Antagonis dan Protagonis Sebuah Lakon

Setiap peristiwa, sebagaimana peran yang dijalankan, sebagai pelengkap cerita. Ada sifat, karakter bagi setiap manusia, ada keluar dari cirinya, ada keduanya ia mainkan.

Melengkapi kurikulum dunia, manusia dan kehidupan setiap saat, setiap masa bahkan detik. Semua merasa benar dan baik menurut lakon “protagonis dan antagonis”. Secara murni dan jujur memerankan. Maka harus totalitas, profesional. Meski kadang masih banyak tidak konsisten dengan perannya.

Pertarungan dua peran, berjalan beriringan di kehidupan nyata, teratur bahkan terstruktur secara tidak langsung. Sama-sama punya gairah, syahwat untuk bertabiat sesuai pilihan dalam memerankan keduanya. Cukup berlatih, mengeksplor kemampuan, menggunakannya sesuai suasana, di mana kita beradaptasi lalu kita bermain “akting” sebagai bentuk penyesuaian. Selanjutnya memilih lakon antara protagonis dan antagonis. Jika perlu, mainkan dua lakon ini.

Hidup tanpa diwarnai, tanpa keburukan, kalau hanya kebaikan semata, itu rasanya hambar. Dengan dinamika hidup sebagai perisai dan prestasi manusia jika mampu menjalani kehidupan dengan segala sangka gau’na tu ma’linoa (tingkah laku manusia), Danu memulai.

Protagonis bersikap manis, antagonis tertuding bengis. Keduanya bagi saya kadang tidak konsisten. “Contohnya seperti Danu,” Petong berusaha membantah. “Maksudnya?” Danu merasa.

Ya, sering kutemukan mood, suasana batin, jiwamu kadang tempramental hendak melawan keadaan. Sambil beradu akting dengan tersenyum di balik kesengsaraan rasa, jiwa yang hendak membuncah dalam pikiran hendak melompat. Tetapi beruntung masih bisa mengimbangi dengan pura-pura. Atau sebaliknya, kau menjadi buruk sebagai pemikir dan penakluk keadaan. “Sering kutemukan tingkahmu yang melonjak-lonjak tampak galak, tetapi mudah lunak bin jinak,” sepertinya Petong menggugat Danu kali ini.

Permainan nama dan peran keduanya menuntut kita untuk menjadi pemeran utama. Seperti protagonis hanya meminjam istilah yang dihubung-hubungkan, diserap sebagaimana arti dan asalnya. Katanya protagonis berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu prōtagōnistḗs. Kata ini merupakan gabungan dari prôtos yang berarti “pertama” dan agōnistḗs yang berarti “aktor, pesaing”. Itu menurut mereka yang selalu menemukan istilah, penggabungan kata dengan rujukan sebagian besar dari Yunani Kuno atau serapan dan saduran dari setiap penjuru bumi ini.

Protagonis adalah tokoh utama dielu-elukan cerita, dalam film, bahkan di kehidupan nyata. Tokoh ini biasanya menjadi pembangun plot dan banyak pujian. Tokoh sentral dan paling banyak muncul, memiliki tujuan tertentu, menghadapi banyak persoalan, sebagai karakter yang baik.

Maka dalam sebuah cerita, peristiwa kehidupan manusia, tokoh protagonis ditentang oleh tokoh antagonis. Nah, itu baru seru, melengkapi kehidupan ini. Sisi baik dan buruk, dua sering bersama melengkapi dinamika kehidupan manusia sejak Adam ditakdirkan manusia, hingga sampai sekarang kedua peran itu bagai sejoli menghiasi kehidupan kita.

Melengkapi istilah, antagonis berasal dari dua kata anti- yang berarti melawan dan agonizesthai yang berarti “bersaing untuk mendapatkan hadiah.”

Antagonis adalah tokoh yang berlawanan dengan protagonis. Tokoh antagonis biasanya digambarkan sebagai tokoh yang jahat atau buruk, dan menjadi sumber masalah dalam cerita. Padahal protoganis juga sering mengalami kebablasan dalam bertindak, bersikap, mengambil keputusan. Seperti kebanyakan sering kutemui. Dan juga termasuk saya sering mengalami pertikaian dua peran. Petong cengengesan, riang gembira mendengar pengakuan Danu. Sambil mengangkat kedua jempolnya ke arah Danu. “Salut atas kejujuranmu!” Gumam Petong merasa terharu terhadap Danu.

Kadang juga terbalik, yang dianggap perannya antagonis, ternyata sikapnya jauh melebihi dari protoganis, terlihat kalem, mampu menyelesaikan konflik, mengimplementasikan sifat baik. Danu menyimak dan menyibak tabirnya sendiri! Sebagaimana Petong yang dituduh sebagai tokoh utama antagonis di masyarakat, terlihat culung bin badung. Namun, mampu mengubah susasana menjadi adem. Saat dinamika hadir, dia hadapi. Tidak sepengecut kaum protagonis.

Tiada bisa melerai. Semua bereaksi sesuai kondisi. Kedua peran tersebut juga masih sering ngawur, keluar jalur, inkonsisten, tendensius terbius ambisius.

Bertindaklah kita seadanya, jangan semau-maunya. Kehidupan, kebahagiaan dan penderitaan hanya kita yang memilih jalan terbaik. Bertahan, atau menyerah, pasrah dan mengalah! Seperti bunga bagaimana dia berjuang untuk merekah dipuja-puji, dijadikan kiasan bait-bait puisi indah, sajak panjang, dan simbol kebajikan, cinta. Toh juga kesengsaraan di ujung sang bayu datang merayu dan membuatnya layu.

Main peran itu penting juga, meski dihiasi sedikit keberpuraan. Lakonilah, tapi jangan lengah dengan mengasah sikap, sifat menjalani sandiwara di atas panggung dunia berikutnya.

Petong mulai belajar menjadi pencerita yang baik. Mengubah secara brutal sifat frontal, yang selama ini melekat sebagai pemeran antagonis menurut orang-orang. Danu terlontar jauh ke masa di mana dia begitu terbuka, kini perlahan menutup, menutupi kebiasaannya yang merasa baik, berperan secukupnya, menerima semua, adaptasi dan interaksinya yang tidak terbatasi selama ini. Kini mulai mengubah aktingnya. Sekian lama menyaksikan dua sandiwara karakter itu berlangsung. Tabiatnya Danu memaksakan diri terlihat baik-baik saja. Hem.

Suatu ketika dia terbaring, hendak menghapus jejak kantuknya yang memaksanya harus menaruh cafein dilambungnya. Agar bertahan saat terlelap dia tidak lagi merasakan terusik oleh suasana protoganisnya. Berharap mimpinya singkat, jelas padat dengan alamatnya. Hem. Ada-ada saja si Danu ini. Gumam Petong.

Hidup itu sesungguhnya berulang dengan kejadian, walau tidak mirip, tetapi peristiwa, jiwa dan karakternya sama. Hanya ruang waktu saja bisa menyusuri dan memberinya interpretasi. Kalau hanya sebatas kemungkinan, prediksi dibumbui narasi hanya menjadi dongeng yang membuat kita cengeng dan cemen. Hem.


Sepertinya Danu mulai merancang teori pikiran bolak-balik. Petong masih menyimak pula sambil menikmati poteng lame kayu, saat matahari mulai menggugurkan prakiraan cuaca yang katanya hari ini berawan dan berpotensi hujan sekian persen. Tapi mendung yang gerah.

Sementara kehidupan dan kemanusiaan sekarang sedang mengalami parade pertunjukan, kebajikan diadu, kebahagiaan dibuat-buat seiring kesengsaraan yang dipaksa agar kemanusiaan tergugah.

Kita sejenak ke Habil dan Khabil. Awal manusia dengan dua sifatia ini yang berujung petaka bagi Adam yang kemudian meredam gejolak dan tuntutannya kepada Tuhan. Lalu dia pasrah menjadi manusia petualang pertama di muka bumi ini.

Musa Dan Fir’aun dua tokoh peran yang bertaruh dua istilah itu pula. Sebagaimana diterjemahkan di kehidupan sekarang ini seperti Abu Nawas dan Harun Ar-Rasyid hidup pada abad ke-8 Masehi di kota Baghdad. Abu Nawas dikenal sebagai penyair sufi yang humoris dan sering membuat Khalifah Harun Ar-Rasyid tersenyum. Yang melegenda, walau kadang ceritanya masih banyak dikonyol-konyolkan.

Hingga pada dua insan cinta yang katanya sejati Rama dan Rahwana. Keduanya bertarung hanya karena seseorang yang bertitel Dewi bernama Sinta. Kedua lakon antara yang baik dan buruk. Rama sebagai tokoh protagonis. Sedangkan Rahwana disematkan tokoh antagonis yang sadis. Toh keduanya bertikai pada hal baik yakni bertaruh atas nama cinta yang hakiki. Wets. Petong nyeletuk. Kantuk saya hilang seketika mendengar pengandaian satu ini. Danu melirik ke meja, tersisa dua poteng, yang lainnya telah dilahap sama Petong.

Danu menjeda penjelasannya, menuju meja lalu membiarkan Petong menyaksikan Danu menikmati dua poteng yang tersisa. Saling melirik keduanya. Dan melepaskan tawa terdengar di tetangga dan sampai ke ujung lorong kampung kumuh. Kehilangan dari peta bumi.

Poteng telah ludes. Sebagaimana peran-peran manusia makin tergugat dan digusur, saling menggugurkan, menggasak. Pertarungan belah bambu, persaingan belah ketupat. Siapa cepat dia dapat. Protagonis dan antagonis hanyalah istilah.

Bermainlah dengan sesuka hatimu. Jangan sungkan mengakui kesalahan. Runtut dan runutlah, walau tidak secara urut setiap peran-peran yang pernah kita jalani di kehidupan ini. Tetapi kita masih main pura-pura dan masih suka main tipu.

Selebihnya sila memilih peran. Tetapi jangan paling merasa. Pelan-pelan saja, santai menjalani, menanggapi, mengimplementasi lalu menjadi reaksi dalam perangai dengan tungkai-tungkai yang sering lalai. Hati-hati saja, kata Danu kepada Petong yang semakin belepotan sehabis melahap Poteng.

Asahlah pedang kedirianmu, ajaklah suasana jiwa pikiran meski dilanda krisis kemanusiaan yang terbegal oleh peran-peran keduanya. Tiada yang murni, semua sama-sama berpotensi baik dan jahat. Tetapi menurut defenisi keduanya berbeda, telah lengkap dan dilingkupi alasan, sebab akibat antara asal di mana protagonis dan antagonis ternamai disematkan oleh mereka. Petong protes. Terdorong gairah keingintahuannya yang semakin menanjak. Tetapi syukur tidak melonjak untuk saat ini. Beda dengan perawakan lain yang pernah hadir menjadi pemeran yang santun dan baik. Tetiba mengubah arah perilakunya menjadi sesuatu yang membuat saya terkecoh.

Bagaimana peran protoganis dan antagonis itu berjalan dinamis? Sederhana saja, saya buat statis saja. Agar tidak mudah dikikis oleh sinopsis yang tertulis dan dirilis. Agar tidak terperangkap psikis. Hendak naturalis, namun apa daya dalam realitas kemanusiaan semuanya terbaca dalam data semu. Kalaulah ada, hanya segelintir yang bertahan menekuni perannya.

Hidup itu antara fenomena dan nomena. Bersikap dan bertindak butuh kelihaian tersendiri. Sebab Kau kejar semakin kau dihajar. Kau diam, maka juga semakin dihantam dan dibungkam.

Kredit gambar: Jorm Sangsorn/Shutterstock


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *