Ruang Alonica II

Jumat siang, awan tebal di langit sepertinya akan menumpahkan sejuta butir air. Saya bergegas melaju, ke tempat yang sudah lama saya rencanakan, rindu menyeruput kopi gula aren yang lezat di sebuah cafe bernama Alonica. Serta beberapa menu lain yang juga tak kalah lezatnya, sila merasakan sensasi itu. Cukup recommended untuk dinikmati. Ditambah juga sisi ruangan yang adem, memberikan kenyamanan tersendiri.

Namanya Andien, sapaan keakraban yang kemudian merambah menjadi kekuatan. Usianya 21 tahun, memberi nuansa sebagai gen Z atau apalah istilahnya. Untuk tidak gegabah dan ikut deretan sindrom “Fomo dan Yolo”, ketika kecenderungan generasi kita berpotensi pada dua sisi istilah di atas. Sebagai generasi merasa ingin update, tak hendak ketinggalan mengeksplor apa saja di dinding medsos, diistilahkan sebagai FOMO (Fear of Missing Out). Penuh kekalutan dan keraguan, semua rumit, merasa resah penuh keluh.

Seiring perkembangan zaman, bahasa gaul berkembang sangat luas di kalangan anak muda. Perkembangan ini ditandai dengan munculnya istilah kiasan dengan arti tertentu. Beberapa di antaranya diambil dari bahasa Inggris, seperti yang beken belakangan, yakni FOMO, YOLO, dan FOPO.

Hamparan karakter memenuhi setiap peradaban manusia. Terutama sekarang generasi lebih memberi reaksi mengikuti arus gelombang zaman. FOMO biasanya memiliki rasa cemas dan takut yang muncul di dalam diri seseorang akibat ketertinggalannya terhadap segala sesuatu yang baru. Sementara YOLO (You Only Live Once) mendorong seseorang untuk menikmati hidup tanpa memikirkan pendapat orang lain. Namun, apabila YOLO diterapkan secara berlebihan juga dapat memberikan dampak negatif. Hal ini dikarenakan penerapan YOLO secara berlebihan mengindikasikan seseorang tidak memiliki kontrol atas apa-apa saja yang memang perlu diperhatikan dan diperjuangkan dalam hidup.

Sesuatu baru yang dimaksud bisa berupa berita, tren, aktivitas, dan kegiatan lainnya. Lalu bagaimana dengan FOPO? Sedepah jarak zamannya seorang Andien mengurainya. FOPO (Fear of Other People’s Opinion) ini biasanya digunakan untuk menjelaskan kondisi seseorang yang merasa ketakutan terhadap apa yang orang lain pikirkan ketika ia mengatakan atau melakukan sesuatu.

Dikutip dari Decoholic.org, meskipun jika dilihat perasaan takut ini terkesan familiar dan normal-normal saja, tapi  hal ini dapat menimbulkan efek yang merugikan bagi kebanyakan orang. Bayangkan betapa sulitnya hidup Anda, jika Anda terlalu menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu hanya karena takut dengan apa yang orang lain pikirkan tentang Anda. Ini juga akan membatasi dunia Anda pada gagasan orang lain tentang apa yang seharusnya dilakukan.

Begitulah adanya, sebagai istilah di era sekarang. Itu juga pilihan. Sebagaimana Andien sebagai owner Alonica–yang sebelumnya saya sudah tuliskan pula saat grend opening-nya.

Di ruang dan pertemuan kedua sore itu, percakapan memenuhi sebuah ekspestasi sebagai generasi yang usianya masih dianggap masih seputik, namun mampu memantik orang-orang dewasa untuk tahu bagaimana seorang Andien berjuang, menenun kecakapan hidup (life skill) yang digelutinya secara puriti (telaten).

Saya terbawa suasana, percakapan yang penuh gurah bagi saya. Menemukan pengetahuan baru, ilmu dan bagaimana disiplin diri, etos, dan budaya kerja serta totalitas, meski segala dinamika menghujam. Andien menjadikannya sebagai penguat dan sugesti untuk menenunnya menjadi permadani menuju kesuksesan terhampar. “Sukses bukan karena besar di belakang nama, tapi jadilah diri sendiri, dan temukan passion atau talenta, serta potensi, kualitas yang kau miliki,” Andien menguatkan kalimat, bagai mantra untuk bertahan menjalani dengan segala konsekeunsi. “Bukankah hidup adalah pilihan?” Lanjut Andien sambil menancapkan dan menetapkan mimpinya.

Ketegasan itu harus ada, sebagai leader harus tahu menempatkan, bukan asal perintah saja, Andien melanjutkan. Membangun komunikasi kepada karyawan, meluangkan waktu menjadi pendengar setia. Menemukan solusi sebuah masalah, memecahkannya bersama. Adaptasi itu yang jarang dimiliki beberapa pemimpin sebuah perusahaan, atau dalam beberapa kelompok dan menunjukkan bagaimana pemimpin lebih dari sekadar memainkan telunjuk.

Tapi bagaimana merujuk agar karyawan tidak suka merajuk (keluar tanpa sebab). “Apa yang menjadi kisah serta pengalaman, tanpa menumbuhkan kecakapan hidup, kalau hanya bergulat oleh pola pikir itu-itu saja, membawa mental dengan selalu merasa tidak mampu dan tidak kuat. Maka dari sini Andien berjuang untuk menjadikannya sebuah kekautan bernama “etos”. Budaya baru di suasana dan zaman yang membutuhkan skil mumpuni, bukan hanya cerdas dalam satu hal, butuh fokus saja! Dan bagaimana kelak bisa menempuh jalan hidup, memetik buah kesuksesan sebagai generasi yang punya prestasi. Bukan generasi sekadar gengsi dan prestise.

Kemampuan itu harus diasah dengan bekal untuk diri sendiri. Di sini, tegas Andien, dengan kemampuan ilmu komunikasinya, menghamparkan sebuah peluang, belajar, berjuang dan beradaptasi. Tidak hanya mengejar sensasi. Tapi menjadi manusia berkualitas itu ia tanamkan kepada mereka yang bergelut di antara penyedia, pengantar dan pelayanan butuh skil yang harus ditegaskannya.

Dikutip dari sebuah laman, kecenderungan kita sering abai, kata Andien. Mudah menyerah, mengalah, lalu merajuk hanya karena titik zona yang simpel, lempeng, dan biasa saja. Sementara pada sisi lain para gen Z, milenial, merasa diri sebagai agen generasi ke depan yang mesti visioner.

Sementara generasi saya, perempuan bernama lengkap Andien Juliana ini melanjutkan bahwa generasinya masih terjebak tiga istilah tadi. Sementara selain ketiga itu, ada istilah bernama YONO (You Only Need One). Gaya hidup yang menjadi antitesis dari YOLO, yang populer beberapa tahun belakangan ini.

Secara harfiah, berdasar kepanjangannya, arti YONO adalah “Anda hanya butuh satu”. Di balik arti harfiah ini, YONO memiliki makna mendalam yang berkaitan dengan gaya hidup. Sesuai kebutuhan, tetapi punya integritas, kualitas hidup.

Saya bagai memasuki ruang waktu melengkapi usia dan masa aktif istilah yang kian bertambah dan butuh penerjemah. Andien menabalkan kembali, bahwa kerumitan kita masih pada pola pikir. Saya makin menikmati, sembari menyeruput kopi gula aren yang maknyus itu.

Proses adalah cara karakter manusia dibentuk, baik secara mental, kualitas hidup, hingga kecaman atau masalah yang dihadapi. Jika tak berproses dan tertempa, bagaimana bisa mampu menempuh jarak, seiring perkembangan zaman. Wow. Andien mematangkan pilihan dan cara dia mengambil risiko pilihan hidupnya.

Petang merambat, hidup tertera di sorot mata dan gerak zamannya. Andien berusaha keluar pada zona dan identitas yang melekat padanya. Tidak sama dengan anak lain. Usianya masih mudah, namun pikiran serta cara manganalogikan kehidupan, pengetahuan melampaui usianya. Saya bukan memuji hanya sekadar kedekatan semata. Tetapi benar adanya Andien menata dengan data yang valid untuk bisa seiring akal, naluri, dan mimpinya bisa tergapai. Bukan sekadar teori, atau di tengah kumpulan materi. Tetapi bagaimana materi itu bisa hadir dengan menanamkan diri, sebagai manusia yang punya nilai, arti, kecapakan mencakup kreativitas. Buat apa pula pembekalan, pelatihan jika hanya seremoni saja? Tidak memetik, mengambil sebagai proses awal menemukan citra diri, mengasah, selanjutnya meng-update diri di dunia yang penuh sayembara dan perkara hidup.

Maka jalani, hadapi, tidak untuk diratapi. Sore beranjak, anak generasi Z ini cukup tanak bagai mencari di setumpuk jerami, dia urai, tanpa harus membakarnya. Manusiawi, ia sadar. Bahwa tegas dan keras itu beda tipis. Tergantung bagaimana interpretasi orang dan mereka saat bertindak, sebagai tujuan mengajak pada sebuah etos, budaya yang berkarya, bukan sekadar bergaya sebagaimana kebanyakan generasi saat ini. Bukan seperti pungguk merindukan bulan, duduk termenung, meresapi saja.

Rasanya saya semakin betah, tetapi saya urungkan, agar segera beranjak. Biar titik pertemuan bisa terjebak dan tidak membuat titik jenuh dan jengah orang-orang sekitar sedari tadi memerhatikan, ada yang di sudut meja sembari memainkan HP, tapi saya yakin dia menyimak percakapan kami yang cukup lama dan penuh gurah. Tetiba saya merasakan sesuatu agar tidak menyerah pada satu titik. Tetap fokus, meniti hidup yang dipenuhi hari-hari saya di dunia fantasi semata.

Andien, sebenarnya secara tidak langsung kau telah menggugatku untuk segera berlari melaju. Saya sadar bahwa usia tidak harus angka, tapi lebih jauh dalam kematangan berpikir serta bertindak, bahkan untuk belajar dan terinspirasi. Andien sebagai salah satu dari generasi yang bisa menjadi tolak ukur dan tonggak generasi meraih espektasi serta prestasi.

Saya kemudian pamit, segera beranjak, di tengah senja terbenam. Membawa pustaka Andien pulang ke rak-rak pengetahuan yang berjejer di kumpulan kisah dan orang-orang penuh gurah, sekian adaptasi dan serial kehidupan saya selama ini, melengkapi gagap, dahagaku sekian babak, yang seketika hampir babak belur oleh zaman dan kemanusiaan yang kehilangan identitas. Lalu terjebak simbol di ujung aspal tempat mukimku, rung lingkup yang melengkapi mentalitas dengan standar kualitas.


Comments

2 responses to “Ruang Alonica II”

  1. Andayani Avatar

    Mantap tulisannya kak. Semoga sukses dengan karya2nya kak

    1. Dion Syaif Saen Avatar
      Dion Syaif Saen

      Makasih Kakak berkenannya.

Leave a Reply to Dion Syaif Saen Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *