Sore kemarin, Booknest Area dan Balla Literasi Indonesia menggelar Piknik Buku. Tak ada aula berpendingin, kursi empuk, atau meja panjang. Hanya dua lembar tikar yang dibentangkan di atas rumput Pantai Seruni yang mulai menguning akibat kemarau.
Tikar pertama, buku-buku diletakkan berdampingan dengan sekotak krayon, balok kayu, dan beberapa permainan sederhana. Di sana, sudah ada anak yang mewarnai dan membolak balik buku, sesekali berlari dan minta dikejar ayahnya yang remaja jompo.
Di tikar sebelahnya, satu per satu orang berdatangan, duduk melingkari ubi dan kacang rebus yang dibawa peserta. Tidak ada presentasi, tidak ada moderator, apalagi pidato panjang nye nye nye dan antek-antek asing. Hanya lingkaran kecil orang-orang yang ingin berbagi cerita tentang satu hal yang sama: bagaimana mereka pertama kali berkenalan dengan buku.
Mulanya, saya mengira sore itu hanya akan menjadi ajang bertukar kenangan. Ternyata, saya pulang membawa sesuatu yang lebih besar. Dari cerita-cerita sederhana itu, saya menemukan satu kesamaan yang selama ini luput saya sadari, sepertinya hampir tidak ada orang yang jatuh cinta kepada buku secara tiba-tiba. Selalu ada seseorang, suatu tempat, atau sebuah keadaan yang lebih dahulu memperkenalkan mereka kepada buku.
Tidak ada yang mengatakan bahwa mereka mencintai buku karena sejak kecil dinasihati “rajin membaca pangkal pandai”. Sebaliknya, mereka mencintai buku karena pernah hidup di lingkungan yang mempertemukan mereka dengan buku.
Ada yang ayahnya rutin berlangganan koran. Sehingga ia menjadi tertarik juga. Anak itu mungkin belum memahami seluruh isi koran, tetapi ia menyaksikan bahwa membaca adalah kebiasaan orang dewasa. Kelak, tanpa sadar, kebiasaan itu menular.
Ada yang tumbuh di rumah dengan rak buku sederhana, karena bapaknya penjual buku. Buku-buku itu sesekali diambil, dibaca, lalu dikembalikan ke tempatnya. Ada pula yang diam-diam membuka koleksi kakaknya. Mula-mula hanya karena penasaran melihat sampulnya, lalu perlahan hanyut dalam cerita yang belum tentu dipahaminya sepenuhnya.
Yang lain berkisah bahwa ia mulai membaca justru karena bosan. Tiap siang ia dipaksa tidur. Di dekat ranjangnya berderet buku-buku, akhirnya, mata yang tidak mengantuk itu ia pakai saja mengeja halaman-halaman buku. Isinya banyak yang tidak dimengerti, tetapi anehnya, pengalaman membaca itu tetap tinggal dalam ingatan hingga hari ini.
Cerita yang paling membekas bagi saya datang dari seorang peserta yang mengaku pernah menyembunyikan buku pinjaman perpustakaan di balik jilbabnya. Masa peminjaman buku di sekolahnya terlalu singkat, sementara ia belum selesai membaca. Ia tahu tindakannya keliru, tetapi ia lebih takut kehilangan kesempatan melanjutkan cerita yang membuatnya tenggelam.
Kami tertawa mendengarnya.
Makin lama mendengarkan cerita-cerita itu, saya sadar bahwa yang sesungguhnya dikenang bukan bukunya, melainkan lingkungan yang mempertemukan mereka dengan buku. Selalu ada seseorang atau sesuatu yang memperkenalkan mereka kepada buku. Orang tua, kakak, perpustakaan, atau bahkan hukuman tidur siang.
Perkenalan itulah yang kelak berubah menjadi kebiasaan.
Saya kemudian teringat pada gagasan James J. Gibson, seorang psikolog yang memperkenalkan konsep affordance. Menurut Gibson, lingkungan selalu menawarkan kemungkinan untuk bertindak. Sebuah bangku mengundang orang untuk duduk. Lapangan mengundang anak-anak untuk berlari. Sebagaimana ompreng mengundang anak untuk segera makan.
Saya membayangkan, sepertinya buku pun demikian.
Rak buku di ruang tamu sedang mengundang anak untuk mengambil sebuah cerita. Ayah yang membaca koran setiap pagi sedang mengundang anaknya melakukan hal yang sama. Sudut baca di kelas sedang mengundang tangan-tangan kecil untuk membuka halaman pertama. Perpustakaan yang nyaman sedang mengundang rasa ingin tahu.
Sebaliknya, bagaimana mungkin kita berharap anak mencintai buku jika buku hampir tidak pernah hadir dalam ruang hidupnya?
Mungkin selama ini kita terlalu sering menganggap rendahnya literasi sebagai persoalan kemauan. Anak dianggap malas membaca. Padahal, boleh jadi masalahnya bukan semata-mata pada anak, melainkan pada lingkungan yang belum cukup sering mempertemukan mereka dengan buku.
Awalnya saya kira pengalaman peserta Piknik Buku hanyalah cerita-cerita pribadi. Belakangan saya sadar, pola yang sama juga tampak pada masyarakat yang berhasil membangun budaya membaca.
Di Islandia, misalnya, ada tradisi Jólabókaflóð, atau “banjir buku”, setiap menjelang Natal. Orang-orang saling menghadiahkan buku, lalu menghabiskan malam dengan membaca. Buku menjadi bagian dari perayaan, sama pentingnya dengan makanan dalam perayaan kita.
Di Jepang, membaca di dalam kereta adalah pemandangan yang begitu biasa sehingga hampir tak lagi dianggap istimewa. Waktu perjalanan tidak sekadar dihabiskan dengan menatap keluar jendela, tetapi juga menjadi ruang untuk bertemu dengan buku.
Sementara di Finlandia, perpustakaan bukan hanya tempat meminjam buku. Ia menjadi ruang publik yang hidup. Anak-anak datang bersama orang tuanya, remaja belajar, orang dewasa berdiskusi, dan lansia menikmati bacaan. Perpustakaan menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat.
Yang menarik, negara-negara itu tidak hanya mengampanyekan pentingnya membaca. Mereka menciptakan budaya yang membuat membaca terasa wajar. Buku hadir dalam percakapan keluarga, ruang publik, perjalanan, bahkan dalam perayaan.
Lingkungan mereka terus-menerus mengundang orang untuk membaca.
Saya membayangkan, bagaimana jika suasana seperti itu juga tumbuh di sekitar kita?
Anak-anak melihat ayahnya membuka koran setiap pagi. Ibu menyisihkan waktu membaca sebelum tidur. Di ruang tamu ada beberapa buku yang mudah dijangkau. Di sekolah, perpustakaan menjadi tempat yang dirindukan, bukan sekadar ruangan yang dibuka ketika ada murid pingsan. Di balai desa, di puskesmas, di warung kopi, atau di taman, selalu ada sudut kecil tempat buku hadir menemani.
Barangkali tanpa banyak slogan, tanpa terlalu banyak seminar, dan tanpa harus terus-menerus menyuruh anak membaca, kebiasaan itu akan tumbuh perlahan.
Itulah pelajaran yang saya bawa pulang dari Piknik Buku.
Barangkali yang perlu kita bangun bukan sekadar program literasi yang megah, melainkan ekosistem literasi. Sebuah rumah yang akrab dengan buku. Sekolah yang menghidupkan perpustakaan. Masyarakat yang menyediakan ruang bagi anak-anak untuk bertemu bacaan. Ketika rumah, sekolah, dan lingkungan bergerak bersama, buku tidak lagi menjadi benda asing yang hanya muncul saat pelajaran Bahasa Indonesia dimulai. Ia menjadi bagian dari kehidupan.
Sore yang hangat berganti malam, embusan angin membawa dingin dan aroma laut. Hari itu, memang hanya ada dua tikar di atas rumput Pantai Seruni. Di satu tikar, orang-orang mengenang pertemuan pertama mereka dengan buku. Di tikar yang lain, beberapa anak sedang menciptakan kenangan yang kelak mungkin akan mereka ceritakan dengan cara yang sama.

Guru PJOK dan pegiat literasi di Bantaeng. Penulis buku kumpulan esai, Jika Kucing Bisa Bicara (2021) dan anggota redaksi di Paraminda.com.


Leave a Reply