“Jauh lebih mudah menaklukkan lawan, tinimbang mengendalikan kawan.”
(Tajali Daeng Litere, 18122024)
Ujaran Tajali Daeng Litere itu, datar menghanyutkan, tidak meledak seperti semboyan perang. Ia justru turun perlahan, seperti hujan tipis, tetapi meresap hingga ke lapisan terdalam relasi manusia. Penabalannya singkat, waima menyimpan paradoks kepemimpinan: kekuatan terbesar kerap diuji bukan di hadapan musuh, melainkan di tengah kawan sendiri.
Menaklukkan lawan memiliki peta jelas. Tampak demarkasi, muncul strategi, nyata sasaran. Lawan berdiri berseberangan, membuka ruang konfrontasi. Dalam situasi semacam itu, kekerasan simbolik maupun konkret sering dianggap sah. Ketegasan dibaca serupa keberanian, dominasi diterjemahkan sewajah kemenangan. Segalanya tampak tegas, bahkan sederhana.
Namun, mengendalikan kawan bergerak di medan berbeda. Tidak ada batas tegas, tiada pula jarak aman. Kawan hidup dalam kedekatan, berbagi tujuan, saling menggantungkan harapan. Di ranah ini, kuasa tidak bisa bekerja kasar. Setiap keputusan menyentuh perasaan, satu sikap beresonansi panjang. Kekeliruan kecil dapat membesar, sebab ia lahir dari orang-orang terdekat.
Kawan tidak tunduk seperti lawan. Ia memiliki ingatan, emosi, serta rasa memiliki. Pendekatan yang berhasil di medan konflik sering justru gagal di ruang kebersamaan. Di sinilah kepemimpinan diuji lebih halus. Bukan sekadar soal menang atau kalah, melainkan menjaga agar tujuan tetap hidup tanpa merusak jalinan.
Mengendalikan kawan menuntut penguasaan diri. Ego perlu disisihkan, reaksi spontan mesti ditahan. Tak semua perbedaan perlu dipatahkan, tidak setiap ketidaksetujuan harus dimenangkan. Kepemimpinan berubah dari seni menekan menjadi laku menata. Bukan memaksa arah, melainkan merawat gerak bersama.
Dalam banyak peristiwa, kegagalan kolektif bukan lahir dari kekuatan lawan, tetapi retaknya hubungan internal. Ambisi personal, kecemburuan peran, serta luka-luka kecil yang diabaikan perlahan menggerogoti fondasi. Musuh di luar kerap menjadi alasan, padahal rapuh telah lama tumbuh di dalam.
Ungkapan Daeng Litere menyingkap kenyataan ini tanpa menyalahkan. Ia sekadar menunjukkan kecenderungan manusia: lebih nyaman menghadapi yang jelas menentang daripada merawat yang diam-diam menuntut pengertian. Menaklukkan lawan memberi kepuasan cepat. Mengendalikan kawan menuntut kesabaran panjang.
Dalam kepemimpinan, kawan bukan objek perintah. Mereka adalah subjek dengan kehendak. Setiap orang membawa latar, kepentingan, serta cara pandang. Mengabaikan itu berarti membuka ruang resistensi pasif: patuh di permukaan, rapuh di dasar. Kerja tetap berjalan, tetapi jiwa kolektif mengering.
Dus, pengaruh sejati dalam lingkar kawan tumbuh dari kepercayaan. Kepercayaan lahir bukan dari posisi, melainkan dari konsistensi. Ia dibangun lewat kesediaan mendengar, keberanian mengakui salah, serta keteguhan menjaga adil. Proses ini sunyi, nyaris kabur, tetapi dampaknya panjang.
Di lapik ini, perbedaan antara kekuasaan dan kepemimpinan menjadi terang. Kekuasaan dapat memaksa kawan bergerak. Kepemimpinan mengajak mereka berjalan. Kekuasaan mengandalkan takut kehilangan, sedangkan kepemimpinan bertumpu pada kesediaan memberi. Dalam jangka pendek, paksaan tampak efektif, tetapi pada lintasan waktu, ia meninggalkan letih dan jarak.
Mengendalikan kawan juga bermakna memahami kapan harus mundur. Tidak semua momen menuntut suara paling keras. Ada saat ketika diam lebih bermakna, tatkala memberi ruang justru memperkuat arah. Kepemimpinan semacam ini tidak heroik, bahkan sering luput dipuji. Namun, ia menjaga keberlanjutan.
Tutur Daeng Litere ini, juga dapat dieja sebagai peringatan batin. Bahwa musuh paling sulit kerap bersemayam dalam diri: keinginan menguasai, dorongan ingin selalu benar, hasrat diakui. Selama dorongan ini belum dijinakkan, mengelola kawan akan selalu terasa berat. Lawan di luar dapat ditaklukkan, tetapi kawan di sekitar akan terus berjarak.
Momen laku sehari-hari, mengendalikan kawan berarti memelihara kejelasan tujuan, tanpa mematikan kebebasan. Ia menuntut keseimbangan antara arah dan empati. Terlalu longgar melahirkan kekacauan, kelewat ketat memicu perlawanan. Di titik tengah itulah kepemimpinan menemukan seni.
Minda ini sejalan dengan jalur kebijaksanaan purba, tempat pengaruh tertinggi bekerja tanpa banyak terlihat. Seperti air, ia menyesuaikan bentuk, tetapi tak kehilangan daya. Ia tidak menabrak batu, melainkan mengikis perlahan. Kawan digerakkan bukan oleh tekanan, tetapi berkat kesadaran bersama.
Maka, penabalan Daeng Litere bukan sekadar refleksi relasional, melainkan ajakan menata ulang cara memimpin. Bahwa ukuran keberhasilan bukan terletak pada jumlah lawan yang ditundukkan, akan tetapi sekotah kawan setia di perjalanan, bahkan saat situasi tidak menguntungkan.
Simpai simpul ini seolah mengeratkan, kepemimpinan tampil sebagai laku batin. Ia menuntut kejernihan niat, keteguhan watak, serta kerelaan menanggung proses panjang. Menaklukkan lawan bisa selesai dalam satu peristiwa. Mengendalikan kawan merupakan kerja seumur hidup—sunyi, perlahan, tetapi menentukan arah perjalanan bersama.

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply