Tangan Dingin Hansi Flick Meracik Blaugrana

Dunia sepak bola senantiasa penuh teka-teki. Banyak misteri pengiringnya. Terkhusus pemain dan pelatih. Ada pemain bintang, tapi tidak berhasil menjadi pelatih cemerlang. Namun, tidak sedikit pemain bukan bintang, tapi berhasil menjadi pelatih sukses.

Hansi Flick adalah salah seorang pemain, lalu menjadi pelatih. Flick berkebangsaan Jerman, pernah memperkuat beberapa klub Eropa. Dia salah satu nama jajaran pelatih yang pernah berhasil membawa klubnya menjadi treble winner, saat menukangi Bayern Munchen, tahun 2019-2020.

Dalam karier kepelatihannya, pernah dipercayakan menjadi asisten pelatih Jerman, saat diarsiteki Joachim Löw dan menjadi pelatih kepala mendampingi Der Panzer ke Piala Dunia 2022 di Qatar, walaupun harus kandas di penyisihan grup dan berujung pada pemecatan di tahun 2023.

Flick di tahun 80-an, aktif bermain bola bersama beberapa klub bola di Jerman, di antaranya, SV Sandhausen, Bayern Munchen, FC. Koln, dan Victoria Bamental. Kurang lebih 20 tahun mengarungi dunia bola sebagai pemain, dengan berbagai prestasi yang cukup menonjol. Membawa klubnya sebagai juara 4 kali Liga Jerman, 1 kali Liga Super Jerman, dan 1 kali Piala Liga Jerman.

Pemain yang berposisi sebagai gelandang bertahan ini, sangat pandai mengatur ritme permainan bola di masanya. Karier kepelatihan Hansi Flick dimulai ketika masih bermain bersama FC Victoria Bammental, sekaligus sebagai pelatih dan  pensiun sebagai pemain di tahun 2000.

Saat ini, Hansi Flick nama yang dielukan bagi fans Barcelona. Bagaimana tidak, sejak dia mengambil alih kepemimpinan pelatih Barcelona dari Xavi Hernandez di bulan Mei 2024, rentetan kemenangan terus diraih. Terbukti sudah tiga kali memporak-porandakan rival utamanya, King Real Madrid di La Liga skor 2-1, 4-0 dan di Piala Super Spanyol dengan skor 5-2  di Stadion King Abdullah Sport City Arab Saudi.

Meskipun Barcelona harus bermain 10 orang sejak menit 56, akibat pelanggaran yang dilakukan kiper W. Szczseny, tetapi klub Katalan ini bisa mengeksploitasi kelemahan pemain Real Madrid yang dikenal sangat ganas di kancah Eropa.

Bukan itu saja, pelatih berumur 59 tahun itu, juga sukses menggilas mantan klubnya Bayern Munchen di Liga Champions dengan skor 4-1. Padahal saat Bayern Munchen dilatih Flick, mereka berhasil mempecundangi Barcelona dengan skor fantastis 8-2.

Terkini, anak asuh Flick, berhasil comeback dan mempermalukan klub Benfica di kandangnya pada Champion League dengan skor 5-4 , serta mempertahankan posisi Blaugrana di posisi kedua di bawah Liverpool dan Barcelona sudah dipastikan lolos ke babak 16 besar di Champion League.

Kemenangan demi kemenangan terus diraih dan menjadi hal penting yang akan selalu dirindukan bagi  Cules. Pasalnya, sejak berakhirnya era kepelatihan Pep Guardiola yang telah meraih 14 tropi selama menukangi Barcelona, klub ini juga mengakhiri masa keemasannya bahkan tidak mampu lagi menjuarai Liga Champions. Diperparah lagi, sejak musim 2023-2024 klub yang bermarkas di Catalonia Spanyol, puasa gelar di semua kompetisi yang diikutinya.

Pelatih yang dikenal dengan taktik Flicki-Flacka, lambat laun menggantikan gaya Taka Tiki yang menjadi ciri khas Barcelona yang di perkenalkan Pep Guardiola, saat masih menjadi pelatih klub yang pendukungnya tersebar di se antero dunia.

Hal yang paling mendasar, kalau Taka-Tiki lebih banyak umpan pendek dengan penguasaan bola sampai ke mulut gawang, meskipun sudah mendekati garis gawang, tapi jika ada pemain yang lebih berpeluang mencetak gol indah, maka pemain akan mendapatkan suplai bola dengan tujuan mencetak bola “plus”, ada proses yang sangat indah untuk ditonton.

Taktik ini banyak diperankan pemain sejenius  Xavi Hernandez, Andre Iniesta, dan Lionel Messi. Agak berbeda untuk taktik Flicki-Flacka, lebih ke umpan jauh ke pemain depan dengan mengandalkan kekuatan striker atau gelandang yang kuat, untuk berbenturan dengan para bek lawan yang siap menghadang.

Hansi Flick melanjutkan taktik yang sering digunakan saat melatih Bayern Munchen, yang lebih menekankan angresivitas pemain dan  menerapkan filosofi permainan yang mengutamakan penguasaan bola dan serangan cepat. Dengan formasi 4-3-2-1 yang fleksibel, Flick memanfaatkan kecepatan dan kreativitas pemain sayap, seperti Raphinha dan seorang anak 17 tahun, bernama Lamine Yamal, yang diprediksi bisa melanjutkan generasi “Messi” di Barcelona.

Racikan Flick juga di bagian pertahanan yang lebih banyak menerapkan offside trap, sehingga memang membutuhkan kekuatan penuh dari semua lini, karena akan beresiko tinggi, jika lawan bisa lolos dari jebakan offside.

Dengan bek tengah berada di sisi lapangan, di mana bola menandai garis offside, dengan komunikasi yang baik dan tidak ada ruang tersisa di lini tengah, Barcelona telah berhasil menjebak lawannya sebanyak 86 kali dalam posisi offside pada kompetisi di Spanyol. Liga musim ini, Barcelona telah membuat 10 gol lawannya dibatalkan karena offside, dengan sejumlah 14 gol di semua kompetisi.

Kekuatan pasukan Flick banyak menciptakan bola di menit akhir, sehingga muncul kesan biasakan nonton Barcelona hingga menit akhir. Terbukti saat versus Benfica, 22/1/2025 di Liga Chmpions. Barcelona kebobolan banyak gol di babak pertama, sempat tertinggal dengan skor 3-1, bahkan Blaugrana dicetaki sejak menit kedua, tapi Rapinha dan kawan-kawan, mampu membalas di babak kedua dan membalikkan keadaan menjadi skor 4-5. Uniknya, mereka mencetak gol penentu kemenangan di menit akhir tambahan waktu.

Kini Flick dalam tantangan untuk merebut juara La Liga yang berada di posisi ketiga di bawah Real Madrid dan Atletico Madrid dengan selisih 7 poin dari posisi puncak Real Madrid, serta meraih trofi Liga Champions.

Kesempatan untuk meraih gelar juara La Liga masih terbuka lebar, dengan menyisahkan 17 pertandingan. Lagi pula masih akan bertemu Real Madrid di El Clasico dan Barcelona bertindak sebagai tuan rumah.

Apakah flick mampu persembahkan triple atau sextuple tahun ini bagi Blaugrana? Harapan publik Catalan sangat menginginkan tangan dingin Hansi Flick, untuk membawa kembali masa keemasan Barcelona, layak untuk dinantikan. Semoga saja.

Kredit gambar: SportyNews


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *