Kurir dan Pesta Demokrasi

Kurir (dari bahasa Inggris: courier, bahasa Prancis: courrier/coursier, juga dikenal sebagai jasa ekspedisi) adalah perusahaan atau perorangan yang bertugas mengirim pesan, paket dalam jumlah kecil hingga sedang, atau surat dari tempat yang satu ke tempat yang lain. 

Dalam pemaknaan bahasa (KBBI) kata kurir diartikan sebagai utusan yang menyampaikan sesuatu yang penting dengan cepat. 

Narasi  ini sekadar ilustrasi saja, hanya mencoba mengurai sisi lain di ranah demokrasi kali ini dengan melihat profesi kurir yang menempati ruang politik, menjadi timses kedua paslon bupati dan wakil bupati Bantaeng kali ini.

Saya terhenyak, lalu mencoba appina’na memerhatikan peran-peran yang menurut saya cukup unik dan punya potensi mumpuni. Tidak seperti kepentingan lain yang sarat tendensi serta ambisius.  Fenomena sang kurir sebagai penanda baru dalam sebuah perhelatan politik (pilkada) hadir bagai persona nan memesona.  

Sebuah percakapan dengan seorang teman saat sore, kala terik mulai menjadi teduh. Tetiba laju diskusi tanpa yang lain sadar tentang kehadiran salah satu tim sukses yang berprofesi sebagai kurir.  Kami seolah pengamat saja. Namun, tidak melampaui batas-batas nilai. 

Saya kira  sama dengan perbincangan di setiap kota, desa, kampung, dan lorong-lorong yang sekian bulan cukup menyita waktu.  Semua tema pilkada,  berdebat dengan argumentasi antara serasi, reduksi, atau yang punya data dan tidak punya data, semua lebur, larut memenuhi ruang-ruang percakapan. 

Sepintas kadang profesi ini dianggap sepele, pada awal munculnya sebagai pengantar pesanan orang-orang. Seiring waktu dengan mengikuti perkembangan zaman. Manajemen mereka semakin kuat, merambat bagai profesi yang cukup menjadi pilihan bertahan hidup.  

Kata kurir, terik matahari adalah sahabatnya, bersama  hujan adalah karibnya, mengantar sesuai titik kordinat pemesan. Mereka menyusuri lorong, jalan berlubang, mendaki mereka jalani, kadang mendapat cercaan sesegera mungkin harus tiba, atau  gerutu dari pemesan. 

Para kurir pasti mengalami fenomena seperti itu. Dengan psikis, mental mereka bertahan untuk sebuah hal bertahan pada kesenjangan hidup, demi  keluarga. Pada kehidupan yang makin mendikte dan  menghimpit.  

Cukup mumpuni, dengan modal kendaraan sebagai transportasi untuk pengantaran, sesuai target dan persentase pengiriman, dari jarak tempuh hingga menemukan keberkahan lain bagi pemesan yang sudah menjadi langganan. Mereka juga sesuai selera, kepada siapa kurir dia harus memesan. Dan terjalinlah interaksi tanpa harus bereaksi penuh, sebagaimana sering dialami oleh para kurir. Gerutu karena pesanannya lama dinantikan, hingga beralih ke kurir lainnya. 

Saya terhentak, lalu belajar bagaimana mereka menjalani pilihan profesinya. Di akhir-akhir ini fenomena kurir semakin menarik perhatian saya.  Dengan memasuki sistem sebagai volunteer, atau biasa disebut influencer.  Mampu mengacak-acak ranah politik sebagai pendukung.

Dari tak dianggap menjadi bagian penting pada sistem dan mampu memengaruhi khalayak. Menjadi tim pemenang, bukan sekadar bersenang-senang. Namun, ada ruang dan ekspektasi, serta ekspresi lain menuangkan resah dan rasanya untuk lebih merasakan kelayakan hidup, tanpa dipandang sebelah mata! Justru kini menjadi kekuatan lain, pengaruhnya cukup mumpuni, mampu mengalihkan perhatian. 

Sebagai kurir dengan segenap jiwa, segera meluncur dengan beberapa pesanan yang dititipkan. Layanan jasa yang melayani pengiriman paket, jasa ojek online, jasa antar jemput pesanan makanan, hingga pada titik di mana branding atas nama kurir! Kini trending topic dengan memasuki proses dinamika yang kini telah usai dihelatkan. Dan di antara mereka guyub menentukan pilihan dan cukup signifikan pengaruh kehadirannya di pilkada Bantaeng kali ini. 

Bukan lagi profesi yang hanya sekadar kurir. Namun, mampu menganulir dengan cara berpikir lebih kreatif.  Dulu dipandang sebelah mata. Kini semua mata terperangah tanpa bisa apa-apa. Dengan sisi lain kelompok, atau mereka namakan  tim kurir salah satu paslon mampu membuktikan loyalitas, soliditas untuk  memenangkan salah satu pasangan calon. 

Dalam segala fenomena dihadapi, dalam hujan dan kuyup saling menguatkan, merasakan penuh dinamika peran-peran selama masa kampanye,  mereka menjadi elemen yang tidak harus dianggap sepele. Mereka punya pengaruh yang cukup jitu. 

Kali ini saya dengan melihat proses mereka terjalin dengan skema, metode manajemen yang akurat, serta cukup mumpuni melengkapi hingga ke gerbang menghantar sebuah kemenangan.

Para kurir menjadi bagian kedua paslon. Dengan kreasinya sendiri, ada yang bermain konten dengan memberi pesan penguat dan pengikat untuk sebuah  kedamaian dalam proses pilkada, yang konon cukup penuh dengan hujatan. Dan para kurir tidak lupa sebagai profesi pilihan hidup,  menjalankan fungsinya sebagai kurir,  pada realitas hidup yang mereka harus lebih fokus hadapi. 

Para kurir dalam perannya mampu membagi waktu dan merawat kekerabatan sesama kurir meski berbeda pilihan, kembali beraktivitas,  melewatinya dengan menjelajahi setiap titik pusat pemesan.  Harga pas tancap gas, memasuki lorong, setapak, hingga di ujung aspal. Sambil merapal harapan segera balik ke rumah atau menuju ke pesanan berikutnya.  

Di tepi jalan, di trotoar atau di tempat di mana mereka jeda dan berkumpul sesama kurir, berkisah kehidupan, pengalaman, hingga pada pilihan-pilihan politiknya ditambatkan ke mana.  Sembari saling menghibur diri, bercengkrama, tertawa melepas penat. 

Pesanan masuk, kurir tanpa pikir melaju segera.  Melewati rimba-rimba kehidupan, menempuh jarak dengan kecepatan tertentu, menenteng kantongan  jajanan, bungkusan  pesanan dari warung makan langganan pemesan, dan minuman dingin nan segar, mulai dari cendol hingga minuman lainnya. Terjajaki sudah oleh mereka dengan jaket serta atribut yang sedikit lusuh, legam terbakar matahari,  serta lembab bekas hujan pagi dan sore tetiba menyelinap di tubuhnya.  Kurir tak merasakan gigil, demi bertahan hidup, pada dunia yang makin kuat merajam kehidupan. 

Dua ribu dua puluh empat, profesi kurir membuat para elit politik sepertinya mulai berpikir. Tidak harus merasa paling elit, justru belajar menemukan pola yang elegan, tidak harus hanya janji dan tiupan angin “barubu” lenyap seketika usai menidurkan dan melenakan, hingga membuat kita  tertidur pulas penuh mimpi buruk setiap perhelatan lima tahunan. 

Secara naluri, saya menyimak dan hanya terdiam tercekat. Tatkala mereka hadir menyatakan pilihan sebagai bagian dari timses. Bukan abal-abal, tetapi punya power yang mumpuni bisa mengendalikan, mendulang suara.  Terbukti tahun ini mereka menyertakan, menghantar salah satu pasangan menuju takhta kepemimpinan. 

Apakah itu salah? Tentunya semua punya hak yang sama. Bukan hanya mereka yang pandai memainkan akrobat kata-kata, atau mereka yang merasa punya pengaruh sekalipun, para aktivis, cendikia, tampil sekadar dengan teori. Atau mereka yang merasa pintar tapi  terbirit hanya karena iming-iming saja.  Tetapi sang kurir  real menerjemahkan situasi, kondisi di tingkat semua lapisan masyarakat.  Dan satu hal mereka bukan cupu, tetapi dalam memengaruhi, mereka adalah suhu yang sering dianggap lugu.  

Pesta demokrasi pilkada telah usai, ada yang tepuk dada, ada yang merasa kalah tapi bukan pasrah, semua telah berusaha, apatahlagi menaruh dendam politik menunggu dentuman serta reaksi yang tidak harus disesali. Tunggulah waktu periodik. Euforia berlangsung bagi pemenang, nelangsa yang kalah mengenang dan merawat kembali nilai-nilai yang telah terjalin. 

Para kurir kembali menjalani profesinya, antar jemput rekanan pesanan.  Kurir yang bergabung di kubu pemenang ikut nimbrung merayakan sebuah proses sekian bulan,  telah menjadi bagian dari sebuah proses dinamika politik yang begitu penuh trik dan intrik. 

Danu terdiam, membaca situasi dan fenomena di antara mereka dalam perhelatan pertarungan yang menurutnya cukup sengit.  Petong ikut terbawa suasana. Menemukan hal berbeda di tahun politik sebelumnya.  Meski pola dan trik yang juga sama. Ya! Sambil menghela napas, Danu menyundul! Begitulah politik sebuah pola dan pikir. Bukan hitam putih, tapi merah kuning hijau di ladang, di lambung, serta lumbung. Politik selalu hadir menawarkan antara ilusi dan solusi.

Sumber gambar: Tokopedia


Comments

3 responses to “Kurir dan Pesta Demokrasi”

  1. Kurir, sepintas profesi ini dianggap sepele, merambat bagai profesi yang cukup Handal dalam berbagai aspek kehidupan.. mudah2an kedepan di buatkan inovasi website oleh para calon pemenang yang bisa mencapai permintaan Customer di Bantaeng..

    1. Dion Syaif Saen Avatar
      Dion Syaif Saen

      Wow. Salut cerdas ideta. Ini baru interpretasi yang mumpuni juga.

      Semoga amin. Biar lebih keren dan terorganisir dengan mengikuti perkembangan zaman.

      1. Desy Ratnasari Avatar
        Desy Ratnasari

        Like this,, Semangat nuliss kaka dion 😇

Leave a Reply to Andira Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *