Cidong Landang Akrapang-Rapang Maka Appa’na.

Se’re pappasang: Sikatutui, sikapaccai, sipakainga’. Siparampe pa’mai tangnga mammilea bija kasi-kasi surang kalumannyang.  Sekre pa’risi, surang pacce nujului. 

‎Passiamakkang, ri sesena cucu kulantu’na Pama’ bin Ma’dunda bin Serang. Nipanjari tambara surang leko akculla-culla angngerang pa’mai tamaminrayya.

‎Irate ri Balla bibattuia, accidong landang akrapang-rapangn Ri pambuakanna Taung ruasa’bu ruangpulo angngannang, tanggala sampulo assangang tuju.

‎Naku wuntu kunawa-nawa, wattu-wattua naku boya pa’laklangang ribija pammanakangku. Aksara’mi Daeng Rostia angkanayya paralluna “sipatangara’”, sukapaccei, appakatau. surang Nani passiamaki leres, surang ambania.

‎Di sanalah semesta menandai kami, perjamuan tidak terencana. Semua mengalir, mengurai, dan meretas lebih erat dengan menguatkan, merekahkan dan menjabat hati, seraya membawa suasana kekeluargaan yang penuh khidmat. 

‎Siang setelah kunjungan pesta sanak keluarga Hasanuddin. Tanpa terencana, pertemuan tanpa surat undangan, semua terangkum dalam suasana hati, jiwa yang bertaut di antara cicit Pama’ di rumah tua peninggalan sejarah almarhum Tata’ Saleng. Dulu selalu saya singgahi, datangi dengan segala kisah, sejarah dan terkhusus buyut-buyut  kita. Di sanalah pula mengawali jejak leluhur yang sekian lama saya terdampar di antara semak sejarah saya sendiri.

‎Setanak jiwa kembara saya, sejawat keluarga mengulurkan tangan menyambutku, menjabat jiwa, tanpa melihat strata sosial saya, sampai saat ini, semua menjadi keharuan bagi saya pribadi. Membukakan pintu peradaban, sejarah bagi saya yang awam. Menerima saya apa adanya. Sebagai sesama cicit darah seorang Buyut Kakek Pama’. 

‎Suasana tercipta saling menguatkan, mengingatkan, sebagai bannang pangjai, pengikat erat sanak serumpun keluarga dari satu trah yang kita sama-sama kita cintai, banggakan.

‎Bejana jiwa, sabana hari, sebuah hamparan yang menjadi oase, tanpa harus saling merasa, tetapi masing-masing men-support, merasakan darah, nadi yang sama untuk saling mengapresiasi, mengeksplorasi setiap keluarga yang mumpuni punya potensi,

‎Sebuah proses yang begitu kuat ketika awal menjalin kembali yang dulu para tetua kita saling membasuh, mengasuh peradaban kekeluargaannya, yang kadang terjadi fenomena  setiap interaksi keluarga kadang banyak jerat, dinamika, dan proses sosialisasi, adaptasi terhadap satu dengan lainnya. Itu hanya karena belum terbiasa bersua.

‎Ada rasa canggung, malu-malu, sensitif menjaga jarak, hanya  berstatus sosial. Ini fenomena yang harus memang hilang saat perjamuan kita di rumpun Pa’bumbungang. Tiada pejabat, tiada ata, tiada golongan dan strata sosial atas dan bawah. Semua sama, berbaur melengkapi kebahagiaan, keharuan dan kebanggaan,  yang nantinya akan menjadi contoh bagi generasi di rumpun kita.

‎Saya mengutip sebuah  filosofi “Keluarga Serumpun” yang sebenarnya  berakar dari kebudayaan Melayu dan Nusantara, yang menggambarkan ikatan batin, sejarah, budaya, dan darah yang mendalam antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, meskipun berbeda geografis.

‎Filosofi ini menekankan kebersamaan, persaudaraan, dan prinsip “sepi sependeritaan, ramai sepermintaan”.

‎Berikut adalah poin-poin utama filosofi keluarga serumpun:

‎Pertama, akar yang sama (berasal dari satu rumpun). Serumpun ibarat bambu yang tumbuh bersama dalam satu rumpun. ini menekankan bahwa meskipun individu atau kelompok terpisah jarak, mereka berasal dari nenek moyang, sejarah kerajaan, dan budaya yang sama.

‎Kedua, ikatan batin dan persaudaraan. Keluarga serumpun melampaui ikatan geografis, menekankan hubungan batin, persahabatan, saling menghargai, dan menguatkan satu sama lain.

‎Ketiga, solidaritas dan sepenanggungan. Prinsip ini menekankan nasib bersama—ketika satu anggota atau kelompok kesusahan, yang lain membantu. Ini sering disimbolkan seperti “sapu lidi” atau dalam lokal daerah Bantaeng sering kita dengar “a’bulo sibatang“. Kokoh  karena diikat bersama. Tetapi tidak hanya terlihat secara sekadar tampak saja.

‎Kemudian keempat, sipakrikongang. Sebuah nilai kebersamaan dan kasih sayang, keluarga serumpun tidak hanya berkumpul fisik, tetapi menghadirkan hati dan kasih sayang, menjadikan setiap anggota merasa aman, dihargai, dan didukung.

‎Ditambahkan pula pada deretan filosofi serumpun, sanak, keluarga dan passibijang ini. Pentingnya silaturahmi. Filosofi ini menjunjung tinggi hubungan kekeluargaan yang erat melalui komunikasi dan interaksi (silaturahmi) yang konsisten.

‎Seiring waktu “angjari tambara, surang pa’laklangngang“. Merajut, merawat dengan cara memaknai, merenung jauh tentang bagaimana serumpun ini menjadi kasih, memperkokoh sanad dan sanak keluarga. Agar kelak generasi tidak lagi “sicini biring matamami” (saling sekadar melirik tidak saling mengenal). 

Nakku mantang takajanna’. Iutimbang ri pa’mai. Sembari menukil dan memberiku ruang yang selama ini jauh dari serumpun keluarga. Dan hari ini, sampai jauh di titik awal saya menemukan sebuah jejak, peristiwa dan sejarah, bagi saya ini  adalah anugerah tak ternilai yang membentuk pondasi kehidupan bagi setiap individu.

‎Ya, sebagai mata air kehangatan dan cinta, keluarga di mana saja melangkah dan merasa dunia ini mulai terjal oleh segala problematika, serumpun hadir membasuhkan cahaya, menjadi pelipur  di tengah badai kehidupan.

‎Selama ini, saya merasa sendiri dan sepi di tengah belantara dan kelana saya sekian puluh tahun, meski saya tahu, tetapi ada keengganan untuk menyikapi saat bersua keluarga kala itu. Canggung, tidak percaya diri dan tentunya ada rasa minder di antara kami.

‎Suara alam Pa’bumbungang, kehangatan keluarga ketika siang menjelang sore, hingga petang yang membuat suasana menjadi sekumpulan cerita hidup yang saling terkait.

‎Di dalamnya terdapat tawa yang menyenangkan di sore hari, kebersamaan yang meluap di sekitar meja makan, dan pelukan hangat yang memberikan rasa aman ketika dunia luar terasa sulit dipahami. Anugerah keluarga bukanlah sekadar hubungan darah, melainkan ikatan hati yang menghubungkan satu sama lain.

‎Bukan sekadar cidong landang a’rapang-rapang, namun ada tujuan yang diusung di tengah parade nasab, hingga pada sebuah agenda yang telah terangkum, dan terencana yang saat petang semakin terasa suasana menyejukkan.

‎Puspita, saat pembuka awal dari Ummi Hasma serta sekapur sirih dari Daeng Ahmad, mengawali pertemuan yang tidak direncanakan di rumah tetua kami. Walau sebelumnya suasana pecah kedekatan semakin kuat dengan menciptakan suasana lebur bersama Om Sampara, Om Rahman, Daeng Rostia, Desi, Risna dan tetuah ibu dari Risna.

‎Yang paling beruntung, ada  salah satu pencatat memori terkuat kelak sebagai generasi bernama Ayra di antara perpaduan Bapak Fery dan Puspita hadir memenuhi isyarat semesta.

‎Betapa melebur suasana itu, Tawa  Pindu Salam, Mardiah, Daya dan Irma, dilengkapi pula Mami Sukma, Daeng Marwati, serta Mama Eva yang menyaksikan keseruan meski merasakan. Syok saat mobil dia tumpangi menanjaki tebing. Ditambah kedatangan walau agak telatnya Akbar. Suasana tetap cair dengan segala percakapan dari yang serius sampai pada hal penuh canda tawa. 

‎Hening kembali tercipta, saat Puspita mulai membacakan agenda akrapang-rapang selanjutnya, bernama “literasi budaya”. Sampai pada penentuan waktu, hari dan tanggal tepat pada Ahad 25 Januari 2026 menjadi saksi perjalanan serumpun keluarga, yang beda dengan cara serumpun lain merawat kebersamaan.

‎Sampai menuju petang ditutup dengan khidmat ziarah di makam Tata’ Saleng dan orang-orang dicintainya, keluarga yang mendahului, seraya segala apa yang telah menjadi petuahnya dan segala kebaikannya mendapatkan surga kelak oleh Sang Mahacinta. 

‎Keluarga adalah tempat di mana senyummu tak terkendali dan air matamu dihapuskan.

‎Selepas usai narasi ini terdaras, saya menukilkan sebuah kutipan kembali yang sarat makna dari beberapa tokoh dan filusuf di akhir paragraf ini. Di mana keluarga serumpun, bukanlah kesempurnaan, tetapi keberadaan yang melengkapi hidupmu.

‎Dia  adalah tempat di mana kamu terus belajar tentang kehidupan, cinta, dan pengampunan. Sebagai  karunia terindah yang Tuhan berikan kepada kita.

‎Keluarga bukanlah hanya sekadar fakta dari kehidupan kita, mereka adalah fondasi dari kehidupan kita, kata Joyce Brothers.

‎Lalu Sang Goerge Santayana menutup dengan ungkapannya, “Keluarga tempat pertama di mana kita belajar memahami, menghargai, dan mengasihi orang lain.”


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *