Saya mau bernostalgia ke masa lampau, ke zaman ketika saya masih berinteraksi dengan medis. Saat itu, untuk urusan kesehatan, saya sangat bergantung ke medis.
Suatu ketika, ada keluarga yang mengeluhkan telinganya. Katanya sakit, nyut-nyut dan terkadang mendengung. Hal tersebut sangat mengganggu, bahkan terkadang sudah berpengaruh ke pendengarannya. Terkadang butuh suara yang agak lebih besar dari biasanya, barulah ia mendengar apa yang disampaikan kepadanya.
Karena gangguan semakin menguat, maka kamipun bersepakat untuk ke dokter spesialis THT (Telinga Hidung Tenggorokan). Kami tidak ke Puskesmas, sebab untuk kasus seperti itu, biasanya langsung dirujuk ke spesialis THT. Jadi, buang waktu saja. Setelah mengecek jadwal praktek dokter, kami segera berangkat menuju tempat dokter tersebut, yang juga sekaligus tempat dokter berkelompok. Selain spesialis THT, juga ada dokter umum, spesialis anak dan spesialis penyakit dalam. Seperti layaknya tempat praktek dokter berkelompok pada umumnya, di situ pun dilengkapi dengan apotik. Jadi pasien tidak perlu ke tempat lain untuk mengambil obat yang sudah diresepkan oleh dokter.
Kami tidak menunggu lama, sebab pasien hari itu memang tidak terlalu banyak, apatahlagi nomor antrian kami juga nomor rendah, dibawah nomor 5. Tibalah giliran kami untuk masuk ke ruang praktik dokter. Setelah diamati dengan lampu senter yang melekat pada kepala dokter, ia pun berkata, bahwa telinganya ada kotoran dan sudah mengeras, sehingga butuh waktu untuk melunakkannya.
Gangguan lain belum ditemukan, sebab masih terhalang dengan kotoran yang menempel di hampir seluruh lubang telinga. Pemeriksaan selesai, dan kamipun diberikan resep. Kami diberitahu, bahwa selain ada anti nyeri, ada juga obat tetes telinga, lengkap dengan dosis penggunaannya.
Kami diminta untuk kembali datang 3 hari kemudian. Setelah berucap terima kasih kepada dokter yang melayani dengan sangat baik, kami pun meninggalkan ruang periksa, dan langsung menuju apotek untuk mengambil obat yang sudah diresepkan oleh dokter.
Singkat cerita, sampailah di hari yang dijadwalkan untuk kembali ke dokter. Eh iya sahabat holistik, selama mengonsumsi obat tersebut, memang terasa lebih ringan gangguannya. Sakitnya sudah tidak terlalu menguat, begitu pun gangguan lainnya.
Hal tersebut kami laporkan ke dokter spesialis THT yang menangani. Alhamdulillah, setelah diamati, kotorannya sudah melunak, dan itu pertanda sudah bisa dibersihkan. Dipersiapkanlah segala sesuatu yang berhubungan dengan proses pembersihan tersebut.
Alhamdulillah, memang betul bahwa kotorannya sudah melunak, dan ikut keluar bersamaan dengan air yang disemprotkan ke telinga. Proses pembersihan berjalan lancar, karena pasiennya kooperatif, sangat bisa bekerjasama dengan dokter. Setelah bersih, dokter menyimpulkan, tidak ada gangguan lain. Kami sangat bergembira dengan informasi dari dokter, dan kami pulang dengan penuh suka cita.
Beberapa hari kemudian, gangguan itu muncul lagi. Sama dengan yang sebelumnya, bahkan tingkat gangguannya semakin meningkat. Tanpa berpikir panjang, kami kembali menemui dokter, dan setelah diperiksa, tidak ada kelainan pada telinga, semuanya menunjukkan baik-baik saja. Kami pun kembali diberikan resep untuk mengobati gangguannya.
Saya persingkat ceritanya. Hal yang membuat kami bingung saat itu adalah, ketika obatnya diminum, gangguan hilang, tapi kalau tidak diminum, gangguan itu muncul kembali. Saya lupa pastinya, berapa kali kami ke dokter untuk mengomunikasikannya, dan hasilnya sama saja. Akhirnya, dibiarkan saja. Dan, saya juga lupa pastinya, kapan gangguan itu hilang dengan sendirinya.
Eh iya sahabat holistik, kita tinggalkan masa lalu di atas, dan ayo kita sama-sama senyumi masa lalu masing-masing.
Setelah saya menjadi terapis, saya pun mendapati kasus yang sama dari beberapa orang pasien. Kata mereka, sudah berulang kali ke dokter THT, tapi gangguannya tak kunjung usai. Obat diminum, gangguan hilang, berhenti minum, gangguan muncul kembali.
Cerita pasienku, seakan membuka lembaran kisah masa lalu keluarga, yang saya temani bolak-balik dokter THT. Bahkan ada di antara pasien yang berkomentar, dan menduga, jangan sampai ada gangguan nonmedis berupa guna-guna. Eh iya, sebelum saya menekuni kesehatan holistik, saya memang dikesani sebagai terapis nonmedis. Bahkan sebagian orang, masih melabeli saya sebagai terapis penyakit nonmedis. Jadi gelarku S. AG (Spesialis Alam Ghaib).
Kembali ke soal telinga. Pada sistem kesehatan holistik, setiap organ memiliki fungsi masing-masing, termasuk telinga. Telinga tidak hanya berhubungan dengan mendengarkan bunyi / suara, tetapi lebih dari itu. Telinga mempresentasikan kapasitas kita untuk mendengarkan. Jika ada masalah di telinga, maka ini bisa berarti, bahwa ada sesuatu yang sedang tidak mau kita dengar.
Kita cenderung untuk menghindari, dan cenderung lari dari kenyataan. Kita berupaya sekuat tenaga untuk menghindar dan tidak mau mendengar. Dan sakit di telinga mengindikasikan, bahwa apa yang akan kita dengar, akan membuat kita menjadi marah.
Lalu , bagemana terapinya? Sikap MENERIMA apa pun bentuk informasi/pesan/berita adalah solusinya. Sebab, dengan menerima, maka kita akan lebih mudah berdamai dengan kondisinya. Setelah berdamai, maka kita pun akan bisa menjalani kondisi dengan lebih baik. Insyaallah, ketika sudah seperti ini, maka gangguan di telinga juga sudah tidak ada. Dan inilah yang terjadi pada pasien-pasienku. Mereka yang punya gangguan di telinga, sudah disembuhkan oleh Allah Swt. melalui terapi holistik, alhamdulillah.
Mereka semuanya kembali menikmati kehidupannya setelah sekian lama menderita. Jadi, sekali lagi, kuncinya adalah MENERIMA apa pun informasi yang akan kita dengar.
Di akhir tulisan ini, saya kembali ingin bercerita satu kasus gangguan pada telinga. Kalau sebelumnya adalah orang dewasa, kali ini adalah anak-anak. Anak tersebut masih bersekolah di sekolah dasar. Merasa sangat terganggu pada telinganya. Sudah diperiksakan ke dokter THT, semuanya menunjukkan baik-baik saja.
Setelah pemetaan, termasuk setelah saya tanya, apa yang paling dia hindari untuk dia dengar, sang anak pun menjawab,” Ibunya terlalu banyak aturan. Tidak boleh ini…, dan tidak boleh itu… Dia sangat tertekan dengan aturan setiap waktu yang dibuat oleh ibunya.”
Alhamdulillah. Setelah ibunya berubah, tidak lagi banyak aturan, sang anak pun kembali menikmati hidupnya. Gangguan di telinganya menjadi tidak ada lagi. Jadi, bukan anaknya yang diterapi, melainkan ibunya.
Kisah-kisah di atas, memberi pelajaran kepada kita semua, untuk lebih produktif saat berinteraksi dengan orang lain. Sebab, jangan sampai, gangguan yang di derita orang lain bersumber dari kita. Ayo saatnya berubah.
Kredit gambar: Jawa Pos

Seorang terapis. Bergiat di Sekolah dan Terapi Pammase Puang Holistik Center Makassar. Dapat dihubungi pada 085357706699.


Leave a Reply