Ketika Lengan dan Tangan Bermasalah

Di kala sedang duduk santai sambil ngopi, tiba-tiba ponselku berdering. Awalnya, saya tidak langsung meresponnya, sebab lagi menikmati kopi pahit yang dibuat oleh “baristaku” yang manis.

Bahkan saat itu, saya cenderung membiarkan, sebab saya menikmati lagu yang berasal dari nada dering ponselku. Lagu yang senantiasa memberikan support menjalani kehidupanku. Lagu yang membuatku untuk selalu tersenyum. Bagi saya, syair lagu ini luar biasa. Penasaran?Yah… lagu yang kumaksud adalah lagu dari grup musik Dewa 19 berjudul, “Hadapi dengan Senyuman”.

Setelah melihat nama penelpon, saya langsung tersenyum. Ternyata dari si Fulan. Ada info apa ya? Padahal beberapa hari lalu, saya juga berkomunikasi dengannya melalui telepon. Telepon menjadi media komunikasi kami, sebab butuh banyak hal jikalau harus bertemu secara langsung. Saya sengaja menunda untuk menjawab, di samping  karena lagu hadapi dengan senyuman tadi, juga karena saya sudah tahu siapa yang menelepon, dan saya bisa menelponnya kembali. Selain itu, saya juga mau dikesani sebagai orang yang super sibuk, sebuah upaya aktualisasi diri, hehehehe …

Panggilan ketiga kalinya, barulah saya menjawabnya . Salamnya langsung kujawab dengan penuh semangat, dengan suara yang powerfull. Ini kulakukan untuk memblokir energi negatifnya yang sering mengeluhkan keadaannya. Hampir setiap saat, ketika Fulan menelepon,  maka informasi yang bersifat keluhanlah yang disampaikan.

Eh iya sahabat holistik, berdasarkan penelitian, orang yang sebaiknya kita hindari untuk berinteraksi lama, adalah orang yang suka mengeluh. Sebab, tanpa disadari, energi kita akan tersedot olehnya, dan di saat  yang sama energi negatifnya akan menular, dan terkadang membuat kita pun ikut mengeluh.

Bukankah hukum energi menegaskan, bahwa energi akan menarik yang sejenis. Tapi, jikalau merasa punya energi positif, maka berinteraksilah, agar energi positif kita bisa memengaruhinya. Masih berdasarkan hasil penelitian,  bahwa orang yang memiliki energi positif, akan mampu memengaruhi sampai 100 orang, bahkan ada yang mengatakan sampai 1000 orang. Luar biasa.

Tidak seperti biasanya, Fulan langsung menyampaikan apa yang dirasakan. Katanya, lengannya sering sakit. Sudah beberapa jenis obat anti sakit dikonsumsinya, tapi hanya mengurangi sakitnya. Karena obat yang diminum tidak memberikan efek maksimal, maka Fulan pun melanjutkan penanganannya dengan disuntik pada lengannya. Tentu saja semuanya atas saran dan petunjuk dari dokter yang menanganinya. Sama seperti obat yang diminum, khasiat suntikan tidak menghilangkan gejala sakit tersebut. Jika dibandingkan dengan obat yang diminum, suntikan ini lebih baik, sebab setelah hampir sebulan baru muncul lagi sakit pada lengannya.

Kondisi seperti itu sudah berbulan-bulan dijalaninya. Ketika disuntik, hilang sakitnya. Tapi setelah sebulan, muncul lagi sakitnya. Sehingga harus bolak-balik rumah sakit untuk disuntik. Dan, dia mulai bosan dan capek untuk selalu disuntik.

Setelah Fulan mengungkapkan semua yang dirasakannya plus penanganannya, saya pun mulai angkat bicara. Seperti biasa, saya mulai dengan konsep pengobatan holistik yang menganut metode causal teraphy. Ini berhubungan dengan hukum sebab akibat. Apa yang dirasakan, sesungguhnya adalah akibat dari sebuah sebab. Sebab sakitnya yang harus ditangani dan diatasi, supaya tidak lagi berulang. Akar masalahnyalah yang harus dicari.

Berdasarkan teori kesehatan holistik, gangguan di lengan itu berhubungan dengan kapasitas dan kemampuan seseorang untuk menjalani kehidupannya. Karena itu, mari kita amati bagaimana Fulan menjalani kehidupannya.

Fulan berusia sudah lebih dari 65 tahun. Tapi karena harus membiayai anaknya yang masih kuliah, sehingga harus tetap bekerja keras dan membanting tulang untuk menutupi kebutuhan kuliah sang anak. Fulan mengeluarkan banyak tenaga untuk menuntaskan pekerjaannya.

Pekerjaannya tergolong berat, karena harus mengangkat yang berat-berat. Fulan sangat bertanggungjawab atas keberlangsungan kuliah anaknya. Nah, disinilah akar masalahnya. Fulan masih merasa mampu untuk bekerja berat, padahal kemampuannya sudah tidak mendukung lagi. Fulan tidak realistis dengan kondisinya yang sudah berumur, dan tidak cocok lagi dengan pekerjaan yang berat seperti itu. Sangat menguat pada dirinya, bahwa masih sangat bisa bekerja berat, sehingga ia enggan untuk mencari pekerjaan lain yang jauh lebih ringan.

Setelah melihat kondisinya dan menghubungkan dengan teori kesehatan holistik terkait lengan di atas, maka saya menyarankan untuk menerima kondisinya. Bahwa harus realistis, tenaganya sudah sangat jauh berbeda dengan sebelumnya. Kemampuannya sudah sangat menurun. Tidak bisa dengan hanya bermodalkan semangat. Melainkan, sekali lagi, harus realistis. Harus menerima kenyataan,  bahwa Fulan yang sekarang, bukan Fulan yang dulu . Alhamdulillah, Fulan bisa menerima penjelasanku.

Selanjutnya, Fulan sudah bisa menerima kenyataanya dan lebih realistis menjalani kehidupannya. Dan supaya tetap produktif,  Fulan sudah berniat untuk mencari pekerjaan yang lebih cocok untuk kapasitas dan kemampuannya. Singkatnya, Fulan sudah sadar diri. Kesadaran atas kapasitas dan kemampuannyalah yang sekaligus mengantarkan pada kesembuhannya. Sudah lama tidak ke dokter. Tidak lagi tergantung dengan obat anti sakit. Sakit di lengannya tak pernah lagi muncul. Allah Swt. sudah menyembuhkannya melalui terapi kesehatan holistik.

Agar lebih jelas, uraian lengan dan tangan, bisa dilihat pada uraian berikut :

A. Lengan

Lengan mempresentasikan kemampuan dan kapasitas seseorang untuk merangkul pengalaman-pengalaman dalam hidupnya. Lengan atas terkait dengan kapasitas,  dan lengan bawah terkait dengan kemampuan. Sementara persendian berhubungan dengan menyimpan emosi-emosi masa lalu.

Lalu bagaimana dengan siku? Siku mempresentasikan fleksibilitas seseorang untuk menerima perubahan-perubahan arah kehidupan. Apakah cukup fleksibel menerima perubahan, atau sangat fokus pada emosi masa lalu yang membuat diam dan berhenti pada satu titik atau satu fase kehidupan? Ini pilihan, dan remotenya dalam genggaman kita.

B. Tangan

Kita mulai dari menjabat tangan yah. Cara seseorang menjabat tangan orang lain akan menunjukkan kondisi internal dalam dirinya. Genggaman tangan  seseorang ketika menjabat tangan orang lain menunjukkan:

1. Genggaman tangan yang ringan, menunjukkan ketakutan akan kehilangan dan merasa ada ketidakpuasan dalam dirinya.

2. Mengenggam  dengan erat , menunjukkan adanya keputusasaan,  kehilangan harapan akan sesuatu hal. Juga sekaligus menunjukkan keinginan mendominasi orang lain.

3. Menggenggam sambil digoyangkan, menunjukkan keterbukaan dan kelapangan hati .

Saya mulai curiga, setelah membaca uraian tentang tangan ini, maka sahabat holistik akan fokus dan memperhatikan genggaman orang lain saat menjabat tangan Anda.

Sekarang, kita lanjutkan pada jari-jari tangan. Adanya gangguan di jari-jari, menunjukkan bahwa kita membutuhkan suasana yang rileks dan membebaskan diri dari segala bentuk ketertekanan yang ada.

Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat dari uraian berikut :

1. Gangguan di jari telunjuk,  menunjukkan adanya kemarahan dan ketakutan akan ego dari diri sendiri.

2. Gangguan di jempol, menunjukkan adanya kekhawatiran dan masalah di mental secara umum.

3. Gangguan di jari tengah terkait dengan seks dan kemarahan

4. Gangguan di jari manis terkait dengan perkawinan atau ikatan lainnya, sekaligus bentuk duka cita atau perasaan kehilangan terhadap seseorang.

5. Gangguan di jari kelingking terkait dengan keluarga dan menganggap dirinya kurang bermanfaat. 

Wow luar biasa. Ternyata, tubuh kita memang sangat cerdas menginformasikan terkait dengan kondisi psikis seseorang. Inilah pesan cinta dari tubuh kita. Eh iya, kenapa tanganku agak keram yah?

Kredit gambar: detikcom


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *