempertemukan hasil bumi, tangan keluarga, dan kemurahan hati dalam sebuah perayaan. Al-Barzanji memberi kata; makanan menyodorkan bentuk. Salawat menyumbang suara; kebersamaan menyajikan makna.

Annemarie Schimmel, seorang islamicist, asal Jerman, dalam bukunya  berjudul, And Muhammad Is His Messenger, membantu kita melihat bentang lebih luas dari semua ini. Ia tidak hanya melihat Muhammad sebagai tokoh sejarah, tetapi menelusuri bagaimana Nabi hidup dalam kecintaan umat: melalui salawat, puisi, maulid, doa, kisah, dan pengalaman spiritual. Schimmel melihat peradaban Islam dari jejak cinta kepada Rasul. Al-Barzanji, dalam lingkup lebih khusus, merupakan salah satu bentuk konkret dari cinta itu.

Bissampole kemudian menghadirkan lapisan lain. Tradisi besar Islam itu bertemu dengan sebuah kampung, lalu memperoleh warna setempat. Di sini maulid bukan benda beku dari masa silam. Ia pernah hidup di rumah-rumah, dalam suara para pembaca, dalam songkolo maudu’, baku karaeng, male, dan kebiasaan berkumpul. Ia merupakan bagian dari cara sebuah masyarakat mengingat Nabi sekaligus mengingat dirinya sendiri.

Kini rumah-rumah itu makin jarang bermaulid. Barangkali zaman memang bergerak. Cara hidup berubah, kesibukan bertambah, bentuk perjumpaan bergeser. Tidak elok pula setiap perubahan segera dianggap sebagai kemerosotan. Tetapi ada sesuatu yang patut dicatat: ketika sebuah ritus semakin jarang dilakukan, bukan hanya acaranya yang berkurang. Bisa jadi sebuah langgam, sebentuk keterampilan, sehimpun kosakata kebudayaan, bahkan sesimpai cara merawat ingatan turut merunrun.

Sebab sebuah kampung bukan hanya bentangan tanah dan kumpulan rumah. Ia juga kumpulan bunyi, aroma, gerak, dan ingatan. Apa pun bentuk perubahan kelak, jejak itu patut dicatat. Bukan untuk memuja masa silam, melainkan agar generasi mendatang tahu: pernah ada sebuah waktu ketika kecintaan kepada Rasulullah dirawat dari rumah ke rumah, dari suara ke suara, dari tangan ke tangan.

Maka merawat Al-Barzanji di Bissampole bukan semata mempertahankan sebuah kitab. Ia berarti merawat suara. Suara orang-orang terdahulu yang pernah memenuhi rumah dengan salawat. Suara para pembaca yang bergiliran. Suara jamaah ketika berdiri. Suara doa pada penghujung majelis. Dan suara malam Jumat dari masjid tua, tempat tradisi itu masih berdenyut.

Peradaban tidak selalu tegak dalam monumen besar. Kadang ia bersembunyi dalam kebiasaan sederhana: sebuah kitab dibuka, suara dilantunkan, tubuh berdiri, doa dipanjatkan, songkolo disuguhkan. Bissampole memiliki semua itu dalam ingatannya.

Last but not least, tugas warga tempatan Bissampole mungkin bukan membekukan masa lalu, melainkan menjaga agar suara itu tidak hilang, sehingga generasi berikutnya masih dapat mendengarnya.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *