Menghapus Kenangan Pahit?

“Aku percaya semua orang terlibat dalam hidupku akan mengkhianati. Aku percaya akan hal itu, meski mereka akan menyangkalnya,” Ungkap Mike Tyson. Sebuah pembuka yang menghentak. Saya mencoba mengalir hingga ke hilir, sambil belajar mengukir kembali.

Katanya sekelompok ilmuwan baru-baru ini berhasil menemukan pendekatan baru untuk membantu menghapus kenangan buruk. Bagaimana caranya?
Dalam sebuah eksperimen yang berlangsung selama beberapa hari, para peneliti meminta 37 partisipan untuk mengasosiasikan kata-kata acak dengan gambar-gambar negatif, sebelum mencoba memprogram ulang separuh dari asosiasi tersebut dan “mengganggu” ingatan buruk.

Tetiba satu peristiwa membuat kita terdiam, sampai trauma, kecewa. Beberapa kenangan seperti saat kekasih pergi, terkhianati teman, sanak bahkan karib, tanpa terduga. Kenangan itu menyusup, hadir menghantui.

Menurut beberapa penelitian, ada ingatan bernama ingatan patologis atau yang berhubungan dengan trauma.

Penelitian ini masih dalam tahap awal, dan perlu diingat ini adalah eksperimen laboratorium yang dikontrol dengan ketat, untuk menguatkan, memercayai keakuratan hasil, tapi tidak benar-benar mencerminkan pemikiran dunia nyata dan pembentukan memori.

Berikutnya menghapus data kecewa, kebencian, dendam, cukup menguras secara psikis. Suatu hal mustahil rasanya. Jika terlanjur hal buruk itu pernah kita ciptakan. Letakkan dasar, akar masalah. Gunakan logika dasar. Lalu cerna, tidak harus membuat kebenaran mutlak. Cukup ditelaah saja, sambil menertawakan diri sendiri. Hehe.

Hidup beriringan peristiwa. Dalam pertarungan sengit, pahit nan rumit. Itu tergantung cara kita memilih hidup untuk menyesuaikan saja. Jika ekspestasi dan fantasi hidup penuh keinginan. Maka akan merasakan kerumitan dan kemungkinan bisa tercapai dengan segala daya upaya, seraya berhenti mengeluh jika terbentur dinding, sebab waktu begitu menguasai kita menggelinding, bisa menyisakan kenangan manis dan pahit. Wets.

Tentang perilaku, tindak tanduk, hingga pada selera manusia yang beragam, tidak perlu seragam, cukup lihai dan jeli saja pada setiap kondisi. Ketika kebahagiaan hadir, saat sedih menggugurkan sebulir di kelopak mata. Butuh kamuflase seperti bunglon. Dan kutemukan banyak bersifat klise di antara perangai, tidak tertutu kemungkinan saya, termasuk di dalamnya. Ketika aada situasi memaksa saya harus bersikap seperti bunglon, penyamaran yang samar.

Menghapusnya juga tidak semudah itu. Butuh ketegasan, dan jangan lagi beri tahu apa yang mereka tidak tahu. Hati-hati terlalu percaya, kelak bisa menjadi sumpah serapah. Hadapi, buatlah api unggun dan rayakanlah. Jangan memantik pergumulan, jika akan membuatmu lebih terpuruk. Kalau perlu ciptakan suasana yang mampu dikendalikan. Seketika Umbu hadir mengingatkanku kembali saat bincang tahun kemarin.

Tak elok jika semua kadar sama setiap kenangan, pada dentingan masalah, kata Umbu. Hidup tak selalu kita kira. Semua saling terkait, tarik menarik, tapi butuh trik agar tidak terbawa satu kenangan buruk dan pahit, bukan sekadar mengenang lalu merasa terkenang-kenang meratapinya.

Saya mulai tidak terkendali, saat daya ingat mulai terkuras, saat mendaras mulai juga merasa terbatas dan sering kandas untuk diulas. Ketika emosi memecah kebuntuan. Barulah tersadar kenangan hal buruk, kita tertawakan saja, tidak sesungut meratap minta mereka iba, di tengah tabiat kau harus rela menerima. Hati-hati, kata Umbu menepuk pundakku yang mulai ringkih.

Kenangan tidak harus dihapus. Tidak juga diingat secara berlebihan. Hal indah, pahit, buruk dan baik. Jadilah pengenang yang khidmat. Cara dan sifat yang berpotensi bereaksi, bersensasi, berhalusinasi, berimajinasi, bahkan berfantasi. Selama belum ada hukum mengikat dan menyikat, seperti tatanan hukum yang semakin mabuk sempoyong ini dibuat. Maka berdamailah dengan kenangan pahit, buruk dengan fantasimu sendiri.

Belajar dari peristiwa, jadilah pengisah yang Budiman. Untuk melengkapi lingkup sosial, harmoni di tengah tirani manusia yang masih terlena dengan kenangan. Danu tahu diri. Saat kenangannya dia lintasi menemukan jejaknya yang membuatnya semakin paranoid untuk melanjutkan.

Takut tercederai, terserabut, dari nilai-nilai yang dibangun. Tanpa berharap mahkota, hanya bertitah sedepah saja. Bahwa hidup begitu penuh masalah, jangan mudah terbawa suasana, serta lengah. Keluarlah dari cengkraman “kebajikan” yang rakitan. Danu hanya terdiam lemah.

Bertekad bukan sekadar nyali dan nekat. Umbu membasuhkan sesuatu kepada Danu. Melerai dengan mengingatkan kembali, ke peristiwa awal di mana mereka mulai mengenal, menyeruput kopi di sebuah teras dekat garasi itu. Betapa rindu suasana itu berbagi bersama karib Opick yang penyabar dan santun.

Kenangan indah sampai yang konyol. Coba buat keresahan baru di tengah badai. Dan menggugurkan masalah serumit dan pahit. “Hadapi,” tegas seorang Umbu kala itu.

Watak kita sering dibenturkan oleh keadaan. Sejatinya manusia, mampu menentukan cara menyelesaikannya. Terburuk dan terpuruk cara bangkit untuk lebih menjaga setiap potensi, interaksi yang tidak berlebihan. Tidak harus mengenangnya terlalu jauh. Lemparkan sauh, jauh ke dasar, tambatkan di labuhan. Jeda bukan menyerah. Sebab setelah ini akan kau hadapi badai samudera selanjutnya.

Menerima bukan sebatas cerita, dengan segala karangan, mantra menutupi kesalahan. Butuh ilmu radar membaca alam, membaca diri. Appibaca, appina’na, Nanu kasummang le’ba laloa (meresapi, bukan sekadar mengenang masa lalu).

Ingatan-ingatan itu agak sulit untuk pulih. Maka jangan mudah risau nan risih! Jangan pula terkecoh dari kebanyakan di hadapanmu itu baik, menerima, tetapi di tengah kerumunan, mencacahmu. “Berdamailah dengan dirimu!” Danu menampik. “Itu bohong,” Petong mengintimidasi. Semua klise sahutnya lantang dengan penuh ketegasan. Maklum Petong memiliki kenangan buruk dari beberapa peristiwa manusia dan sirkel tempatnya ditempa dan ditumpahi serapah.

Menilik sebuah laman, ingatan dari kejadian buruk traumatis masa lalu terkadang muncul mendadak mengganggu kondisi psikologis. Reaksi peritraumatis menggambarkan pikiran, emosi, dan perilaku yang dialami seseorang setelah peristiwa. Kondisinya bisa berlanjut, misalnya kepanikan ketika seseorang mengalami ketakutan, kengerian, ketakberdayaan, dan mendadak tak mampu bergerak dalam kondisi tertentu (imobilitas tonik).

Atau mungkin ini sugestinya. Menjadi dogma tak langsung memengaruhi otak dan ingatan. Pernahkah terbesit dalam pikiran kita bahwa seribu kebaikan akan kalah dengan satu keburukan? Nah, bisa jadi ini alasannya?

Tidak selalu seseorang yang mengingat keburukan, atau memori negatif dalam hidupnya lantas dikatakan sebagai orang yang jahat. Faktanya, otak manusia lebih cepat untuk merekam secara detail memori-memori negatif. Bahkan lebih cepat dari memori yang sifatnya netral atau bahagia.

Begitu juga dengan sebuah uraian ini. Petong semakin menyimak! Apa pun kenangan manis yang kamu miliki, jika kamu ingat saat kamu merasakan emosi negatif, maka semua kenangan itu pun akan berubah.

Jadi tidak mengapa jika hal negatif menjadi ingatan, agar bisa menjadi atau mengubah cara kita bersikap, berinteraksi, mengacau, dan meracau pada kasus kenangan pahit dan buruk ini. Sebenarnya kita tidak sedang mengingat sesuatu yang buruk. Namun, hanya mengingat memori baik di waktu yang tidak tepat, sehingga kesannya semua terasa buruk.

.Mengingat emosi negatif bisa menjadi cara untuk melindungi kamu dari peristiwa buruk di masa depan. “Nah ini sesuatu yang menguatkanku,” Petong nyeletuk.

Tidak mudah untuk menghapus, sambut Danu. Kenangan itu selalu hadir di ketiak, di kepala, di sudut mata, di tengah kebahagiaan dan kesedihan. Jika merasa kalah, itu juga bagian dari risalah, menang apatahlagi. Kecewa, ceria, semua akan mengalami fase tersendiri dalam kamus waktu, dan dinamitnya bukan main-main. Hanya saja setiap individu punya tips khusus agar tidak menjadinya bom waktu atau dendam kesumat.

Bagaimana bisa semudah kau menghapus jejak memori dari setiap peristiwa kehidupanmu? Karena tak jauh dia berada, selain eksternal yang paling membuatmu tercekat adalah orang depan hidungmu, sekelilingmu sendiri. Itu butuh waktu, Danu menegaskan. Petong hanya menggumam. Merasakan geram yang dipendam. Atau kali ini tanpa hidangan poteng lame kayu? Hahaha.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *