Cerita dari Nenek Ika: Larangan, Doa, dan Mistik

Keyakinan orang zaman dahulu begitu kuat dan diyakini hingga sekarang, meski alasannya belum sepenuhnya terungkap. Karena itu, kita ingin menelusuri alasan-alasan di balik kepercayaan-kepercayaan tersebut, agar generasi sekarang memahami warisan budaya dan spiritual nenek moyang mereka.

Embun pagi masih menempel di daun-daun pisang, ketika Nenek Ika sedang membuka pintu rumahnya. Udara sejuk Bantaeng menyapa kulitnya yang kering dan mulai keriput. Hari ini, ia akan menceritakan kisah turun temurun yang telah diwariskan nenek moyangnya dari generasi ke generasi, cerita yang mengajarkan kita bagaimana hidup berdampingan dengan alam dan kekuatan gaib, yang dipercaya menghuni dunia ini.  Kisah-kisah yang akan diteruskan pada anak-anak di Bantaeng.

Nenek Ika, bernama lengkap, St. Sarika Binti Sanjani, sudah almarhumah, nenek saya sendiri. Suara seraknya yang khas, senyumnya yang ceria, memulai ceritanya.

Di kampung kita  ini, banyak sekali kepercayaan yang dipegang teguh. Bukan sekadar takhayul, tetapi bagian dari cara hidup. Seperti membuka pintu di waktu subuh. Kata orang tua dulu, itu bisa mengundang ruh jahat masuk ke rumah. Subuh itu kan perbatasan antara malam dan pagi, waktu di mana dunia gaib masih terasa dekat, kata Nenek Ika. Nenek Ika begitu senang menceritakan larangan yang diwariskan dari nnenek moyangnya, supaya cucu-cucunya mengetahui, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, dan terjauhkan dari penyakit apa pun itu.

Dalam pandangan Islam, ada yang mengatakan jika Islam mengajarkan pentingnya menjaga diri dari gangguan jin atau setan, yang dipercaya lebih aktif di waktu-waktu tertentu, seperti subuh. Membuka pintu subuh tanpa doa atau perlindungan, dapat dianggap sebagai celah yang memungkinkan gangguan tersebut masuk.

Namun, kepercayaan ini perlu diimbangi dengan keyakinan, bahwa Allah Maha Penjaga. Dan di dalam pandangan masyarakat, jika membuka pintu di waktu subuh, akan membuat kita ditegur ruh-ruh yang masuk ke dalam rumah, istilahnya disebut (kanyarangngang), bahkan bisa buat kita sakit keras.

Lalu, ada larangan menyapu di malam hari. Katanya, rezeki kita bisa ikut tersapu keluar dari rumah. Jadi coba kita bayangkan, rezeki itu seperti embun pagi, lembut dan mudah hilang jika tidak hati-hati. Karena pada malam hari, adalah waktu untuk beristirahat, bukan untuk mengusir rezeki yang sudah ditetapkan dalam rumah. Nenek Ika tersenyum, matanya berkilat mengingat nasihat bapak dan mamanya dulu.

Di dalam pandangan Islam, tidak ada larangan spesifik terkait menyapu di malam hari. Namun, konsep rezeki yang terkait dengan kepercayaan ini dapat diartikan sebagai berkah dan anugerah dari Allah. Untuk menghormati waktu malam sebagai waktu istirahat, dapat dihubungkan dengan anjuran untuk menjaga kesehatan dan ketenangan.

Sedang di dalam pandangan masyarakat, jika kita menyapu pada malam hari, bisa jadi tuyul-tuyul, dan beberapa hantu yang telah mengawasi rumah kita, mengambil rezeki yang sudah kita sapu dari dalam rumah, rezeki yang sudah di tetapkan oleh Allah Swt.

Kisah lain tentang suara kokok ayam jantan di pagi hari, bagi orang-orang Bantaeng, itu adalah pertanda baik. Kokok ayam itu seperti pengingat akan kewajiban, mengajak kita untuk memulai hari dengan semangat dan bekerja keras. Namun, kokok ayam di malam hari? Ayam berkokok saat tengah malam, misalnya pada pukul 02.00 malam, kata orang tua, pertanda ada sesuatu yang tak beres, ada yang mengawasi sekitar rumah kita, seperti setan, datangnya malaikat, atau makhluk mistis lainnya. Bisa jadi juga, ada orang yang sakit, atau bahkan ada yang meninggal dunia.

Di Bantaeng pun, cerita serupa beredar, bahkan ada interpretasi khusus terkait arah kokok ayam. Dalam pandangan Islam, kokok ayam tengah malam, dapat diartikan sebagai pertanda sesuatu yang perlu diperhatikan. Bisa jadi ada hal yang perlu diperbaiki, atau bahkan sebagai peringatan akan suatu kejadian. Namun, interpretasi ini tidak boleh mengarah pada takhayul, harus tetap berpegang teguh pada tauhid.

Selain suara ayam, suara tokek juga tak luput dari perhatian. Tokek berbunyi di malam hari, itu juga pertanda. Jumlah bunyiannya bisa diartikan berbeda-beda, bahkan ada juga yang mengatakan jika suara tokek berbunyi lebih dari 7 kali, maka ada yang bilang, itu pertanda kematian, ada juga yang bilang pertanda keberuntungan. Tergantung bagaimana kita memahaminya.

Nenek Ika mengajarkan, bahwa setiap suara alam memiliki maknanya sendiri, sebuah bahasa yang perlu dipahami dan dihormati oleh masyarakat Bantaeng. Dalam pandangan Islam, suara tokek  seperti halnya kokok ayam tengah malam, tidak memiliki penjelasan khusus. Namun, penafsirannya harus tetap berlandaskan pada ajaran Islam dan menghindari takhayul. Semua kejadian adalah kehendak Allah Swt.

Dalam pandangan masyarakat, jika tokek berbunyi pada malam hari, maka pertanda jika sesuatu akan terjadi pada diri kita, entah itu sakit, kecelakaan, dapat musibah, atau adanya yang menyamar sebagai mahkluk untuk mengawasi kita, bisa kita sebut sebagai siluman.

Larangan keluar rumah di waktu magrib juga dijelaskan Nenek Ika. Magrib itu peralihan antara siang dan malam, waktu di mana dunia gaib dan dunia nyata bertemu. Keluar rumah saat itu bisa membuat kita bertemu dengan hal-hal yang tak diinginkan. Bukan berarti kita takut, tetapi kita menghormati batas-batasnya, bahkan ada beberapa ritual khusus yang dilakukan saat menjelang magrib.

Dalam pandangan Islam itu, magrib merupakan masa peralihan antara siang dan malam. Dalam Islam, disarankan untuk memperbanyak ibadah dan berzikir di waktu ini, menghindari hal-hal yang tidak bermanfaat. Keluar rumah tanpa keperluan penting, dianggap sebagai waktu yang kurang produktif.

Sedangkan dalam pandangan masyarakat, banyak yang mengatakan jika keluar pada saat magrib, kita akan diikuti oleh berbagai makhluk, seperti pocong, kuntilanak, tuyul. Bahkan, jika keluar pada saat magrib, kita bisa disembunyikan oleh beberapa makhluk tak kasat mata tersebut. Kita dibawa ke alam yang berbeda, berhari-hari, berminggu-minggu, hingga bertahun-tahun.

Tradisi lain yang dijalankan adalah a’buang batu, yang dilakukan ketika ada orang meninggal dunia. Setelah malam ketiga tahlilan, batu-batu kecil dikumpulkan dan dibacakan Surah Al-Ikhlas hingga 1.000 kali. Ritual ini dilakukan sampai hari ketujuh, sebagai doa agar kubur almarhum lapang, terang, harum, dan dipenuhi pahala. Praktik ini menggabungkan nilai spiritual Islam dan budaya lokal yang kuat.

Selain itu, ada pula larangan makan sambil berbicara. Dalam kepercayaan masyarakat, jin bisa masuk ke dalam makanan saat seseorang berbicara ketika makan. Adanya hal ini didasarkan pada keyakinan, bahwa jin dapat memanfaatkan momen-momen seperti itu, untuk mengganggu atau mempengaruhi manusia. Islam tidak secara khusus melarang, tapi mengajarkan adab makan yang tenang dan penuh kesadaran. Bagi sebagian masyarakat, berbicara saat makan bisa membuka peluang gangguan jin atau penyakit yang sulit disembuhkan.

Menjemur pakaian di malam hari juga dianggap pantangan. Malam diyakini sebagai waktu aktivitas makhluk halus, dan pakaian lembab dan basah yang dijemur saat itu, bisa dihuni oleh makhluk tak kasat mata. Jika dikenakan, bisa menyebabkan sakit atau bahkan kematian. Dalam ajaran Islam, memang malam adalah waktu istirahat, namun tidak ada larangan langsung soal ini. Meskipun demikian, masyarakat tetap meyakininya sebagai bentuk kehati-hatian terhadap kemungkinan gangguan spiritual.

Bagi Nenek Ika, semua larangan dan kepercayaan ini bukan sekadar mitos, tapi bentuk penghormatan terhadap alam dan kehidupan. Ia mengajarkan bahwa hidup harus dijalani dengan menghormati batas-batas, baik yang terlihat maupun yang tidak.

Embun pagi telah mengering. Hari baru dimulai, membawa warisan budaya yang tak ternilai dari Bantaeng ke generasi berikutnya—dalam cerita, dalam larangan, dalam kebijaksanaan yang tak lekang oleh waktu.

Catatan: Tulisan in telah dimuat dalam buku, Bantaeng Satu Negeri Seribu Cerita (2025), hal. 163-167.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *