Ketika Hutan Menjadi Guru, Murid Menemukan Masa Depan

Langit masih menyimpan mendung ketika waktu beranjak menuju siang. Matahari seakan memilih tetap bersembunyi di balik hamparan awan. Selesai mengikuti sesi Bincang Pendidikan Temu Pendidik Nusantara (TPN) XIII, para guru mulai meninggalkan aula dengan tujuan yang berbeda-beda. Sepuluh kelas pendidik telah menunggu, masing-masing membawa tema, pengalaman, dan praktik baik yang unik. Setiap peserta melangkah menuju kelas pilihannya, berharap menemukan inspirasi yang dapat dibawa pulang ke sekolah masing-masing.

Saya justru tidak memiliki kemewahan untuk memilih.

Di saat peserta lain sibuk menentukan kelas mana yang akan diikuti, saya hanya memiliki satu tujuan: Kelas Pendidik 02. Di sanalah saya mendapat amanah untuk berbagi praktik baik dengan tema “Ketika Hutan Menjadi Guru, Murid Menemukan Masa Depan”, sebuah cerita tentang bagaimana herbarium mengubah cara murid memandang hutan dan keanekaragaman hayati.

Namun, sebelum sampai di ruangan itu, hati saya terlebih dahulu dipenuhi pergulatan.

Pagi itu saya melangkah menuju lokasi Milad ‘Aisyiyah dengan balutan batik khas ‘Aisyiyah yang masih melekat. Waktu tidak memberi kesempatan untuk berganti pakaian sebelum bertolak menjadi pembicara pada TPN XIII. Di tengah kerumunan para guru yang mengenakan busana berbeda, saya tampak mencolok dengan identitas ‘Aisyiyah yang saya kenakan.

Di balik perbedaan itu, tersimpan kebanggaan karena dapat membawa semangat pengabdian dari satu ruang perjuangan ke ruang perjuangan yang lain. Namun, ternyata masih ada satu kegelisahan yang belum selesai.

Di waktu yang hampir bersamaan, berlangsung pula kelas Tahsin yang sejak awal sangat ingin saya ikuti. Kesempatan belajar Tahsin dalam rangkaian TPN terasa begitu istimewa. Saya sadar, kesempatan seperti itu belum tentu datang untuk kedua kalinya.

Sempat terlintas keinginan untuk mengikuti Tahsin lebih dahulu, kemudian bergegas menuju ruang tempat saya menjadi pembicara. Saya bahkan berharap, dalam diam, jadwal presentasi saya dimulai setelah Tahsin berakhir.

Sayangnya, harapan itu tidak mungkin terwujud.

Rundown telah tersusun rapi. Setiap sesi memiliki waktunya sendiri, dan setiap pembicara memiliki amanah yang harus dijalankan.

Akhirnya saya memilih berdamai dengan keadaan.

Saya menikmati terlebih dahulu sesi Bincang Pendidikan yang dipandu dengan sangat hangat oleh Ikbal H. Cara beliau merangkai kata-kata membuat seluruh ruangan larut dalam semangat belajar. Tanpa saya sadari, kegelisahan yang sejak tadi memenuhi pikiran perlahan menghilang. Saya mulai mengingat kembali alasan mengapa saya berada di tempat itu: bukan hanya untuk belajar, tetapi juga untuk berbagi.

Ketika sesi bincang berakhir, para guru berjalan menuju kelas yang mereka pilih. Saya melangkah menuju Kelas Pendidik 02, meskipun langkah saya belum sepenuhnya mantap.

Sebelum memasuki ruangan, saya sempat membuka grup panitia.

Sekitar dua puluh lima peserta memilih kelas yang akan saya bawakan.

Saya menarik napas panjang.

Bukan karena kecewa.

Justru karena mulai muncul pertanyaan dalam hati,

“Apakah praktik sederhana yang saya lakukan di sekolah akan cukup bermakna untuk mereka?”

Masuk ke kelas

Ruangan itu tidak terlalu besar. Kursi-kursi telah disusun membentuk model, sehingga jarak antara pembicara dan peserta terasa begitu dekat. Tidak ada panggung yang tinggi. Tidak ada batas yang membuat kami berbeda. Yang ada hanyalah guru-guru yang datang dengan satu tujuan yang sama: belajar dari sesama guru.

Tak lama kemudian, pemandu kegiatan, Ibu Rifdayanti, S.Pd., Gr. dari MTs DDI Mattoanging, mempersilakan saya untuk memulai sesi.

Saya berdiri di depan peserta.

Beberapa detik saya memilih diam.

Bukan karena lupa materi.

Saya hanya sedang menikmati suasana.

Lalu saya membuka presentasi dengan sebuah pertanyaan.

“Bapak dan Ibu, menurut Anda, apa yang tersisa ketika sebuah hutan terbakar?”

Ruangan mendadak sunyi.

Ada yang menjawab, “Abu.”

Ada yang berkata, “Batang pohon.”

Ada pula yang hanya tersenyum sambil berpikir.

Saya kemudian berkata pelan,

“Bagi murid-murid saya, masih ada satu yang tersisa.”

“Herbarium.”

Kalimat sederhana itu langsung mengubah arah pembicaraan.

Hari itu saya tidak sedang mengajarkan cara membuat herbarium.

Saya sedang bercerita bagaimana selembar daun mampu mengubah cara murid memandang kehidupan.

Setengah jam terasa begitu singkat.

Meski sesi itu berlangsung tanpa tanya jawab, benak saya dipenuhi berbagai kemungkinan. Saya membayangkan akan ada yang bertanya tentang proses pengawetan daun, ada yang ingin mengetahui cara menjaga antusiasme murid saat belajar di hutan, dan ada pula yang mungkin baru menyadari bahwa herbarium bukan sekadar tugas praktikum yang selesai ketika nilai dibagikan, melainkan media belajar yang menyimpan makna dan pengalaman.

Pertanyaan-pertanyaan imajiner itu seolah hadir bergantian di dalam pikiran saya, dan saya pun menjawabnya satu per satu dalam hati, seraya memastikan setiap penjelasan yang saya sampaikan mampu menjawab rasa ingin tahu yang mungkin tumbuh di benak para peserta.

Di penghujung sesi, seorang guru berbisik dengan guru disampingnya yang tidak saling kenal berdiskusi dan bertanya,

“Bu, di zaman sekarang semuanya sudah digital. Apakah herbarium masih relevan?”

Saya tersenyum, karena tidak nyangka ada yang menyangsikan herbarium dan saya memakluminya

Lalu menjawab,

“Teknologi digital memang telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Melalui teknologi, kita dapat melihat ribuan gambar daun hanya dalam hitungan detik. Namun ada satu hal yang tidak dapat diberikan oleh layar.”

Saya mengambil selembar herbarium.

“Layar tidak dapat menghadirkan pengalaman ketika murid menyusuri hutan, menyentuh permukaan daun, membedakan tulang daun monokotil dan dikotil dengan mata mereka sendiri, lalu mengawetkannya sebagai bagian dari sejarah kehidupan.”

Saya berhenti sejenak.

“Teknologi menyimpan data. Herbarium menyimpan pengalaman.”

Ruangan kembali hening.

Beberapa peserta mengangguk pelan.

Saat itulah saya merasa, mungkin bukan saya yang sedang mengajar. Justru hutanlah yang sedang mengajar kami semua.

Sesi pun berakhir.

Kami memang selalu tidak memanfaatkan momen untuk berfoto bersama, tapi mereka datang ke saya satu persatu sambil berjabat tangan, lalu perlahan meninggalkan ruangan.

Saya tidak tahu, apakah setelah hari itu akan ada guru yang langsung membuat herbarium bersama murid-muridnya.

Namun saya percaya, bila hari itu ada satu saja guru yang pulang dengan cara pandang baru terhadap hutan, maka perjalanan saya menuju Kelas Pendidik 02 tidaklah sia-sia.

Dalam perjalanan pulang, saya hanya membawa satu keyakinan.

Hutan memang tidak pernah berbicara. Namun, bagi siapa pun yang bersedia mendengarkan, hutan selalu memiliki cara untuk mengajarkan kehidupan. Dan ketika hutan menjadi guru, murid tidak hanya menemukan ilmu pengetahuan, tetapi juga menemukan masa depan.


Comments

3 responses to “Ketika Hutan Menjadi Guru, Murid Menemukan Masa Depan”

  1. Nurhikma, S. Pd. Gr Avatar
    Nurhikma, S. Pd. Gr

    Saya terenyuh dengan setiap untaian kata demi kata yang disusun oleh ibu Hj. Nusyamsi. Tenang, teduh, dan bermakna. Semoga ilmu yang dibagikan bermanfaat ibu. Selalu kereeenn ibu guru hebat kita 🤍👏🏻

  2. Mantap dan sangat menginspirasi. Semangat terus

  3. Raodhatul Jannah Avatar
    Raodhatul Jannah

    Masya Allah ibu aji…. Sangat bagus… Semangat terus…. Ibu aji selalu menjadi inspirasi buat saya bahwa umur tidak menjadi halangan untuk terus belajar dan menjadi motivasi untuk banyak orang 🥰

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *