Siapa tidak penasaran dengan tajuk yang menantang “Aku dan Film India Melawan Dunia”, dushman duniya ka, sebuah judul buku yang sangat angkuh sekaligus ambisius yang terpajang pada sampul bernuansa merah dengan sosok laki-laki Asia Tengah berwajah sendu bersama sepeda tuanya. Tapi memang kenyataan demikian, buku dengan tebal 150 halaman ini sepertinya layak disebut sebagai salah satu panduan sinematik untuk pecinta film India di tanah air, walau rasanya agak telat diulas karena terbit 2017, namun sayang rasanya jika buku sebagus ini luput dari ulasan.
Awal mula perjumpaan saya dengan karya Mahfud ini justru bukan dari buku, tapi dari blognya dengan judul yang sama Dushman Duniya ka, ketika itu saya tersesat pada mesin pencarian Google setelah menonton salah satu film india yang berjudul, Matru Ki Bijlee Ka Mandola, yang diperankan aktris cantik Anushka Sharma.
Setelah beberapa lama kemudian saya mendengar kabar bahwa catatan dalam blog tersebut akan dibukukan. Baru kemudian tahun 2019 saya bertemu dengan buku tersebut, Aku dan Film India Melawan Dunia, dicetak penerbit EA Books menjadi dua buku.
Mahfud membawa kenangan sinematik saya kembali seperti saat kanak-kanak dahulu-sewaktu film india masih merajai stasiun TV di Indonesia. Persis seperti yang dituliskan Mahfud, pengalaman menonton film india pertama adalah serial Hider Ali dan putranya Tipu Sultan, kisah seorang raja muslim Mysore melawan pemerintahan kolonial Inggris yang waktu itu tayang di TVRI.
Mungkin terbesit tanya mengapa Mahfud begitu “ngotot” mencintai dan bahkan membela film India dalam bukunya itu? Namun sepertinya itu sepadan dengan pergulatan Mahfud untuk menyaksikan film kesayangannya.
Bagi mereka yang hidup di kota dan memiliki televisi di ruang keluarga mungkin tak mengenal apa yang Mahfud maksud “berjuang”. Di Indonesia kala itu, ketika listrik belum merata masuk ke desa, sementara televisi hanya ada satu dua-artinya televisi hanya bisa hidup dengan aki, menonton film kesayangan merupakan tantangan tersendiri, sampai-sampai Mahfud dan kawannya pernah mencuri aki masjid untuk digotong ke rumah pemilik televisi.
Belum lagi ketika pemilik rumah tidak nyaman dengan kehadiran mereka, Mahfud dan kawannya harus bersikeras menunggui televisi yang kadang tidak sedang ingin dinyalakan oleh pemilik rumah, bahkan kadang harus merengek kepada pemilik rumah agar televisi tetap dinyalakan. Ketegangan bisa meningkat jika filmnya tayang di malam hari, sementara pemilik televisi harus tidur, atau ingin menghemat aki untuk acara lain yang mereka lebih sukai.
Ketika masuk paruh akhir ’90-an, dimana listrik PLN telah mantap dan orang-orang mulai berbelanja barang elektronik, pemutar video adalah mimpi semua orang, namun masalahnya kemudian, beruntung jika mendapati seorang pemilik pemutar video sekaligus memiliki kaset film india (itu kombinasi yang jarang), biasanya mereka akan meminjam kaset kepada yang punya kaset dan numpang memutarnya di tempat yang punya video.
Beberapa tahun kemudian ketika kejayaan kaset video tergusur kepingan CD yang lebih ringan dan praktis, namun bahkan diantara kepingan-kepingan itu film-film india menurutnya masih tetap sulit didapatkan, jika ada, seringkali tanpa subtitle. Setelah kuliah di jogja, Mahfud tambah nelangsa, menemukan dirinya sebagai pecinta film india yang datang dari lamongan sebuah kabupaten di pantai utara jawa, kemudian kuliah di Jogjakarta yang sudah kadung dikepung arus kebudayaan yang begitu pejal.
Inferiority complex
Bukan hanya Jogja tapi menurutnya, secara umum, Indonesia adalah tempat yang sulit bagi penggemar film india, “Bagi sebuah negara-bangsa bekas jajahan (kolonialisme) yang memiliki inferiority complex akut macam kita ini, mengaku menyukai hal-hal yang dianggap tak lebih tinggi dari milik sendiri adalah sama melelahkannya dengan menuntaskan revolusi kemerdekaan”.
Begitupula yang saya rasakan sendiri di industri music tanah air. Sejak memasuki masa kuliah dan tinggal numpang dirumah paman seorang sepupu yang punya selera musik metal dan cadas, band beraliran metal semacam Metalica atau System Of A Down dengan segera merundung selera musik saya yang kebetulan pada saat itu menyukai lagu-lagu band asal Jogja-Sheila on 7, menurutnya musik SO7 terlalu cengeng dan cenderung ke melayu-melayuan.
Adalah buku ini (Aku dan Film India Melawan Dunia) yang sedikit memberi saya ketegaran melawan penyakit Inferiority complex karena perundungan selera yang dilakukan oleh sepupu sendiri. Di laman Wikipedia penjelasan tentang Inferiority complex kurang lebih adalah sebuah perasaan yang meyakini karya seni khususnya selera musik dalam negeri dianggap lebih rendah dari musik yang berasal dari Eropa dan Amerika.
Dan Semua semakin jelas diajang Makassar Internasional Writer Festival (MIWF) yang dihelat beberapa tahun lalu, saat bedah buku baru Mahfud yang bertajuk, Kepikiran Dangdut Dan Hal Pop Lainnya, membuka mata saya tentang bagaimana pembentukan selera musik di indonesia, yang menurutnya telah selalu dikondisikan dari pusat industri musik itu sendiri, yakni, Jakarta.
Dan begitu berbinarnya saya ketika menemukan tulisan di salah satu bab dalam buku tersebut, Mahfud menulis semacam Tribute untuk SO7, Maka tersingkirlah seluruh anasir-anasir yang selama ini menghalangi untuk mengapresiasi musik sendiri-meminjam frasa Mahfud-musik buatan tangan anak-anak Indonesia sendiri.
Snobisme Dungu
Sinisme Mahfud berlanjut ketika ia menjelaskan bagaimana realitas budaya pop di tanah air yang menurutnya menderita semacam snobisme dungu. Seperti yang tercantum dalam kalimatnya :
“Di tengah massa yang memuja secara membabi buta segala yang di buat Hollywood dan histeris berat terhadap semua yang berkait dengan rambut kejur dan kulit kuning langsat, film india tiba-tiba jadi semacam gambar durjana. Seperti film porno, film india disukai sekaligus tidak diakui, dikonsumsi tapi dianggap kotor untuk dibincangkan, ditonton sendirian kemudian dihinakan di depan banyak orang”.
Pada mulanya Mahfud berkesimpulan bahwa yang disukai orang Indonesia adalah segala yang lebih tinggi dari kepunyaan orang Indonesia sendiri, terutama yang berasal dari barat, yakni bikinan oleh orang-orang kaukasoid, budaya Eropa dan Amerika sebagai representasinya.
Namun, ketika melihat anak muda beramai-ramai berlomba menyipitkan mata dan mengejurkan rambut sebagian yang lain beramai-ramai bertopi miring dan menggelayuti leher dengan aneka bling-bling dan berbicara seakan mereka rapper kelahiran Bronx, maka jauh lebih masuk akal mengatakan bahwa apa yang lebih tinggi dari milik kita adalah hampir apapun yang berasal dari luar, kecuali India dan dengan alasan yang sedikit berbeda, Malaysia.
Judul: Aku dan Film India Melawan Dunia
Penulis: Mahfud Ikhwan
Penerbit: EA Books
Tahun Terbit: 2017
Tebal: 150

Lahir di Bone, 3 September 1985. Pengajar Di Universitas Teknologi Sulawesi


Leave a Reply