Sandyakala memang secantik itu. Warnanya merah jingga, bersinar redup di sore hari. Dalam beberapa kondisi, bisa berubah menjadi merah muda yang merekah tidak tahu apa penyebabnya.
Di sore hari, akan menjadi sangat indah bersamaan dengan sunset. Hanya saja itu akan hilang kala hujan sedang turun. Orang-orang akan berlari untuk berteduh. Langit menjadi gelap, suasana menjadi dingin dan tidak ada senja maupun sunset. Namun, aroma petrikor bagai candu, akan membuat semua orang yang menghirupnya menjadi tenang.
Setidaknya itu yang Arunika tahu. Itu yang ia ketahui dari hasil penjelasan teman barunya tentang keindahan senja yang temannya itu sebut dengan sandyakala. Dan saat itu, Arunika semakin sadar akan banyaknya hal kecil yang ia tidak ketahui. Ternyata, bumi seberagam itu dan alam seunik itu. Terlalu banyak hal yang ia lewatkan karena kekurangannya. Ia menjadi termotivasi untuk mengetahui semuanya melalui teman barunya, Anindia.
“Kegiatan teater pekan lalu sangat mengagumkan. Mereka saling memainkan peran satu sama lain dengan iringan musik yang membuat penonton tidak jenuh. Kamu harus datang besok!” Seru Anindia yang begitu bersemangat.
Arunika tersenyum tipis usai mendengar kalimat terakhir temannya. Sembari duduk dan menatap ke depan, ia berusaha untuk menoleh dan memusatkan kedua matanya pada sosok di dekatnya yang ia tak ketahui rupanya. Dengan mengandalkan insting terkait objek yang dipusatkannya, Arunika merasa pas meskipun nyatanya kedua matanya tak berpusat pada orang di dekatnya.
“Aku tidak bisa melihat. Bagaimana aku menikmatinya?” Balas Arunika seraya tersenyum tulus.
Namun jawaban Anindia selalu berhasil membuatnya terperangah. Gadis itu selalu punya cara untuk membuatnya bisa tahu dan melihat.
“Aku akan jadi mata untuk kamu.”
“Maksudnya?”
“Kamu dengarkan musik dan dialog mereka, sedangkan aku akan menjelaskan apa yang mereka lakukan di atas panggung.”
***
Benar. Anindia melakukan apa yang dikatakannya kemarin. Arunika akhirnya mengetahui suasana teater meskipun melalui suara beragam yang terdengar bergema rendah. Melalui Anindia yang senantiasa berada di dekatnya, Arunika menjadi tahu alur dan keseruan drama di atas sana. Mereka melakukan pose jenaka, membuat penonton tertawa begitu pun Arunika.
Mereka saling berpelukan dengan sayang, penonton menjadi haru begitu pun Arunika. Segala hal yang terjadi di atas sana, berhasil membawa luapan emosional pada Arunika yang hanya bisa tahu melalui penjelasan Anindia.
Setidaknya, ia selalu bersyukur dan merasa cukup dengan perjuangan yang dilakukan temannya itu. Karena dengan hadirnya Anindia, Arunika merasa mampu menjangkau apa yang menurutnya dulu mustahil untuk ia lihat ataupun tahu. Untuk sekarang, Arunika merasa jika kehadiran Anindia sudah lebih dari cukup, sebab gadis itu bagaikan wujud kebaikan yang dikirimkan Tuhan untuknya.
“Ar, pemeran pendamping pria berusaha menarik si pemeran utama wanita.”
Arunika terkekeh saat ucapan Anindia disusul oleh teriakan seseorang dari panggung. Setelah itu, sahutan-sahutan lainnya mulai terdengar dan suasana menjadi tegang.
Ini menyenangkan. Arunika tidak bisa berhenti tersenyum tiap kali otaknya berimajinasi merangkai adegan-adegan di atas sana dengan sekumpulan pemeran berciri-ciri sama seperti yang Anindia jelaskan. Rasanya, seolah ia mampu melihat secara langsung adegan itu meski hanya melalui penjelasan sahabatnya. Arunika begitu senang. Yah, sampai tragedi usai pertunjukan teater itu terjadi.
Arunika berhenti tersenyum. Suara nyaring klakson dan teriakan pejalan kaki menjadi hal terakhir yang ia jumpai sebelum menghantam aspal bersama dengan sahabatnya, Anindia. Rasa nyeri luar biasa menjalar di kepalanya, bersamaan cairan kental yang mengalir di sela-sela tubuhnya. Namun di balik itu, genggaman tangan Anindia tetap hangat di telapak tangannya.
Semua terjadi begitu saja. Mereka pulang usai menonton teater, lalu berjalan kaki bersama untuk menuju halte. Namun, ketika hendak menyebrang, sebuah mobil sudah lebih dulu menghantam dirinya dan Anindia. Arunika bahkan tidak sempat berteriak. Ia tidak tahu, dan tidak akan pernah tahu bagaimana kejadian itu terjadi serta kondisi sahabatnya setelah itu.
***
Bangun dari tidurnya yang cukup panjang membuat Arunika tidak sempat untuk memilah kondisi yang terjadi. Atap berwarna putih, sofa biru, baju berlengan panjang dengan garis putih biru dan selimut putih yang lembut, Arunika tidak pernah berani untuk berharap melihat itu semua.
Namun, ketika membuka matanya, Arunika justru mendapati hal yang biasanya ia dengar dari cerita ibu pantinya. Lalu ketika ia melangkah pelan menuju jendela, sebuah pemandangan nyaris persis seperti yang Anindia jelaskan terpampang di depan matanya.
Benar, sebuah halaman di bawah sana begitu luas dengan rumput hijau lebat yang terasa sejuk. Ada banyak tumbuhan cantik sesuai yang Anindia jelaskan. Warnanya beragam, bentuk berbeda, namun keindahan tumbuhan bunga itu begitu unik sehingga Arunika nyaris terperangah.
Kenapa dia bisa melihat?!
“Anda koma selama satu minggu dan mendapatkan donor mata.”
Keajaiban datang bersamaan dengan kebaikan miliknya yang menghilang. Usai kecelakaan hari itu, Arunika kehilangan Anindia yang senantiasa menemaninya. Arunika akhirnya memiliki mata untuk melihat, walau di sisi lain kehilangan pengiring langkahnya.
Semenjak hari itu, Arunika harus terbiasa sendiri. Menjalani kehidupannya tanpa sosok Anindia yang dulu kerap berada di sekitarnya. Meski sulit, tetapi Arunika berusaha untuk berbaur dengan kehidupannya yang baru.
Terlahir sebagai seorang tunanetra, diasingkan oleh orangtua karena kekurangannya, membuat Arunika harus menjalani hidup yang berbeda dengan teman seusianya.
Banyak alternatif untuk orang sepertinya agar dapat belajar, tapi ibu panti tidak mampu membelikannya sementara ada puluhan anak yang butuh bertahan hidup. Dari sana, Arunika mencari cara untuk bertahan. Sekarang, Arunika bisa melakukan apa pun tanpa takut terjatuh atau lupa jalan pulang. Ibu panti memberinya izin untuk pergi kemana saja, dan Arunika punya ruang untuk mengeksplor sekitarnya secara langsung.
“Rasanya kurang ketika bepergian tapi tidak bersama Anindia.” Gumam Arunika di sore hari itu. Wajahnya suram, sementara tangannya sibuk memainkan air di tepi pantai.
Arunika memperhatikan sekitarnya. Banyak orang yang beraktivitas, entah menikmati semilir angin pantai, atau sekadar mengambil foto di sana lalu pergi begitu saja. Namun pemandangan seorang nenek yang berjalan dengan dibantu oleh pengunjung pantai, menarik perhatiannya. Gadis itu menuntun jalan si nenek melewati bebatuan kecil. Mungkin agar si nenek tidak sengaja menginjak batu-batu tajam itu, tapi tindakan gadis itu sangat membantu si nenek yang bahkan untuk berjalan tegak pun sudah tidak mampu.
“Orang baik bukan cuma dilihat dari tindakannya, tapi dari hati orang itu. Kalau membantu, semua orang juga bisa. Yang membedakan tulus atau tidaknya.” Papar Anindia di suatu momen saat mereka duduk bersama.
“Kebaikan itu realistis, sih. Kamu senyum saja sudah disangka baik. Tapi dari hal kecil itu, orang-orang akan melakukan hal yang sama kepada kamu, loh. Kalau kamu sering membantu orang tanpa pamrih, perlahan-lahan di sekitar kamu akan penuh dengan kebaikan. Iya … seperti orang yang termotivasi dengan tindakan kamu.” Sambung Anindia hari itu.
Arunika termenung. Masih berusaha mencerna kalimat Anindia. Semenjak hari itu, ia telah banyak membantu orang. Namun dalam kondisi itu justru merasa kosong dan menganggapnya sebagai hal yang wajib. Arunika melakukannya karena ingin orang itu memberikan respon positif kepadanya. Sehingga ketika selesai melakukan sesuatu, ia akan menatap lekat orang itu untuk mencari penghargaan di dalam sana.
Tapi, semakin hari justru semakin hambar. Di sekitarnya dipenuhi kebaikan. Tapi kenapa rasanya kosong? Arunika tidak merasakan rasa senang.
Sebenarnya, apa itu kebaikan?
Arunika menghampiri seorang anak kecil yang terjatuh ketika dirinya siang itu berada di taman. Tangis anak itu menariknya kesana. Membuat rasa iba dalam dirinya mencuat kala melihat wajah mungil anak itu yang dipenuhi air mata.
“Jangan menangis. Kalau menangis matamu bisa bengkak, loh. Kalau bengkak, nanti bisa sakit.” Bujuk Arunika.
“Tapi ini sakit, kakak…” balas anak itu seraya tergugu.
Entah dorongan dari mana, Arunika langsung beranjak dan membeli permen dari penjual yang tidak jauh dari sana. Arunika lalu memberikannya pada anak itu, membujuknya dengan beberapa cara sehingga anak itu berhenti menangis dan melupakan rasa sakitnya. Melihat senyum lebar dengan sebuah permen tergenggam erat di tangan anak itu, menimbulkan rasa hangat dan senyum tulus di sudut bibir Arunika.
Kenapa kali ini rasanya berbeda?
Ah, mungkin karena perasaan yang mengiringi tindakannya. Sama halnya dengan Anindia yang tulus membantunya, Arunika merasakan hal yang sama. Lega, senang dan hangat berpadu satu. Rasa simpati dan empati yang dilakukannya jelas berbeda ketimbang ia melakukannya karena haus akan rasa terima kasih dan penghargaan. Jelas kali ini rasanya berbeda.
Apa ini yang dinamakan kebaikan? Kata yang tidak hanya berporos dalam bentuk tindakan, tapi juga didasari rasa tulus? Atau, kebaikan punya arti yang lebih luas dan berbeda?
Lalu bagaimana dengan Anindia? Di mana gadis itu sekarang dan siapa dia sebenarnya? Arunika meredam pertanyaannya, memilih untuk kembali ke panti dan membantu ibu Nara mempersiapkan makanan.
“Belakangan ini kamu selalu pulang telat. Punya teman baru yah, di luar?” tanya ibu panti malam itu seraya tersenyum.
Arunika tersenyum malu, sebelum akhirnya menjawab,” tidak, bu. Anindia tetap teman terbaik Arunika. Sulit untuk mencari teman baru sekarang. Lagian teman-teman di sini sudah lebih dari cukup. Mereka keluarga Arunika.”
Namun saat itu, respon ibu panti yakni ibu Nara justru aneh.
“Kamu ternyata berteman baik dengan gadis bernama Anindia itu? Dia baik sekali yah, mau mendonorkan matanya untuk kamu.” Ucap ibu Nara.
Arunika mengerutkan kening. Merasa tidak paham dengan ucapan ibu Nara.
“Loh, Anindia kan sering ke sini, bu. Dan donor untuk Arunika, itu dari Anindia?” Tanya Arunika bingung.
“Nak, kamu tidak pernah bawa seseorang ke sini. Kamu tidak pernah bawa teman yang namanya Anindia. Bagaimana bisa kamu bawa orang ke sini yang sudah lima bulan dirawat di rumah sakit?
Sesaat Arunika terperangah, sebelum jantungnya terasa hendak lepas dari tempatnya.
Kredit gambar: Republika

Lahir di Bantaeng tanggal 1 November 2006. Saat ini menempuh pendidikan di Universitas Negeri Makassar (UNM), Jurusan Biologi Sains. Mulai tertarik dengan dunia Literasi sejak kelas 2 SD, dan sekarang aktif menulis di beberapa platform menulis. Beberapa kali ikut berpartisipasi dalam buku Antologi Cerpen bersama rekan-rekan Literasi. Juga bergiat di Forum Anak Butta Toa(FABT), dan Forum Genre Kabupaten Bantaeng. Menjadi Duta Anak Kabupaten Bantaeng 2023, serta Duta Genre Kabupaten Bantaeng 2024.


Leave a Reply