Lapangan utama SMA Negeri 6 Bantaeng menjelma menjadi pusat aktivitas yang sarat semangat, disiplin, dan kebersamaan pada Jumat pagi, 24 April 2026). Perkemahan Jumat, Sabtu, Minggu (Perjusami) tahun ini hadir dengan mengusung tema, “GEMA (Generasi Mandiri dan aktif) 6” serta dengan konsep yang lebih luas dan inklusif melalui pelaksanaan perkemahan gabungan yang melibatkan berbagai organisasi ekstrakurikuler. Tidak hanya menjadi ajang rutin tahunan, kegiatan ini juga diproyeksikan sebagai ruang pembinaan karakter generasi muda yang menyeluruh, mengintegrasikan aspek spiritual, sosial, hingga keterampilan praktis.
Sejak pagi hari, atmosfer kegiatan telah terasa begitu hidup. Para peserta yang terdiri dari siswa-siswi dengan latar belakang minat dan bakat berbeda tampak membaur dalam satu semangat kebersamaan. Selama tiga hari pelaksanaan hingga Minggu, 26 April 2026, Desa Bonto Tallasa, Kecamatan Uluere, menjadi saksi tumbuhnya kolaborasi lintas bidang yang harmonis di kalangan pelajar.
Rangkaian pembukaan kegiatan diawali dengan suguhan budaya berupa tarian penyambutan yang dibawakan oleh para siswi. Gerakan yang lembut dan penuh makna tersebut tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga merepresentasikan nilai-nilai keramahan dan kearifan lokal masyarakat Bantaeng. Kehadiran tarian ini memberikan sentuhan kultural yang kuat sekaligus memperkaya nuansa kegiatan.
Suasana kemudian semakin semarak saat parade Pramuka memasuki lapangan utama. Barisan peserta tampil dengan formasi yang rapi dan terorganisir, mencerminkan hasil latihan yang disiplin dan terstruktur. Langkah tegap yang berpadu dengan atraksi formasi menambah daya tarik tersendiri, sehingga berhasil memukau tidak hanya peserta, tetapi juga masyarakat yang turut menyaksikan di sepanjang Jalan Poros Bungloe. Momen ini menjadi simbol kuat bahwa semangat kepramukaan masih hidup dan terus berkembang di kalangan generasi muda.
Kehadiran Camat Uluere sebagai pembina upacara sekaligus perwakilan dari Bupati Bantaeng menjadi bagian penting dalam pembukaan kegiatan. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Perjusami yang mampu menghadirkan kolaborasi lintas ekstrakurikuler secara harmonis. Lebih dari itu, ia juga mengemukakan gagasan strategis terkait pembentukan “Kampung Pramuka” di Kecamatan Uluere.
Gagasan tersebut dinilai sebagai langkah progresif dalam membangun ekosistem pendidikan nonformal berbasis kepramukaan di tingkat masyarakat. “Insya Allah kami akan mendorong terbentuknya kampung pramuka di Kecamatan Uluere ini. Saat ini baru ada beberapa di Indonesia, dan kami ingin Uluere menjadi salah satu pelopornya,” ujarnya, yang disambut tepuk tangan meriah dari seluruh peserta. Pernyataan tersebut sekaligus menjadi motivasi bagi siswa untuk lebih aktif dalam kegiatan kepramukaan sebagai wadah pembentukan karakter.
Setelah upacara pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan penanaman pohon yang dilakukan secara simbolis bersama Camat Uluere. Aksi ini tidak hanya bermakna seremonial, tetapi juga menjadi bentuk nyata komitmen terhadap pelestarian lingkungan. Para peserta diajak untuk memahami pentingnya menjaga keseimbangan alam sebagai bagian dari tanggung jawab generasi muda.
Memasuki sesi inti kegiatan, Perjusami dirancang sebagai ruang pembelajaran kontekstual yang tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga pada praktik dan pengalaman langsung. Pada hari pertama, Jumat, kegiatan dimulai pada pukul 16.00 hingga 17.00 dengan penyampaian materi keagamaan oleh perwakilan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Uluere. Dalam sesi ini, peserta diajak untuk merefleksikan pentingnya nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Materi yang disampaikan mencakup penguatan akhlak, pentingnya toleransi, serta peran generasi muda dalam menjaga harmoni sosial berbasis nilai keagamaan. Suasana berlangsung khidmat, namun tetap interaktif, sehingga peserta dapat menyerap pesan dengan baik.
Pada malam harinya, pukul 20.00 hingga 21.00, kegiatan dilanjutkan dengan materi kepramukaan yang dibawakan oleh Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Bantaeng. Dalam penyampaiannya, beliau menekankan bahwa Pramuka bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler, melainkan sarana pembentukan karakter yang menyeluruh. Nilai-nilai seperti kedisiplinan, tanggung jawab, kepemimpinan, dan kerja sama menjadi fokus utama. Para peserta juga diberikan motivasi untuk terus mengembangkan potensi diri serta menjadikan Pramuka sebagai wadah untuk mengasah keterampilan hidup.
Memasuki hari kedua, Sabtu, rangkaian kegiatan berlangsung lebih padat dengan berbagai materi yang bersifat aplikatif. Kegiatan dimulai pada pukul 09.00 hingga 10.30 dengan materi “Stop Bullying di Lingkungan Sekolah” yang disampaikan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Dalam sesi ini, peserta diajak memahami berbagai bentuk perundungan, mulai dari verbal, fisik, hingga cyberbullying. Tidak hanya itu, mereka juga diberikan pemahaman mengenai dampak jangka panjang dari perilaku tersebut terhadap kesehatan mental korban. Diskusi berlangsung aktif, di mana peserta turut berbagi pengalaman dan pandangan, sehingga menciptakan kesadaran kolektif untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan inklusif.
Setelah istirahat siang, kegiatan dilanjutkan pada pukul 13.00 hingga 14.00 dengan materi mitigasi dan simulasi penanggulangan bencana yang dibawakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Dalam sesi ini, peserta tidak hanya menerima materi teoritis, tetapi juga dilibatkan dalam simulasi sederhana. Mereka diajarkan langkah-langkah dasar dalam menghadapi situasi darurat, seperti gempa bumi dan kebakaran. Kegiatan ini menjadi sangat relevan mengingat kondisi geografis Indonesia yang rawan bencana, sehingga kesiapsiagaan menjadi keterampilan yang sangat penting.
Pada pukul 15.30 hingga 17.00, kegiatan dilanjutkan dengan materi pertolongan pertama yang dibawakan oleh Abd Rahman, perwakilan dari Palang Merah Indonesia (PMI). Dalam sesi ini, peserta diberikan pelatihan dasar mengenai penanganan korban kecelakaan, seperti cara menghentikan pendarahan, membalut luka, serta teknik evakuasi sederhana. Praktik langsung yang dilakukan oleh peserta menjadikan materi lebih mudah dipahami dan diingat.
Rangkaian kegiatan hari kedua ditutup dengan materi Pertolongan Pertama pada Gawat Darurat (PPGD) yang berlangsung pada pukul 20.00 hingga 21.30 dan dibawakan oleh tim BSB. Materi ini merupakan pengembangan dari sesi sebelumnya, dengan fokus pada kondisi darurat yang lebih serius, seperti henti napas dan henti jantung. Peserta diajarkan pentingnya respons cepat dan tepat dalam situasi kritis, termasuk pengenalan teknik dasar resusitasi. Sesi ini menjadi salah satu bagian paling penting karena memberikan keterampilan yang dapat menyelamatkan nyawa.
Secara keseluruhan, Perjusami SMAN 6 Bantaeng tahun ini berhasil menghadirkan konsep kegiatan yang tidak hanya menarik, tetapi juga sarat makna. Perpaduan antara kegiatan seremonial, edukatif, dan praktis menjadikan kegiatan ini sebagai wadah pembelajaran yang komprehensif. Para peserta tidak hanya memperoleh pengalaman kebersamaan, tetapi juga bekal pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan kehidupan nyata.
Lebih dari sekadar kegiatan rutin, Perjusami ini menjadi refleksi nyata dari upaya pembinaan generasi muda yang berkarakter, berdaya saing, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Gagasan pembentukan Kampung Pramuka yang diinisiasi oleh Camat Uluere pun menjadi harapan baru dalam memperkuat peran kepramukaan di tengah masyarakat. Dengan sinergi antara pemerintah, sekolah, dan berbagai pihak terkait, diharapkan visi tersebut dapat terwujud dan memberikan dampak positif yang berkelanjutan.
Kegiatan ini pada akhirnya tidak hanya meninggalkan kenangan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai penting yang akan terus tumbuh dalam diri setiap peserta. Semangat kebersamaan, kepedulian, serta kesiapsiagaan yang terbangun selama Perjusami diharapkan menjadi fondasi kuat bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan masa depan.

Lahir di Bantaeng, 16 Juli 1996. Guru Mapel Informatika SMA N 6 Bantaeng.


Leave a Reply