Di kolong rumah, saya membaca A.S Neill tentang sekolahnya, dulu: Summerhill. Karena Neill, maka jadilah catatan ini.
Bacaan itu memicu mimpi lama untuk memiliki sekolah yang berbeda. Sekolah yang tidak lagi menjadi ruang kelas penuh aturan kaku, tetapi sebuah tempat di mana anak-anak merasa seperti di rumah sendiri. Sekolah yang hidup, di mana setiap sudutnya berbicara tentang kebebasan dan peluang untuk berkembang. Semangat ini saya akan bawa ke dalam setiap rancangan perubahan pembelajaran.
Dalam visiku, sekolah tidak hanya menjadi tempat menuntaskan sejumlah tuntutan atau panduan kurikulum nasional. Sekolahku adalah tempat untuk tumbuh, tempat anak-anak belajar menghadapi dunia. Saya memastikan untuk menghapus hierarki guru-murid yang berjarak dan menggantinya dengan hubungan yang setara, penuh penghormatan, dan kolaborasi. Seperti kata Neill, bahwa anak-anak harus diberikan kebebasan untuk memilih jalan mereka sendiri. Sekolah harus menjadi tempat di mana tumbuh kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Di sekolahku, murid tidak perlu takut gagal, karena setiap kesalahan adalah awal dari pelajaran baru.
Sekolahku itu bukan sekadar tempat belajar bertahan hidup, melainkan kehidupan itu sendiri. Setiap murid tidak hanya diajarkan bagaimana mendapatkan nilai tinggi, tetapi bagaimana hidup dengan penuh makna. Dalam paradigma baru ini, sekolah tidak lagi bertujuan untuk mencetak pekerja yang siap kerja, tetapi manusia yang siap beradaptasi.
Ruang Kelas yang Bercerita
Ruang kelasku saban hari berbicara dengan murid-muridnya. Dindingnya tidak hanya berisi poster-poster pembelajaran formal atau tempelan jadwal menyapu murid, tetapi juga kisah-kisah inspiratif, karya seni murid, dan peta dunia yang mengajarkan keberagaman. Pada langit-langitnya tergantung bulan purnama atau matahari pagi menuju senja, bukan lagi hiasan lampu dari gelas-gelas plastik. Di sudut lain, ada kebun kecil tempat mereka belajar menanam, memahami siklus kehidupan, dan bertanggung jawab atas lingkungan mereka sendiri.
Saya tak lagi risau dengan kursi dan meja. Biarkanlah menjadi tugas para tuan dan nyonya di kantor-kantor dinas. Jika ada, disyukuri. Sebaliknya, jika tak ada, ya disyukuri juga. Deretan kursi dan meja diatur begitu dinamis, memungkinkan anak-anak belajar dalam lingkaran, bergerak bebas, dan bahkan sesekali belajar di luar ruangan. Tidak ada bel yang mengekang waktu mereka, tetapi ada tanggung jawab yang mereka pahami untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka.
Fasilitas tidak pernah menjadi keluhan. Saya percaya bahwa alam raya adalah ruang belajar raksasa. Jika sekolahku di pegunungan, maka hutan akan menjadi laboratorium. Belajar tentang jenis-jenis burung, atau murid-muridku belajar tentang pohon-pohon langka yang masih tersisa, mengenal jenisnya, bahkan menginisiasi kampanye menjaga mata air yang tersisa. Mereka belajar sungguhan, tidak bermain-main hanya dengan angka-angka dan mengeja huruf demi huruf.
Atau jika sekolahku di pinggir laut, maka pastilah laut menjadi ruang belajar tentang ekosistem laut, jenis-jenis ikan dan kandungan proteinnya, tentang musim dan cuaca. Muridku akan belajar menjadi penjaga pantai yang memastikan laut tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Ujiannya bukan lembaran kertas, tetapi kemampuan mereka menghasilkan sesuatu dari laut tanpa harus merusak. Mereka akan memahami bahwa hidup harmonis dengan alam adalah pelajaran terpenting.
Bagaimana model ujiannya?
Ujian tidak lagi menjadi momok yang menakutkan. Ujian harus bermakna. Sekali lagi, harus bermakna. Murid akan diuji melalui pengalaman: bagaimana mereka menyelesaikan konflik dalam kelompok, mengidentifikasi kekerasan yang masih sering terjadi di sekolah, bahkan menginisiasi kelompok paralegal.
Nilai mereka tergantung atas keputusan penting apa yang mereka ambil untuk mengatasi masalah yang mereka temukan. Dengan penuh percaya diri, mereka berbicara di balai desa tentang jenis penyakit paling mematikan di kampung atau desanya, dan merencanakan langkah preventif pada jenjang kelas berikutnya. Anda akan temukan keberlanjutan program pada jurnal mereka masing-masing. Sementara kelompok lain menyampaikan perkembangan proyek sederhana yang mereka buat bersama warga.
Kawan-kawanku. Ini penting: Tidak ada istilah “gagal” dalam sekolahku. Setiap anak akan melihat ujian sebagai bagian dari perjalanan mereka untuk memahami diri sendiri dan dunia di sekitar mereka. Sekolah ini akan menjadi tempat di mana proses lebih penting tinimbang hasil. Sekolahku tidak lagi mendorong murid untuk sekadar tuntas—menghafal, menyelesaikan modul, atau mencapai nilai tertentu. Saya ingin mereka menjadi kompeten: mampu berpikir kritis, berbicara dengan percaya diri, berkolaborasi dalam kelompok, dan menciptakan solusi untuk masalah-masalah nyata.
Sebagai pengelola sekolah, tugas saya bukan untuk memberi mereka semua jawaban. Tugas saya adalah menuntun mereka untuk menemukan pertanyaan yang tepat. Para guru menjadi fasilitator, bukan penguasa. Guru-guru di sekolah berperan sebagai pembimbing, bukan penentu arah. Mereka akan belajar bersama murid-murid mereka, menciptakan lingkungan yang saling mendukung.
Pancasila sebagai Pilar Sekolah
Sekolah ini dibangun di atas cita-cita Pelajar Pancasila: murid yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia; mandiri; bernalar kritis; kreatif; bergotong royong; serta berkebinekaan global. Setiap kegiatan di sekolah ini dirancang untuk menumbuhkan nilai-nilai ini. Murid-murid belajar menjadi manusia yang tangguh, yang mampu menghadapi tantangan apa pun dengan kepala tegak. Mereka tidak harus kaya raya, tetapi mereka harus bisa hidup bahagia. Mereka tidak perlu menjadi tokoh besar, tetapi cukup menjadi manusia yang nyaman dengan diri mereka sendiri.
Lulusan sekolahku akan menjadi pribadi yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Dengan begitu, mereka bisa diandalkan untuk hidup bijak di masyarakat. Mereka tidak akan menjadi beban, tetapi justru tumbuh sebagai individu mandiri, mampu mengambil keputusan dengan penuh kesadaran, dan menjalani hidup dengan sikap bijaksana.
Kami beruntung segera terlepas dari glorifikasi yang berlebihan. Tidak ada label kelas unggulan atau murid favorit. Semua unggul dan favorit. Tidak ada murid yang dianggap lebih hebat hanya karena nilai mereka lebih tinggi. Semua anak adalah menjadi bintang di sekolah ini, dengan keunikannya masing-masing. Sekolahku menjadi tempat di mana guru dan murid sama-sama tumbuh. Guru tidak lagi hanya dianggap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka adalah pembelajar seumur hidup yang menginspirasi murid-murid mereka dengan tindakan, bukan hanya kata-kata.
Guru sebagai Teman Belajar
Di sekolah ini, guru bukan hantu yang harus dihindari. Mereka adalah teman belajar, sosok yang disapa dengan salam hangat setiap hari. Keduanya setara dalam proses pembelajaran. Tidak ada subjek yang mendominasi, apalagi menjadikan murid sebagai objek semata. Ruangan bimbingan konseling bukanlah tempat menghakimi atau untuk memberi nasihat. Kami bersepakat menjadikannya sebagai ruang diskusi, tempat berbagi kegelisahan dan harapan. Di sini, murid memahami siapa dirinya, setinggi apa cita-citanya, dan bagaimana mencapainya. Guru menjadi pendengar terbaik, bukan pemberi petuah.
Sebagai pengelola sekolah, saya berkomitmen menjadi pemimpin yang melayani. Mendengar suara setiap guru, murid, dan orang tua. Anda akan menemukan pengalaman bagaimana semua orang merasa dihargai dan didukung. Bahkan kampung tempat sekolah berdiri adalah kelas kami yang sesungguhnya. Kami merasa tidak kekurangan apa pun. Tidak ada keluhan, hanya rasa syukur atas apa yang tersedia.
Menukil ungkapan Nawal El Saadawi, “Freedom is to free yourself from the chains of fear, authority, and tradition.” Saya ingin sekolah kami konsisten mengajarkan kebebasan seperti itu. Kebebasan yang membebaskan, bukan yang membebani. Kebebasan untuk menjadi diri sendiri, untuk bermimpi, dan untuk tumbuh.
Sekolah yang Beradaptasi dengan Kehidupan
Saya percaya bahwa sekolahku harus terus berubah seiring dengan perubahan dunia. Sekolah ini akan menjadi tempat di mana inovasi dihargai, di mana setiap ide baru diterima dengan tangan terbuka. Saya ingin murid-muridku memahami bahwa tidak ada satu pun cara yang benar untuk menjalani hidup. Mereka harus belajar untuk beradaptasi, untuk terus belajar, dan untuk selalu mencari makna dalam setiap langkah mereka. Pada maksud itulah, mata pelajaran menjadi penting sebagai media yang bisa digunakan. Bukan, sebaliknya, mata pelajaran sebagai beban.
Singkatnya, sekolahku adalah tentang kehidupan itu sendiri. Saya ingin murid-muridku merasa bahwa mereka tidak hanya belajar untuk lulus, tetapi belajar untuk hidup. Jika suatu hari mereka mengenang sekolahnya, saya berharap mereka akan berkata, “Di sini, kami belajar menjadi manusia, bukan sekadar murid.” Semoga ini menjadi warisan terbaik yang bisa saya tinggalkan.
Azan Magrib berkumandang. Saya terbangun. Tertidur di balai-balai bambu setelah menempuh sejam perjalanan. Kawan-kawan, sepertinya saya baru saja bermimpi. Lalu bagaimana dengan Anda? Mimpi terbaik apa yang pernah dialami?

Lahir di Sungguinasa, Gowa, 19 Juni 1981. Bekerja di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bantaeng, selaku Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan. Menjabat Ketua Umum Komunitas Guru Belajar Nusantara Periode 2019-2022. Selain menulis, juga suka baca karya sastra, dan olahraga badminton.


Leave a Reply