Mentari di Jalur Gaza

Saya bersama istri pernah bekerja di Rumah Sakit Indonesia di Gaza selama 3,5 tahun sejak perang terjadi antara Zionis Israel dan pejuang Palestina. Saat ini, istri saya dan kedua anak saya telah menjadi syahid.

Sebelumnya, istri saya adalah seorang Nasrani dari Norwegia yang kemudian memeluk Islam. Ia telah mengorbankan dan mempertaruhkan nyawanya demi Gaza. Akhirnya, istri dan anak-anak saya terbunuh ketika Zionis mengebom Rumah Sakit Indonesia sebelas bulan yang lalu. Saya sendiri mengalami luka di seluruh tubuh serta kehilangan satu ginjal.

Semoga Allah memberkahi ruh mereka dan juga memberkahi ruh orang-orang yang telah meninggal di antara mereka. Insyaallah, amin.

Pada awal perang, pihak Zionis melakukan kekejaman dengan mengabaikan nilai kemanusiaan, yaitu mengebom simbol-simbol peradaban dengan menghancurkan semua sekolah dan perpustakaan, serta membakar seluruh buku. Tak terkecuali, mereka juga mengebom rumah-rumah warga sipil serta membunuh para guru dan orang-orang terpelajar. Tujuan mereka melakukan semua itu agar generasi baru anak-anak Gaza tumbuh tanpa pendidikan dan dalam keadaan bodoh.

Sepanjang masa perang, saya dan istri bekerja di dalam rumah sakit hampir 20 jam setiap hari. Kami hampir tidak pernah bisa keluar dari rumah sakit. Namun, ada hal yang menggelitik hati kami ketika melihat dari atas bangunan rumah sakit, ada ribuan anak yang kehilangan rumah. Banyak di antara mereka menjadi yatim piatu dan berkeliaran di jalanan.

Anak-anak berusia antara 3 hingga 10 tahun tidak memiliki tempat tinggal, tidak memiliki orang tua, tidak memiliki pendidikan, tidak memiliki makanan, tidak memiliki air, tidak ada listrik, dan tidak ada internet. Mereka juga hidup dalam ketakutan karena setiap hari mendengar suara bom.

Para dokter sangat mengkhawatirkan keadaan mereka. Para dokter juga meyakini bahwa anak-anak tersebut mungkin tidak akan bertahan lama, atau hanya beberapa hari saja. Dokter dari Norwegia dan Spanyol yang berada di lokasi juga berpikir demikian dan mengatakan bahwa anak-anak tersebut sangat membutuhkan perawatan, makanan, pendidikan, serta tempat yang aman.

Setelah 3,5 tahun berlalu dan keadaan perang sedikit mereda, saya dan istri memutuskan untuk pergi melihat anak-anak tersebut. Mereka tinggal di beberapa tenda tua yang berjarak sekitar 600 meter dari rumah sakit tempat kami bekerja.

Ketika kami semakin mendekati tenda-tenda itu, istri saya menutup matanya karena ia tidak sanggup membayangkan akan melihat banyak jenazah anak-anak kecil. Ia mengira kami akan menemukan banyak jenazah. Namun, ketika kami sampai di sana, kami justru melihat sesuatu yang sangat mengejutkan.

Kami sama sekali tidak menemukan jenazah anak-anak. Sebaliknya, kami menemukan mereka masih hidup, tubuh mereka kuat, dan mereka sangat cerdas. Peristiwa itu membuat bulu kuduk kami berdiri dan kami merasakan keharuan yang mendalam.

Kami bertanya-tanya, bagaimana hal ini bisa terjadi?

Sesaat kemudian, saya mengantar istri saya kembali ke rumah sakit, sementara saya sendiri tinggal bersama anak-anak tersebut untuk mengetahui bagaimana mereka bisa bertahan hidup.

Apa yang saya lihat benar-benar terasa seperti sebuah keajaiban dari Allah Swt.

Betapa tidak, anak-anak itu melakukan banyak inovasi. Mereka membuat pakaian dari kain tenda yang sudah lama, serta membuat sepatu dari ban bekas. Bukan sekadar sepatu biasa, tetapi sepatu yang tahan air. Mereka juga membuat pisau kecil dan besar dari besi mobil yang terbakar, serta membuat jarum kecil dan besar untuk menjahit pakaian dan sepatu.

Selain itu, mereka membuat alat dari besi untuk menangkap ikan. Mereka membuat sirip dari karet, memasangnya di kaki mereka, lalu berenang jauh ke laut untuk menangkap ikan. Saya juga melihat mereka menggunakan abu dari api untuk menutup luka di tubuh agar tidak terinfeksi kuman.

Sungguh menakjubkan, anak-anak itu berhasil bertahan hidup. Mereka menjadi berani, kuat, dan sangat cerdas. Saya benar-benar percaya bahwa malaikat Allah turun menjaga mereka selama bertahun-tahun, karena tidak ada seorang pun dari mereka yang mengalami luka parah.

Yang lebih mengejutkan lagi, anak-anak tersebut mampu berbahasa Inggris, Prancis, dan Spanyol, serta menghafal Al-Qur’an dan hadis. Saya pun bertanya-tanya, bagaimana mungkin mereka bisa mempelajari semua itu, sementara semua buku telah dibakar dan guru pun tidak ada di sana?

Di dalam tenda sangat gelap, sampai-sampai jari sendiri pun sulit terlihat. Namun, saya dapat mendengar mereka membaca di dalam kegelapan itu. Ternyata, inilah yang mereka lakukan untuk belajar: mereka pergi ke perpustakaan lama dan menemukan buku khusus untuk orang buta, yaitu buku yang dapat dibaca melalui sentuhan tangan.

Buku-buku tersebut terbuat dari aluminium yang tersisa dan tidak terbakar selama perang. Anak-anak itu membawa semua buku tersebut dan belajar sendiri cara membacanya. Subhanallah, saya benar-benar merasakan seolah-olah ada kehadiran malaikat di antara mereka.

Beberapa hari yang lalu, saya menelepon beberapa anak yang masih biasa saya hubungi. Saya bertanya kepada mereka apakah mereka sudah makan atau belum. Mereka menjawab, “Ya, alhamdulillah. Kami makan bakso dan nasi goreng.”

Terima kasih, Indonesia, karena telah menjatuhkan bantuan makanan dari pesawat untuk rakyat Gaza.


Comments

2 responses to “Mentari di Jalur Gaza”

  1. Cerita yang sangat memilukan dan menyayat hati buat kami para pembaca, Do’a kami untuk anda & juga anak2 di Palestina, semoga Allah selalu melindungi kalian semua dan mencukupi semua kebutuhan kalian. Aamiin2 ya Rabbal ‘aalamiin 🤲.

  2. Drbadrulamin Bahron Avatar
    Drbadrulamin Bahron

    الله اكبر ولله الحمد…

Leave a Reply to Drbadrulamin Bahron Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *