Menyoal Budaya Bertanya di Kelas

“Baik anak-anak, sampai di sini, apakah ada yang ingin ditanyakan?”
Senyap, dan tak ada jawaban.

Begitulah tanya seorang guru atau dosen, saat memberi jeda pada jalannya pembelajaran di kelas.  Dan responnya, nyaris sama, senyap. Inilah fakta di sekolah-sekolah, tempat kita menghabiskan separuh hidup, dari anak-anak hingga dewasa. Sialnya, situasi ini terbawa hingga di tingkat perguruan tinggi, di universitas-universitas, tempat akademisi kelas atas, yang seharusnya melempar pertanyaan-pertanyaan kritis, bahkan sebelum ia diminta.

Sebagai seorang guru, barangkali ada momen-momen meresahkan dalam proses belajar mengajar, baik di dalam maupun di luar ruang kelas. Salah satu momen itu adalah, minimnya siswa dalam mengajukan pertanyaan.

Umumnya, bertanya merupakan usaha menelusuri suatu hal lebih lanjut. Dalam konteks dunia pendidikan, pertanyaan-pertanyaan dari siswa adalah gambaran, sejauh mana pengetahuannya terhadap materi. Kemampuan bertanya siswa adalah bagian kemampuan intelektual awal. Karenanya keterampilan bertanya berperan penting terhadap kualitas pembelajaran. Sikap siswa yang enggan bertanya, rasanya perlu ditelusuri penyebabnya.

Seorang fisikawan, sekaligus pencipta metode penelitian struktur atom dan molekul, yang meraih hadiah Nobel Fisika 1944, bernama Isidor Isaac Rabi. Ia mengaku, bahwa sejak kecil, selepas sekolah, ibunya selalu menyapa lewat pertanyaan, tetapi pertanyaannya tidak sekadar, “apakah kamu belajar sesuatu hari ini?” Melainkan bertanya, “apa pertanyaan bagus yang kamu tanyakan hari ini?” Isaac merasa, besar keterhubungan antara kesuksesannya dan kebiasaannya membuat dan menyampaikan pertanyaan.

Dan begitulah pula awal penjelajahan ilmu pengetahuan, mulai dari para filsuf. Jean-Paul Sartre dengan aliran eksistensialismenya misalnya. Ia merenungkan, apakah manusia adalah makhluk bebas dan memiliki kebebasan untuk membuat pilihan dalam hidup mereka? Sartre menggugat pandangan deterministik, yang menganggap bahwa takdir telah ditentukan sebelumnya oleh Tuhan.

Atau cerita para penemu, yang memulai penemuannya lewat pertanyaan. Ts’ai Lun misalnya, si penemu kertas. Pada masa itu, membuat tulisan biasanya dilakukan di atas bambu, selain berat, juga rumit digunakan. Atau penggunaan sutra, tapi kemudian dirasa terlalu mewah. Lalu Ts’ai Lun merenungkan, media menulis apa yang mudah dan ringan digunakan, serta harganya murah. Maka lahirlah kertas-kertas tipis, terbuat dari kulit kayu murbei dan beberapa bahan lainnya, kemudian diolah sedemian rupa, hingga menjadi lembaran-lembaran kertas tipis.

Meski terkesan sederhana,  bertanya punya banyak impak positif terhadap perkembangan anak, di antaranya, mendorong anak berpikir cepat, ketika mereka diminta memberi respons cepat terhadap suatu hal. Mengembangkan keterampilan komunikasi anak, ketika anak mengajukan pertanyaan ataupun sebuah pernyataan, di luar atau di dalam kelas, maka saat bersamaan, ada banyak mata tertuju padanya, bahkan sekalipun hanya ngobrol berdua bersama kawannya, kemampuan komunikasi ini tetap penting dan berguna. Kemudian, kebiasaan bertanya anak, secara tidak langsung akan memupuk sikap terbuka mereka, terhadap suatu gagasan, ide, atau pendapat, lamun mungkin baru mereka dengar. Dan, banyak lagi hal positif dari kebiasaan bertanya anak.   

Setidak-tidaknya menurut saya ada beberapa sebab, anak enggan bertanya ketika proses pembelajaran berlangsung. Pertama, anak merasa tidak percaya diri. Merasa takut jika pertanyaannya ternyata tidak sesuai. Siswa takut, jika imbasnya jadi bahan cemoohan teman sekelas, dan parahnya, guru sering tanpa sadar ikut menertawakan. Padahal langkah pertama membangun rasa percaya diri adalah keberanian, urusan benar atau salah adalah urusan kesekian. Bayangkan, jika siswa sedang berusaha melawan rasa takutnya, berbicara di hadapan banyak mata, lantas kesan pertamanya adalah riuh tawa dan cemoohan. Kesan pertama akan menentukan cara pandang anak terhadap sesuatu, jika anak bertanya lalu tidak diapresiasi, maka selanjutnya anak merasa tidak perlu lagi mengacungkan tangan dan melempar pertanyaan.  

Kedua, takut dianggap bodoh. Adanya anggapan bahwa anak jika bertanya, menandakan ia bodoh, rasanya sangat perlu diluruskan. Ketika seorang guru memberi kesempatan siswanya, menanyakan terkait materi, lalu hasilnya tak satu pun di antara siswa bertanya, itu tidak berarti bahwa semua siswa telah paham terhadap materi pembelajaran. Ada kemungkinannya, siswa, memang tidak menangkap apa pun, sehingga tidak tahu harus menanyakan apa. Karenanya mereka memilih diam.   

Ketiga, anak takut dianggap sok pintar. Dalam jalannya proses pembelajaran, di antara banyaknya siswa khusyuk mendengarkan guru menjelaskan, ada saja siswa sibuk di dunianya sendiri. Tetiba ketika memberi kesempatan pada siswa bertanya, lalu ada siswa mengangkat tangan, maka anak-anak tadi, geram dan memasang wajah sinis, apalagi jika kesempatan bertanya itu mepet waktu istirahat, atau bahkan waktu pulang, aduh, jangan ditanya, suasananya mencekam, serasa kematian sedang menunggu di gerbang sekolah. Tak jarang, jika siswa aktif bertanya, akan dicuekin teman sekelasnya.    

Keempat, adanya relasi hierarki antara guru dan siswa. Terbentuknya konstruksi sosial, dari asumsi bahwa orang dewasa selalu benar, hingga bertanya ke orang tua itu tidak sopan, tak dapat dimungkiri ikut memberi andil dalam masalah ini. Guru, jika hanya hadir di kelas berkenaan dengan tanggung jawab profesi, semakin menancapkan kuat bias hierarki antara guru dan siswa, antara orang dewasa dan anak. Padahal, penting bagi guru dan siswanya, menjalin keakraban, sekalipun di luar kelas. Keakraban, membuat suasana belajar menjadi tidak kaku. Bila suasana belajar kaku, hanya akan melahirkan generasi nunduk. Jangankan mengangkat tangan dan bertanya, bergerak sedikit saja, rasanya ngeri.  

Kelima, dibibit sejak kecil untuk tidak banyak tanya. Salah satu hambatan terbesar anak dalam perkembangan berpikir kritis, adalah respons negatif dari lingkungannya. Fenomena umum di lingkungan kita, ketika anak banyak bertanya, maka orang tua bereaksi dengan amarah, apalagi jika terjadi di tempat umum, bisa-bisa mulutnya ditutup dengan tangan, atau disumpal benda lain. Anak cenderung akan menanyakan apa pun dilihatnya, atau terlintas di kepala mereka, dan pertanyaannya, berkembang dari pertanyaan sebelumnya. Respons negatif orang tua terhadap pertanyaan anak, tanpa sadar membentuk persepsi anak, bahwa banyak bertanya itu tidak baik. 

Bertanya, memicu keaktifan siswa. Dalam upaya memancing pertanyaan dari siswa, guru bisa memulai melempar pertanyaan terlebih dulu. Memberikan kesempatan kepada siswa mengamati suatu informasi, mendorong ia mengemukakan pendapatnya. Secara tidak langsung, membangun suasana kelas menjadi tidak konvensional.

Guru, jika paham bahwa mengajar tidak sekadar menggugurkan tanggung jawab, mengisi jam di kelas, akan berupaya memastikan, topik pembelajarannya, mampu dipahami oleh siswa. Salah satu jalan, memastikan tingkat pemahaman siswa ialah, lewat bertanya. Sehingga guru kadang kala memberi jeda, tiap poin-poin penting dari materi pembelajaran, sembari menanyakan apakah siswa mengerti tentang materi tersebut atau belum.

Tak kalah penting bagi guru, menyampaikan informasi atau materi, lewat desain kontekstual. Desain kontekstual, memungkinkan siswa lebih dapat menangkap isi pembelajaran, lantaran tiap materi diberi gambaran, atau diselingi contoh yang dekat dengan mereka, atau pernah mereka lihat dan lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, kendati tak terhindarkan penggunaan kalimat rumit, memungkinkan siswa tetap dapat memahami pesan pembelajaran, dan tidak sekadar lalu lalang di telinganya.    

Saya pernah mendengar sebuah kalimat, bahwa sekolah adalah kehidupan itu sendiri. Itu berarti, pendidikan terjadi sepanjang hayat manusia, tidak hanya di sekolah formal. Sepulang sekolah, tugas guru diambil alih kembali oleh keluarga, khususnya orang tua siswa. Persis ungkapan Ki Hadjar Dewantara, bahwa ”setiap rumah menjadi sekolah.” Sebab di rumahlah, dasar-dasar pendidikan itu ditanamkan pada anak. Interaksi orang tua dan anak, dan perlakuannya, sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian, mental, dan kecerdasan anak. Olehnya penting memberi perhatian, berkaitan antara peran guru di sekolah, dan orang tua di rumah.

Kredit gambar: Wiloka Workshop




Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *