Saat ini menjadi orangtua sangat sangat sangat tidak mudah. Tetapi di satu sisi siklus kehidupan manusia menempatkannya pada posisi sebagai orangtua. Suka atau tidak, siap ataukah tidak. Lewat 1001 cara yang Tuhan kehendaki.
Boleh jadi seseorang telah mempersiapkan diri menerima tanggung jawab sebagai ibu dan ayah, namun belum kunjung dikaruniai amanah. Atau sebaliknya yang terjadi. Ia menolak menjadi orangtua tetapi karena terjadi “musibah”, ia tiba-tiba mendapati dirinya hamil, lalu melahirkan. Ada pula situasi di mana anak-anak yang lahir beruntun tanpa dapat dicegah minimal diatur jaraknya. Sehingga memberikan kesempatan kepada orangtuanya untuk menjaga jarak usia antar anak-anak tersebut.
Ada pula kelompok orang-orang yang memilih menikah tetapi tidak ingin punya anak. Masyarakat menyebutnya “child free”. Di mana sebuah pasangan memutuskan untuk tidak `memiliki anak, baik biologis maupun adopsi, sebab tidak siap secara ekonomi, tidak siap mental, atau akibat pengaruh trauma masa kecil.
Dahulu, masa-masa orangtua era 50-an membesarkan, pilihan pengasuhan hanya ada dua aliran besar, disiplin ala militer atau lembek membiarkan anak yang pegang kendali.
Saya dibesarkan dalam iklim kategori pertama, meskipun bukan tingkat ekstrem. Anak menangis karena terlambat ke sekolah itu biasa kami alami. Gara-gara harus menyelesaikan tugas di rumah baru bisa dilepaskan pergi. Jika bertamu ke rumah orang, makan kue maksimal hanya dua biji. Jika lebih, kaki bakalan diinjak oleh saudara yang duduk bersebelahan. Kami lari-lari atau ribut di tengah orang banyak, mata ibu seolah sudah mau copot memelototi kami. Alhasil isyarat-isyarat tersebut sangat mujarab dalam mengontrol perilaku kami pada pada masa itu.
Di era kini, begitu banyak kelonggaran yang orangtua berikan untuk anak-anaknya. Longgar dari pengawasan, longgar dalam mendampingi, bebas mengemukakan pendapat dan bersikap. Soal adab belakangan. Bahkan saya mengamati, ada jenis anak-anak yang terlihat malu atau gengsi jika bersikap sopan terhadap orang yang lebih tua.
Jika anak kedapatan berbuat salah, jangan menegurnya di depan umum. Sehingga tidak jarang kita temui anak-anak kecil bebas berlarian di depan orang yang sedang berbicara di depan atau podium. Tidak ada tindakan sama sekali. Sesederhana mengangkat dan memindahkannya dari tempat tersebut. Orangtua-orangtua terlihat gagap dan bingung dalam menghadapi perilaku anak-anak ini. Dikerasi salah, dilembeki juga salah. Tak jarang ponsel jadi senjata untuk mendiamkan dan membeli ketenangan mereka.
Jangan serahkan kendali ke tangan anak
Di tengah kebingungan akan konsep parenting yang tepat, orangtua mulai meraba-raba, jalan mana terbaik, yang sebaiknya ditempuh. Menjadi orangtua sahabat anak tapi bingung menetapkan batasan-batasannya, atau menjadi orangtua yang ditakuti oleh mereka, tegas menetapkan aturan tetapi berpotensi dijauhi. Dua pilihan yang sama-sama sulit. Sayangnya, kedua pilihan tersebutlah yang populer digunakan di tengah masyarakat.
Untuk kelompok pertama, saya menyebutnya orangtua “asyik”. Orangtua yang ingin diterima oleh kalangan anak-anaknya. Ingin dianggap orang yang enak diajak ngobrol, beritanya selalu update, mudah diajak terlibat dalam kegiatan-kegiatan remaja.
Sayangnya ia punya sisi kekurangan. Ia jadi serba terbuka dan bebas, sehingga anak-anak justru jadi kurang penghargaan. Antara hak dan kewajiban sebagai anak jadi campur aduk. Bahkan banyak melanggar batas-batas kesopanan, baik dalam berbicara maupun dalam bersikap.
Sementara untuk kelompok kedua, saya menyebutnya orangtua “garing”. Semua hal dibawa serius. Kurang fleksibel dalam menegakkan aturan. Anak-anak jadi takut mendekat, takut membuka percakapan, sehingga memilih jauh-jauh dari orangtua tipe ini.
Mereka lebih banyak menyerukan kewajiban-kewajiban anak, ketimbang mengangkat hak-haknya. Anak jadinya takut dan kaku jika berhadapan dengan orangtua seperti ini. Karena lebih dominan takut, anak-anak akan lebih cenderung berbohong jika berada dalam situasi yang mengancam.
Pertanyaannya, apakah ada pilihan ketiga yang bisa menjembatani kedua kelompok di atas? Jawabannya ada pada seberapa dekat dan kenal kita terhadap anak-anak tersebut? Maka kita akan mudah mengikuti alur situasi percakapan, alur masalah, jadinya kita mudah maju dan mundur di saat yang tepat. Kapan kita perlu bercanda, kapan harus tegas, dan kapan mesti serius.
Dan satu hal penting yang sangat perlu diperhatikan. Hendaknya kita sebagai orangtua tidak menyerahkan kendali kehidupan ke tangan anak-anak kita. Bagaimanapun kita sebagai orangtualah yang semestinya memegang peran dalam mengarahkan biduk ini. Kecuali anak-anak telah menginjak usia dewasa. Maka tongkat estafet boleh kita serahkan ke tangan mereka.
Seperti apa mereka akan menjalani kehidupan selanjutnya, tergantung pada bekal-bekal yang telah kita tanamkan selama ini.

Konsultan Parenting. Telah menulis buku, Dari Rumah untuk Dunia (2013) dan Metamorfosis Ibu (2018)


Leave a Reply