Dari Pasalonreng ke Paolle: Jejak Tari yang Menghidupkan Bantaeng

Setiap kali kalender bergeser ke bulan Desember, ada satu daerah di Sulawesi Selatan yang berdebar sedikit lebih kencang: Bantaeng. Bukan tanpa alasan—7 Desember adalah Hari Jadi Bantaeng, dan tahun 2025 menandai usia daerah ini yang ke 771 tahun. Sebuah usia yang membuat kita serempak berpikir bahwa Bantaeng bukan sekadar wilayah, tapi juga ruang panjang sejarah dan budaya.

Tema peringatan tahun ini, “Bangkit Semarak, Deru Tradisi Bantaeng,” mengajak masyarakat kembali melihat akar tradisinya. Bagi saya, ajakan ini langsung mengingatkan pada sebuah diskusi budaya yang saya ikuti pada 12 Desember 2021 lalu. Saat itu, kami membicarakan sebuah tarian yang namanya akrab tetapi jejaknya ternyata tak sesederhana itu: Tari Paolle.

Lalu sebenarnya, dari mana Paolle berasal? Di titik ini, kita perlu menelusuri jejaknya jauh ke belakang—bahkan hingga ke masa ketika nama-nama seperti Sawerigading masih hidup dalam cerita.

Dalam lontara dikatakan, Iami anne passala angkana-kanangi kananna se’rea bori, niarenga Tana Loe Gantarangkeke, rewasa tenanapa ammenteng nikanayya kakaraenganga ri Bantaeng.

Apa uruna, apa pakaramulanna, kere poko’na, kere aka malanra’na, kere tangkenna, kere kambu palapanna, kere bunganna, kere parekang rappona.

Naia uru napappokokia kana, iamintu uru-uru nikanayya (1) a’dampang (2) a’rampang (3) kere’ dan (4) karaeng.

Nampami a’dampang-dampang ri se’rea bori, ri Tana Loe Gantarangkeke (Ma’ranting), naniamo napambumbai nikanayya tumanurung yantabassung, niarenga Inagauleng Daeng Rilangi. Iaminne Inagauleng Daeng Rilangi angnganakkangi Lommoka Manurung Daeng Ma’lino (baine) nibaineangi ri Lagaligo, ana’mi Gunturu Yantabassung Lassu Risingara’na.

Iaminnne Inagauleng Daeng Rilangi, uru-uru ampaentengi kakaraenganga ri Tana Loe Gantarangkeke. Tena niassengi siapa anjo sallona ammentengna kakaraenganga ri Tana Loe Gantarangkeke. Nattangkemo nama’rampang ri Onto. Tena todong naniassengi lampa-lampana salllona a’rampang ri Onto, nalassu tau tujua, nirapammi bulo sibumbung nigallaraka kare’. Iami anjo ajjari butiti, bunga pare’ kanrapponna kakaraenganga ri Bantaeng.

Mengikuti Jejak Pakarena: Tarian yang Hidup di Banyak Tanah

Sulawesi Selatan dan Barat punya empat suku besar dengan tarian khas masing-masing: Bugis dengan Pajoge, Makassar dengan Pakarena, Mandar dengan Pattu’du, dan Toraja dengan Pagellu. Dalam rumpun suku Makassar sendiri, tiap daerah punya warna Pakarena yang berbeda. Makassar punya Sambori’na, Selayar punya Balla Bulo, dan Bantaeng? Bantaeng punya Pakarena Pasalonreng, Sanro Beja’, dan Sulo Langi.

Pakarena Pasalonreng inilah yang kelak menjadi pintu masuk untuk memahami Paolle.

Jejak Pasalonreng ternyata sangat tua. Catatan sejarah yang diteliti oleh para ahli seperti Prof. Mattulada, Hj. Munasya Najamuddin, dan Daeng Manda mengarah pada sebuah tempat bernama Tana Loe Gantarangkeke. Di sinilah kisah terdamparnya perahu Sawerigading disebut-sebut terjadi—sekitar abad ke-7.

Cerita rakyat setempat menyebutkan bahwa Sawerigading bernazar saat ombak besar menghadang perjalanannya. Dari nazar itu lahirlah sebuah nama: Bantayang, dan bersamanya—awal mula Pakarena Pasalonreng.

Pasalonreng: Dari Ritual Sakral ke Hiburan Istana

Pada masa awalnya, Pasalonreng bukan tarian hiburan. Ia adalah tarian sakral, bagian dari kepercayaan lama masyarakat Tana Loe Gantarangkeke. Gerakannya adalah bentuk permohonan kepada roh leluhur, mirip ritual pemujaan dalam kepercayaan patuntung.

Namun sejarah selalu membawa angin perubahan. Ketika Islam masuk ke Bantaeng pada tahun 1611, fungsi Pasalonreng perlahan bergeser. Ia mulai masuk istana dan dipentaskan sebagai bagian dari hiburan kerajaan. Para penarinya berjumlah 12 orang, plus dua tokoh penting: Anrong Guru Pakarena dan Anrong Pajangka. Kostumnya sederhana namun bermakna: merah bata, dengan sarung dan selendang putih—simbol rakyat biasa.

Musiknya? Denting gendang dan royong, ditemani seruan: e…e…e…e…iolle. “Iolle”—nyanyian malam yang penuh renungan. Kata “iolle” inilah yang kelak menjadi kunci ketika Paolle dimaknai ulang.


Naik Kelas: Ketika Tarian Rakyat Masuk Istana

Tradisi Bantaeng mengenal struktur sosial yang ketat: mulai dari ana’ tasa (bangsawan murni), ana’ pattola (calon raja), hingga tau maradeka dan tau samara (masyarakat umum). Ketika Pasalonreng dibawa ke istana, tarian ini harus menyesuaikan diri dengan lingkungan bangsawan. Bukan hanya gerakannya yang dipoles, tetapi juga fungsinya.

Dari proses inilah Pasalonreng perlahan menjelma menjadi bentuk baru—lebih halus, lebih istana—yang kemudian dikenal sebagai Paolle.


Paolle: Tradisi Lama, Napas Baru

Menariknya, beberapa tokoh budaya Bantaeng seperti Andi Rosma Rumpang (Karaeng Cani’) dan Mappaselleng Daeng Magau tidak menemukan bukti kuat bahwa Paolle adalah tarian tradisional kuno. Mereka justru menemukan bahwa nama Paolle tidak muncul dalam catatan Pakarena Bantaeng sebelum tahun 1960-an.

Namun jika ditelusuri dari akar katanya—iolle—muncul dugaan bahwa Paolle merupakan hasil pengembangan dari tradisi Pasalonreng. Bukan tradisi baru yang berdiri terpisah, tetapi bentuk kreasi yang lahir dari adaptasi istana dan evolusi budaya.

Dengan kata lain, Paolle adalah cucu dari Pasalonreng: lahir dari tradisi rakyat, dibesarkan di lingkungan istana, dan bertahan sebagai hiburan masyarakat Bantaeng hingga kini.


Akhirnya: Mengingat Akar untuk Menyemarakkan Masa Depan

Jika kita menelusuri kembali perjalanan Pasalonreng hingga Paolle, sesungguhnya kita sedang melihat bagaimana budaya bekerja: berubah, bertahan, beradaptasi, dan menghidupkan masa kini.

Di tengah perayaan Hari Jadi Bantaeng ke-771, mengingat kembali kisah Pasalonreng dan Paolle adalah cara kita merawat memori bersama. Tarian ini bukan sekadar gerak tubuh, tetapi jejak panjang tentang kepercayaan, pelayaran, istana, dan rakyat Bantaeng sendiri.

Dan seperti seruan iolle yang memecah sunyi malam, tradisi-tradisi ini terus mengajak kita merenung—bahwa identitas bukan hanya tentang siapa kita sekarang, tetapi juga tentang jejak-jejak yang kita pilih untuk tidak melupakannya.


Comments

One response to “Dari Pasalonreng ke Paolle: Jejak Tari yang Menghidupkan Bantaeng”

  1. Rachmat saldy assiddiq Avatar
    Rachmat saldy assiddiq

    Akhirnya

Leave a Reply to Rachmat saldy assiddiq Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *