Narasi “Budaya”

Loemi siranggasela. Massing attenteng, tanre sipakainga’. Ri pakkusiang siki’ dijintu sanna ammaraki (telah banyak saling menghujam, tidak lagi saling mengingatkan, saling bertahan di antara setiap persoalan sepele).

Kebudayaan, atau peradaban. Bersilang sisi mencari posisi di setiap peluang untuk menempati ruang pengakuan.

Didaur dan disadur hadir sebagai pelengkap. Sambil membagikan berbagai jenis bunga budaya begitu wangi, padahal ada pertengkaran, pemahaman butuh di-upgrade, norma yang bergumul para pencatut yang tumpul, menodai budaya itu sendiri. Ada melambangkan kepolosan, kedukaan, dan bahkan pengkhianatan.

Siri’ napacce misalnya, sepertinya mulai diterabas. Menjadi “sipakasiri’-siri-siri‘” (saling sikat dan membuka aib). Kebiasaan yang katanya bernaung atas nama nilai, etika, tetapi kepekaan sosial “appattau” menjadi tolak ukur kelapangan dalam kemanusiaan telah mulai dilupakan.

Ringkasan-ringkasan peradaban begitu ringkih, merajutnya butuh membohongi dan menerima seadanya setiap cerita, kisah yang catatannya telah cacat tercatut.

Ada budaya terkapar sambil menyaksikan anak-anak kehilangan pedoman dan pegangan hidupnya, tertinggal jauh karena di kandang, dirimpung oleh budaya penuh tetabuan. Kesan ambiguitas dari kasualitas budaya, bagai imbuan saja, untuk terpaksa kupahami dari berbagai teks-teks budaya itu sendiri.

Kau harus banyak healing! Vi menyela. Ada hal di mana kita memang berada pada ketentuan untuk menerima sebuah pengertian secara umum. Sebagai referensi. Sebuah dokumentasi serta argumentasi, perdebatan bagaimana budaya dan peradaban itu lahir dari sebuah intimidasi, asumsi sebagai jalinan keteraturan untuk kehidupan sosial manusia. Mari kita temui satu laman di bawah ini:

Kenyataannya adalah bahwa “budaya”, sebagai kerangka konseptual untuk memahami zaman dan masyarakat lain, sama sekali tidak ada dalam pemahaman umum hingga abad ke-20. Kegagalan untuk memahami hal ini memiliki empat konsekuensi yang merusak.

Pertama, hal itu mendistorsi kita pada masa lalu dengan asumsi yang salah bahwa “budaya” selalu atau seharusnya menjadi bagian dari pemikiran setiap orang. Kedua, hal itu mengurangi potensi untuk berbagi, dan mungkin mengasimilasi, unsur-unsur budaya lintas ras dan etnis.

Ketiga, hal itu mencegah kita untuk memperhatikan kemunculan kembali sejumlah asumsi yang dapat kita kelompokkan di bawah istilah “peradaban”, konsep yang sebagian besar digantikan oleh “budaya”. Dan yang terakhir, hal itu memisahkan cita-cita peradaban tentang kemajuan dari praktik-praktik budaya yang sebenarnya. Khususnya budaya-budaya yang nilai-nilai tertingginya adalah kesetiaan dan kesucian, untuk menggunakan istilah psikologi sosial tertendang dari kandang budaya itu sendiri.

Narasi dibangun dengan harapan menuai kesepakatan. Dan menjadi perdebatan. Sementara orang-orang baru mulai mengajukan dari etika bersemi bernaung pada budaya. Sementara budaya itu sendiri mengemis di antara selasar peradaban yang beberapa pemikir menguatkan dua hal yang sama pula, ribuan tahun mengasuh manusia. Setelah itu.

Katanya sejarah dan budaya adalah realitas yang membentuk peradaban? Meskipun penafsirannya sering kali menjadi bias atau dikonstruksi ulang oleh sesiapa sang jawara, juara, pemangku penguasa di masa lalu. Sambil memberi huruf tebal sejarahnya dan budayanya sendiri.

Bukankah ada namanya realitas objektif dan fungsi dari sejarah, serta budaya dalam kehidupan bermasyarakat? Membentuk identitas seperti kata budaya, termasuk tradisi, bahasa, dan seni, berfungsi sebagai pemersatu dan pembentuk karakter suatu kelompok masyarakat atau bangsa.

Secara definisi itu sudah lazim dan umum! Vi menepis! Tampak Danu kikuk tersenyum tipis setipis bulu kumisnya.

Dia juga bunga hidup sebagai catatan dari pengalaman masa lalu manusia. Melalui bukti-bukti arkeologis dan tertulis. Mewarnai, memberikan kita pelajaran penting agar lebih kuat punya akar.

Danu nyeletuk; Lalu kita menunggu bunga rampai sejarah dan budaya diubah serta pertukaran nilai, etika budaya menjadi sumir, serta bulan, seiring semilir angin peradaban yang semakin merambat melumat kebudayaan.

Begitulah adanya sebagai “bualan” dengan alur diromantisasi atau dipelintir untuk melegalkan kekuasaan atau pendapat tertentu. Maka budaya menempatkan sesuatu yang menyesuaikan dari setiap ruang lingkup masyarakat.

Katanya: Budaya adalah sebuah kejujuran. Danu mulai nakal dalam pikiran. Dia lahir dari bualan lalu dibungkus ketulusan. Kita luruh, dan ikut selera pemikiran mereka, kemudian kita percaya inisiatif dan anasir para penafsir orang luar sana, mengaku pencetus ide, imajinasi, kecakapan, kecerdasan, kepintaran untuk perwujudan budaya menuju sebuah peradaban? Sementara kita tinggal menerima dan termangu dungu.

“Bualan”!?

Danu mulai terancam, beberapa orang menimpalinya, gempuran kritikan menyambutnya seketika, bagai dentuman bom waktu, padahal mereka tahu budi budaya hanya disulam berulang, diulang-ulang oleh satu sobekan dari pencerita satu ke pencerita lain, hinggaplah di dahan, ranting pengetahuan kita yang diadopsi oleh sebuah dogma.

Tidak harus bereaksi, cukup mencari fakta-fakta, ajak mereka bertarung pemahaman, penguatan naratif, tanpa subjektif, karena budaya kita hanya bisa saling membantah, dan bersiaplah kita dikutuk lagi. Betapa pemikiran kita dirajam dengan kejam. Danu membalas tatapan ke Vi yang sedari tadi diperhatikan.

Kutelaah etika, dia termenung sedih, kemudian mengintip peradaban, keadaban yang juga mulai terasa miris. Sesekali kutengok diri sendiri, ternyata masih juga kuberlagak berbudaya. Senyum risih Danu menyingkirkan persepsinya sendiri.

Ok. Vi tertantang! Kita tahu sama-sama bahwa: Budaya sering berhenti di poster dan upacara, slogan, kerja keras, mulai disiplin, tapi lembur tidak dibayar, antre tidak mau belajar, maunya di depan dan paling merasa penting. Padahal di antara mereka ada banyak orang menerobos begitu saja dengan atribut kecerdasan, berpengetahuan. Benar juga katamu hanya “bualan”.

Mari kita tengok hal sederhana saja yang katanya juga budaya dalam istilah “gotong royong”, tetapi ketika satu manusia terluka, mereka pergi berlalu tanpa menggotong bersama, yang kerja tiga orang, yang swafoto tiga puluh orang, itu juga gotong royong!?

Apakah budaya adalah laku? Sebagai pandu diasuh ide, jiwa. Semua perihal itu bertujuan baik! Sementara mengikuti dalam sebuah bernama peradaban masih kutemukan ada yang kebablasan. Atau alat transformasi sebuah budaya untuk menemukan pertautan yang saling mengikat, mengatur manusia untuk berkembang?

Danu! Suara lembut Vi menyandera rasa seorang Danu. Perlahan mengutip sebuah hal yang sama Danu resahkan tentang siklus bernama budaya: Memaknai “budaya sebagai jalan sesaat” berarti melihat budaya bukan lagi sebagai tradisi kaku warisan masa lalu yang abadi, melainkan sebagai respons adaptif manusia yang cair, terus berubah, dan diciptakan untuk menjawab kebutuhan zaman di momen tertentu.

Hal ini sejalan dengan konsep sosiologis modern kata para penerjemah dan pemikir dalam mencari fakta-fakta budaya, sejarah, dan peradaban itu sendiri, di mana kebudayaan bertransformasi menjadi seperangkat alat simbolik atau gaya hidup yang fleksibel.

Di era serba cepat, masyarakat kerap mengadopsi norma, tren, atau identitas kultural tertentu hanya untuk merespons dinamika masa kini, yang bisa memudar atau tergantikan seiring berjalannya waktu.

Maka demikian budaya bertaruh dengan budaya itu sendiri? Danu memantik pertanyaan.

Dia keseimbangan, bukan sekadar hadir untuk menjadi asumsi, interpretasi, dan definisi saja. Tetapi mengubah sistem keteraturan untuk manusia, sosial masyarakat harus berusaha keluar dari zona budaya dan memasuki era budaya di tengah peradaban yang berkembang.

Diredakan segera gejolak asumsi dan interpretasi Danu terhadap budaya itu, seakan ingin menepi saja. Vi mengajaknya lagi bertamasya pikiran di suatu laman, yang sama resahnya dengan Danu tentang pertanyaan Danu bagaimana kekeliruan yang kita adopsi dan kita anggap kebenaran mutlak oleh yang bergelar filsuf itu?

Pernyataanmu cukup menggelitik dan kritik yang analitik. Vi seakan menggoda dan menghibur Danu sembari berusaha mencegatnya untuk tetap bertahan pada keriuhan yang murah dan receh tanpa harus goyah.

Yah. Napas itu menggugat hasrat Danu yang suka terseret ke sebuah istana di hatinya, saat Vi dengan suaranya yang lembut mengepung segala hasrat pada satu hal tabu dianggapnya, yang juga membudayakan Danu menjadi budak rasa, prasangka, dan kepecundangannya.
Kita tinggalkan Danu sejenak tentang rasanya yang tertangguhkan;

Cukup banyak filosofi budaya yang keliru karena sering disamakan dengan sesuatu yang statis dan tidak boleh diubah. Padahal, kebudayaan bersifat dinamis, adaptif, dan seharusnya mengalir sebagai respons atas kebutuhan zaman, bukan sekadar pelestarian membabi buta tanpa pemikiran kritis.

Beberapa kekeliruan filosofi budaya yang paling sering terjadi meliputi: Tradisi Dianggap Mutlak Benar. Banyak yang terjebak bahwa semua nilai lama selalu benar.

Praktik yang katanya modern tetapi masih belum bisa berkembang (masih seperti kaum primitif). Zaman, bernama peradaban, telah berkembang, masih saja secara atas adat, tradisi yang masih perlu lestari, tetapi tidak menjadi pegangan utuh dalam sebuah perkembangan pola pikir manusia. Contoh paling real dan amat sederhana seperti: “Senioritas berlebihan di perpeloncoan, atau penolakan terhadap sains/logika sering kali hanya dengan dalih “menjaga warisan nenek moyang”. Hemm. Keduanya menggumam sambil saling menatap satu sama lain.

Sebuah persepsi budaya menolak berpikir rasional: Kebudayaan terkadang diposisikan berlawanan dengan pemikiran ilmiah. Padahal, budaya yang sehat harus bisa menyesuaikan diri dengan realitas zaman. Meromantisasi penderitaan: Ada pandangan budaya tertentu yang menormalkan kerja keras tanpa batas atau mengagungkan hierarki kaku, yang jika ditelisik lebih jauh justru mengekang hak asasi dan potensi manusia.

Kita masih terjebak pada satu sisi. Lintasan-lintasan ide, berwujud penolakan. Kebudayaan bersifat dinamis dan adaptif. Fungsi utamanya adalah alat penyesuaian manusia dengan lingkungan, sehingga nilainya akan selalu berkembang menyesuaikan zaman.

Danu. Suara itu pelan menerabas logika Danu, sepertinya Vi akan mengakhiri percakapannya, mengingatkan bersama bahwa kadang kita terlalu merasa hebat, terlalu mengamini definisi dari luar, terlihat dan terkesan keren kalau sekilas pemikiran ala kebarat-baratan. Akan tetapi, di antara kita sendiri, juga kadang berusaha mematahkan argumen dan cenderung sentimen. Budaya percakapan masih dieja dengan etika yang malah justru paling buruk memperlakukan atas nama etika itu sendiri.

Keduanya bergegas melepas dahaga yang telah tertunai di tengah percakapan mereka. Segera menyambut petang di antara semburat cahaya senja, pada kopi tersisa seteguk. Sesungut Danu berharap Vi selalu hadir menemani sepinya, dia sembunyikan dengan meracau, menipu orang lain dan dirinya sendiri.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *