Perjalanan Menemukan The Whole-Brain Child

Sudah setahunan lebih saya menjadi orangtua bagi anak kami satu-satunya. Belum pernah rasanya, saya sebegitu membutuhkan suatu panduan teks dalam mengatasi hari-hari bersama anak. 

Biasanya jika membutuhkan masukan, saya menelpon umi, atau mencarinya di Google. Namun, ketika Shanum berusia sekitar 10-11 bulan, ia mulai mengekspresikan perasaannya dengan mengamuk alias tantrum. Ini pertama kali terjadi dalam keseharian kami. 

Seringkali ia hanya menangis saja dan tidak memberontakkan badannya. Saya cukup kaget, karena menduga hal itu baru akan terjadi di usia menjelang dua tahun. Di situlah, saya merasakan harus mendapatkan amunisi pengetahuan, terkait ada apa sebenarnya dengan anak. Semakin giatlah saya mencari buku-buku ketika Shanum berusia setahunan itu. 

Sebagai anak penjual buku, dibesarkan, dan bahkan dilahirkan di antara buku-buku. Cara yang paling saya anggap familiar ketika berhadapan dengan masalah yang berulang, ialah mencari bahan bacaan yang tepat. Di situlah perasaan paling memuaskan ketika menemukan buku yang dirasa cocok. 

Sebelumnya saya pun sudah searching di Google. Tapi tahulah, informasi yang didapatkan kadang kurang valid, kurang relate, dan terlalu umum. Sedangkan nonton podcast pun rasanya terlalu spesifik. Jangan sampai nanti saya malah melabeli anak. 

Maka, sebelum memutuskan membeli buku, sembari berselancar mencari buku yang tepat. Saya membaca sampel buku-buku terlebih dahulu di Google Playbooks. Beberapa buku rasanya langsung mau dibeli saja, karena sudah keasyikan membaca. Tapi memikirkan, mata yang sakit dan kepala puyeng karena kelamaan menatap layar, jadi urung membeli e-book-nya. Dan entah kenapa, saya selalu saja merasa rugi jika membeli buku dalam bentuk elektronik. Rasanya buku fisik itu lebih terlihat barterannya dengan uang. 

Beruntung juga, saya memiliki teman sesama pustawakan di komunitas literasi Katakerja dulu. Anak kami seumuran. Kepada teman itulah, saya bertanya terkait buku-buku kepengasuhan.

Terkumpullah beberapa buku pilihan yang akan saya baca. Sebagai kaum mendang-mending, saya hanya akan membeli satu buku saja. Maklum saja, duitnya akan dipergunakan untuk kebutuhan lainnya. Takutnya, buku itu pun hanya tertumpuk saja, tidak terbaca karena sudah merasa tidak menarik. 

Sewaktu kami ke Makassar, saya metime, jalan sendirian ke mal. Pastilah saya ke Gramedia, sok-sok ingin membeli buku. Sebagai anak penjual buku, kami sangat jarang sekali membeli buku di Gramedia. Biasanya akan memesan di penerbit. Atau membeli di toko buku kawan yang memberi diskon. Jadi, membeli buku di Gramedia itu adalah suatu keistimewaan tersendiri. 

Sewaktu kami kecil, jika jalan-jalan ke Gramedia itu hanyalah sebatas mencuci mata saja. Jika ingin membeli buku, biasanya umi atau abi berkata “Apa penerbitnya?” “Ooh… penerbit itu, bisa dipesan nanti. Lebih baik dipesan saja, Nak, lebih murah, kita diberi diskon.” Jadilah kami akan menunggu hingga berbulan-bulan, sampai umi atau abi memesan daftar buku yang akan dipajang juga di toko buku.

Lucunya, waktu itu, saya bertemu dengan buku yang sudah sangat saya inginkan. Setengah jam saya menimbang-nimbang, baiknya membeli yang mana. Dan apakah saya akan membelinya di sini? Sekadar memuaskan inner child membeli buku di mal. Hahaha. Saking galaunya, saya segera menceritakan kegalauan memilih buku ini kepada kawan pustawakan tadi itu, ia pun menyarankan buku The Whole-Brain Child, yang ternyata setelah iseng saya tanyakan stok bukunya di rumah, ternyata ada. Urunglah saya membeli buku. Memilih mengambil stok buku itu di rumah, dengan membayarnya kapan-kapan, hehehe. 

Nah, di saat itu saya sebenarnya telah menemukan buku dan sementara saya baca. Hasil pinjaman bukunya umi di perpustakaan rumah, judulnya Einsten never Using Flash Card. Bukunya bagus sekali, sampai saya ingin me-time di kafe, minum kopi dan membaca buku itu.

Saat membaca buku Einstein, Never Using Flash Card, saya tergoda untuk membuka dan awalnya hanya melihat daftar isi The Whole-Brain Child. Eh, tergoda sampai sekarang saya membaca buku itu dan buku sebelumnya di-pending dulu. Apa yang menarik dari buku itu, sampai saya menunda buku yang bagus juga sebelumnya?

Pertama, dalam membaca buku itukan, sebenarnya jodoh dan cocok-cocokkan. Apakah buku itu relate dengan kita sehingga begitu perlu membacanya bahkan meneruskannya hingga tuntas dan merekomendasikannya kepada orang lain. Hal itulah yang terjadi pada saya. Buku ini membahas persis seperti yang saya ingin tahu. Terkait perkembangan otak anak dan mengapa tantrum bisa terjadi.

Kedua, buku ini membahas otak secara keseluruhan disertai detail dalam keadaan sehari-hari. Ada contoh dari pemaparan teori atau pembahasan otak itu. Semisal, pembahasan terkait otak kiri dan kanan, otak atas dan bawah. Bagaimana masing-masing dari bagian itu bekerja dalam bentuk perilaku kita sehari-hari.

Ketiga, yang terpenting ialah di buku ini ada bagian pada masing-masing bab “Strategi Whole-Brain”. Cara mempraktekkannya dalam keseharian sebagai orangtua ke anak dan bahkan contoh strategi untuk diri sendiri. Terakhir, pemaparan bagaimana bagian itu dalam bentuk gambar ilustrasi untuk menjelaskan kepada anak.

Keempat, ada banyak hal dalam buku ini yang membuat saya terus berkata “ooh… dan ooh” ketika membacanya alias dibuat kagum. Pengetahuan-pengetahuan yang sifatnya informatif dan bisa dilihat dalam bentuk nyatanya. Semisal, ternyata tantrum itu ada dua jenis. Bergantung otak mana yang sedang reaktif. Ternyata otak itu tercipta secara sosial walaupun secara fisiknya ada pada bagian masing-masing di orang berbeda.

Kelima, di akhir buku dijelaskan dalam bentuk bagan, terkait masing-masing perkembangan dan umur, cara mengintergrasikan otak secara keseluruhan. Karena pastinya akan berbeda caranya antara bayi-balita dengan anak usia sekolah.

Yah begitulah lima hal yang utama dari alasan kenapa buku ini mesti dinikmati oleh seluruh umat manusia, hahaha. Tidak seperti buku parenting kebanyakan, yang hanya membahas secara umum dan teori saja. Melainkan, ada praktek, strategi dalam menggunakannya.

Oh iya, dalam proses membaca buku ini. Saya mengalami pengalaman reflektif dan berusaha sedikit mempraktekkan dari bacaan ini.

Kejadiannya begini, semenjak Shanum berusia setahunan, pemberian makannya lumayan menantang. Kita menyuapinya sambil ia memanjat-manjat, merangkak kesana kemari seperti merasa selalu dikejar. Jadilah, orang menyuapinya akan berusaha mencari mulutnya, belum lagi kalau makanannya tumpah, bersemut dan lengket. Apalagi di rumah kami, semenit saja makanan di lantai, semut sudah mengabarkan ke kawanannya untuk segera berkumpul. 

Nah, begitulah kondisi pemberian makan ke Shanum. Bayangkan saja, itu dilakukan sebanyak 3 kali sehari dan setiap hari. Dilakukan oleh ibunya. 

Kemarin siang, Shanum hanya mau makan abon saja. Tanganku yang sedang menyuapinya dengan nasi ia kibaskan, begitu terjadi beberapa kali.

 Sampai akhirnya, saya bersuara keras dan ia menangis sebentar. Saya pun berhenti menyuapinya dan diambil alih langsung oleh ayahnya. Jarang sekali, emosi saya ikut tersulut seperti itu. Bisa dihitung dengan jari. Setelahnya, saya menenangkan diri dengan mengerjakan pekerjaan lain, melipat pakaian yang telah bertumpuk, khas ibu-ibu banget kan? Hahaha. 

Setelah tenang, saya berpikir jika tadi saya sudah berusaha menerapkan strategi whole brain. Namun, otak saya keburu dibajak oleh otak bawah. Terjadilah kejadian seperti itu. 

Lama merenungkan, saya merasa malu terutamanya dengan diri sendiri. Kenapa sudah dan sementara membaca buku parenting, namun kebablasan juga bersikap demikian? Padahal sejak awal Shanum lahir, saya sudah berkomitmen menggunakan model gentle parenting, haha.

Sorenya, sementara yoga ala-ala YouTube, saya berusaha memaafkan diri sendiri. Berusaha dengan teringat salah satu strategi whole brain dan melakukan dialog kepada diri sendiri.

Seperti ini kira-kira percakapan isi kepala saya, “Cobalah maafkan dirimu, toh itulah artinya kamu baca buku. Bukan berarti karena akan pintar dan segera baik menjadi orangtua. Melainkan karena kamu merasa kurang dan sadar diri jika selalu saja ada celah dalam mengendalikan emosi, makanya kamu membaca buku itu.” Begitulah kira-kira. 

Siang sebelumnya, saya meminta maaf kepada Shanum. Menaruh tangan saya kepada wajahnya, menatap matanya dan meminta maaf tanpa embel-embel karena ini dan itu. Dengan pesan, semoga saja Shanum makannya lebih tenang dan dalam keadaan duduk. Keesokan harinya, barulah saya bisa benar-benar memaafkan diri sendiri.

Ironis sekali rasanya, kita begitu mampu meminta maaf kepada orang lain. Sedangkan memaafkan diri sendiri, susahnya minta ampun. Menjadi satu kesadaran baru lagi sebagai orangtua, sering-seringlah berlaku kasih dan penuh pemaaf bagi dirimu sendiri.

Walaupun melakukan ini terasa lebih sulit ketimbang melakukan kepada anak ataupun pasangan. Karena, ya, memang harus kita akui, jika hal-hal ini terasa asing karena kita dan orangtua kita dulu pun tidak dibesarkan dengan cara seperti ini. Namun, bukan berarti tidak dapat dilakukan. Jadi, sebisa mungkin, marilah berlaku kasih pun terutamanya kepada diri sendiri.

Peluk dan ucapkan, “Aku memaafkan diriku.”


Comments

2 responses to “Perjalanan Menemukan The Whole-Brain Child”

  1. Seperti membaca kisah diri sendiri, antara pengetahuan pikiran bawah sadar yang memblokirnya. Terima kasih sudah menuliskan ini 👍

  2. Koreksi:
    Antara pengetahuan dan pikiran bawah sadar yang memblokirnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *