Menghidu Minda di Selingkung Duta Pelajar-Anak

Berinteraksi dengan pelajar-anak, sungguh punya dinamika tersendiri. Utamanya bagi seorang yang tidak muda lagi usianya. Sebab, mesti lantip dalam memahami dunianya. Bukan mereka yang dipaksa beradaptasi. Mereka laiknya anak panah, lepas dari busurnya buat menantang masa depan. Hanya perlu menarik busur sekuat tenaga.

Bagi saya yang sudah tidak muda lagi, bergaul dengan sekumpulan pelajar-anak, terutama jelang 15 tahun terakhir, serupa cara memudakan diri. Persisnya, meremajakan minda agar senantiasa bugar dalam bergaul dengan mereka. Khususnya yang tergabung dalam komunitas, kelompok, dan organisasi pelajar-anak.

Sebagai misal saja, per 13 Desember 2024, saya diminta oleh penyelenggara ajang Pemilihan Duta Pelajar Butta Toa Tahun 2024, untuk ikut memantik minda sebagai pengantar percakapan. Bertempat di Studio Mal Pelayanan Publik Bantaeng, temanya “Reka Baru dalam Budaya dan Pendidikan”. Item tahapan kompetisi ini bertajuk: Pra Karantina.

Selaku pegiat literasi, pemerhati budaya, pendidikan, dan kaum muda, saya didapuk untuk membumikan maksud dari tema tersebut. Tentu dalam bingkai maksud dan tujuan dari ajang ini, pertama, mengajak dan memberi wawasan kepada pelajar, agar dapat mengasah kemampuannya di luar bidang akademik, khususnya dalam rangka pemilihan duta pelajar.

Kedua, berkaitan semangat kompetisi. Menumbuhkan rasa daya saing antar generasi muda, guna mencapai prestasi gemilang. Ketiga, kecakapan berbagi pengetahuan dalam isu pendidikan di era digital. Keempat, menumbuhkan kapasitas kepemimpinan, sebagai garda terdepan dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan.

Selain memberikan pengantar minda, saya pun diajak kembali untuk menjadi juri bersama juri lainnya, dalam salah satu itemnya: Pra Orasi. Tema yang diajukan, “Pendidikan di Era Digital”. Kami para juri diminta untuk menilai kemampuan speech, public speaking, dan performance. Sebenarnya, masih diajak kembali dalam item: deep interview, tapi bertepatan dengan agenda lain, jadi saya tak sanggup memenuhi tahapan helatan ini.

Ternyata, dari 22 pelajar yang masuk grand final, nyaris saya sudah kenal semua, atau paling tidak mereka telah mengenal saya. Mereka sudah pernah beriteraksi dengan saya di berbagai even sekolah dan komunitas, kelompok, dan organisasi. Hebatnya lagi, persuaan sekotah minda itu, lebih banyak dalam balutan gerakan literasi.

Malam Puncak Pemilihan Duta Pelajar Butta Toa, berlangsung pada Rabu, 25 Desember 2024, bertempat di Balai Kartini Bantaeng. Andi Abubakar, Pj. Bupati Bantaeng, hadir memberikan apresiasi, sebentuk ungkapan motivasi, bahwa sejak saat ini, pelajar sudah harus belajar, bukan hanya di bangku sekolah, tetapi juga pelajaran dari kegiatan ekstrakurikuler, maupun aktivitas di berbagai elemen oreganisasi kemasyarakatan.

Ditegaskan pula oleh Andi Abubakar, Student today, leader tomorrow, merupakan gambaran anak-anakku pada Indonesia Emas 2045 mendatang. Anak-anakku inilah yang akan mengisi Indonesia Emas 2045.  Bukan itu saja, duta pelajar ini merupakan perwakilan pelajar yang terpilih, menjadi penyambung buat promosi Butta Toa. Dan, terpilih sebagai The Winner of Duta Pelajar Butta Toa 2024, berasal dari SMA Negeri 4 (Smapat) Bantaeng: Nandiva Angraeni Brillian.

Usai ajang pemilihan duta pelajar, saya masih terkesimak hingga beberapa waktu. Terbayang wajah-wajah mereka sebagai salah satu kelompok penyangga Indonesia Emas 2045. Berusaha mengingat mereka, sembari bertanya tak berkesudahan, dari mana muasal kemampuan mereka hingga tiba di ajang tersebut.

Dilalah-nya, pada Senin, 30 Desember 2024, saya diundang selaku pemerhati anak, untuk menghadiri Peringatan Hari Anak Tingkat Kabupaten Bantaeng Tahun 2024. Semestinya peringatan ini jatuh pada bulan Juli, tapi karena ada kendala susah terkendali, sehingga baru diperingati pada pucuk tahun 2024.

Hajatan peringatan hari anak itu, dihelat oleh Forum Anak Butta Toa (FABT) Bantaeng. Tatkala saya menyata di arena peringatan, saya bersua kembali dengan beberapa pelajar yang ikut di ajang pemilihan duta pelajar. Puncak peringatan yang dihadiri pula oleh Andi Abubakar selaku Pj. Bupati Bantaeng dan Andi Raodhayanti sebagai Bunda Anak Bantaeng, berpucuk pada pembacaan 11 poin suara anak Bantaeng, dibacakan oleh 3 Duta Anak Bantaeng secara bergiliran.

Sejak menghadiri dua helatan, pemilihan duta pelajar dan peringatan hari anak, rupanya inilah yang menghidu saya menjadi renungan di pucuk tahun. Ingatan saya kembali mengunjungi tahun demi tahun berlalu, lalu tertumbuk pada tahun 2010, persisnya 1 Maret 2010, kala saya mendirikan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan,  satu komuntas literasi di Bantaeng.

Salah satu divisinya mengurus para pelajar. Teramat banyak kisah, saya boleh ajukan sebagai daftar aktivitas yang dilakukan oleh Boetta Ilmoe, guna membangun tradisi literasi di kalangan pelajar. Mulai dari pelatihan kuantum, semacam quantum training: learing, reading, dan writing. Bagaimana belajar menyenangkan, membaca sebagai pengayaan pengetahuan, dan menulis sebagai terapi jiwa, hingga penerbitan buku dan pementasan seni.

Sekitar dua tahun kemudian, sejak berdirinya Boetta Ilmoe, terbentuklah Forum Anak Butta Toa (FABT) Bantaeng. Generasi pertama yang mengurus FABT berasal dari anak-anak Boetta Ilmoe. Saya pun turut mendampingi pertumbuhannya. Hingga, sekira dua tahun berikutnya, saya mendelegasikan semua aktivitas untuk pelajar yang semula dilakukan oleh Boetta Ilmoe, agar digarap oleh FABT.

Jadi, sejak saat itu, kolaborasi aktivitas untuk pelajar-anak, antara Boetta Ilmoe dan FABT terjalin hingga kini. Makanya, meskipun FABT itu sebentuk organisasi yang mewadahi pelajar-anak di bawah naungan Dinas PMD-PPPA Bantaeng, tetapi dalam artikulasi pengorganisasiannya lebih berparas komunitas. Dan, itulah yang menjadi keunikan FABT Bantaeng.

Kiwari, FABT Bantaeng secara struktural sudah sampai ke tingkat desa/kelurahan. Bahkan ada desa sudah pada level dusun. Tak mengherankan, bila persentuhan pertama bagaimana berforum buat pelajar-anak disapa oleh FABT. Apatah lagi, sejak pelajar di SMP sudah mulai tergarap.

Walhasil, kalau saja saya bersua dengan seorang pelajar-anak di ajang pemilihan duta pelajar, itu suatu keniscayaan. Belum lagi dari komunitas-komunitas literasi yang tumbuh di berbagai pelosok Bantaeng, ikut memasok pelajar-anak berkualifikasi punya sentuhan literasi untuk berlomba di berbagai helatan.

Ah, renungan penghujung tahun 2024, saya masih kuat menarik busur, buat melesatkan panah sekaum pelajar-anak muda Bantaeng. Itu karena masih terlibat pergumulan minda dengan mereka. Serasa muda kembali, paling tidak meremajakan minda. Mungkin karena alunan, “Forever Young”, satu tembang lawas dari Alpaville, selalu menghidu saya, kala melata di bentala.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *