Ketika Sifatia Bunglon Tertuduh Buruk

Cukup amat sensitif jika kata itu tersemat. Namun, jangan bersedih dan merasa kecewa. Sebab beberapa hal juga pada  ciri dan sifatianya mengandung nilai positif. Bukan hanya tertuduh buruk.

Pada sisi lain yang sering terjadi kata “bunglon” dianalogikan seperti, dia datang kepada orang-orang dengan warna tertentu, kemudian pergi kepada orang lain dengan warna lainnya. Seperti tertuduh tidak memiliki pendirian. Dengan menampakkan, menambatkan  kecintaan dan suka memberi sensasi, lalu  begitu bergantung dan selalu merasa canggung dan kagum, setelahnya pergi berlalu meninggal gerutu yang semu. 

Namun, ketika sudah berpisah, rasa takut, kagum itu punah sudah, menjadi permusuhan. Ada warna baru saling mencengkram dan mulai menguasai kembali, setelah suasana lengang, tampak berseri-seri, pergi menyembur-nyemburkan kemenangan dengan senang, lalu ketika rahasiamu berada dalam genggamannya maka di tempat lain dia beberkan.  Demikian pula seterusnya yang dilakukannya terhadap orang lain.

Menjadi kambing hitam, tertuduh dan tertohok bagai pecundang yang konyol. Petong menyundul dengan  lirih matanya ke Danu. Danu tahu tabiat  seorang Petong. Sampai kambing juga terseret kali ini, nimbrung setelah merumput. Sambil menyeruput kisah manusia yang dituduh buruk menyerupai bunglon.

Danu mencoba menetralisir, walau dirinya sering mendapatkan kata itu, bahkan jauh lebih ekstrim. Sembari melanjutkan bahwa  di mana manusia dengan kepiawaiannya penuh manipulasi terhadap diri sendiri. Seketika kata bunglon pada diri seseorang. Tentu akan muncul stigma/pandangan yang negatif. Seperti yang diketahui, manusia “bunglon” tentu saja bukan dalam arti yang sebenarnya, melainkan hanya sebuah istilah atau peribahasa yang menggambarkan karakter atau watak seseorang yang berubah-ubah. “Seperti kita ini?” Petong nyundul lagi. “Iya. Seperti saya, kau, dan mereka,” jelas Danu singkat padat jelas. Keduanya  menahan gelak tawa dan merasa geli sendiri.

Tidak juga  selamanya menjadi bunglon itu berkonotasi negatif. Kemampuan beradaptasi manusia seperti halnya hewan reptil yang mampu mengubah-ubah warna kulitnya guna menyamarkan diri itu sangat diperlukan. Butuh adaptasi, tidak harus arogansi ketika bersosialisasi dengan menggunakan pendekatan menjadi bahagian dari struktur, komponen masyarakat tertentu.  Butuh ilmu “bunglon” agar mampu mengantisipasi cara kita mengadopsi, mereduksi diri, menyadur dan menyulam nilai-nilai yang harus kita sesuaikan.

Apa sebab dan pasalnya saat  berada di tempat yang baru? Itu  membutuhkan adaptasi yang cepat. Bagaimana seseorang dapat menyesuaikan dengan lingkungan baru, tatanan kehidupan yang baru, diperlukan kemampuan menyesuaikan diri yang baik, dan bahkan cepat tanggap dalam menyikapinya.

Tanpa harus membutuhkan kesepahaman, kepada yang berkenan mendaras dan merasa tidak mampu, berusaha berpikir lebih sederhana saja. Bahwa sifat bunglon pada sebuah laman terungkap dengan sisi berbeda, selain terkesan buruk, nama “bunglon”, dianggap memiliki sifat fleksibel, lentur dalam bergaul, tidak kaku dan terpenjara dalam zona nyamannya, selalu dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat setempat, menyerap dan mengimplemtasikan berbagai regulasi, serta cepat beradaptasi dengan berbagai sistem yang ada.

Akan tetapi kadang pula ada yang pura patuh dan tunduk, tapi di riwayat lain mereka menyeruduk tanpa kita ketahui. Kudu berhati-hati, tidak harus terlena jika “bunglon” sebagai tabiat yang bisa membuatmu terjerat. Ditambah  perubahan iklim dan kondisi yang berpotensi jahat. Itu juga selalu mengingatkan kita agar, “katutui kalennu, angka bicara surang pangadakkangnu, teako kapitu-pitui dudui.” (Jaga bicara, perangai dan tidak gegabah)

Bunglon menjadi kambing hitam. Dua mahluk ini juga selalu menjadi contoh. Padahal kambing, dari tadi disebut namanya di atas  sebatas meng-embik, sementara manusia sukanya mengambek (merajuk) atau “pammojokang“. Yang tadinya sok kuat dan tegas. Tetiba mengubah diri menjadi sentimentil bin sensitif. 

Tetiba Petong, “Seberapa perlukah fungsi menjadi bunglon itu? Antara perlu dan penting! Atau sekadar memanipulasi setiap sesi kehidupan. Sebagaimana akting agar mampu menyesuaikan diri, walau tidak sesuai antara sifat, karakter bawaan manusia itu sendiri.”

Dikutip dari sebuah laman, dijelaskan beberapa ciri khas, karakter, dan filosofi yang bisa kita tangkap, di mana mahluk bernama bunglon merupakan salah satu jenis kadal yang memiliki kemampuan khusus untuk mengubah warna kulit, kamuflase agar terhindar dari predator.

Jenis Kadal ini memang berasal dari suku iguania, sehingga memang secara tampilan cukup mirip. Keberadaan bunglon juga sudah tak asing lagi, sebab mudah untuk ditemukan dimana-mana. Namun, keberadaan bunglon ternyata dapat memberikan beberapa filosofi terhadap manusia.

Pertama, kemampuan khusus dari bunglon ini seolah relevan dengan karakter manusia yang juga harus turut menyesuaikan diri. Di mana pun berada dan berpijak, maka di situlah manusia harus belajar caranya beradaptasi, sehingga tidak mengalami kesulitan dalam prosesnya.

Kedua, disadur dari IDN times, bahwa Bunglon ini seolah menggambarkan karakter manusia yang juga berbeda-beda, seperti introvert dan ekstrovert. Walau pun ada seseorang yang memiliki karakter introvert, namun sudah sepatutnya untuk menghormati hal tersebut dan tidak memaksanya melakukan hal yang tak disukai. Jika terus dipaksa, maka akan berdampak pada rasa tak nyaman dan kemudian rentan menarik diri dari sosialnya.

Berikutnya, sisi lain kesamaan bunglon dan manusia yang ketiga adalah selektif, sifat bunglon ini tentunya perlu dicontoh oleh manusia. Bagaimana pun memilih lingkungan sosial untuk menempatkan diri, memang harus dilakukan dengan cermat, sehingga tidak sampai menimbulkan masalah di kemudian hari.

Keempat adalah mudah stes. Hal ini sebetulnya serupa dengan manusia bagaimana semestinya menjalani hidup. Jika terus dihiasi dengan rasa stres berlebihan, maka dampaknya pun akan serius secara fisik atau pun mental. 

Kemudian saya telah tiba di poin kelima, yaitu cara berburu, bertahan hidup dari bunglon ini, seolah memberikan filosofi untuk tetap tenang dan cermat dalam memperoleh sesuatu. Jika semuanya dilakukan secara perlahan dan sigap, maka hasilnya pun akan memuaskan. Lain halnya apabila melakukan sesuatu secara grasak-grusuk, sehingga rentan mengalami kegagalan serta kekecewaan. 

Percakapan saya kemudian mengalir dengan seseorang bernama Ranca di sebuah cafe. Yang selama ini kami rencanakan pertemuan itu. Namun, tanpa diduga siang itu dia menawarkan untuk bersua. Membincangkan  tentang prosesnya, pengalamannya mengabdi di sebuah tempat untuk kelak bisa menjadikannya sekadar ingatan dan artefak kehidupannya.

Entah berapa lama. Percakapan kami mengalir hingga rencana tulisan ini hadir dari hasil berbagi cerita, kisah dengannya.  Bagaimana kata bunglon tertuduh, dan jauh sebelumnya pula ada narasi berjudul “abu-abu” goreskan, tertuduh negatif. Dan cenderung orang-orang bersifat anarkis dalam menerjemahkan sesuatu yang menjadi doktrin defenisi menjadi kebenaran mutlak. Padahal masih bisa kita talak dan tolak untuk tidak menjadikannya simpulan akhir.

Seperti kiranya mengikis nilai setahun. Menjadi lubang jerumus dengan trik khusus hanya sedetik.  Maka bunglon bagian dari pilihan hidup seperti kebanyakan kita temukan pada manusia, bisa saja saya akan menjadi bagian dari cara untuk berkamuflase, bahkan adaptasi saya bisa saja seperti itu “klise”.  Agar tidak mudah terjebak, bahkan kalau perlu  kita saling menjebak. Hem. Tawa kami lepas di ruangan ber -AC itu.  Melepas penat dan peristiwa manusia yang hanya mampu kita sebatas ketahui. Tidak harus mem-bully, merundungnya dengan segala umpatan. 

Tetiba bunglon berpesan di penghujung kehadirannya, “Punna pale Boko lampangku, u’rangimami Manna kodiku. Kanasaba le’ba kukasu’mangmi simpungku, sanggena kuluserang mange-mange.” (Jika kelak kepergianku, ingatlah walau secuil keburukanku saja. Sebab saya telah menerima segala rasa dan saya tanggung sendiri).


Comments

2 responses to “Ketika Sifatia Bunglon Tertuduh Buruk”

  1. Desy Ratnasari Avatar
    Desy Ratnasari

    Emang selalu suka dengan Binatang satu ini, pernah sesekali saya berpikir langkah saya selama ini emang mirip dengan Bunglon yang bisa beradaptasi dengan mudah di lingkungan yang baru. Tulisan ini banyak mengingatkan proses yang telah saya jalani selama ini dan tidak semua orang mampu seperti Bunglon.
    Apakah memang sikap Bunglon itu adalah ciri tidak berpendirian?

    1. Dion Syaif Saen Avatar
      Dion Syaif Saen

      Tergantung bagaimana menginterpretasikan dan mengaplikasikannya.

      Terima kasih telah berkenan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *