Sangat sering kita dengar, bahwa seseorang menderita penyakit karena keturunan. Si A menderita penyakit diabetes karena ibu dan kakeknya diabetes. Si B menderita hypertensi karena orang tuanya juga hipertensi. Si C yang menderita kanker, karena juga ada keluarga yang lain menderita kanker. Hal ini sudah sangat menguat dalam sistem kesehatan kita. Bahkan, salah satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh dokter, “Adakah keluarganya yang juga sakit seperti ini?”
Pernyataan penyakit keturunan akan memberikan efek psikis pada si penderita dan juga bagi keluarga penderita. Mengapa? Karena si penderita akan merasa was-was, kalau nanti keturunannya juga akan menderita penyakit yang sama. Begitu pun keturunan dari si penderita akan terhantui, dan pada akhirnya menjadi cemas dengan pernyataan tersebut, bahwa penyakit yang diderita ibunya akan menurun padanya.
Saya sendiri sebagai terapis sangat sering mendapati kasus seperti ini. Pasien mengatakan, bahwa dia memang keturunan penyakit A, penyakit B atau penyakit tertentu lainnya. Dengan sangat meyakinkan, dia menguraikan, bahwa saudaranya, ibunya, bapaknya, kakek dan neneknya , sampai kakek buyutnya memiliki riwayat penyakit yang sama.
Biasanya, kalau sudah seperti itu, maka semangat untuk sembuh menjadi tidak maksimal, sebab sudah ada “penjara” di pikirannya, bahwa saya ada keturunan penyakit tertentu. Ibaratnya, kalah sebelum berperang. Dan, pada gilirannya akan terus menghantui pikirannya dan akan sangat berpengaruh pada kehidupan kesehatannya. Bukankah 90% penyakit disebabkan oleh psikis.
Sebagai terapis, saya sangat senang mendiskusikannya kepada pasien. Beberapa pernyataan yang sering saya lontarkan, kalau memang penyakit yang diderita adalah karena keturunan, maka semua anak dan cucunya seharusnya menderita penyakit yang sama.
Begitu juga kalau ditelusuri ke atas, maka, seharusnya bapak/Ibu, paman/tante, kakek/nenek lebih ke atas lagi, juga seharusnya menderita penyakit yang sama. Tapi kenyataanya tidak bukan? Hanya beberapa orang saja yang mungkin menderita, dan kalau diprosentasikan, maka prosentasenya sangat rendah.
Lalu bagaimana sebetulnya? Izinkan saya berpendapat. Bukankah, sekarang kita sudah berada pada alam demokrasi? Di mana setiap orang bisa mengutarakan pendapatnya. Iya toh?
Bagi saya, penyakit yang disebut keturunan, bukan diturunkan karena persoalan genetika, ataupun DNA, tetapi lebih kepada “kesamaan” yang terkait dengan:
A. Pola makan
Saya pernah menemukan sebuah keluarga yang hampir semuanya menderita penyakit diabetes. Untuk lebih detailnya, saya buatkan ilustrasi seperti ini. Seorang suami menderita penyakit diabetes. Istrinya pun demikian. Setelah ditelusuri, ibu dari sang suami ternyata juga diabetes. Dan, bapak dari sang istri juga diabetes. Setelah ditelusuri lebih dalam, ternyata, pola makan dari makanan yang mengandung karbohidrat tinggi itu dikonsumsi berlebihan. Baik dari ibu sang suami, maupun dari bapak sang istri. Sehingga, dari sisi selera, mereka sama dan mereka pun menikmati kesamaannya.
Karena suami dan istri ini memiliki selera yang sama, maka menu pilihannya itulah yang dijadikan menu untuk keluarganya. Akhirnya, menu tersebut juga diperkenalkan kepada anak-anaknya. Karena pengenalan makanan bermula dari rumah, maka sang anak pun doyan dengan selera kedua orangtuanya. Dan, tidak menutup kemungkinan, sang anak ini akan mewariskan pola makannya kepada anaknya nanti, dan begitulah seterusnya. Akibatnya, tanpa disadari , mereka ada kesamaan penyakit, setidaknya potensi penyakit yang sama, yang bermula dari kesamaan pola makan.
Pola makan yang dominan karbohidrat tinggi, dengan jumlah yang berlebihan dan tidak disertai dengan nutrisi yang seimbang. Buah dan sayuran tidak menjadi pilihan, melainkan hanya nasi dan lauknya. Yang penting kenyang. Dari sini, tampak jelas, bahwa bukan penyakitnya yang diturunkan, melainkan pola makannya yang diwariskan, dan dengan kesamaan pola makan tersebut akan berujung pada penyakit yang sama. Ilustrasi ini juga bisa untuk penyakit kolesterol dan semacamnya.
B. Pola gerak
Pola gerak yang saya maksud di sini adalah olahraga. Orang tua yang tidak menjadikan olahraga menjadi salah satu gaya hidupnya, maka ini pula yang akan ditiru oleh sang anak. Anak cenderung mencontoh perilaku dari kehidupan orang tua. Ilustrasinya seperti pada ilustrasi pola makan di atas. Sementara ada beberapa penyakit yang dipicu karena kurang berolahraga. Sehingga wajar kalau penyakit yang diderita juga sama.
C. Pola tidur
Sebuah keluarga yang tidak disiplin dalam hal waktu tidur, lebih tepatnya sering begadang, maka ini pun yang akan menjadi tradisi di keluarga tersebut. Padahal, ada banyak penyakit yang dipicu karena sering begadang. Kebiasaan yang sama, akan memiliki dampak yang sama.
D. Pola hidup
Pola hidup secara sederhana dapat dilihat pada spiritual, pikiran, dan emosi seseorang. Saya pernah menemukan sebuah keluarga, yang memiliki penyakit yang sama, yaitu hipertensi. Hipertensi dalam sudut pandang kesehatan holistik disebabkan karena sering marah, apalagi marah-marah. Saya mencoba mengamati kehidupan mereka. Ternyata, marah sudah menjadi hal yang biasa. Termasuk marah-marah. Bahkan kecenderungan untuk bersilat-lidah, berdebat dan berujung pada pertengkaran adalah hal yang lumrah di keluarga tersebut. Justru, ketenangan dan kedamaian menjadi sesuatu yang sangat asing. Emosi negatif sangatlah dominan. Wajar toh, kalau mereka memiliki kesamaan penyakit, sebab emosi mereka sama.
Begitu pun saya pernah menemukan anak yang stres. Ternyata, itu semua bermula dari beban sang anak melihat kedua orang tuanya yang juga stres. Semakin lama anak terbebani, maka anak pun ikutan menjadi stres. Setelah saya telusuri, kakek dan neneknya, baik-baik saja. Tidak stres seperti anaknya (orang tua sang ana). Eh iya, sang anak ini punya saudara yang lain, tapi tidak tinggal serumah dengannya. Saudaranya ini tidak stres, karena tidak menyaksikan stres kedua orang tuanya.
E. Pengaruh alam bawah sadar
Berdasarkan penelitian, 90% perilaku dan pernyataan kita dipengaruhi oleh alam bawah sadar. Bahkan, ada ilmuwan yang menyebutnya sampai di tingkat 95%. Selebihnya, yang 10% atau yang 5% dipengaruhi oleh pikiran sadar.
Salah satu pintu masuk ke alam bawah sadar adalah repetisi ide. Repetisi ide adalah sebuah pesan, pernyataan ataupun perbuatan yang sangat sering berulang dan berulang. Apatah lagi, jikalau pengulangan tersebut disertai dengan emosi negatif.
Berdasarkan penelitian pula, bahwa seseorang mulai mengalami proses perekaman, yang selanjutnya memengaruhi alam bawah sadar, yaitu saat yang bersangkutan masih dalam kandungan. Seorang ibu yang saat hamil doyan makanan A, maka anaknya pun sangat mungkin doyan makanan A. Begitu pun ibu yang sering marah-marah, maka itu semua juga terekam dengan baik, sehingga wajar kalau anak nantinya juga suka marah-marah.
Saya sungguh berharap, dari uraian di atas, bisa membuka pikiran dan hati kita semua untuk lebih kritis terhadap sebuah pernyataan, bahwa seseorang sakit karena keturunan. Sebab, bisa berakibat fatal, karena akan memengaruhi pikiran dan perasaan.
Bukankah pikiran akan mampu mencipta kenyataan? Seorang anak yang ibunya menderita kanker, dan tersugesti dengan pernyataan, bahwa kanker adalah penyakit keturunan, maka besar kemungkinan, anak tersebut juga akan menderita penyakit kanker. Bukan karena genetika, melainkan karena pengaruh dari kekuatan pikirannya sendiri.
Lalu, bagaimana dengan hasil penelitian yang terlanjur menguat, baik dari aspek GEN maupun DNA, bahwa ada penyakit karena keturuna? Dan sudah bersifat permanen? Don’t worry sahabat holistik. Tidak perlu khawatir. Tetap tenang dan rileks. Ini kabar baiknya. Bahwa, terdapat hasil penelitian, GEN dan DNA tidak bersifat mutlak dan permanen memengaruhi kehidupan seseorang. Hasil penelitiannya menyatakan GEN sangat bisa berubah dengan doa dan senyuman. Sementara DNA sangat bisa berubah dengan pikiran positif dan senyuman. Wow…. keren bukan hasil penelitian ini?
Berdasarkan uraian di atas, saya menolak pernyataan yang cenderung menjadi kebenaran plus kesimpulan, kalau ada penyakit yang diderita karena keturunan. Saya sungguh-sungguh tidak percaya akan hal itu. Bagaimana dengan Anda?
Kredit gambar: Generasi Biologi Indonesia

Seorang terapis. Bergiat di Sekolah dan Terapi Pammase Puang Holistik Center Makassar. Dapat dihubungi pada 085357706699.


Leave a Reply