“Kullu yaumin Asyura wa kullu ardhin Karbala” (Setiap hari adalah Asyura, setiap tempat adalah Karbala).
Tepat di 10 malam Muharram, saya hadir di tengah-tengah majelis Asyura yang dilaksanakan oleh ABI (Ahlul Bait Indonesia). Suasana malam itu sangat khidmat. Jamaah hadir dari berbagai daerah, datang hanya untuk memperingati peristiwa akbar kematian cucu Rasulullah saw. yang terjadi 14 abad silam (10 Muharram 61 Hijriah).
Kesyahidan Imam Husain as., cucu tersayang Nabi saw., di Tanah Karbala menjadi kabar duka bagi keluarga Nabi saw. Semenjak Imam Husain lahir di muka bumi, Allah Swt. sudah memberi kabar kepada Nabi saw. akan kesyahidan cucu Rasulullah itu. Ketika mendengar kabar itu, tak henti-hentinya Nabi saw. mencium leher mungil Imam Husain.
Tatkala Imam Husain as. dewasa, berbagai kemelut sedang dihadapinya. Para tiran di zamannya berusaha keras membungkam risalah kenabian. Fitnah menyebar luas, masyarakat mengalami degradasi moral, risalah Nabi tidak lagi dilihat sebagai rahmatan lil alamin, dan kesucian Islam berada di persimpangan jalan menuju kepunahan.
Melihat dan merasakan realitas kehidupan masyarakat ketika itu, atas kehendak Allah Swt., Imam Husain mengumpulkan keluarganya melakukan haji terakhir. Sayangnya, niat haji tidak terwujud hingga tuntas. Pasalnya, situasi mengharuskan Imam Husain as. dan rombongan meninggalkan Kota Makkah menuju Kufah (Irak).
Imam Husain as. memilih Kufah dikarenakan penduduk setempat berjanji memberikan jaminan keamanan dan menjadi penolong bagi keluarga Nabi. Jaminan itu diketahui dari surat-surat yang mereka kirim kepada Imam Husain as. Belum sampai di kota tujuan, Imam Husain as. dan rombongannya berkali-kali mendapatkan teror sepanjang perjalanan.
Puncaknya, ketika rombongan keluarga Nabi tertahan oleh ribuan pasukan bersenjata lengkap atas perintah Yazid bin Muawiyah, tiran pada zaman itu.
Pasukan yang menghalangi Imam Husain dipimpin oleh Ibnu Ziyad. Diperkirakan pasukannya berjumlah sebanyak 30 ribu orang. Sedangkan rombongan Imam Husain hanya berjumlah 72 orang. Tidak hanya jumlah yang tak seimbang, cucu-cucu Nabi saw. yang sedang dalam perjalanan itu mendapat perlakuan tidak manusiawi.
Tak ada jalan selain jalan perlawanan yang ditempuh Imam Husain demi tegaknya kembali agama kakeknya. Peristiwa di Karbala mengingatkan kembali perkataan Nabi tentang nasib Imam Husain yang akan mengorbankan jiwa dan raga di Padang Karbala. Perkataan Nabi saw. benar adanya. Sementara lagi adegan paling menyayat hati akan benar-benar terjadi.
Di Padang Karbala, Imam Husain as. menguak tabligh akbar kepada rombongan keluarga dan kepada musuh-musuhnya. Imam Husain as. tahu sebentar lagi beliau akan mengorbankan nyawanya di hadapan pasukan tiran. Meskipun musuh-musuh Allah itu memaksa Imam Husain membaiat Yazid bin Muawiyah sebagai khalifah.
Atas perintah Ilahi, Imam Husain as. tak akan pernah membaiat Yazid bin Muawiyah sebagai khalifah. Sudah jadi rahasia umum, Yazid dikenal banyak orang sebagai sosok pemabuk dan suka berpesta pora. Tidak mungkin sosok semulia Imam Husain as. memberi baiatnya kepada manusia durjana seperti Yazid bin Muawiyah.
Di tengah Padang Karbala yang kering, pasukan Ibnu Ziyad sengaja menutup seluruh akses, termasuk akses air dari Sungai Eufrat. Sejak kedatangan rombongan Imam Husain di Tanah Karbala, 2 Muharram 61 H, keluarga Nabi saw. mengalami kehausan yang sangat hebat.
Tak seorang pun mau menolong keluarga Nabi yang disucikan itu. Abu Fadhl Abbas, putra Imam Ali bin Abu Thalib dan Ummul Banin, meminta izin kepada Imam Husain yang tak lain adalah kakak tirinya itu agar berkenan menerabas pasukan musuh demi mendapatkan air. Dengan berat hati Imam Husain as. mengizinkan adiknya itu, walaupun Imam Husain tahu adiknya akan terbunuh jika tak berhasil membawa air pulang.
Apa yang dikhawatirkan Imam Husain as. benar terjadi. Abu Fadhl Abbas, sang adik, tak membawa pulang air yang akan diambilnya. Pasukan musuh dengan beringas membantai Abu Fadhl Abbas. Tangan dan kaki sang adik terpisah dari tubuhnya. Seketika, keluarga Nabi saw. menjerit mendengar dan melihat tubuh Abu Fadhl Abbas tercabik-cabik. Dengan napas yang masih tersisa, sang adik mengucapkan kata terakhir kepada Imam Husain sebagai tanda perpisahan.
Selanjutnya, adegan demi adegan tragis dipertontonkan. Pasukan Ibnu Ziyad makin gelap mata. Mereka tidak melihat lagi siapa yang sedang mereka perangi. Bukankah mereka semua keluarga Nabi saw.? Bukankah Nabi secara tegas bersabda bahwa memerangi keluarga Nabi sama dengan memerangi beliau? Siapa saja yang memusuhi atau menyakiti mereka berarti menyakiti Allah Swt.
Entah apa yang membuat mereka begitu tega memerangi keluarga Nabi. Hingga satu per satu rombongan Imam Husain dibantai, melebihi hewan kurban. Bahkan, adegan yang paling menyayat hati nurani sepanjang sejarah manusia adalah peristiwa di Tanah Karbala. Seluruh rombongan keluarga Nabi dibantai secara tidak manusiawi, kecuali beberapa orang saja yang dibiarkan hidup.
Tepat 10 Muharram, ketika matahari mulai senja. Tak ada pilihan lain. Sudah waktunya Imam Husain berdiri tegak menegakkan risalah kenabian. Imam Husain tak akan membiarkan ajaran suci punah di tangan penguasa zalim.
Olehnya itu, Imam Husain as. menolak membaiat sang durjana Yazid bin Muawiyah yang ingin menghapus risalah kenabian. Tak ada lagi pilihan, waktunya telah tiba. Imam Husain langsung berhadapan dengan ribuan pasukan, hanya seorang diri. Di tengah kepungan musuh, Imam Husain masih mengingatkan musuh tentang ajaran kenabian. Namun, kebencian dan rasa dendam telah membutakan hati mereka.
Tepat di waktu matahari tergelincir, pada sore hari, 10 Muharram 61 Hijriah. Pentas kejahatan paling tragis dipertontonkan kepada semesta. Tubuh suci sang imam koyak, tersungkur di Tanah Karbala. Tiba-tiba, Syimir bin Dzil Jausyan, manusia terlaknat, menikam dan menebas leher Imam Husain. Tabligh Akbar di Tanah Karbala ditutup dengan pengorbanan Imam Husain as.

Lahir di Kolaka, 16 April 1984. Aktif sebagai Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa. Sekarang bertugas di Kabupaten Bantaeng. Pernah mengikuti kelas menulis yang diselenggarakan oleh Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.


Leave a Reply