“Memilih pemimpin apa adanya, bukan karena ada apanya.”
(Tajali Daeng Litere, 27112024)
Sodokan ujar Daeng Litere tersebut, bekerja seperti cermin, diletakkan di hadapan nalar publik. Ia tidak berteriak, apalagi menggurui, tetapi memantulkan kebiasaan, kerap disembunyikan dalam proses memilih pemimpin. Kebiasaan melihat ke luar, tinimbang menengok ke dalam. Kelaziman terpikat pada kilau, ketimbang menimbang watak.
Dalam praktik memilih, perhatian sering terseret pada hal-hal yang melekat di permukaan: harta, gelar, jaringan, citra, atau kilau janji, dirangkai secara meyakinkan. Padahal, kepemimpinan tidak lahir dari aksesori, melainkan dari kualitas yang menetap dalam diri.
“Apa adanya” mengalamatkan kejujuran eksistensial. Ia merujuk seseorang ketika atribut dilepaskan dari dirinya. Saat jabatan belum disematkan dan perhatian belum diarahkan, penilaian kembali ke laku sehari-hari. Cara bersikap, ketenangan berpikir, serta kesanggupan memperlakukan sesama dan memikul amanah tanpa panggung menjadi ukuran. Kepemimpinan lalu hadir bukan sebentuk status, melainkan serupa laku, apalagi klaim tentang diri, tetapi jejak yang dapat ditelusuri.
Sebaliknya, “ada apanya” kerap menjelma jebakan yang tampak rasional. Penilaian bergeser menjauh dari watak, lalu berhenti pada kelengkapan dan daya pikat. Integritas digantikan daftar, sementara kesanggupan mengelola tertutup oleh kemampuan memikat. Dalam dunia yang bising oleh pencitraan, “ada apanya” mudah dibesarkan dan dipasarkan sebagai kualitas. Yang dinilai bukan lagi diri, melainkan kemasan. Proses memilih pun perlahan berubah dari pertimbangan etik menjadi kalkulasi impresi.
Ujar Daeng Litere tersebut mengajak untuk memperlambat proses memilih. Ia menuntut jeda, agar penilaian tidak dikuasai kekaguman sesaat. Sebab, kekaguman sering bekerja cepat, sementara kepercayaan tumbuh perlahan. Pemimpin yang dipilih karena “ada apanya” sering menyisakan jarak antara harapan dan kenyataan. Yang tampak mengilap di awal tidak selalu bertahan dalam kerja panjang, apalagi ketika dihadapkan pada situasi sulit yang menuntut konsistensi.
Memilih apa adanya berarti menerima keterbatasan. Tiada pemimpin sempurna. Namun, keterbatasan yang disadari jauh lebih aman daripada kelebihan yang dipamerkan. Kesadaran akan batas menumbuhkan kesediaan belajar, mendengar, serta berbagi peran. Dari kesadaran itu, kepemimpinan merunrun menuju keseimbangan—bertumbuh perlahan, tanpa gegap gempita, tetapi berlapis dan tahan uji.
Gagasan ini tidak mengajarkan sikap naif. Ia tidak meminta mata ditutup dari kompetensi atau kapasitas teknis. Sorotannya tertuju pada urutan. Kompetensi memang perlu, tetapi karakter menentukan arah penggunaannya. Kecakapan tanpa watak berisiko melahirkan ketimpangan: keputusan cepat nirempati, kebijakan efektif tanpa keadilan. Sebaliknya, watak yang teruji akan mencari cara untuk melengkapi kekurangcakapan, termasuk dengan membuka ruang kolaborasi.
Memilih pemimpin, kerap terjadi pemindahan harapan. Publik menggantungkan impian pada figur, lalu berharap ia menebus segala kekurangan bersama. Penegasan ini membongkar mekanisme tersebut. Ia mengembalikan tanggung jawab pada penilaian jernih. Bahwa memilih separas tindakan etis, bukan sekadar administratif. Bahwa harapan kolektif tidak boleh dibebankan sepenuhnya pada satu figur, melainkan dibangun melalui relasi realistis.
“Apa adanya” juga mengandung keberanian, buat melihat hal-hal nyata: riwayat keputusan, konsistensi sikap, serta cara menghadapi kritik. Unsur-unsur ini jarang glamor, tetapi justru menentukan. Pemimpin yang siap dipilih apa adanya, tak gentar pada transparansi. Ia tidak perlu menambah lapisan demi tampak layak. Ia cukup berdiri pada rekam jejaknya sendiri.
Sementara itu, memilih karena “ada apanya” sering menukar substansi dengan sensasi. Daya tarik dipakai untuk menutup kekosongan. Dalam jangka pendek, pilihan semacam ini tampak menjanjikan. Namun, jangka panjang, ia menuntut biaya koreksi yang mahal. Keputusan keliru di awal jarang dapat ditebus dengan cepat, sebab dampaknya terlanjur menyentuh banyak lapisan kehidupan.
Pandangan ini juga menyentuh relasi antara pemimpin dan yang dipimpin. Ketika pemimpin dipilih apa adanya, relasi menjadi lebih realistis. Tidak ada ekspektasi berlebihan, minus kultus. Yang ada ialah kerja bersama dengan kesadaran atas batas masing-masing. Dari lapik ini, ruang dialog terbuka lebih lebar, sementara kritik tidak dipersepsikan sebagai ancaman.
Memilih apa adanya menuntut kedewasaan kolektif. Ia menolak godaan simbolik dan memilih kesesuaian nilai. Pilihan semacam ini tidak mudah. Ia menuntut keberanian melawan arus, terutama ketika arus digerakkan pesona. Namun, keberanian inilah yang menjaga arah agar tidak mudah terseret.
Tumpuan laku pikir tersebut, berbicara tentang martabat proses. Bahwa memilih pemimpin merupakan peristiwa penting, layak diperlakukan dengan kesungguhan. Bukan ajang adu citra, melainkan penilaian atas laku. Alih-alih perburuan kelebihan, tetapi pengakuan atas kejujuran.
Seiring kerangka tersebut, “apa adanya” bukan berarti seadanya. Ia justru menunjuk kedalaman: kesanggupan berdiri apa adanya, tanpa perlu menambah apa pun. Pemimpin semacam ini tidak mengandalkan hiasan untuk meyakinkan. Ia membiarkan tindakannya berbicara.
Maka ujar ini bekerja sebagai penuntun sunyi. Ia tidak memaksa pilihan, tetapi menata cara memilih—menggeser fokus dari apa yang dimiliki ke siapa yang menjadi, berlapik gemerlap menyongsong keteguhan, berpijak “ada apanya” menuju “apa adanya”.
Lewat simpai pikiran itu, kepemimpinan beroleh pijakan bukan tawaran di luar diri, melainkan kedirian sanggup dipertanggungjawabkan. Sebab, kepemimpinan melampaui urusan sistem, menggugah kehidupan bersama, dan menggugat kejujuran sejak mula.

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply