Di antara hari-hari menjadi ibu rumah tangga. Kadang kala, ada rasanya ingin melarikan diri. Menjadi sosok orang lain. Terutamanya, ketika rasa bosan dengan rutinitas keseharian, ataukah saat anak malas makan. Bahkan, sewaktu anak mengamuk tantrum, membayangkan lemari dari film narnia mungkin saja menjadi penyelamat kewarasan saat itu.
Selain IRT, ada sejuta alasan lainnya. Orang-orang tidak ingin menjadi dirinya sekarang ini. Apalagi ditambah jika ia tinggal di Indonesia. Membayangkan berada di luar negeri, menjadi warga negara Finlandia, misalnya. Sudah bukan lagi menjadi imajinasi, melainkan sudah dicita-citakan.Tapi yah, nasib yang terjadi. Entah apa maksud Tuhan menjadikan kita warga negara Indonesia. Semoga saja kesabaran dari akibat menjadi WNI membuat kita memiliki kedekatan dengan Allah di akhirat nanti.
Nah, karena kita manusia biasa. Bahkan, sangat biasa saja. Tidak dapat memiliki lemari narnia, atau berubah menjadi WNA. Ada cara lain untuk mengubah diri walau hanya sementara. Apa itu?Dengan membaca novel.
Sebagai anak penjual buku sejak lahir hingga sekarang. Kami adalah keluarga yang tidak pernah berlibur seperti keluarga lainnya. Kecuali, ramai-ramai pergi ke gunung menjenguk kuburan kakek kami.
Jika dulu anak SD seusia kami sibuk ke Bali dan ke Jepang, keluar negeri. Saya dan adik-adikku, sibuk mencari novel yang dapat kami baca di toko buku kami. Kalau dos baru datang dari penerbit, kami izin ke umi abi untuk membaca buku jualan itu.
Kami dibolehkan dengan syarat cukup ketat, melebihi aturan perpustakaan nasional. Plastik dibuka tidak asal-asalan, tapi dibuka dari atas. Nanti bukunya dikeluarkan dari situ, jangan sampai plastiknya robek. Karena nanti akan dimasukkan kembali.
Kalau dibaca, jangan dilipat apalagi sampai tercoret, basah, dan lain sebagainya. Buka bukunya jangan lebar-lebar, nanti kertasnya melebar. Setelah dibaca, masukkan kembali ke plastiknya.
Begitulah versi liburan kami. Sepanjang hari libur itu, biasanya dari pagi sampai malam menghabiskan membaca di masing-masing tempat tidur. Setelah melaksanakan tugas rumah masing-masing, sesuai jadwal. Keluar kamar hanya untuk makan, mandi, salat, dsbnya.
Hal itu sepertinya berdampak ke kebiasaan setelah menjadi ibu rumah tangga. Jangankan berlibur, punya waktu sejam dua jam sendiri saja sudah syukur. Jadi ketika menemukan keasyikan kembali membaca novel, saya merasakan ini adalah cara liburan sederhana dan bisa dilakukan oleh siapa saja.
Hanya butuh satu hal agar itu terjadi, yaitu memiliki buku yang menarik untuk dibaca. Biasanya buku-buku yg membuat kita betah berlama-lama ikut bertualang adalah jenis buku novel. Seperti novel dari The Face Thief. Novel terakhir yang membuat saya mampu berlibur hingga ke New York dengan menjadi berbagai macam karakter yang menguras emosi.
Buku ini merupakan karya dari Eli Ghottlieb, penulis berkebangsaan Amerika. Karena hal inilah, ketika ia menceritakan isi novelnya, deskripsi tempat cukup detail dalam menggambarkan isi kota-kota Paman Sam. Diterbitkan oleh Alvabet dengan judul The Face Thief tahun 2012, dan diterbitkan ulang oleh Alvabet dengan judul Perempuan Berwajah Seribu di tahun 2014.
Dengan alur maju mundur, diceritakan dari sudut pandang masing-masing tokoh utamanya, membuat bingung pada awalnya. Namun, pembagian sudut cerita dibedakan dalam beberapa bab, menjadikan kita akan secepatnya mudah memahami jika telah melewati sekitar 3 bagian.
Di pertengahan menuju akhir, kita akan menyadari tokoh-tokoh ini berkorelasi dan saling terhubung dengan satu tokoh perempuan. Si tokoh perempuan ini, memiliki masing-masing peristiwa dengan setiap 3 lelaki tokoh utama.
Dikisahkan dengan alur maju mundur. Si tokoh perempuan ini, Margot akan menampilkan karakter/kepribadian yang berbeda-beda di masing-masing waktu dari sudut pandang cerita dari 3 tokoh itu. Di akhir novel, nantinya semua kisah itu akan terlihat seperti rantai yang saling bertautan.
Sayangnya, penceritaan di awal novel kurang membuat pembaca merasa tertarik. Dari kalimat yang disampaikan, membuat bingung. Apa yang sebenarnya isi dari beberapa lembar awal novel itu. Apalagi mengingat, ini adalah novel terjemahan berlatar belakang Amerika. Perlu, bagi pembaca dari benua lain untuk benar-benar berusaha mengerti. Tapi, saya melakukan tantangan ke diri sendiri. Untuk tidak cepat melepaskan satu bacaan sebelum menyelesaikan 1 bab. Entah saya mengerti atau tidak. Pokoknya lewatkan dulu dengan membaca 1 bab.
Tantangan ini sekaligus juga memberi saya latihan untuk belajar bersabar menanti apa yang hendak si pengarang ingin sampaikan—walaupun, saya juga memiliki anak sebagai tempat melatih kesabaran. Hehe.—Sekaligus juga memberi ruang bagi novel yang telah saya niatkan, agar ia menguraikan dulu bagiannya.
Ternyata, tindakan itu tidak menyisakan penyesalan sama sekali. Selepas, satu bab saya sudah tidak bisa lepas dari novel itu. Alhasil, dalam 3 hari saya sudah menyelesaikannya. Konflik dari tokoh Margot dengan tokoh-tokoh lainnya membuat saya melihat kepribadian orang dewasa saat ini sangat berkorelasi dan berdampak dari kehidupan masa kecilnya.
Jelas sekali, Margot tidak akan melakukan hal-hal yang merugikan ketiga tokoh lainnya jika ia tidak memiliki pengalaman buruk di masa kanak-kanaknya. Begitupun 3 tokoh lainnya, bisa saja akan mengambil keputusan lainnya jika mereka memiliki kehidupan masa kecil yang berbeda dari yg mereka alami saat “kesialan-kesialan” itu datang.
Dari kejadian yang berlangsung di buku ini, kepribadian yang terbentuk sangatlah merepresentasikan kehidupan nyata, terjadi di masanya kita, sekarang ini. Walaupun ini hanya sebatas rekayasa saja. Namun, barangkali saja penulisnya mengambil inspirasi dari kisah nyata sehari-hari. Semisal, orang akan lebih mudah berlaku baik kepada orang lain yang berparas cantik. Orang mudah mengambil keputusan, jika kondisinya dalam keadaan fase kesenangan, seperti baru melangsungkan pernikahan dan berbulan madu. Padahal sebelumnya ia adalah tipe perhitungan, yang tidak bisa ditipudaya.
Keseruan selain dari konflik yang terjadi, ialah pendalaman masing-masing karakter, serta penggambaran kisah hidup sehari-hari masing-masing karakter. Membuat novel ini menjadi sangat hidup. Bagaimana, seorang tokoh memiliki ilmu untuk mengetahui kepribadian berdasarkan ekspresi wajah dan bentuk muka. Membuatnya bertemu dengan murid di kemudian hari, si Margot yang kelak ia sendiri tidak mengenal kepribadiannya, hasil dari didikannya sendiri.
Entah novel ini dapat dikatakan happy ending atau tidak. Walaupun si Margot berhasil meloloskan diri, toh ia mendapatkan juga karma atas perbuatannya. Tokoh lainnya masing-masing juga mendapatkan akibat dari keputusannya saat itu dan ternyata kesialan yang terlihat dapat berakhir indah walau harus terlebih dahulu kehilangan.
Akhir tulisan, tips dari saya, izinkanlah buku ini, setidaknya satu bab agar menyapa dan menghampiri isi kepala teman-teman yang berniat membacanya. Percayalah, petualangan dari kehidupan lain akan menanti. Selamat membaca dan berlibur ke New York bersama Margot!
Sumber gambar: tokoalvabet.com

Seorang ibu pembelajar sepanjang hayat. Ketua Balla Literasi Indonesia. Bisa dihubungi di IG: @nurulaqilahmuslihah


Leave a Reply