Dia ibarat dan berlagak eksistensialisme secara liar: bertindak menentukan arti hidup semau-mau. Benar. Manusia memang bebas memilih. Tapi yang liar lupa satu hal: kebebasan tanpa tanggung jawab sama dengan kehancuran. Seorang Sartre bilang, “Kita terkutuk untuk bebas.” Kutukannya bukan di bebasnya. Kutukannya di konsekuensinya.
Saat semau-mauku. Ketika rasa dan reaksi penuh pujian yang kubiarkan membinalkanku. Seperti pujangga dan kaum pendengar di antara penikmat aroma riuh kekaguman. Tetiba tubuh ini terasa demam.
Semau-mauku ternyata bukan kebebasan. Ia hanya panggung. Dan sebagai aktor sekaligus penonton yang terpesona pada aktingku sendiri. Aku mabuk, sampai lupa baunya debu di lantai kenyataan.
Sejenak mengasingkan diri, sembari menikmati suara Novia Kolopaking begitu lembut, menusuk, membawaku healing kembali ke setiap peristiwa kulewati. Seakan menuntun untuk belajar dalam kesadaran kembali. Syair, lagu, dan liriknya, perpaduan suara getar berwibawa seorang Cak Nun (Emha Ainun Nadjib), duet romantik pada syair lagunya tersemat sesuatu makna serta pesan yang amat dalam berikut ini:
“Semau-maumu”
kalau memang itu maumu
mencari bahagia dengan menuruti nafsu
terserah kamu
pandailah sendiri
dan bodohlah sendiri
kehidupan dan kematian
keuntungan dan kerugian
kau sendiri yang menentukan sesudah Tuhan
ke utara atau ke selatan
cahaya atau kegelapan
kau sendiri yang mengambil keputusan
buat apa kumengingatkan
kalau Tuhan saja tiada engkau dengarkan
silakan jalan
hebatlah sendiri
dan konyollah sendiri
kenikmatan dan kepuasan
bukanlah pada khayalan
tapi di dalam sehatnya akal pikiran
mencari rahasia Tuhan
sejatinya kebahagiaan
memijakkan kaki di bumi kenyataan
lampiaskan semau-maumu
hanyutkanlah diri sesuka-sukamu
telanlah api dunia sekenyangmu
tapi jangan sesalkan akan cepat datang mautmu.
Selalu kudengarkan kala kelimpunganku di tengah badai kemanusiaan yang kini terjun bebas kehilangan kontrol dan kendali diri: kusematkan pada narasi ini, pada kalimatnya sarat makna, musiknya apik perpaduan bebunyian klasik, modern, dan tradisi. Seakan semau-maunya para seniman, tetapi punya kriteria dan batasan tahu diri, kapasitas, kualitas, bisa menempatkan dan memilih, memilah, bertingkah dan menyatakan. Bukan asal, tapi mempertebal seni memahami, kesadaran dalam diri, dan akar bernama akal.
Aku telah larut dan melebur, tetiba seorang Umbu mengingatkanku tentang percakapan tempo hari, butuh kecerdasan, butuh pemahaman yang tuntas. Secara tindakan, dan setiap kemauan ada konsekuensi. Tidak dengan konyol menuruti segala keinginan. Lalu tenggelam larut hingga tersungut.
Seorang Umbu melanjutkan: Ada kemauan manusia, dari yang menerabas, hingga pada interaksi sebagai makhluk Tuhan yang terbatas lupa mengeja diri. Bertindak serta bertingkah semau-maunya.
Sebagaimana aku seperti main petak umpet dan kucing-kucingan, antara kucing jantan menggebu-gebu, semau-maunya saja memaksakan kehendak, hasrat di musim kawin. Dia berkehendak asal saja, tetapi berupaya walau dia sadar keinginannya menipunya. Tetap getol berjuang, meratap, merayu, bahkan mengiba memburu cintanya sekian puluh tahun, berharap kepada sang kucing pujaannya, si kucing Persia/Anggora. Bagai mengejar badai, ketika hendak meraih sang kucing Persia. Namun apa hendak dikata, terhalang kucing kampung yang kalap, semau-maunya, cari perhatian, tetapi dengan mencakar-cakar.
Sebuah istilah impulsif: seseorang dengan sifat semau-maumu itu cenderung bertindak menuruti kehendak sendiri, seperti si kucing jantan kebelet kawin, tanpa sadar diri, tanpa mempertimbangkan dampak suasana, batin, rasa sang kucing Persia pujaannya, memaksakan bertaruh semau-maunya. Lupa ada tradisi dan budaya telah membatasinya, ada etika. Serta begitu tolol membaca isyarat, bahwa sang kucing pujaannya telah bersyarat mengikat.
Sebagaimana semau-mau kita! Ini sering kali memicu konflik dalam hubungan sosial, karena mengabaikan kesepakatan bersama. Seketika geliat, gelagat berangsur satu per satu menjadi seruan, yang awalnya untuk seru-seruan, pada akhirnya berbuah keseriusan dalam perseteruan.
Kembali mendengarkan nyanyian Cak Nun. Dia menyentilku di sebuah Maiyah-nya. Dia berkisah menyebut Sang Maha semau-mau-Nya akan membikin manusia menjadi khalifah di bumi, lalu ada malaikat yang tidak terima bahwasanya manusia hanya akan merusak dan membunuh satu sama lainnya. Maka mulai saat itulah sang malaikat mulai membantah! Awal diberi peran antagonis berjuluk Iblis, dari unsur asal kata artinya: pembantah.
Maka sesuai janji-Nya, Sang Pemilik Semau-mau-Nya, menciptakan manusia lalu menaruhnya di surga. Iblis protes, kenapa Adam di surga bukan di bumi seperti janji-Nya? Maka di sinilah peran itu menginterupsi kepada Sang Pemilik Semau-mau-Nya, lalu mengizinkannya semau-mauku pula untuk menggoda Adam.
Akhirnya berhasil membujuk Adam untuk mengingkari sebuah janji. Adam pun terjebak dan tertipu karena beliau belum terdidik oleh pengalaman untuk membedakan pemeran pada sandiwara-Nya dalam pemeran antara Iblis dengan Malaikat.
Kerangka/narasi di paragraf di atas, sekadar pelengkap, bumbu, frasa, atau bentuk metafora Si Pemilik Mutlak Mau-mau-Nya! Merupakan cerminan yang banyak terjadi saat ini, layaknya pencitraan yang menipu banyak orang. Dalam talbis tersebut banyak kemunafikan yang ditunjukkan kepada orang lain, walaupun tentu yang paling berbahaya ialah kemunafikan kepada diri sendiri. Tegas Cak Nun.
Musim semau-maunya pula. Sebuah anomali. Sebagaimana matahari, tidak lagi bertugas sekadar menyinari, tetapi sudah mulai menyengat, dengan gerah tiada karuan, membuat kening selain basah oleh keringat, juga pening. Begitu pula hujan kadang pula semau-maunya, seketika turun sempat meredakan suhu, dan turun lagi sebanyak satu atau dua kali, itu pun tidak deras. Sekali lebat, yang guyub jadi ikut kuyup di bawah payung bersama.
Akhirnya sebuah cara, dengan segala harap kita saling melengkapi dalam berbeda, menyelami satu dengan lainnya, meresapi, bukan meratapi, kalau perlu kita nikmati kemauan, selera serta kehendak dengan guyub berkesadaran. Itu jauh menambah kemesraan untuk kebersamaan.
Akhirnya sebuah ekspektasi itu tidak sesuai dengan kenyataan. Saat tertentu terkadang semau-mauku ini kugunakan berbagai cara, seperti mendiamkan (silent treatment) atau playing victim, agar orang lain menuruti keinginanku, memusatkan berharap perhatian sesuai selera. Akhirnya kurasakan bagai didera keinginan yang kupaksakan. Aku sesungguhnya telah kalah.
Suatu ketika kulampiaskan semau-mauku. Menghanyutkan sesuka-sukaku. Menjadi bias dan biang. Tersisa kudapati hanya tampias. Rasa hebat sendiri, keinginan merajaiku, seolah pandai sendiri, tapi sesungguhnya itulah ketolololan.
Dua kata yang dituang sederhana pada kalimat ini, terdengar seperti raungan kecil. Tidak ada pagar. Tidak ada penjaga.
Hidup semau-maumu. Cinta semau-maumu. Diam semau-maumu.
Pergi semau-maumu. Di awal, rasanya lega sekali. Akhirnya tidak ada yang menyuruh. Tidak ada yang menilai. Tanpa ada melerai, dan tidak ada yang bilang, “Jangan.”
Semau-maumu adalah kebebasan tanpa arah, itu sama saja seperti membuka semua jendela saat badai. Awalnya anginnya segar. Membuatmu merasa hidup.
Lama-lama atapmu terbang. Dingin masuk. Dan kamu tidak tahu harus berlindung ke mana.
Selepas merasa lega berkehendak semau-mauku itu. Sebenarnya aku hanya topeng untuk menutup takut gagal, untuk menutup takut ditolak. Topeng untuk menutup takut harus bertanggung jawab.
Padahal manusia tidak dicipta untuk semau-maunya. Kita dicipta untuk mengeja.
Mengeja batas. Mengeja arah. Mengeja makna di tengah hutan pilihan yang berisik.
Rasa itu mencumbuiku, membuatku terpana sejengkal, terhasut setengah waras. Berlindung di balik kekalahanku, atas semau-mauku.
Jawabanku mulai ngawur. Riskan, iya. Tersibak sebagaimana semau-maumu itu selimut tipis. Hangat sebentar, tapi tidak menutupi dinginnya menanggung akibatnya.
Di tengah kemauanku, pada akhirnya kutemukan diriku terkucil, betapa dekil sampai bugil menggigil.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply