Tidak harus mengumbar resolusi, berharap dipilih para dewa penyaji kemeriahan. Sambil bertamasya, melengkapi acara semalam dengan bakar ikan, bakar kembang api. Hingga membakar kemenyan pada dupa-dupa kemanusiaan yang pelupa. Kemudian hanya mengusik mimpi malam pada detik Januari di tahun 2025, hadir seolah membawa harapan.
Hari dan bulan di setiap peralihan tahun sejak dulu masih begitu-begitu saja. Bersama juga dinamika hidup, pergolakan jiwa, peran-peran manusia di dunia. Masih seperti itu-itu juga. Saya mencoba membubuhi pada narasi ini, tidak seperti biasa. Tanpa perayaan, tanpa caption, ucapan serta beberapa foto-foto terpajang berjubel, atau sederet paragraf tulisan di dinding media sosial, misalkan di Facebook saya hidangkan. Kini telah saya redakan, urungkan agar tidak semua tahu tentang getir, kecewa, rindu, risau sampai pada pucuk-pucuk tahun Masehi yang kemudian mereka hidangkan, seperti kebanyakan melengkapi malamnya pesta kemeriahan.
Merenungi juga tidak, hanya dengan catatan kecil dan segelas kopi mengintip pergantian tahun. Di antara percakapan kami malam itu. Kendati suasana kemeriahan yang berkobar-kobar membakar kembang api menguasai langit malam yang manusia lupa membaca manusia. Tingkah laku budaya yang terjebak budaya itu sendiri. Semua berjalan mulus. Dari Sebotol hingga berkrak-krak. Mabuk sempoyongan. Tapi ada juga menggelar tikar zikir, sampai munajat agar tahun depan lebih berkah dan beda dengan tahun kemarin. Semua melengkapi dan menghiasi pesta malam tepat pukul 24.00 WITA. Seantero dunia seakan meneror langit.
Satu Januari 2025, bukan malam tiga puluh satu Desember 2024. Sempat tak sempat kusiapkan segera kembali mental. Rasa-rasanya bagai maya dan meta membohongi akal sehatku. Budaya kepengecutanku malam satu Januari, bukan malam satu suro yang ramai dimitoskan. Tapi bagi saya itu adalah malam perayaan jiwa, hati dan kepecundangan saya.
Kemudian, saya menyusuri pertautan beberapa isyarat, simbol dan syarat, dari asal mula sebagai ritual perayaan tahun Masehi sejak dimulai tahun 1582 penggunaan Kalender Masehi 1 Januari ditetapkan oleh Paus Gregorius XIII.
Sejak saat itu, dirayakanlah tanggal 1 Januari sebagai perayaan Tahun Baru setiap tahunnya sampai saat ini. Misalnya di Amerika, kebanyakan perayaan dilakukan pada malam sebelum tahun baru yakni 31 Desember. Pada malam itu orang-orang akan pergi ke berbagai acara atau pesta.
Sementara, di New York masyarakat merayakan Tahun Baru dengan berkumpul untuk menonton televisi. Setelahnya, ketika waktu menunjukkan pergantian tahun, lonceng euforia di seperdua malam berbunyi, sirine dinyalakan, dan kembang api diledakkan menyuguhi langit. Nah.
Di Indonesia sendiri, perayaan Tahun Baru Masehi sama seperti New York. Yakni berkumpul di keramaian dan ikut memeriahkan pergantian malam tahun baru dengan petasan dan kembang api.Beda pula tahun baru dirayakan di Jerman, dengan melelehkan sepotong timah di atas lilin. Setelah meleleh sepenuhnya, timah kemudian dituangkan ke dalam wadah berisi air dingin.Timah kemudian akan mengeras dengan berbagai macam bentuk. Konon, bentuk timah yang dihasilkan akan mengungkapkan nasib seseorang di tahun yang akan datang.
Sedangkan saat perayaan tahun baru, masyarakat Spanyol akan memakan 12 buah anggur. Buah tersebut melambangkan setiap detak jam sebelum tahun baru dimulai.Kemudian Meksiko sendiri, memakan 12 buah anggur pada perayaan tahun baru dipercaya dapat membawa kemakmuran dan keberuntungan di tahun baru.
Sementara orang Brazil memiliki tradisi membuat perahu kecil yang diisi hadiah untuk Dewi Lautan bernama Yemanja. Perahu kecil itu kemudian akan dilepaskan di pantai dengan mengucapkan permintaan.Jika perahu itu berlayar dan tidak kembali ke pantai, konon permintaan orang tersebut akan terkabul di tahun baru. Selain itu, orang-orang akan mengenakan pakaian berwarna putih yang dipercaya membawa kedamaian dan getaran positif. Hingga beberapa negara yang memiliki beberapa ragam perayaan di ujung tahun. Kesemuanya punya cara dan ritual masing-masing. Intinya perayaan. Hem.
Tetiba seseorang bertanya apa agenda ke depan. Atau sebuah resolusi? Itu hanya halusinasi. Jawab saya ala kadarnya. Kemudian saya bereaksi mengajak Naura melengkapi rusuk. Sebuah bait dengan judul yang telah kusiapkan sebelum pertemuan malam satu Januari 2025. Ya, Rindu Terlarang oleh Broery Marantika. Kebahagiaan melengkapi walau sesaat. Karib Udhin Nur dengan lagu Pengantin Remaja tembang lawas masa kami SMA dulu dengan penyanyi melankolis, Tommi J. Pisa. Icha dengan Gelas-Gelas Kaca dari Nia Daniati, bergantian mic dengan Nurbaya, tetiba suasana mengubah saat Naura ikut bernyanyi. Saya terpaku dalam pukau, suaranya yang khas, melantunkan Gelas-Gelas Kaca. Meski rada malu, tapi saya berusaha memaksakan melanjutkan hingga akhir lagu. Saya memujinya, iya menatapku lirih atau entah risih yang terdiam dungu.
“Kamu terlalu berlebihan,” Vi mulai kembali memengaruhi. Bertahan untuk tidak merasakan terkoyak-koyak. Saya hanya membenak. Vi beranjak di tengah gemuruh pantai dan angin laut yang memainkan gaunnya. Saya tidak bisa apa-apa, masih berada pada rasa yang saya tanggung sebagai pengecut. Membiarkannya berlalu di ujung labirin malam, tanpa menoleh sekalipun. Saya melirik ke arah Naura mengalihkan kekacauan yang baru saja saya alami.
Angin pantai Seruni di sebuah cafe, dengan ombaknya sedikit menubruk karang, sekaram rinduku yang konyol. Sementara saya masih menikmati malam satu Januari itu, dengan mereka dan meski Naura tidak pernah mau tahu. Atau masih menjaga agar tidak membuat suasana perjamuan bersama karib, apalagi kehadiran seorang teman kelas kita yang jauh dari rantau. Ya, Pakde Muh. Udin Nur yang sudah dua periode terpilih di Desa Babussalam, yang sejarahnya, katanya diambil dari seorang perantau yang sudah sekian lama bermukim, dan seiring pemekaran, maka nama yang berbeda dari desa lain dengan nama Desa Babussaalam. Pakde Udin akhirnya mampu bertarung, memegang to’do pulina mangkasaraka.
Cerita dan suasana bersambut, saya dan Pakde kali ini menikmati tembang Mata Indah Bola Pingpong. Menelisik wacana di bejana waktu. Tertuang, tumpah semuanya di tengah gemuruh dan gelora kemerasaan kami, yang jauh tidak berani mengatakan, dan cara menyajikan kata kekaguman, dan cinta kala itu. Salah sendiri kau membiarkan waktu berlalu. Punya wacana tetapi kau terkurung dan terlihat murung, kau mestinya mengatakan meski kejujuran itu murni di tengah kepalsuan manusia dan dunia. Begitulah kami saling menggugat dan mengingatkan. Lalu melepaskan tawa.
Ini satu Januari 2025! Tahun kemarin hanya kisah, beberapa dekade sekadar episode, parade kehidupan sebagai oase. Vi kembali hadir mengingatkan. Agar saya tidak terbawa dan hanyut di tengah perenungan dan pertarungan akhir tahun serta di awal tahun. Sementara Naura pamit sebelum usai lagu Mardua Holong dengan penuh penghayatan. Berlalu di ujung kerling matanya, dan meninggalkan kenangan, kesenjangan yang tersurat dan telah tercatat, tersemat padanya.
Januari 2025 sebuah hajat yang tertunda, telah terangkum dalam pertikaian dari penantian panjang. Ibaratnya rusuk itu kembali, walau sesaat kemudian lenyap pada senyap yang misteri. Kali ini tanpa anggur, tanpa ritual seperti di sebutkan di atas deretan ritual sebuah negara. Hanya sedekah asa dan rasa.
Seputik percakapan menunggangi keberanianku. Berhenti merasa kau begitu kecil. Kamu adalah alam semesta yang bergembira. Vi mengutip kalimat Rumi. Saat menyaksikan saya hampir tercebur serta ngawur bertaruh pada geliat yang pekat. Biarkan Januari memandumu. Bulan tetap terang ketika tidak menghindari malam. Dalam perjalanan itu tak ada lorong sempit yang lebih sulit dari ini, beruntunglah malam satu Januari 2025 ini ada mereka karib, teman dengan kisah klasik masa puber yang kemudian menjadi luka! Membasuh dan menempatkanmu pada ruang tamasya tersuguh meski riakmu begitu terusik oleh sebuah syarat.
Hari ini, seperti hari lainnya, kita terjaga dengan perasaan hampa dan ketakutan. Benar kata Rumi. Berusaha teguh menekuni, menjalaninya. Ada Januari selanjutnya. Ada kumpulan cerita tertulis meski itu di batu nisan. Kutoleh seingatku saja masa berlaku dan begitu cepat saya halau. Biarkan berlalu. Rekayasa apalagi malam di awal Januari ini? Pesta belum berakhir, tetapi sebagian masih lamat berpikir, lamban menghadapi kenyataan hidup. Perayaan yang meluap melupakan esok pagi dan kemanusiaan yang semakin terkoyak-koyak? Saya melintasi satu episode, perayaan di akhir tahun berkumpul namun terpisah, ramai tetapi sepi. Tertawa membawa luka membekas. Bertema kebersamaan. Tetiba esok pagi bertengkar hanya karena semalam hanya sandiwara.
Satu Januari 2025. Merayu dan membujuk, merangkak tidak harus merasa tegak. Kata optimis terasa miris. Seribu kata motivasi saya jadikan imajinasi saja. Agar tidak terjebak dengan solusi yang terbangun dari ilusi. Sambil mengamini saat Naura menanti tembang Mardua Holong usai saya nyanyikan. Melambaikan tangan tidak seperti biasa. Itu sudah lebih dari cukup, melengkapi rusuk sebagai pelipur sesaat.
Lepas biarkan bahagia itu tidak mampu kau abadikan, apalagi kau ceritakan bahkan kau defenisikan. Pecahkan teka-tekinya. Dari sorot mata, gerak tubuhnya, baca dan bergegaslah meninggalkan peristiwa yang membuatmu terbawa ke rawa-rawa yang kini semua semakin pandai memainkan sandiwara. Hem. Semakin kucegat, semakin pekat dan terpikat. Walau ini cara muslihat yang saya harus gunakan. Menipu diri sendiri dan orang lain, cara jitu menyelesaikan sebuah peristiwa.
Tanpa anggur kali ini, hanya secangkir kopi menumbuk-numbuk pada lubuk. Hendak beranjak mengajak Naura di tengah ke ramaian dan menuju sunyi yang khidmat. Mengatakan betapa alam semesta mengatur walau telah terlambat saat Naura telah tertambat di labuhan.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply to Dion Syaif Saen Cancel reply