Pejalan Pelintas Waktu

“Aku fana dalam Tuhanku, dan Tuhan adalah milikku. Jangan mencarinya ke mana-mana. Dia ada di dalam jiwaku. Aku adalah sang raja, namun aku mengakui pada kalian, bahwa seseorang yang menjadi rajaku, yakni Tuhan.” (Maulana Rumi, Rubai 421)

Dunia identik ruang dan waktu, keduanya tak terpisah. Perjalanan waktu tak mengenal akhir perjalanan. Setiap yang ditunggu akan tiba, lalu pergi dan sirna. Siklus waktu tak berhenti sedikit pun. Tak ada pula mampu menghentikan waktu. Tanpa terkecuali, segala di muka bumi mengalami gerak, tinggal menunggu waktu, akan sirna sendirinya.

Dimensi gerak, waktu dan perjalanan, menghiasi keberadaan manusia. Setiap orang membawa waktunya masing-masing. Kebaradaan kita di muka bumi bisa sama, namun perjalanan setiap orang tak bisa disamakan. Pada umumnya, kita memandang waktu adalah hitungan jam, manakala bumi mengililingi matahari. Peristiwa masa lalu, kini dan akan datang, merupakan potongan-potongan waktu.    

Setiap peristiwa pada potongan waktu memiliki makna tersendiri. Setiap orang memiliki pengalamannya masing-masing. Kemampuan memaknai setiap waktu tergantung dari tingkat kesadaran individu. Pada konteks itu, usia seseorang atau identitas lainnya bukan penanda kesadaran diri. Bagi pejalan batin, makna waktu tidak sekadar hitungan jam, namun, jauh melampaui ruang materi dan waktu.

Seorang pejalan batin menjadikan dirinya objek sekaligus subyek kesadaran sejati. Perjalanan batin tidak membutuhkan teman seperjalanan, sebab, diri sendiri adalah perjalanan itu sendiri. Pendeknya, diri adalah perjalanan, kendaraan, jalan dan tujuan itu sendiri. Perjalanan batin tidak pula tergantung oleh peristiwa masa lalu, kini dan akan datang, pasalnya, waktu semacam itu hanyalah permainan mental belaka.

Bagi pejalan batin, memandang waktu berada di luar waktu, artinya seorang pejalan telah melampaui waktu pada umumnya. Pejalan dengan sendirinya menjadi penonton bagi waktu pada umumnya. Mungkin sulit pahami, sebab sang pejalan mimiliki waktunya sendiri yang membebaskannya dari dunia khayal.

Dunia sufistik mengenal istilah anak waktu dan bapak waktu. Dalam literasi sufistik, anak waktu ibarat pejalan yang senantiasa dituntun oleh bapak waktu, selaku guru atau mursyid. Perjalanan tanpa pemandu akan beresiko salah jalan. Perjalanan bersama waktu ini, lamat-lamat, semesta hadir disetiap laku. Manakah diri memandang, segala sesuatu adalah manifestasi-Nya.

Perjalanan manusia yang tak bertepi ini, mengingatkan lagi asal usul penciptaan manusia yang dari awal telah berjalan dari waktu ke waktu. Dulunya, manusia berada dalam alam ruh. Atas kehendak Ilahi, manusia jatuh ke alam materi yang memiliki bentuk, gerak dan waktu. kata Rumi, “Dahulu kita satu, tanpa kepala dan kaki jatuh ke bumi, terpisah satu sama lain.”

Tatkala manusia mukim di alam materi, mulailah kita terbelenggu oleh sifat-sifat materi. Pada mulanya jiwa manusia yang tak terbatas, akhirnya tertawan oleh keindahan materi yang  terbatas. Sejatinya, jiwa yang membutuhkan hal tak terbatas, kenyataannya, saling berhadapan dengan kebutuhan tubuh atau materi yang menginginkan keterbatasan. Keduanya pun saling tarik menarik.

Sesungguhnya, manusia yang tertawan materi telah menyalahi kodratnya sebagai makhluk rohani. Tanpa disadari, seluruh waktu kita, 24 jam disibukkan untuk memenuhi keinginan tubuh, dan hampir tidak ada waktu memenuhi kebutuhan jiwa atau rohani. Apabila keadaan itu berlangsung lama, keadaan jiwa manusia akan mengalami keterasingan. Kehidupannya terasa sunyi, walaupaun secara materi melimpah.

Waktu hidup di dunia terbatas, kehidupan senantiasa berjalan. Saat yang dinanti akan tiba, setelah tiba pun akan pergi. Bagi seorang pejalan, kehidupannya berada dalam kesadaran eksistensi. Bahwa kehidupan hanya penghambaan terhadap Tuhan semata. Berangkat dari kesadaran itu, biasanya seorang pejalan akan menempah diri dengan latihan dan pensucian (tazkiyah dan riyadah). Apabila seseorang telah melakukannya, pelan-pelan dirinya akan lepas dari kemelekatan tubuh dan materi lainnya.

Memutuskan berjalan ke lautan tak bertepi, tak ada lain merupakan panggilan hati seseorang. Seluruhnya akan dikorbankan, sebagai bukti keteguhan jiwanya. Meskipun dalam perjalan ini, tidak diharuskan tergesa-gesa. Berawal dari panggilan hati, seseorang akan memulai perjalanannya, hingga dirinya sirna direnggut semesta.

Setiap pejalan akan menemui takdirnya masing-masing. Tugas pejalan tak ada lain terus berjalan, apa pun hasilnya, seluruhnya atas kehendak Ilahi. Jika merujuk pada tema sufistik, seorang pejalan rohani akan menemukan stasiun-stasiun jiwa yang bakal dilaluinya. Berkat tuntunan mursyid, sang pejalan bakal ditunjukkan jalan yang mesti diarungi.

Jangan dikira jalan yang dijalani akan mudah. Perjalanan tak bertepi itu membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh. Aral melintang akan menghadang. Terus saja berjalan. Melepaskan kemelekatan dengan derita adalah penawar dari segala derita. Bukankah obat derita ada dalam derita. Kata Rumi, “Jika kau menawanku dengan derita, aku suka tertawan dengan derita. Jika penawar deritaku adalah dirimu, alangkah bahagianya berada di puncak derita.”

Apa pun yang dialami seorang pejalan tidak lepas dari cinta Ilahi. Tak ada jalan tanpa cinta. Berkat cinta-Nya, pejalan akan tertawan, lalu fana dalam ketiadaan. Bagi yang  fana telah bebas dari penjara eksistensi, tak ada lagi atas dan bawah, tak ada cepat, jauh, dan lambat, tak ada naik atau turun. Pejalan yang penuh gelora itu, sirna seketika saat kekasihnya telah datang.

Ketika seorang pejalan telah sirna, maka seluruhnya binasa kecuali wajah-Nya. Seluruh perbuatannya dinisbatkan pada Ilahi, dirinya sudah tiadanya. Pada puncaknya, dirinya sadar akan ketiadaan dirinya. Dalam kitab Matsnawi jilid 3, Rumi menuliskan, “Meskipun penyatuan itu adalah baqa dalam keabadian, namun baqa itu diawali dengan kefanaan.”

Dari seluruh makna perjalanan rohani, semata-mata berpucuk pada makrifat, sebagaimana ungkapan masyhur oleh kalangan sufi, dari dulu hingga sekarang “man arafa nafsahu arafa rabbahu.”

Kredit gambar: Istock


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *