Jendela Digital, dari Beranda Pa’bumbungang

Revolusi Chromebook di Ruang Kelas SMPN 2 Eremerasa. ‎Sejak berdiri tahun 2011 dan memiliki izin operasional tahun 2012, dinding-dinding ruang kelas di sekolah ini menjadi saksi bisu keterbatasan.

‎Di sana, ilmu pengetahuan hanya mengalir dari satu arah, berjalan linear dan monoton pada sebuah buku teks yang sudah usang atau metode ceramah guru yang berpacu dengan suara hujan dan atap seng.

‎Pembelajaran pada tahun-tahun itu merupakan sebuah uji ketahanan fisik dan mental. Dalam kondisi tersebut, pendidikan terasa seperti potret monokrom, hitam dan putih. Cenderung kaku dan tanpa variasi. Meski semangat belajar yang luar biasa menembus kabut tebal saban waktu. Ditambah akses jalan yang berlubang bagai bekas kubangan, membuat tak satu pun angkutan berani melaluinya.

‎Meski demikian, kondisi menuju gerbang sekolahnya, murid tetap datang dengan harapan bisa mengubah masa depannya menjadi lebih baik. Mereka terpaksa menerima “keadilan” itu apa adanya. Tanpa pernah tahu bahwa di luar sana dunia pendidikan telah berkembang melampaui batas-batas dinding kelas mereka.

‎Ketimpangan antara sekolah pelosok dengan sekolah perkotaan seperti sebuah realitas pahit yang harus mereka telan setiap hari.
‎Namun, rentetan ceritanya mulai berubah drastis pada tahun 2021–2022 ketika kebijakan digitalisasi pendidikan yang agresif yang diusung Nadiem Makarim mulai menyentuh sudut-sudut terjauh Nusantara.

‎Program itu mengirimkan beberapa unit Chromebook ke jantung-jantung desa, termasuk ke SMP Negeri 2 Eremerasa, Desa Pa’bumbungang, salah satunya.

‎Bagi sebuah sekolah di lereng gunung, kedatangan perangkat ini seperti sebuah keajaiban kecil yang akan mengubah sebuah potret monokrom menjadi potret yang penuh dengan spektrum warna. Sumber belajar yang awalnya sangat terbatas pada apa yang tersedia secara fisik di meja-meja ruang guru yang sempit dan sumpek, bahkan sering kali tidak lengkap.

‎Kehadiran Chromebook kini mengubah ruang kelas tersebut menjadi lebih berwarna. Dari ujian kelas yang menghabiskan beberapa helai kertas kini beralih ke Google Form, dari satu sumber belajar kini beralih pada keragaman sumber informasi yang bisa diakses oleh murid dan guru.

‎Dengan perangkat ini, seorang murid di pegunungan Desa Pa’bumbungang, Kecamatan Eremerasa, kini bisa mengakses video pembelajaran yang sama dengan murid yang bersekolah di jantung kecamatan atau di pusat Kota Bantaeng.

‎Ruang kelas yang tadinya sunyi dan hanya berfokus pada satu sumber kini riuh dengan segala eksplorasi. Murid tidak lagi sekadar menghafal definisi dan perkalian. Mereka bisa bermain Quizizz, mengakses fitur Canva, melihat simulasi sistem tata surya, melakukan tur virtual ke peninggalan prasejarah Bayu Ejayya, hingga membuat pengolahan video pendek sederhana sebagai kampanye sosial sederhana di sekolahnya.

‎Chromebook tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh murid, tetapi juga menjadi penyelamat bagi para guru di pelosok. Melalui akun Belajar.id yang terintegrasi, guru-guru kini memiliki alat untuk mengelola administrasi secara efisien dan mengakses Platform Merdeka Mengajar. Mereka juga dapat melakukan pelatihan-pelatihan untuk menambah wawasan secara mandiri.

‎Bagai cahaya, ini membuka pintu gerbang menuju Platform Merdeka Mengajar (PMM). Di ruang guru yang dulunya terasa sumpek oleh tumpukan kertas, kini para guru dapat duduk bersama secara mandiri atau berkelompok untuk mengikuti berbagai pelatihan daring, menonton video teoretis pedagogi, dan menambah wawasan mereka secara mandiri tanpa harus meninggalkan tugas mengajar mereka di sekolah.

‎”Chromebook bukan sekadar hardware atau perangkat keras, tetapi ia adalah jembatan yang memangkas jarak antara Kurikulum Merdeka yang berlaku secara nasional dengan realitas di lapangan kala itu.”

‎Selanjutnya, interaksi di kelas pun bergeser. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya “sumur dan sumber ilmu”, melainkan menjadi fasilitator yang membimbing dan mengarahkan murid untuk menyaring informasi dari semesta digital. Kelas yang tadinya kaku, membosankan, dan melelahkan kini menjadi ruang yang lebih dinamis, kolaboratif, dan inklusif.

‎Sang murid aktif berdiskusi, bekerja dalam kelompok digital, dan mempresentasikan karya mereka dengan bangga. Salah satu keberhasilan terbesar dari bantuan ini adalah tumbuhnya kepercayaan diri pada anak-anak pegunungan.

‎Yah, seperti menghapus sekat ketimpangan antara sekolah-sekolah yang dianggap pinggiran di desa dan yang ada di kota. Dengan menyentuh tuts keyboard, meski awalnya jemari dan tangan kaku, gemetar, dan diliputi rasa takut hanya akan merusak fasilitas.

‎Mereka perlahan kemudian menyadari bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat global. Chromebook telah menghapus stigma bahwa teknologi tinggi hanya milik sekolah-sekolah maju di perkotaan.

‎Langkah Nadiem Makarim dalam mendistribusikan Chromebook adalah investasi jangka panjang untuk sumber daya manusia. Meskipun tantangan infrastruktur internet dan listrik masih membayangi, nyatanya kehadiran perangkat ini telah menyalakan api rasa ingin tahu yang lebih besar di sekolah-sekolah pelosok.

‎Kini, ruang kelas kami tak lagi sempit dan terisolasi. Jendela digital telah terbuka meluas hingga tanpa batas, membiarkan cahaya ilmu pengetahuan dari seluruh dunia masuk menerangi ruang-ruang kelas dan mewarnai masa depan putra-putri Pa’bumbungang.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *